Sunday, November 1, 2020

Elit Global Akan Menghancurkan Kita Dalam Penyetelan Ulang (Reset) Besar

 

Elit Global Akan Menghancurkan Kita Dalam Penyetelan Ulang (Reset) Besar 

https://stream.org/global-elites-would-crush-us-in-the-great-reset/?fbclid=IwAR0yzBvzyRdBzbpz5P70t2fhlufT_J3Vo8KCo7QYmkvnGdolvXmYQcqT8FU 

Temukan sistem politik baru kita: Anarcho-Tirani.

 

 

By JOHN ZMIRAK Published on October 31, 2020  

John Zmirak 

 

Pada hari Jumat saya membantu menyiapkan pidato peringatan mengerikan dari Uskup Agung Carlo Maria Vigano, yang dimuat di The Stream. Sebagian darinya menyebabkan rasa dingin yang tidak wajar ke seluruh tulang belulang saya. Jika Anda belum membacanya, Anda harus membacanya. Seperti yang Anda lakukan, ingatlah bahwa ini bukanlah ramalan oleh seorang mistikus soliter yang cenderung memperhatikan penglihatan-penglihatan supernatural. Penulisnya adalah seorang diplomat profesional, yang mewakili Gereja Katolik di Washington, D.C., selama bertahun-tahun. Seorang pria dengan ucapan-ucapan yang terukur dengan benar.

 

Jika Anda mengenal saya, Anda pasti sudah menyadari bahwa saya adalah orang yang percaya, paling tidak, pada peristiwa apokaliptik di dunia. Saya secara konstitusional bersikap skeptis terhadap berbagai macam keajaiban, suara-suara, dan tanda-tanda. Saya sepenuhnya berharap bahwa dunia akan terus berjalan meluncur, tanpa terelakkan, ke dalam keadaan biasa-biasa saja, selama ribuan tahun yang akan datang. (Hal itu mungkin karena masa lalu diri saya yang tumbuh dan dibesarkan di New York City selama tahun 70-an.)

 

Beberapa tahun yang lalu saya menulis sebuah esai lucu yang menusuk orang-orang yang lapar akan keajaiban-keajaiban dan tampaknya mendambakan “Zaman Akhir,” karena saya menuduh mereka “memerah susu sapi kiamat.” Saya mengisyaratkan bahwa tulisan saya itu berbicara tentang iman yang goyah, dan sangat membutuhkan bukti.

 

 

Kepanikan Karena Virus Dan Kaum Elit Yang Sinis

 

Dengan mengingat hal itu, saya terus terang merasa khawatir. Saya khawatir bahwa banyak orang, kelompok, dan institusi paling kuat di Barat telah melewati sebuah titik kritis. Saya pikir mereka telah menjual jiwa mereka, dan terus terang: kehilangan akal. Kepanikan virus terbukti cukup untuk mematahkan keterikatan terakhir mereka dengan kenyataan. Yang lain melihatnya secara sinis, sebagai dalih untuk akhirnya bertindak berdasarkan ide-ide dingin dan tidak manusiawi yang telah mereka mainkan selama beberapa dekade.

 

Saya tidak akan mengandalkan pesan berkode dari sumber-sumber yang diduga dari "orang dalam." Saya tidak mempercayai rumor, petunjuk, atau rahasia yang meragukan. Pengaturan Ulang (reset) Besar yang diperingatkan oleh Uskup Agung Vigano dalam suratnya adalah rencana nyata. Upaya itu didukung oleh ribuan jutawan dan miliuner yang haus kekuasaan. Pusat kekuatan internasional, seperti Forum Ekonomi Dunia, juga telah mendukungnya. Para pendukungnya menjalankan iklan yang mempersiapkan orang-orang untuk menerimanya. Seperti yang dibawah ini.

