Thursday, November 12, 2020

Transhumanisme

 

SDECORET / SHUTTERSTOCK.COM

 

 

Transhumanisme:

Seorang Pakar Mengungkapkan Agenda 'Great Reset' Dari Para Miliarder Liberal 

https://www.lifesitenews.com/news/transhumanism-expert-exposes-liberal-billionaire-elitists-great-reset-agenda

 

Skenario mimpi buruk distopia ini bukan lagi sekedar fiksi ilmiah, kata Dr. Miklos Lukacs de Pereny pada pertemuan puncak baru-baru ini tentang COVID-19.

 

Tue Nov 10, 2020 - 7:07 pm EST 

·        

By Lianne Laurence 

 

10 November 2020 (LifeSiteNews) - Pandemi COVID-19 dibuat oleh elit dunia sebagai bagian dari rencana untuk memajukan "transhumanisme" secara global - secara harfiah, ini adalah perpaduan manusia dengan teknologi dalam upaya untuk mengubah sifat manusia itu sendiri dan menciptakan makhluk super dan "surga duniawi," demikian menurut seorang akademisi dan pakar teknologi Peru, Dr. Miklos Lukacs de Pereny.

 

Skenario mimpi buruk distopia ini bukan lagi sekedar fiksi ilmiah, tetapi bagian integral dari usulan "Great Reset" pasca pandemi, kata Dr. Miklos Lukacs de Pereny pada pertemuan puncak baru-baru ini tentang COVID-19.

 

Memang, sejauh mungkin untuk bisa mengimplementasikan agenda transhumanist, diperlukan pemusatan kekuatan politik dan ekonomi di tangan elit global dan ketergantungan rakyat pada negara, kata Lukacs melanjutkan.

 

Itulah tujuan persisnya dari Great Reset, yang dipromosikan oleh ekonom Jerman, Klaus Schwab, CEO dan pendiri World Economic Forum, bersama dengan miliarder "dermawan" George Soros dan Bill Gates serta pemilik, manajer, dan pemegang saham Big Tech, Big Pharma, dan Big Finance yang berkumpul di pertemuan WEF di Davos, Swiss, kata Lukacs.

 

Transhumanisme adalah jauh dari doktrin yang jinak. Sebaliknya, itu adalah permusuhan total terhadap agama Kristen, Lukacs menunjukkan selama pidato virtual dalam Truth Over Fear Summit yang diselenggarakan oleh penulis dan penyiar Katolik yang berbasis di California, Patrick Coffin.

 

Transhumanis memeluk sains sebagai agama mereka dan percaya pada filosofi "relativisme absolut" yang mengklaim bahwa individu dapat mengubah realitas sesuka hatinya, dan mereka berusaha untuk "merelatifkan manusia" dan "mengubahnya menjadi dempul yang dapat dimodifikasi atau dibentuk sesuai selera dan keinginan kita dan dengan menolak batasan-batasan alami atau yang diberikan Tuhan kepada kita."

 

Oleh karena itu, transhumanisme membutuhkan "penghancuran" total atas moralitas Yahudi-Kristen, yang didasarkan pada prinsip dan nilai-nilai absolut."

 

Mereka yang menganjurkan kewaspadaan terhadap Great Reset sering mengabaikan peran penting teknologi dalam rencana para meta-kapitalis, kata Lukacs, yang memiliki gelar Ph.D. dalam manajemen dari Institut Riset Inovasi Manchester (MIoIR) dari Universitas Manchester.

 

Pandemi COVID-19 adalah "proyek rekayasa sosial yang sengaja direncanakan dan dilaksanakan oleh predator meta kapitalisme untuk mencapai tujuan akhir: mendefinisikan ulang dan mengkonfigurasi ulang sifat dan kondisi manusia," katanya dalam presentasi dalam bahasa Spanyol.

 

“Saya memiliki keyakinan kuat bahwa pandemi ini telah dibuat-buat dan tujuannya tidak lain adalah untuk memulai, seperti yang mereka katakan, atau menerapkan Great Reset, yang akan membuka pintu untuk kemajuan agenda transhumanis,” katanya.

 

Memang, Schwab, pendiri WEF, telah mempromosikan Great Reset sebagai cara untuk "memanfaatkan Revolusi Industri Keempat," sebuah istilah yang dia ciptakan, yang dia katakan pada Januari 2016, "akan mempengaruhi esensi dari pengalaman manusiawi kita."

 

Schwab menggambarkan Revolusi Industri Keempat ini sebagai "perpaduan teknologi yang mengaburkan garis pemisah antara bidang fisik, digital dan biologis," kata Lukacs.

 

Teknologi tersebut termasuk rekayasa genetika, seperti penyuntingan genetik CRISPR, kecerdasan buatan (A.I.), robotika, Internet of Things (IoT), pencetakan 3D, dan komputasi kuantum.

 

“Revolusi Industri Keempat tidak lain adalah implementasi transhumanisme di tingkat global,” tegas Lukacs. 

