Monday, October 30, 2017

UMAT KATOLIK DAN NON-KATOLIK MENERIMA KOMUNI BERSAMA...

UMAT KATOLIK DAN NON-KATOLIK MENERIMA KOMUNI BERSAMA DALAM MISA EKUMENIS YANG DIPROMOSIKAN OLEH KEUSKUPAN AGUNG TURIN


The “ecumenical mass” promoted by the Archdiocese of Turin, Italy



Kelompok ‘Pemecahan Roti’ (Spezzare il pane) di wilayah keuskupan agung Turin, Italia, secara resmi telah memulai perayaan ‘misa ekumenis’ dimana Komuni Kudus dibagikan kepada umat Katolik maupun non-Katolik.

Kelompok itu diketuai oleh seorang imam (Katolik) Fredo Oliviero, seorang pembela dan pendukung pengungsi illegal, yang mendapat dukungan dari uskupnya, Mgr. Cesare Nosiglia. Praktek kelompok itu yang membagikan Komuni Kudus kepada orang-orang non-Katolik, dipromosikan secara terbuka di dalam surat kabar keuskupan agung Turin La Voce e il Tempo.

Diantara para anggota kelompok itu adalah umat dari gereja-gereja Anglican, Baptist, Waldensian dan Lutheran. Mereka berkumpul sebulan sekali di salah satu dari gereja-gereja mereka, dimana mereka merayakan sebuah ‘Ekaristi’ seturut pemeluk agama masing-masing, kemudian membagikan ‘Komuni’ itu kepada setiap orang. Saat ini sudah menjadi kebiasaan rutin di tempat itu, sebulan sekali, kelompok itu bertemu di dalam gereja Katolik, atau Lutheran, atau Waldensian, atau Baptist, untuk ‘saling berbagi Ekaristi’, dimana semua anggotanya ikut ambil bagian dalam upacara penyembahan, atau Misa Kudus, yang dilaksanakan seturut tata upacara gereja yang menjadi tuan rumah saat itu. Menurut Pastor Fredo, upacara ekumenis itu berusaha ‘menghapuskan identitas Kristiani yang selalu ditonjolkan oleh masing-masing agama pemeluknya.’ Pastor itu mengatakan bahwa praktek seperti itu saat ini semakin menyebar di kota-kota lain di Italia.

Gereja Katolik mengajarkan bahwa orang non-Katolik tidak boleh menerima Komuni (dari gereja Katolik) karena mereka tidak percaya kepada doktrin transsubstansiasi Ekaristi. Di dalam transsubstansiasi ini roti dan anggur dengan sesungguhnya dirubah menjadi Tubuh, Darah, Jiwa dan Keilahian Yesus Kristus yang sebenarnya, hanya penampilannya saja yang masih berbentuk roti dan anggur. Maka perkembangan yang sedang terjadi di Italia (Turin) ini merupakan pembenaran dari berbagai nubuatan yang terkenal baru-baru ini yang meramalkan munculnya sebuah gereja palsu di saat-saat Akhir Zaman, menjelang kedatangan kembali Yesus Kristus. Gereja palsu ini, menurut nubuatan itu, akan mempromosikan sebuah ‘misa ekumenis’ yang palsu yang menyangkal kehadiran nyata dari Yesus di dalam Ekaristi. Nubuatan ini juga didukung oleh kesaksian almarhum Gabriel Amorth, seorang exsorsis di Roma, yang berkata bahwa Pater Pio telah mengatakan kepadanya bahwa rahasia ketiga Fatima mengacu kepada munculnya sebuah gereja palsu yang muncul di saat-saat Akhir Zaman.

Kita tidak perlu memiliki hanya satu pemikiran saja mengenai Ekaristi (menurut pengertian Gereja Katolik)

Dalam sebuah artikel yang ditulis oleh pendiri kelompok ‘Pemecahan Roti’, pastor Fredo Olivero, Mei lalu, di surat kabar dan website resmi keuskupan agung Turin, dia berkata bahwa umat yang hadir pada ‘Misa Ekumenis’ itu tidak perlu harus memiliki satu pemikiran saja yaitu kepada Ekaristi (menurut pengertian Gereja Katolik): “Agar kita bisa hidup bersama di dalam acara ini, tidaklah perlu untuk memiliki satu pemikiran saja mengenai Ekaristi, tetapi kita harus menghormati setiap orang beserta pemikiran mereka masing-masing.”

Pastor itu juga meragukan Doktrin Transsubstansiasi dalam Gereja Katolik, dengan berkata: “Baik Yesus maupun Paulus tidak menjelaskan ‘bagaimana’ kehadiran nyata (di dalam Ekaristi) ini terjadi, karena itu mengapa kita memikirkannya?”