 

 




Poster-poster propaganda seperti ini, yang menjanjikan untuk melucuti hak asasi manusia yang paling dasar - yaitu, properti - akan membuat darah Anda mendidih. Jika tidak, Anda mungkin sudah mati. Setidaknya mati di bagian dalam, dilubangi, dipukuli, sangat ditakut-takuti dengan virus musiman dan terikat pada kehidupan duniawi ini sehingga Anda sudah dilatih sebagai budak. Itu telah terjadi di seluruh negara Barat yang pernah bebas, seperti Selandia Baru. Negara itu baru saja memilih kembali, dengan kemenangan secara telak, seorang pemimpin sayap kiri fanatik, yang mengubah seluruh tempat disana menjadi kamp penjara medis, dan sekarang berjanji untuk memberlakukan undang-undang (yang mengesahkan) eutanasia.

 

 

Jangan Menyia-Nyiakan Sebuah Krisis 

Majalah arus utama kanan-tengah, National Review, dengan bijaksana telah melaporkan tentang apa yang dibutuhkan oleh Great Reset ini. Tidak perlu membesar-besarkan apa pun pada saat ini. Forum Ekonomi Dunia, dan pemerintah-pemerintah serta perusahaan-perusahaan bernilai miliaran dolar yang mengikuti langkahnya, tidak memiliki pemikiran yang sederhana. Mereka menggunakan virus Cina sebagai dalih – dan karena ‘senjata’ isu perubahan iklim tidak cukup berhasil – maka kemudian mereka mengusulkan ‘perubahan besar-besaran’ atas kehidupan manusia di bumi:

 

Dunia harus bertindak bersama dan cepat untuk mengubah semua aspek kehidupan masyarakat dan ekonomi kita, dari pendidikan hingga kontrak sosial dan kondisi kerja. Setiap negara, dari Amerika Serikat hingga Cina, harus berpartisipasi, dan setiap industri, dari minyak dan gas hingga teknologi, harus dirubah. Singkatnya, kita membutuhkan sebuah "Great Reset" atas paham kapitalisme.

 

Seperti yang diamati oleh Andrew Stuttaford, WEF (Forum Ekonomi Dunia) secara terbuka mengakui bahwa mereka telah terinspirasi untuk merebut kekuasaan yang lebih ambisius melalui kepatuhan kita yang pemalu dan patuh dalam menghadapi penguncian wilayah karena virus. Dengan kata-kata WEF sendiri:

 

Salah satu lapisan perak dari pandemi ini adalah menunjukkan betapa cepatnya kita dapat membuat perubahan radikal pada gaya hidup kita. Hampir seketika, krisis ini telah memaksa dunia bisnis dan individu untuk meninggalkan praktik yang telah lama diklaim penting, dari kegiatan ‘sering melakukan perjalanan udara hingga bekerja di sebuah kantor.’

 

Apakah Anda mengerti? Para miliarder dan insinyur sosial yang terkait dengan Forum Ekonomi Dunia melihat jutaan pekerjaan yang hilang, nyawa yang hancur, pemeriksaan kanker yang tertunda, toko-toko yang tutup, dan peluang usaha yang hilang akibat penguncian wilayah yang sia-sia. Dan disini mereka melihat adanya peluang. Mereka melihat kita sebagai anjing yang dicambuk, meringkuk, siap untuk menjalani babak baru ‘pelatihan keengganan.’ Apakah jenis ‘perubahan radikal pada gaya hidup kita’ lainnya yang ada dalam pikiran orang-orang ini?

 

 

Dengan Dalih Virus Untuk Melakukan Tindakan Fasis 

Akankah gereja-gereja kita, yang ditutup dengan tergesa-gesa, akan dibuka kembali? Akankah gubernur negara-negara bagian di Amerika Serikat akan terus memegang kekuasaan seperti dewa atas aktivitas dan mata pencaharian warganya - bahkan saat mereka jelas-jelas merawat pasien di panti jompo? Uskup Agung Vigano memperingatkan langkah-langkah spesifik yang dia lihat dalam waktu dekat mendatang:

 

Melepaskan properti pribadi dan mematuhi program vaksinasi terhadap Covid-19 dan Covid-21 yang dipromosikan oleh Bill Gates, dengan kolaborasi kelompok-kelompok perusahaan farmasi utama. Di luar kepentingan ekonomi besar yang memotivasi para pendukung Great Reset, pengenaan vaksinasi akan disertai dengan persyaratan paspor kesehatan dan ID digital, dengan konsekuensi: pelacakan kontak atas populasi seluruh dunia. Mereka yang tidak bersedia menerima tindakan ini akan dikurung di kamp penahanan atau ditempatkan di bawah tahanan rumah, dan semua aset mereka akan disita.

