Saturday, November 26, 2016

Vol 2 - Bab 35 : Motiv didalam menolong jiwa-jiwa suci

Volume 2 : Misteri Kerahiman Allah

Bab 35

Motiv didalam menolong jiwa-jiwa suci
Kemuliaan dari karya pertolongan ini
Pertentangan antara Br.Benediktus dan Br.Bertrand

Ketika kita begitu gencarnya memuji dan menganjurkan doa-doa bagi orang yang meninggal, kita tidak menarik kesimpulan bahwa perbuatan-perbuatan baik yang lain haruslah juga dilakukan sesuai dengan waktu, tempat dan keadaan yang ada. Satu-satunya ujub yang kita perhatikan adalah memberikan pengertian yang benar tentang kemurahan hati Tuhan terhadap orang yang meninggal serta memberikan inspirasi kepada orang yang hidup dengan keinginan untuk menjalankan hal itu.

Lebih lagi karya-karya kemurahan hati dimana sasarannya adalah keselamatan jiwa-jiwa, semuanya bersifat mulia, dan biasanya kita menempatkan pertolongan kepada orang yang meninggal lebih tinggi dari pada pertolongan kita bagi pertobatan para pendosa.

Diceritakan didalam the Chronicles of the Friars Preachers, bahwa sebuah kontroversi telah timbul antara dua orang religius dari ordo itu, Br.Benediktus dengan Br. Bertrand, tentang masalah permohonan bagi orang yang meninggal. Kejadiannya adalah sebagai berikut : Br.Bertrand sering merayakan Misa Kudus bagi para pendosa dan selalu berdoa demi pertobatan mereka dan dia melakukan tindakan silih yang keras terhadap dirinya sendiri demi mereka. Namun dia jarang dijumpai ikut Misa Kudus dengan jubah hitam bagi orang yang meninggal, sedangkan Br.Benediktus memiliki devosi yang besar kepada jiwa-jiwa di Api Penyucian. Setelah ditanya mengapa dia melakukan hal itu, Br.Bertrand menjawab :

“Karena jiwa-jiwa di Api Penyucian sudah pasti akan menerima keselamatan mereka, sementara para pendosa itu terus menerus dihadapkan kepada bahaya kejatuhan mereka kedalam neraka. Keadaan manakah yang lebih patut disayangkan dari pada suatu jiwa yang berada dalam keadaan dosa berat ? Dia bermusuhan dengan Allah dan diikat oleh rantai setan, tertahan didalam lembah neraka oleh rantai kehidupan yang lemah, yang bisa putus setiap saat. Para pendosa berjalan di jalan kemusnahan. Jika dia terus maju, dia akan jatuh kedalam lembah yang kekal. Karena itu kita harus menolong dan mempertahankan mereka dari kemalangan yang terbesar, dengan cara berusaha memperoleh pertobatannya. Selain itu bukankah Putera Allah datang ke dunia ini dan mati disalib demi menyelamatkan para pendosa. St.Denis juga meyakinkan kita bahwa hal yang paling ilahiah adalah bekerja bersama Allah demi keselamatan jiwa-jiwa. Mengenai jiwa-jiwa di Api Penyucian ? Mereka itu sudah pasti selamat, keselamatannya yang kekal sudah diyakinkan. Mereka menderita, menjadi mangsa dari siksaan yang mengerikan, namun mereka tidak takut akan bahaya neraka, dan penderitaan mereka pastilah berakhir. Hutang mereka semakin berkurang setiap harinya dan segera mereka akan menikmati kebahagiaan kekal. Sementara itu para pendosa terus menerus berhadapan dengan kutukan, kemalangan yang paling mengerikan yang bisa mengenai makhluk Allah”.

Br.Benediktus menjawab :”Semua yang kau katakan itu memang benar, namun terdapat pertimbangan lain yang harus dipikirkan. Para pendosa itu adalah budak-budak setan atas kemauannya sendiri yang bebas itu. Kuk mereka sudah mereka pilih sendiri. Mereka bisa memutuskan rantai yang mengikat dirinya jika mereka mau. Sedangkan jiwa-jiwa malang didalam Api Penyucian hanya bisa mengeluh dan memohon pertolongan dari orang-orang yang hidup. Tidaklah mungkin bagi mereka untuk memutuskan belenggu kaki yang membuatnya menjadi tawanan dari nyala api itu. Andaikan saja aku berjumpa dengan dua orang pengemis, yang satu dalam keadaan sakit, lumpuh, dan tanpa daya, betul-betul tak mampu mencari penghasilan bagi hidupnya. Pengemis yang lain, meskipun dia sangat bersedih, tetapi masih muda dan kuat. Manakah diantara keduanya yang lebih layak menerima sedekahmu itu ?”.

“Tentu saja pengemis yang tak mampu bekerja itu”, jawab Br.Bertrand.

“Baiklah saudaraku yang terkasih”, lanjut Br.Benediktus, “begitu juga halnya dengan para pendosa dan jiwa-jiwa suci didalam Api Penyucian. Mereka tidak mampu menolong dirinya sendiri. Saat untuk berdoa, mengaku dosa, dan melakukan perbuatan baik demi kepentingannya sendiri sudah lewat baginya. Hanya kita sajalah yang bisa meringankan penderitaan mereka. Sungguh benar bahwa mereka berhak menerima penderitaan itu sebagai hukuman atas dosa-dosa mereka. Namun kini mereka merintih dan menyesali dosa-dosa itu. Mereka berada didalam rahmat dan persahabatan dengan Tuhan, sedangkan para pendosa itu menjadi musuhNya. Tentu saja kita harus berdoa demi pertobatan para pendosa itu, namun kita harus melaksanakan kewajiban kita terhadap jiwa-jiwa yang menderita di Api Penyucian, yang begitu dikasihi oleh Yesus. Marilah kita menaruh belas kasihan kepada para pendosa, tetapi janganlah kita melupakan bahwa mereka memiliki semua sarana keselamatan di tangan mereka. Mereka seharusnya memutuskan ikatan dosa itu dan menjauhi bahaya kutukan yang mengancam mereka. Bukankah jelas sekali bahwa jiwa-jiwa yang menderita di Api Penyucian itu lebih membutuhkan sebagian besar dari kemurahan hati kita ?”.

Begitu kuatnya pengaruh dari argumen-argumen ini dimana Br.Bertrand bertahan dengan pendapatnya semula. Namun pada malam berikutnya dia mengalami sebuah penampakan dari jiwa didalam Api Penyucian yang membuatnya mengalami rasa sakit yang ditanggung oleh jiwa itu. Penderitaan itu begitu kerasnya sehingga hampir-hampir tidak mungkin kita menanggungnya. Lalu seperti yang dikatakan oleh nabi Yesaya, siksaan mendatangkan pengertian baginya Vexatio intellectum debit (Yes. 28:19), dan dia diyakinkan bahwa dia akan melakukan lebih banyak lagi demi jiwa-jiwa yang menderita itu. Pagi berikutnya, dengan dipenuhi oleh rasa belas kasih, dia naik ke tangga altar dengan berpakaian hitam, dan mempersembahkan Kurban Kudus bagi orang yang meninggal.



No comments:

Post a Comment