Sunday, May 28, 2017

SEBAGIAN BESAR UMAT KATOLIK DAN BANYAK SEKALI USKUP-USKUP....

SEBAGIAN BESAR UMAT KATOLIK DAN BANYAK SEKALI USKUP-USKUP YANG MERASA ‘SUNGKAN’ MENGUTAK-ATIK KETIDAK-TAATAN SEORANG PAUS KEPADA PAUS-PAUS SEBELUMNYA


Dr. Silvas, dari Australia, menggambarkan "efek burung unta" pada umat Katolik yang telah merasa puas.

ROME, May 23, 2017 (LifeSiteNews) — Terlalu banyak umat Katolik terjebak dalam “katolisisme nyaman" yang membuat mereka enggan, dan bahkan tidak mampu, untuk melihat "masalah-masalah serius" yang terjadi saat ini yang sedang  menimpa Gereja, demikian kata seorang teolog terkenal dan salah satu pakar Katolik terkemuka di dunia tentang para Bapa Gereja.

"Sebagian besar umat Katolik nampaknya menjalani kehidupan mereka di dalam sebuah zona nyaman, persis seperti banyak uskup yang lebih memilih tinggal di sebuah zona “lebih baik aman-aman sajalah” demikian kata ilmuwan Katolik patristik dan klasik dari Australia, Anna Silvas. "Adalah tindakan yang ‘terlalu berani’ bagi mereka yang telah tinggal di dalam zona seperti itu untuk ‘mencungkil lebih dalam,’ karena apa yang mungkin mereka temukan akan sangat menantang mereka,” tambahnya.

Silvas secara khusus mengacu pada masalah yang timbul dari Amoris Laetitia dari Paus Fransiskus yang sangat kontroversial itu. Konsep baru tentang pengertian "belas kasihan" Apostolik telah digunakan oleh beberapa Kardinal dan uskup untuk membenarkan pemberian Komuni Kudus kepada orang-orang Katolik yang bercerai dan menikah kembali yang hidup dalam perzinahan dan bahkan kepada orang-orang yang hidup dalam hubungan homoseksual. Kritikus Katolik mengatakan bahwa tindakan semacam itu berarti memberikan persetujuan diam-diam terhadap perzinahan dan homoseksualitas, tindakan yang selalu dikutuk oleh Gereja sebagai dosa seksual yang sangat tidak bermoral.

Silvas, seorang peneliti senior di Universitas New England di Australia, mengatakan bahwa terlalu banyak umat di dalam Gereja telah diatur oleh apa yang dia sebut "kepausan afektif", di mana semua yang dikatakan oleh paus adalah "sebuah titah dari surga."

Orang-orang terlalu takut untuk mempertanyakan apa yang terjadi ketika seorang paus "tidak taat" terhadap ajaran para paus sebelumnya, kata Silvas. Pertanyaan seperti itu tidak terpikirkan oleh kebanyakan umat Katolik, dia menambahkan.

Silvas mengatakan bahwa umat Katolik yang setia yang melihat adanya perbedaan antara apa yang dikatakan oleh paus mengenai ajaran Gereja dengan apa yang sebenarnya diajarkan oleh Gereja, merasa takut kalau dikatakan atau disebut "tidak setia”, padahal tidak boleh ada yang menjauh dari kebenaran.

Dia mengatakan bahwa umat awam, imam, uskup, kardinal, dan paus, semuanya "berkewajiban" untuk taat kepada Yesus Kristus dan ajaran Gereja Katolik yang didirikanNya.

"Gereja adalah sebuah perjanjian ketaatan bersama ... dan semuanya wajib mematuhi Yesus Kristus, sampai ke posisi puncaknya. Jadi Paus sendiri, terutama, harus taat," katanya.

Silvas mengatakan bahwa Paus Benediktus mungkin benar juga saat dia berbicara tentang Gereja yang setia, yang taat kepada Yesus Kristus, akan berupa Gereja yang lebih kecil bentuknya. Gereja yang setia akan menyusut jumlahnya, katanya, tapi mereka akan memiliki karakter yang berbeda dari yang saat ini sedang populer.

"Hanya komitmen yang sangat kuat terhadap Kristus yang akan membuat kita bisa keluar dari krisis saat ini," katanya.

"Tidak ada jawaban yang mudah kecuali kita semua harus berpaling di dalam hati dan perbuatan, kepada Tuhan kita, yang adalah Tuhan yang sejati, Guru, dan Mempelai Pria dari Gereja-Nya, kemarin, hari ini, dan selamanya," tambahnya.

Profesor Silvas bergabung dengan jajaran Profesor Princeton, Robert P. George, dan penulis Katolik Msgr. Charles Pope, yang mengajak umat Katolik untuk bangkit dari "Katolik yang nyaman" dan menjalani kebenaran Injil tanpa kompromi.

"Hari-hari kekristenan yang diterima secara sosial sudah berakhir, hari-hari Katolisitas yang nyaman sudah lewat," kata Prof. George dalam pidatonya tahun 2014. "Tidak mudah lagi menjadi seorang Kristiani yang setia, seorang Katolik yang baik, untuk menjadi seorang saksi yang otentik akan kebenaran Injil. Sebuah harga memang dituntut dan harus dibayar, "katanya.

Msgr. Charles Pope menulis dalam sebuah artikel tahun 2016 bahwa umat Katolik harus menyingkirkan segala "penghiburan" dan menjalankan iman mereka seolah-olah mereka sedang berperang.

"Nampaknya saat ini masih belum ada kesadaran bahwa kita sedang berperang dan bahwa umat Katolik perlu dipanggil untuk berkepala dingin, meningkatkan pemisahan dari dari budaya duniawi yang lebih luas, menyampaikan kesaksian yang berani dan meningkatkan kemartiran, dalam berbagai bentuknya" katanya.

Read the full article at Life Site News

Silakan melihat artikel lainnya disini : http://devosi-maria.blogspot.co.id/


No comments:

Post a Comment