Tuesday, November 29, 2016

Vol 2 - Bab 36 : Motiv didalam menolong jiwa-jiwa suci

Volume 2 : Misteri Kerahiman Allah

Bab 36

Motiv didalam menolong jiwa-jiwa suci
Ikatan yang erat yang menyatukan kita dengan mereka
Kesucian kanak-kanak
Cimon dari Athena dan bapanya di penjara
St.John dari Tuhan menyelamatkan orang yang sakit dari kebakaran

Jika kita diwajibkan untuk menolong jiwa-jiwa suci karena kebutuhan yang sangat mendesak dari mereka, betapa lebih besar lagi motiv ini jika kita ingat bahwa jiwa-jiwa itu disatukan dengan kita dengan ikatan yang amat suci, ikatan darah, dengan melalui Darah Yesus Kristus, dan dengan ikatan daging dan darah manusiawi, dimana kita telah dilahirkan menurut daging.

Ya, didalam Api Penyucian terdapat jiwa-jiwa yang disatukan dengan kita melalui ikatan keluarga dekat. Dia mungkin adalah ayah atau ibu kita, yang merana ditengah siksaan-siksaan yang mengerikan itu, yang mengulurkan tangan-tangan mereka meminta bantuan kita. Apa yang tidak akan kita lakukan bagi ayah atau ibu kita, jika kita tahu mereka sedang merana didalam lembah yang memuakkan itu ? Seorang Athena kuno, Cimon yang terkenal itu, sangat bersedih demi melihat ayahnya dipenjara oleh para kreditornya yang kejam, karena dia tak mampu membayar hutang-hutangnya. Apa yang lebih menyedihkan lagi, dia tak bisa mengumpulkan sejumlah uang yang cukup untuk melunasi hutang ayahnya itu, dan orang tua itu kemudian meninggal didalam penjara. Cimon segera pergi ke penjara dan meminta agar orang-orang itu mau menyerahkan mayat ayahnya agar dia bisa menguburkannya. Tetapi permintaan ini ditolak, dengan alasan bahwa dia belum bisa membayar hutang ayahnya. “Ijinkanlah aku menguburkan ayahku lebih dahulu”, kata Cimon, “nanti aku akan kembali kesini dan menggantikan dia didalam penjara”.

Kita menghargai rasa kasih kekeluargaan ini dan bukankah kita patut meniru hal itu ? Bukankah, mungkin, ayah atau ibu kita berada didalam penjara Api Penyucian ? Bukankah kita juga wajib membebaskan mereka dengan ongkos kurban yang besar sekalipun ? Lebih beruntung dari pada Cimon, didalam kehidupan ini kita bisa membayar hutang-hutang keluarga kita yang ada didalam Api Penyucian. Kita tak perlu menggantikan mereka dengan jalan tinggal didalam penjara Api Penyucian. Sebaliknya, untuk membebaskan mereka, berarti mambayar hutang itu dengan tebusan kita sendiri.

Kita juga menghormati kemurahan hati St.John dari Allah yang berani menghadapi ganasnya nyala api untuk menyelamatkan orang yang sakit selama terjadinya kebakaran. Hamba Allah yang mulia ini meninggal di Granada pada tahun 1550, sambil berlutut dihadapan patung Yesus yang disalib, yang dia peluk dan terus dia pegang erat di tangannya, hingga dia menyerahkan jiwanya kepada Tuhan. Lahir dari orang tua yang miskin dan dia berkewajiban menolong dirinya sendiri dengan cara menggembalakan ternak. Dia kaya didalam iman dan kepercayaan kepada Allah. Dia senang sekali berdoa dan mendengarkan Sabda Allah. Hal ini merupakan fondasi dari kesuciannya yang besar yang dia miliki. Suatu kotbah oleh Pastor John d’Avila Venerabilis, murid dari Andalusia, memberikan kesan yang cukup dalam pada dirinya sehingga dia bertekad untuk mempersembahkan seluruh hidupnya untuk melayani orang-orang yang sakit. Tanpa dorongan yang lain kecuali dari kemurahan hatinya dan kepercayaannya kepada Allah, dia berhasil membeli sebuah rumah tinggal untuk mengumpulkan orang-orang yang sakit dan terlantar, agar dia bisa memberi mereka makanan bagi tubuh dan jiwa mereka. Tempat perawatan ini kemudian berkembang menjadi Rumah Sakit ‘Royal Hospital’ di Granada, sebuah bangunan yang besar yang dipenuhi dengan banyak orang-orang jompo dan cacad. Suatu hari Rumah Sakit itu terbakar dan banyak orang sakit disitu berada dalam bahaya. Mereka semua sudah dikelilingi oleh nyala api dari segala jurusan, sehingga tidak mungkinlah untuk bisa menyelamatkan mereka. Mereka meneriakkan seruan-seruan yang amat menyayat hati, memanggil-manggil Surga dan bumi untuk meminta tolong. John menyaksikan semuanya ini dan kemurahan hatinya mendorongnya untuk bertindak. Dia segera berlari menembus api itu dan berjuang ditengah kobaran api dan asap tebal hingga dia mencapai tempat tidur orang-orang yang sakit itu. Lalu dia menggendong mereka di punggungnya menuju ke tempat yang aman. Dia merasa harus menembus api yang ganas itu dan berjuang ditengah panasnya api selama sekitar ½ jam sehingga orang kudus itu tidak lagi mampu menanggung panasnya api itu. Nyala api membakar tubuhnya, pakaiannya, bahkan rambut di kepalanya, dan Tuhan ingin menunjukkan dengan sebuah keajaiban betapa amat menyenangkan Dia kemurahan hati hambaNya itu. Dan mereka yang menyelamatkan, bukan tubuh, melainkan jiwa-jiwa dari nyala api di Api Penyucian, apakah perjuangan mereka kurang penting di mata Allah ? Apakah segala keperluan, tangisan dan erangan-erangan jiwa-jiwa di Api Penyucian itu kurang menyentuh hati orang-orang yang memiliki iman ? Apakah lebih sulit untuk menolong mereka ? Perlukah kita menceburkan diri kita sendiri kedalam nyala api itu untuk bisa menyelamatkan jiwa-jiwa di Api Penyucian ?

Yakinlah bahwa kita memiliki semua sarana di tangan kita untuk mengurangi penderitaan mereka, dan Tuhan tidak menuntut usaha yang terlalu berat dari kita. Dan kemurahan hati dari jiwa-jiwa yang bersemangat mengilhami mereka untuk melakukan kurban-kurban yang heroik, bahkan dengan ikut merasakan siksaan-siksaan saudara mereka didalam Api Penyucian.


No comments:

Post a Comment