 

Apa itu transhumanisme? 

Transhumanisme sebagai sebuah ideologi politik dan gerakan budaya, didefinisikan pada tahun 1998 oleh ekonom Swedia, Nick Bostrom, yang saat itu menjadi profesor di Oxford, dan David Pearce, seorang filsuf Inggris, yang pada tahun itu mendirikan Asosiasi Transhumanis Dunia.

 

Baru-baru ini, Yuval Noah Harari, sejarawan Israel dan penulis buku Homo Deus, yang dianggap sebagai "visioner hebat," telah mempromosikan transhumanisme.

 

Transhumanists mengusulkan untuk menggunakan teknologi guna mengubah sifat manusia untuk menghasilkan manusia baru dengan "umur panjang super, kecerdasan super, kesejahteraan super," kata Lukacs.

 

Mereka menolak kepercayaan Kristiani tentang kebenaran absolut, bahwa Tuhan menciptakan pribadi manusia menurut gambar dan rupa-Nya, dan melihat nilai-nilai absolut ini sebagai "hambatan atas niatan mereka tentang progresivisme transhumanis dan globalis."

 

Itulah mengapa "persetujuan atas tindakan aborsi" adalah kunci untuk memahami "mengapa kita memasuki sepenuhnya agenda transhumanis ini" dari Revolusi Industri Keempat, kata Lukacs.

 

 





 

 

Ketika aborsi disetujui, "politik, tatanan ekonomi dan nilai moral" yang selama ini menjadi dasar peradaban Barat, runtuh.

 

“Aborsi tidak lain adalah transisi manusia dari ‘subjek hak’ menjadi objek komersialisasi, menjadi objek eksperimen,” ujarnya.

 

“Hidup memiliki nilai-nilai yang melekat, martabat yang melekat. Dan semua itu menjadi objek konsumsi, objek produksi, "dan ini sangat selaras dengan tujuan transhumanis" untuk bereksperimen dengan manusia."

 

Transhumanisme adalah "perjuangan melawan proposisi nilai-nilai absolut," kata Lukacs, "dan apa yang diwujudkan dalam progresivisme adalah relativisme absolut."

 

Bukti bahwa "relativisme absolut" telah menguasai dunia Barat adalah berupa peningkatan pesat dan meluas dari trangenderisme.

 

Lukacs juga mencatat meningkatnya kasus transspecisim, transageism, transableism, dan transracism.

Contoh dari upaya untuk membentuk kembali realitas sesuka hati, termasuk orang Amerika yang dikenal sebagai Lizard Man, pria (dewasa) Kanada yang hidup seperti anak berusia enam tahun, wanita Inggris yang membutakan dirinya sendiri karena ingin menjadi cacat, dan wanita Jerman yang menyuntik dirinya sendiri dengan melatonin untuk menggelapkan kulitnya agar diidentifikasi sebagai orang kulit hitam.

 

Ini adalah "kondisi transhumanisme sebelumnya, semacam kebiasaan, terutama generasi baru, untuk menerima keragaman ini," kata Lukacs. 

 

Bukan lagi fiksi ilmiah, tapi realita 

Sementara banyak proposal transhumanis berakar pada fiksi ilmiah, Lukacs menunjukkan bahwa mereka sekarang memiliki teknologi untuk mencoba mewujudkan aspirasi gila mereka.

 

Para transhumanists mengusulkan untuk meningkatkan umur panjang dengan menggunakan penyuntingan genetik CRISPR, yang telah digunakan untuk melipatgandakan umur tikus. Jadi, dengan menggunakan teknik ini pada manusia, bisa dibayangkan orang bisa hidup hingga usia 200 atau 300 tahun, katanya.

 

Mereka mengusulkan untuk meningkatkan kecerdasan manusia dengan menanam chip pada orang "yang memiliki kapasitas pemrosesan lebih besar" daripada otak manusia.

 

Contohnya adalah NeuraLink dari Elon Musk, yang merupakan "interace yang diterapkan kedalam  korteks serebral" dan yang menurut Musk akan membantu orang dengan penyakit Alzheimer atau epilepsi, tetapi Lukacs berspekulasi bahwa hal itu dapat "membuka pintu" bagi "tindakan peretasan saraf."

 

Ada juga aliran transhumanisme "pasca-humanis," di mana ekonom Bostrom adalah pendukungnya.

 

Bostrom mengusulkan bahwa “pada titik tertentu bahkan tidak perlu memiliki tubuh fisik, tetapi kami akan menjadi sekumpulan informasi, bahwa kami akan dapat mengunggah pikiran kami ke Cloud (tempat penyimpanan data milik Google), bahwa kami akan dapat membentuk kecerdasan kolektif dengan manusia lain,” kata Lukac.

 

Mengenai "janji kesejahteraan super," filsuf Pearce mengatakan bahwa "adalah sebuah keharusan hedonis" untuk "secara genetis mengubah diri kita agar menginginkan kesejahteraan super."

