Sunday, November 20, 2016

Vol 2 - Bab 33 : Keringanan bagi jiwa-jiwa suci

Volume 2 : Misteri Kerahiman Allah

Bab 33

Keringanan bagi jiwa-jiwa suci
Bagi siapa kita berdoa ?
Para pendosa berat
Pastor Ravignan dan Jendral Exelmans
Janda yang berduka dan Cure d’Ars Venerabilis
St.Catherine dari St.Agustinus dan pendosa yang mati didalam gua

Pastor Ravignan seorang pengkhotbah yang ulung dan suci dari the Society of Jesus, juga berharap sangat besar bagi kesejahteraan para pendosa yang meninggal secara mendadak, ketika mereka selalu membenci hal-hal yang berasal dari Tuhan. Pastor Ravignan berbicara tentang sebuah saat yang istimewa, dan nampaknya hal itu menjadi pendapatnya bahwa banyak pendosa menjadi bertobat pada saat-saat terakhir dan diperdamaikan dengan Allah tanpa memberikan tanda-tanda dari luar. Didalam kasus kematian tertentu, terdapat misteri-misteri kerahiman dimana mata manusia tidak bisa melihatnya kecuali hukuman penghakiman saja. Sebagai sebuah kedipan cahaya terakhir, Tuhan kadang-kadang menyatakan DiriNya kepada jiwa-jiwa yang kemalangannya yang terbesar adalah berupa mengabaikan DiriNya. Dan dengan melalui keluhan yang terakhir, yang hanya diketahui olehNya saja yang bisa menembusi setiap hati manusia, bisa menjadi sebuah keluhan yang mengundang pengampunan. Yaitu yang berupa sebuah tindakan penyesalan hati yang sempurna. Jenderal Exelmans seorang saudara dari Pastor Ravignan, tiba-tiba dibawa ke kubur karena kecelakaan, dan sayang sekali dia dalam keadaan tidak setia menjalankan imannya. Dia telah berjanji bahwa pada suatu saat nanti dia akan mengaku dosa, namun belum sampai dia melakukan hal itu. Pastor Ravignan yang sudah sejak lama berdoa baginya, dipenuhi dengan rasa terkejut ketika mendengar kematian itu. Pada hari yang sama, ada seorang yang sudah terbiasa menerima komunikasi adikodrrati merasa dia mendengar sebuah suara batin yang berkata kepadanya :”Siapakah yang tahu besarnya kerahiman Allah ? Siapakah yang tahu dalamnya lautan, atau berapa banyak air yang terkandung didalamnya ? Akan banyaklah pengampunan bagi mereka yang berdosa karena ketidak-tahuannya”.

Penulis biografi dari kisah ini, Pastor de Ponlevoy, selanjutnya mengatakan, “Umat Kristiani yang berada dibawah hukum Pengharapan, tidaklah lebih buruk dari pada dibawah hukum Iman dan Kemurahan Hati, dan kita harus terus mengangkat diri kita dari dalam penderitaan kita menuju kepada pikiran akan kebaikan Allah yang tak terbatas. Tak ada batas bagi rahmat Allah diletakkan disini, sementara disana masih tersisa sekilas kehidupan, tak ada yang tidak bermanfaat bagi jiwa. Karena itu kita harus terus berharap dan memohon kepada Tuhan dengan keteguhan kerendahan hati. Kita tidak tahu hingga seberapa besar kita didengarkan. Para kudus dan doktor Gereja telah bertindak jauh didalam memuji manfaat yang besar dari doa bagi orang yang meninggal, betapapun malangnya nasib mereka nanti. Suatu saat nanti kita akan tahu keajaiban-keajaiban yang tak terkatakan dari Kerahiman Ilahi. Kita tidak boleh berhenti memohon hal itu dengan kepercayaan yang besar”.  

Berikut ini adalah sebuah kejadian yang bisa dibaca didalam buku the Petit Messager du Caeur de Marie, Nopember 1880. Ada seorang religius mengajarkan tentang tugas misi kepada para wanita di Nancy, mengingatkan mereka dalam sebuah konperensi agar kita tidak perlu kecewa atau khawatir akan keselamatan suatu jiwa, dan kadang-kadang tindakan yang paling sederhana saja di mata manusia sudah akan diterima oleh Allah pada saat kematian kita. Ketika religius itu akan meninggalkan Gereja, seorang wanita berpakaian kain kabung mendekatinya sambil berkata :”Pastor, anda telah menganjurkan kami untuk percaya dan berharap. Apa yang terjadi pada diriku sangat mendukung perkataan anda itu. Aku memiliki seorang suami yang sangat baik dan penuh perhatian dan meskipun dia menjalani kehidupan yang tak dapat dicela, tetapi dia sama sekali tidak menjalankan ajaran agama. Doa-doa dan permohonanku tak ada hasilnya. Selama bulan Mei yang mendahului kematiannya, di kamarku aku mendirikan sebuah altar kecil, seperti yang biasa kulakukan, dari Bunda Terberkati, dan aku menghiasinya dengan bunga-bunga yang sering kuganti dengan yang segar. Suamiku menghabiskan hari Minggu di luar kota, dan setiap kali dia kembali dia membawakan aku berbagai jenis bunga yang dia petik sendiri. Dan dengan bunga-bunga itu aku menghiasi kamar doaku itu. Apakah suamiku mengetahui hal ini ? Apakah dia melakukan hal itu untuk menyenangkan aku atau karena dia mengasihi Bunda Terberkati ? Aku tidak tahu, namun dia tak pernah terlambat membawakan aku bunga”.

