Monday, July 3, 2017

Uskup Charles Pope menulis...

ALASAN TERBESAR MENGAPA IMAM-IMAM BERSIKAP DIAM DI HADAPAN KEMEROSOTAN MORAL SAAT INI



oleh Uskup Charles Pope

June 30, 2017 (Archdiocese of Washington) – 30 Juni 2017 (Archdiocese of Washington) - Salah satu keprihatinan paling konsisten yang diungkapkan baik oleh pembaca saya maupun oleh peserta dalam berbagai ceramah yang saya berikan, adalah adanya sejumlah besar klerus yang suam-suam kuku dan bermasalah. Kami, para klerus, telah banyak membebani umat kami, namun sebagian besar mereka sangat sabar dan mengasihi kami terlepas dari segala kelemahan dan keanehan tingkah laku kami.

Sebagian besar umat sangat prihatin terhadap sikap diam dan / atau ketidakjelasan sikap para klerus dalam menghadapi krisis moral yang mengerikan dalam budaya kita saat ini. Paling banter, banyak mimbar kotbah tetap diam atau penuh dengan omongan yang abstrak dan bersifat umum. Dan yang paling buruk, beberapa mimbar kotbah dan ajaran klerus penuh berisi kesalahan atau ketidakjelasan langsung yang (disengaja atau tidak) telah menyesatkan dan membingungkan umat beriman.

Tentu saja, ada banyak pengecualian atas masalah ini. Ada banyak imam yang baik yang bekerja keras, mengajar dengan berani dan jelas, dengan penuh kasih dan semangat. Namun, masalahnya (krisis moral dan iman) memang cukup luas sehingga hal itu menjadi perhatian sebagian besar umat beriman.

Kardinal Robert Sarah, dalam buku terbarunya The Power of Silence Against the Dictatorship of Noise, menyajikan analisis mendalam tentang masalah dan penyebabnya. Dia menceritakan bahwa masalah krisi moral dan iman ini adalah karena kurangnya keheningan doa dari banyak imam, yang tidak memiliki banyak waktu untuk berdoa, apalagi merenungkan dan melakukan kontemplasi yang dalam. Kardinal Robert Sarah memulai dengan merujuk kepada pastor Henri Nouwen, yang pernah berkata, “Keheningan adalah disiplin dimana semangat akan Allah di dalam hati dipelihara dan terus dihidupkan ... Terutama kita (imam-imam), yang ingin bersaksi atas kehadiran Roh Allah di dunia, perlu mempertahankan semangat ini dengan sangat hati-hati ... [Namun] banyak sekali utusan (imam-imam) yang telah menjadi loyo... di mana api Roh Allah telah padam dalam dirinya, dan dari mereka itu tidak banyak yang bisa dipancarkan kecuali gagasan dan perasaan mereka sendiri yang membosankan dan kerdil; ... Seolah-olah (mereka sendiri) tidak yakin bahwa Roh Allah dapat menyentuh hati manusia [dikutip dalam The Power of Silence, hlm. 77].

Berikut ini ada dua pemikiran penting. Pertama, seorang imam yang tidak terbiasa untuk berdoa hening dan mendengarkan suara Tuhan, dia akan hanya mendengar suara dari dunia ini dan meniru slogan-slogannya dan seringkali juga gagasan-gagasan duniawi yang tidak jelas. Suara Kristus dan terang Injil menjadi redup, dan pikirannya berpusat kepada hal-hal yang sia-sia dan gagasan-gagasan duniawi. Secara bertahap, dia akan "menjadi pribumi," dengan mengambil pikiran dunia, gagasan-gagasan daging, dan bahkan doktrin-doktrin setan.

Kedua, seorang imam dapat menjauh dari "bisikan hening suara Tuhan." Dia bisa mulai kehilangan kepercayaan akan kuasa rahmat Allah yang bisa menyentuh dan merubah hati manusia. Khotbah yang bersemangat berakar dalam keyakinan tentang kebenaran yang diwartakan dan kuasa rahmat untuk melaksanakan apa yang disampaikan oleh Sabda Tuhan. Memang benar bahwa ajaran Tuhan sering kali menantang umat beriman, namun hal ini tidak menghalangi Kristus, yang mengetahui kuasa dari rahmat, tidak ragu untuk menunjuk kepada kebenaran yang tertinggi dan dengan sungguh memanggil umat beriman untuk percaya akan rahmat dan belas kasihan-Nya agar bisa sampai kepada kebenaran tertinggi itu! Tanpa doa yang tekun, maka kita (imam-imam) akan kehilangan kepercayaan kepada Tuhan dan kepada umatNya.