Penafsiran Ekaristik bukanlah bagian dari Injil?

Disamping adanya dukungan dari uskupnya, pastor Fredo juga mengaku bahwa PF juga mendukung diadakannya ‘Misa Ekumenis’ ini. Di dalam artikel yang sama dalam surat kabar itu, pastor Fredo mengingatkan akan kunjungan PF ke Turin pada 22 Juni 2015 lalu. PF adalah paus pertama dalam sejarah yang mengunjungi gereja evangelis Waldensian, dimana dalam kunjungan itu PF meminta kepada umat gereja Waldensian agar memaafkan ‘penganiayaan masa lalu’ yang dilakukan oleh Gereja Katolik. Pastor Fredo juga mengatakan bahwa dalam kesempatan itu PF tidak menyangkal atau menolak pandangan dari moderator acara itu, Eugenio Bernardini, yang berkata bahwa berbagai penafsiran mengenai Ekaristi bukanlah bagian dari Injil. Pastor Fredo juga mengatakan bahwa Bernardini berpidato di hadapan PF, para utusan dari gereja Waldensian dan gereja-gereja Kristiani lainnya yang hadir saat itu:

Di antara hal-hal yang kita miliki bersama adalah kata-kata yang Yesus yang disampaikan pada kesempatan perjamuan makan malam terakhir, "Aku adalah roti ... dan anggur." Penafsiran atas  kata-kata itu berbeda di antara gereja-gereja dan di dalam masing-masing anggotanya. Namun apa yang menyatukan orang-orang Kristiani yang berkumpul di sekeliling meja Yesus adalah roti dan anggur yang Dia tawarkan kepada kita serta firman-Nya, bukan penafsiran kita (atas Ekaristi) yang bukan merupakan bagian dari Injil.

Dia mengatakan bahwa tidak seperti para paus sebelumnya, yang telah "menyelesaikan pertanyaan (tentang kehadiran nyata di dalam Ekaristi) secara tepat", tetapi PF mengakui bahwa dia tidak dapat menyelesaikan pertanyaan mengenai Ekaristi dengan tepat, karena dia sedang membawa model Gereja dari pembuatan keputusan yang otoriter, kepada sebuah model yang lebih bersifat "sinodal".

PF berkata kepada seorang wanita Lutheran: Silakan maju dan menerima Komuni

Fr. Fredo juga mengingat kembali jawaban yang diberikan oleh PF atas sebuah pertanyaan yang diajukan kepadanya oleh seorang wanita Lutheran saat berkunjung ke gereja Lutheran di Roma pada tanggal 15 November 2015. Selama sesi tanya-jawab setelah sebuah doa bersama dengan orang-orang Lutheran, wanita itu, Anke de Bernardinis mengatakan kepada Paus Fransiskus bahwa dia telah menikah dengan seorang Katolik dan bahwa dia dan suaminya telah saling berbagi banyak "kebahagiaan dan penderitaan" dalam kehidupan mereka, tetapi bukan Komuni Kudus di gereja Katolik. "Apa yang bisa kami lakukan disini untuk akhirnya menerima Komuni?" tanya wanita itu kepada PF.

PF menjawab: “Bicaralah kepada Tuhan, dan kemudian silakan maju,” dimana hal ini menyiratkan bahwa (menurut PF) wanita itu boleh menerima Komuni di Gereja Katolik. 

Atas pertanyaanmu, saya hanya bisa menanggapi dengan sebuah pertanyaan: Apa yang bisa kulakukan dengan suamiku, agar Perjamuan Makan Malam Tuhan menyertai aku di jalanku? Ini adalah sebuah masalah yang harus dijawab oleh setiap orang, tetapi seorang sahabat pastor pernah berkata kepadaku: kami percaya bahwa Tuhan hadir disana, Dia hadir. Kamu semua percaya bahwa Tuhan hadir. Maka, apa bedanya?” --- “Oh, ternyata ada berbagai penjelasan, dan penafsiran.” Hidup ini lebih besar daripada berbagai penjelasan dan penafsiran.

Tetapi selalu kembali kepada pembaptisan. “Satu iman, satu pembaptisan, satu Tuhan.” Inilah yang dikatakan Paulus kepada kita, dan dari situ terimalah akibat-akibatnya.  

Aku tak pernah ragu untuk memberi ijin hal ini (non-Katolik menerima Komuni di gereja Katolik) karena hal itu bukanlah wewenangku. “Satu pembaptisan, satu Tuhan, satu iman.” Bicaralah kepada Tuhan, dan kemudian silakan maju. Aku tidak akan bicara lebih jauh.

Oleh Paul Simeon, Veritas



Silakan melihat artikel lainnya disini : http://devosi-maria.blogspot.co.id/

No comments:

Post a Comment