Monday, November 7, 2016

Vol 2 - Bab 29 : Keringanan bagi jiwa-jiwa suci

Volume 2 : Misteri Kerahiman Allah

Bab 29

Keringanan bagi jiwa-jiwa suci
Sedekah
Raban-Maur dan Edelard di biara Fulda

Marilah kita membicarakan cara terakhir yang amat kuat untuk meringankan jiwa-jiwa suci di Api Penyucian, yaitu dengan memberikan sedekah. Doktor Gereja, St.Thomas, menganjurkan kita untuk memberikan sedekah sebelum kita berpuasa dan berdoa, jika dia harus menjawab pertanyaan mengenai cara penebusan dosa bagi kesalahan pada masa yang lalu. “Sedekah”, katanya, “memiliki keutamaan yang lebih lengkap, kepuasan yang lebih besar dari pada doa, dan doa adalah lebih lengkap dari pada puasa. Begitulah hamba-hamba Allah dan para kudus yang agung telah memilih tindakan sedekah sebagai cara yang pokok untuk menolong orang yang meninggal. Diantara mereka itu adalah Uskup Raban-Maur di Fulda, abad 10, dan setelah itu adalah Uskup Agung di Mayence.

Pastor Trithemius, seorang penulis terkenal dari ordo St.Benedictus, telah banyak memberikan sedekah bagi kepentingan orang yang meninggal. Dia membuat aturan bahwa jika ada seorang religius yang meninggal, maka jatah makanannya akan dibagikan kepada orang-orang miskin selama 30 hari, agar jiwa orang yang meninggal itu bisa diringankan oleh tindakan sedekah itu. Terjadilah pada tahun 830 bahwa biara di Fulda itu diserang oleh suatu wabah penyakit yang menyerang sebagian besar religius disitu. Raban-Maur dengan penuh semangat dan kemurahan hati bagi jiwa-jiwa orang yang meninggal itu, memanggil Edelard, juru bicara biara itu, dan mengingatkan dia akan aturan yang ditetapkan mengenai sedekah bagi orang yang meninggal. “Perhatikanlah baik-baik”, katanya, “agar institusi kita ini tetap patuh, dan agar orang-orang miskin tetap bisa diberi makan selama sebulan penuh dengan jatah makanan dari saudara-saudara kita disini yang meninggal”.

Edelard ternyata tidak mematuhi hal itu dan dia tak memiliki kemurahan hati untuk melakukannya, dengan alasan bahwa pemberian itu bersifat berlebihan, dan bahwa dia harus menghemat makanan didalam biara itu. Tetapi sesungguhnya karena dia terpengaruh oleh sifat keserakahan secara diam-diam. Dan dia tidak mau membagikan makanan seperti yang diperintahkan. Begitulah Tuhan tidak membiarkan tindakan ini tanpa hukuman.

Sebulan telah berlalu, ketika pada suatu sore, setelah komunitas itu beristirahat, dia berjalan melintasi sebuah ruangan khusus dengan membawa sebuah lampu di tangannya. Betapa terkejutnya dia ketika pada saat seharusnya ruangan itu dalam keadaan kosong dan gelap, ternyata dia mendapati disitu ada banyak sekali religius yang berkumpul. Rasa terkejutnya itu berubah menjadi rasa takut ketika dia memperhatikan mereka dengan baik-baik. Dia mengenali mereka sebagai para anggota religius disitu yang telah meninggal. Ketakutan menguasai dirinya. Pembuluh darahnya menjadi dingin seperti es dan membuatnya terpaku berdiri seperti patung. Salah satu dari orang-orang yang meninggal itu berkata kepadanya dengan nada mempersalahkan :”Makhluk yang malang, mengapa kamu tidak mau membagikan sedekah yang berguna untuk meringankan penderitaan jiwa-jiwa saudaramu yang meninggal ? Mengapa kamu meluputkan kami dari pertolongan itu ditengah siksaan Api Penyucian ini ? Dari sejak saat ini terimalah hukuman atas keserakahanmu itu. Pemurnian lain yang lebih mengerikan telah dipersiapkan bagimu, dimana setelah hari ketiga kamu akan hadir dihadapan Allahmu”.