Secara perlahan, seperti yang ditulis oleh Nouwen, semangat spirituil seorang imam akan menjadi dingin dan keadaan mati rasa dari dunia ini akan memadamkan sukacitanya, semangatnya, kepercayaan diri dan kasihnya. Tuntutan dari Injil nampak tidak beralasan lagi baginya atau bahkan tidak mungkin dilaksanakan olehnya. Dan karena dia memandang Injil sebagai sesuatu yang terlalu menantang, terlalu sulit, dia menjadi ragu untuk mewartakannya. Sementara kobaran semangat dalam dirinya semakin redup, dia cenderung bertindak melemahkan pesan Injil, membawa pesan itu ke dalam kebingungan dari penafsiran abstrak dan generalisasi, atau langsung menolak kebenaran-kebenaran Injil yang lebih keras lagi.

Kardinal Sarah memperingatkan para imam tentang kecenderungan seperti ini beserta akibatnya:

Tentu saja Kristus sangat bersedih melihat dan mendengar para imam dan uskupNya, yang seharusnya melindungi integritas ajaran Injil dan ajaranNya, justru mereka memperbanyak kata-kata dan tulisan yang melemahkan ketegasan ajaran Injil dengan pernyataan mereka yang membingungkan dan ambigu. Tidaklah mudah untuk mengingatkan para imam dan uskup yang seperti ini mengenai Sabda Yesus yang cukup keras: "Sebab itu Aku berkata kepadamu bahwa setiap dosa dan penghujatan akan diampuni, tetapi penghujatan terhadap Roh tidak akan diampuni ... baik disini maupun di masa yang akan datang . Karena dia melakukan dosa yang kekal "[Ibid., Hlm. 77-78].

Begitulah, seperti yang dikatakan oleh pastor Nouwen dan Kardinal Sarah, bahwa para imam yang membiarkan kobaran api Allah menjadi redup dan tidak lagi mempercayai Allah atau umatNya, mereka berdosa terhadap Roh Kudus. Mereka melakukan hal itu karena mereka meragukan atau bahkan menolak kuasa rahmat yang bisa melaksanakan tuntutan Injil. Sanjungan manusia dan pandangan duniawi lebih disukai daripada dorongan Roh Kudus untuk mewartakan Injil dengan jelas, penuh kasih, dan tanpa kompromi. Kelemahan manusia dijadikan alasan untuk tidak melaksanakan apa yang diharapkan. Roh Kudus diabaikan dan dianggap sebagai tidak relevan atau tidak mampu untuk menyempurnakan umat Allah. Ini adalah dosa melawan Roh Kudus dan merupakan akhir yang menyedihkan bagi seorang imam, terutama orang yang secara langsung menyesatkan umat Allah dan semakin meneguhkan mereka dalam perbuatan dosa dan kesalahan.

Karena itu, saya meminta kepada seluruh umat beriman agar sering berdoa bagi para imam dan uskup. Dalam kelemahan manusiawi kita, maka kita, para klerus bisa berjalan menjauhi doa. Dari situlah, semangat akan Allah yang berkobar-kobar dan sukacita akan kebenaran bisa digantikan oleh pemikiran duniawi dan kurangnya kepercayaan dalam mewartakan tanpa kompromi. Kemudian dengan dilakukannya kompromi, segala sesuatunya menjadi semakin memburuk.

Dalam bukunya, Kardinal Sarah merujuk kepada doa permohonan dari St. Agustinus, dan saya akan menyampaikan hal itu juga disini:

Bukanlah niatanku untuk menyia-nyiakan hidupku melalui kesombongan gerejawi. Aku berpikir mengenai sebuah hari dimana nanti aku harus melakukan pertanggung-jawaban atas kawanan domba yang telah dipercayakan kepadaku oleh Sang Pangeran dari semua pastor. Tolong, pahamilah ketakutanku ini, karena ketakutanku ini sangat besar. [hlm. 79].

Tu es Sacerdos in Aeternum by Vivaldi:
Reprinted with permission from the Archdiocese of Washington's blog.

Silakan melihat artikel lainnya disini : http://devosi-maria.blogspot.co.id/


No comments:

Post a Comment