 

“Apa yang dikatakan Pearce adalah bahwa melalui modifikasi genetik, kita akan menjadi manusia yang berbudi luhur,” dan “kita harus melupakan rasa sakit dan penderitaan, kita harus menyingkirkan gen yang membuat kita bersifat agresif, kasar, cemburu, yang memaksa kita untuk saling bertengkar dan membunuh,” kata Lukacs.

 

“Jika Anda merenungkan semua ini, maka apa yang Anda saksikan secara harfiah adalah berupa kehancuran manusia, Homo sapiens, dan perubahan mereka menjadi Homo deus.”

 

Tetapi pada Great Reset, para elit "memutarbalikkan" bahasa dan menyamarkan agenda transhumanis mereka di balik frasa yang samar-samar, sehingga Revolusi Industri Keempat dari Schwab "dijual kepada kita sebagai ide yang tidak selalu akan mempengaruhi kita," atau bahwa itu adalah kemajuan yang bermanfaat bagi umat manusia, katanya.

 

Namun, sama seperti orang biasa yang akan menderita dalam Great Reset di bawah "arsitektur penindasan," seperti yang diutarakan Edward Snowden, mereka (mayoritas orang) akan menanggung beban eksperimen transhumanis.


“Ini adalah sangat mengkhawatirkan, karena untuk mencapai impian seperti itu, pasti banyak sekali kesalahan yang akan terjadi. ... Beban akan ditanggung oleh orang-orang yang terkena dampak ini dalam kesehatan mereka, dalam kehidupan mereka, dalam situasi ekonomi dan psikologis atau mental,” kata Lukacs.

 

“Ini adalah eksperimen yang sangat, sangat mahal. Dan [para elit itu] tidak akan memikul tanggung jawab untuk ini. Percayalah," katanya pada Coffin.

 

“Bagi mereka, itu adalah luar biasa. Bagi orang lain (mayoritas), ini hanya distopia.” (distopia: merupakan suatu komunitas atau masyarakat yang tidak dibutuhkan atau terkesan menakutkan). 

 

Trump menjadi penghalang bagi rencana elit global 

Lukacs juga berpendapat bahwa para elit global menghadapi hambatan tak terduga bagi rencana mereka, dari Presiden AS Donald Trump.

“Sebenarnya, struktur kekuasaan tidaklah terlalu rumit,” katanya pada Coffin dalam sesi tanya jawab online. Di bagian atas adalah "meta-kapitalis" atau "kapitalis yang memiliki begitu banyak kekuatan finansial sehingga mereka dapat bermain di luar aturan kapitalisme; sebenarnya mereka sedang membuat aturan kapitalisme atau menciptakan ulang,” ujarnya.

“Dan Anda memiliki orang-orang di dalam Big Tech, Big Pharma, Big Finance, Big Construction, yang semuanya serba besar, perusahaan besar dunia transnasional. Mereka adalah miliarder yang melalui filantropi (kegiatan amal) mereka, menjanjikan miliaran dolar uang mereka dan semua hal semacam ini, mereka ... menyalurkan uang ke bawah kepada semua politisi, yang pada dasarnya adalah politisi sewaan. Para elit itu menyewa mereka, dan para politisi itu menjalankan dunia ini demi para elit yang membayar mereka," dia berkata.

 

“Ini benar-benar privatisasi kekuasaan melalui kedok filantropi (karya amal),” tambah Lukacs.

 

“Dan kemudian, tentu saja, Anda akan memiliki lapisan lembaga tingkat menengah, LSM, universitas, yayasan, dan kemudian Anda akan turun ke pemerintah daerah akar rumput. Itu adalah struktur piramidal."

 

Tetapi Trump adalah salah satu tokoh publik utama yang jelas tidak bisa disewa.

 

“Sangat jelas bahwa di Amerika sekarang, selama empat atau lima bulan sebelumnya, kudeta negara sedang dibuat. Sesimpel itu. Saya tidak punya masalah untuk mengatakannya secara terbuka,” kata Lukacs kepada Coffin.

 

“Begitulah situasinya. Mereka mencoba menggulingkan presiden yang terpilih secara demokratis karena putus asa. Cina masih terus berkembang. Dan ... mitra mereka di Barat, mereka tidak bisa mengejar Cina. Jadi, mereka sedikit putus asa. Dan Cina tidak akan menunggu."

 

*****

 

Freemason Italia Memuji ‘Fratelli Tutti’

Screwtape Menjelaskan Tentang Cara Menghancurkan Gereja Katolik

Enoch, 5 Nopember 2020

LDM, 7 Nopember 2020

Seorang Ibu Melapor: "McCarrick Memiliki Ketertarikan kepada Anak Laki-Laki"

‘Kisah Fiksi Vatikan terus berlanjut’

Para pemimpin dunia memuji kemajuan vaksin COVID yang didukung Gates...