 

Selandia Baru, negara demokrasi berbahasa Inggris, sudah membangun kamp-kamp semacam itu. Di New York City, pemerintah mentolerir kerusuhan anarkis yang kejam. Tapi mereka mengirim polisi untuk mengancam dan menarget umat beriman Yahudi Ortodoks. Pemerintah di negara-negara bagian biru,’ telah menangguhkan hak Amandemen Pertama kita, yaitu hak untuk beribadah dan berkumpul secara bebas, dan secara selektif mengizinkan kerusuhan jalanan oleh para preman terorganisir yang memiliki ideologi yang sama. Laura Ingraham dari Fox News memperringatkan bahwa:
 
Begitu pula, pemerintah-pemerintah lokal pernah membiarkan kelompok orang berkemeja coklat Nazi meneror lawan mereka, namun mereka hanya mengirim polisi untuk menangkap korbannya jika mereka melawan. Para "antifasis" ini memang mempelajari pelajaran sejarah. Mereka mempelajari buku pedoman Nazi, dan mengadopsinya.

 

Dan jika Anda berbicara? Jika perlawanan terhadap tindakan inkonstitusional mulai populer? Para ahli akan melaporkan "lonjakan kasus COVID" yang berbahaya, dan mengandalkan kepanikan publik untuk membungkam para pencemooh.

 

Sistem Pemerintahan Baru Kita: Anarko-Tirani 

Ideologi dan metode pemerintahan yang baru dan jelek telah menghadang kita. Namanya Anarcho-Tirani. Untuk menghukum musuh-musuhnya, menenangkan teman-temannya, dan merampok banyak sekali kekayaan, sistem ini membiarkan perusuh membakar dan menjarah seluruh kota. Para polisi mundur, seolah-olah mereka tidak ada, seolah-olah kota itu tidak memiliki pemerintahan yang terorganisir. 

Silakan melihat ini: Membekali Umat Kristiani untuk Berpikir Secara Jernih Tentang Masalah Politik, Ekonomi dan Moral Zaman Kita. 

Tetapi apakah warga negara seperti Kyle Rittenhouse boleh menggunakan kekerasan untuk membela diri atau tetangga mereka? Seluruh kekuatan pemerintah akan membanting mereka seperti sepatu bot. Warga negara akan menghadapi dakwaan pembunuhan karena membela diri. Atau mereka akan diganggu dan dianiaya hingga bunuh diri, seperti Jake Gardner. Polisi ada bukan untuk menjaga ketertiban dan melindungi hak-hak individu, tetapi untuk melanggengkan kekacauan dan membuat rakyat tidak berdaya. Untuk menjaga geng penjarah dan preman duduk manis di kursi pengemudi.

 

Saat Anda membaca ini, toko-toko di ibu kota negara kita semua akan berjaga-jaga ketat, dengan antisipasi akan terjadi kerusuhan di wilayahnya jika hasil pemilu tidak menyenangkan orang-orang yang mendukung Global Reset. Jika kita salah memilih, kita akan dihukum, dan mereka akan menggunakan polisi kita untuk menahan kita, sementara para perusuh dibiarkan merampok kota kita.

 

Itu adalah taruhannya bagi hari Selasa depan, teman-temanku, dan juga di masa mendatang. Semoga Tuhan Yang Mahabaik menolong kita semua.

 

John Zmirak is a senior editor at The Stream, and author or co-author of ten books, including The Politically Incorrect Guide to Immigration and The Politically Incorrect Guide to Catholicism. He is co-author with Jason Jones of “God, Guns, & the Government.”

 

*****

 

Rencana 100 Tahun Dari Masoneria

Uskup Agung Viganò melihat bukti 'bahwa akhir zaman...

Sebuah senjata yang ampuh: 15 kutipan tentang Rosario Kudus

Seorang Imam berkata...

17 Alasan Mengapa Kaum Kiri Membenci Iman Katolik

Enoch, 28 Oktober 2020

LDM, 28 Oktober 2020