Atas perkataan ini Edelard terjatuh seolah tersambar oleh sebuah petir dan tetap tidak bergerak hingga sesudah tengah malam, pada saat ketika para religius disitu mulai berdoa malam. Mereka mendapati dia dalam keadaan setengah mati, dalam keadaan yang sama seperti yang dialami oleh Heliodorus dulu, setelah dia disiksa oleh para malaikat di bait Allah di Yerusalem. (2 Mach.3).

Edelard lalu dibawa menuju rumah sakit, dimana seluruh usaha perawatan dilakukan kepadanya, hingga kemudian dia menjadi sadar. Segera setelah dia mampu berbicara, dihadapan kehadiran Bapa Uksup dan semua anggota religius, dia bercerita sambil menangis tentang keadaannya yang menyedihkan itu. Dia menambahkan ceritanya bahwa dia akan meninggal dalam waktu tiga hari kemudian dan dia meminta Sakramen Perminyakan beserta segala tindakan penyesalannya. Dia menerima semua itu dengan semangat kesucian dan tiga hari kemudian dia meninggal, dengan didukung oleh iringan doa-doa dari para saudara religius disitu.

Misa bagi orang yang meninggal segera saja diadakan dan jatah makanannya dibagikan kepada orang-orang miskin demi kepentingan jiwanya. Sementara itu hukumannya belumlah berakhir, dan Edelard menampakkan diri kepada Uskup Raban dalam keadaan pucat dan lusuh sekali. Tersentuh oleh rasa belas kasih, Raban menanyakan kepadanya apa yang bisa dia lakukan untuk menolongnya. “Ah”, jawab Edelard yang malang itu, “meskipun sudah ada doa-doa dari para saudaraku yang suci disini tetapi aku masih belum bisa memperoleh rahmat pembebasanku hingga semua saudaraku telah dibebaskan., dimana karena keserakahanku, aku telah meluputkan mereka dari permohonan yang layak mereka terima. Segala sesuatu yang diberikan kepada orang-orang miskin demi aku, ternyata tidaklah bermanfaat bagi diriku, tetapi hal itu sangat bermanfaat bagi para saudaraku itu, dimana hal seperti ini terjadi atas perintah dari Pengadilan Ilahi. Karena itu aku memohon kepadamu, oh Bapa Uskup yang terhormat dan murah hati, “tingkatkanlah sedekahmu. Aku berharap agar melalui sarana yang kuat ini maka kemurahan hati Ilahi akan berkenan membebaskan kita semua, dimana para saudaraku terlebih dahulu dibebaskan, baru kemudian diriku sendiri, yang paling tidak layak menerima kerahiman Allah”.

Raban-Maur meningkatkan pemberian sedekahnya, dan hampir-hampir tak ada bulan yang terlewatkan, ketika tiba-tiba Edelard muncul kembali. Namun kali ini dia berpakaian putih dengan dikelilingi oleh berkas cahaya dan penampilannya nampak penuh sukacita. Dia berterima-kasih kepada Uskup dan seluruh anggota komunitas itu atas kemurahan hati mereka kepadanya.

Betapa besarnya arti dari informasi sejarah ini ! Pertama-tama, keutamaan dari pemberian sedekah bagi kepentingan orang yang meninggal nampak jelas sekali. Lalu kita bisa melihat betapa Tuhan memurnikan, bahkan sejak di dunia ini, mereka yang karena keserakahannya tidak merasa takut untuk tidak membantu permohonan bagi orang yang meninggal. Disini aku belum berbicara tentang para ahli waris yang membalas kejahatan kepada pemberi warisan, dengan cara melalaikan permohonan bagi para pemberi warisan itu melalui keinginan terakhir mereka dan surat wasiat dari saudara mereka yang meninggal, sebuah sikap mengabaikan yang merupakan ketidak-adilan yang sakrilegi. Anak atau saudara, yang karena alasan yang tidak benar, hanya mengadakan sedikit saja Misa Kudus bagi mereka, dan tidak mau bersedekah, mereka adalah orang yang tak memiliki belas kasihan kepada jiwa-jiwa saudaranya yang meninggal, yang mereka biarkan meratap didalam siksaan-siksaan yang amat mengerikan didalam Api Penyucian. Hal itu merupakan sifat tidak berterima-kasih yang paling jahat, sebuah hati yang paling keras yang bertentangan dengan kemurahan hati Kristiani dan yang akan menghadapi hukumannya, mungkin saja sejak di dunia ini.


No comments:

Post a Comment