“Pada awal dari bulan berikutnya, tiba-tiba dia meninggal secara mendadak, tanpa sempat menerima penghiburan rohani. Aku merasa sedih terutama karena aku melihat semua harapanku akan pertobatannya telah hilang. Akibat dari kesedihanku ini, kesehatanku menjadi menurun dan keluargaku mendorong aku untuk melakukan perjalanan ke Selatan. Karena aku harus melewati Lyons, maka aku ingin mengunjungi Cure d’Ars. Lalu aku menulis kepadanya meminta untuk bisa bertemu dengannya dan aku meminta doa-doanya bagi suamiku yang meninggal itu. Aku tidak memberinya keterangan lebih jauh lagi”.  

“Ketika aku tiba di Ars, aku memasuki kamar Cure Venerabilis, dan betapa mengejutkan, dia menyapaku :”Nyonya, anda bersedih. Tetapi apakah anda lupa akan buket bunga yang dibawa kepadamu setiap hari Minggu di bulan Mei itu ?”. Tidaklah mungkin untuk menceritakan keherananku setelah mendengar M.Vianney mengingatkan aku akan peristiwa yang tidak kukatakan kepada siapapun juga itu dimana dia hanya mengetahui hal itu melalui pencerahan Ilahi saja. Dia melanjutkan :”Tuhan telah berbelas kasih kepadanya, yang telah menghormati IbuNya yang suci. Pada saat kematiannya, suamimu bertobat. Jiwanya ada didalam Api Penyucian. Doa-doa kita dan perbuatan baik kita akan mendatangkan kebebasan baginya”.

Kita bisa membaca didalam biografi seorang religius yang suci, Sr.Catherine dari St.Agustinus, bahwa di tempat dimana dia tinggal terdapatlah seorang wanita yang bernama Mary, yang pada masa mudanya telah menyerahkan dirinya kepada kehidupan yang tidak baik du dunia ini, dan sementara perjalanan usianya tidak membawa pertobatan kepadanya, tetapi sebaliknya, dia menjadi semakin keras kepala didalam kejahatannya, dan para tetangga yang tidak bisa lagi menerima perbuatannya itu, mengusir dia keluar kota. Dia tidak mendapatkan tempat perawatan lagi kecuali sebuah gua didalam hutan dimana setelah beberapa bulan kemudian dia meninggal tanpa menerima bantuan dari Sakramen-sakramen. Tubuhnya tergeletak disebuah padang seolah dia mengandung sebuah penyakit menular.

Sr.Catherine yang bisa memohonkan kepada Allah bagi jiwa-jiwa yang meninggal, bukannya mendoakan orang itu, langusng dia menilai bahwa jiwa orang itu pastilah dikutuk.

4 bulan kemudian, hamba Allah itu mendengar sebuah suara :”Sr.Catherine, betapa malangnya diriku ! Engkau memohonkan jiwa-jiwa kepada Allah, tetapi akulah satu-satunya yang tidak kau kasihani !”. “Siapakah engkau ?”, tanya Sr.Catherine. “Aku adalah Mary yang malang itu, yang meninggal didalam gua”. “Apa ? Mary ? apakah kamu selamat ?”. “Ya, karena Kerahiman Ilahi aku selamat. Pada saat kematianku, aku merasa ngeri jika mengingat akan kejahatanku, dan melihat diriku diabaikan oleh semua orang. Maka aku berseru kepada Perawan Terberkati. Didalam kebaikannya yang lembut itulah dia mendengarkan aku dan dia mendapatkan rahmat pertobatan yang sempurna bagiku, dengan sebuah keinginan untuk mengaku dosa pada diriku. Begitulah aku menerima rahmat Allah dan aku lolos dari api neraka. Namun aku diharuskan untuk tinggal didalam Api Penyucian dimana aku sangat menderita sekali. Waktuku disini akan dipersingkat dan aku akan segera dibebaskan jika ada beberapa kali Misa Kudus dipersembahkan bagiku. Oh, rayakanlah Misa Kudus bagiku, Suster yang terkasih, dan aku akan selalu mengingatmu dihadapan Yesus dan Maria”.

Sr.Catherine segera memenuhi permintaan ini dan setelah beberapa hari jiwa itu nampak kepadanya lagi dengan tubuh bercahaya seperti bintang dan dia berterima-kasih atas kemurahan hatinya.


No comments:

Post a Comment