Friday, October 27, 2017

USKUP-USKUP MEMANFAATKAN AJARAN PF UNTUK MENDORONG HOMOSEXUALITAS...

USKUP-USKUP MEMANFAATKAN AJARAN PF UNTUK MENDORONG HOMOSEXUALITAS PADA PERTEMUAN KELUARGA SEDUNIA TAHUN 2018


"Aku tidak akan membela imam-imamKu yang mendukung homoseksualitas dan tidak mengizinkan mereka masuk dalam jajaran imam-imamKu! ... Aku tidak akan berdiam diri dan membiarkan imam-imamKu dihancurkan!" - Pesan Yesus kepada Veronica Lueken, June 18, 1982

“Apakah kamu sudah begitu buta hingga tak bisa mengenali peningkatan perbuatan dosa yang ada diantara kamu? Pembunuhan berlimpah, pencurian, segala macam pembantaian, penghancuran atas jiwa-jiwa muda, aborsi, homoseksualitas, yang telah dikecam sejak awal mula zaman oleh Bapa Yang Kekal. Dosa telah menjadi cara hidup. Dosa saat ini telah dimaafkan dan didukung, bahkan sampai kepada hakim tertinggi di wilayahmu, di seluruh dunia. Sebagaimana kamu menabur, begitu jugalah kamu akan menuai. Dosa adalah kematian, bukan hanya bagi roh, tetapi juga bagi tubuh. Perang saat ini adalah merupakan hukuman atas dosa manusia, keserakahannya, dan ketamakannya." - Pesan Our Lady of the Roses kepada Veronica Lueken, 14 Agustus 1981

Pesan-pesan ini adalah berasal dari Tuhan dan Bunda Maria yang diberikan kepada Veronica Lueken di Bayside, New York. Read more


LifeSiteNews.com reported on October 17, 2017:
by Pete Baklinski

Uskup-uskup Katolik di Irlandia sedang memanfaatkan ajaran-ajaran PF tentang keluarga dan perkawinan untuk mendukung dan mempromosikan pasangan-pasangan homosex sebagai sebuah ‘keluarga’ model baru bagi acara Pertemuan Keluarga Sedunia mendatang, yang rencananya akan diadakan di Dublin, Agustus 2018. Pengumuman itu ditayangkan di dalam website resmi mereka dan dianggap sebagai peristiwa penting internasional yang akan mengumpulkan keluarga-keluarga dari seluruh penjuru dunia untuk ikut merayakannya, untuk berdoa dan merenungkan arti penting dari perkawinan serta keluarga sebagai batu penjuru dari kehidupan kita, masyarakat kita dan Gereja.

Peristiwa itu berdasarkan kepada anjuran kontroversial dari PF Amoris Laetitia, (Joy of Love – Kebahagiaan Kasih), dengan mengambil tema utama ‘Injil Keluarga: kebahagiaan bagi Dunia.’ Diharapkan PF akan menghadiri acara itu.

Sejak Amoris Laetitia dirilis pada April 2016, ada lebih dari seribu orang akademisi dan ilmuwan Katolik serta klerus (kardinal-kardinal, uskup-uskup dan imam-imam) yang menyuarakan keprihatinan mereka mengenai ketidak-sesuaian Amoris Laetitia dengan ajaran moral Katolik. Seorang filsuf Katolik Dr. Josef Seifert telah menunjukkan betapa ajaran PF itu (Amoris Laetitia) bisa dimanfaatkan untuk memutar-balikkan ajaran Katolik yang sejak awal menolak kontrasepsi dan homosex.

Beberapa waktu yang lalu, ada puluhan klerus dan ilmuwan Katolik dari seluruh dunia yang mengeluarkan sebuah koreksi kekeluargaan (Filial Correction) kepada PF, karena PF telah menyebarkan kesesatan. Mereka mengatakan bahwa PF telah mendukung ide-ide sesat dalam hal perkawinan, kehidupan moral, serta Ekaristi, yang kemudian menyebabkan sekian banyak ‘bidaah dan kesesatan lainnya’ untuk tersebar luas di seluruh Gereja Katolik.

Kemudian sekarang muncullah sebuah acara untuk mempersiapkan keluarga-keluarga bagi Pertemuan Keluarga Sedunia yang akan terselenggara melalui ‘kelalaian’ uskup agung Dublin, Diarmuid Martin. 

Bagian keenam dari program pertemuan itu, yang berjudul Amoris: Let’s talk Family! Let’s be Family! secara jelas mempromosikan relasi homosex sebagai sebuah bentuk baru dari keluarga, dimana mereka mengatakan bahwa relasi homosex itu memberikan "dukungan bersama" bagi pasangan homoseksual aktif.


Beginilah poster dari acara Pertemuan Keluarga Sedunia yang menampilkan pasangan homosex secara nyata, beserta lambang LGBT (pelangi) mereka.

Halaman 24 dari dokumen tersebut, di bawah bagian "Visi Kristiani bagi Keluarga," berisi sebuah gambar dari dua lesbian di atas jembatan yang saling menempel erat satu sama lain.
Foto ini menunjukkan seorang wanita muda yang dipeluk oleh wanita muda lain yang berdiri di belakangnya. Tato pada salah satu tangan dari wanita itu adalah berupa bendera pelangi "gay-pride" yang eye-catching.

Teks yang ada di atas foto tersebut berbunyi: "Sementara Gereja mempertahankan cita-cita pernikahan sebagai komitmen permanen antara seorang pria dan wanita, namun ada sebuah bentuk relasi lain yang memberikan dukungan timbal balik kepada pasangan (sejenis) tersebut. Paus Fransiskus mendorong kita untuk tidak mengabaikan mereka, tetapi agar kita mendampingi dan memfasilitasi pasangan itu juga, dengan penuh kasih, perhatian dan dukungan."

Disitu ada foto lengkap dari dua wanita yang saling berpelukan. Tag yang digunakan untuk foto itu termasuk ada kata ‘lesbian’, ‘pasangan homoseksual,’ dan hak kaum gay’.

Media LifeSiteNews berusaha menghubungi Uskup Agung Martin, yang mengawasi acara Pertemuan Keluarga Sedunia itu, dan bertanya apakah gambar dan teks homoseksual yang dimasukkan ke dalam program itu adalah tidak sengaja? Namun tidak ada respon yang diberikan olehnya.

Promosi homoseksualitas pada Pertemuan Keluarga Sedunia oleh uskup-uskup Irlandia nampaknya memang disengaja.

Pada hari Jumat, 13 Oktober, 2017, Uskup Brendan Leahy dari Limerick mengatakan bahwa pasangan homoseksual harus disambut baik dalam Pertemuan Keluarga Sedunia itu.

Leahy, yang berbicara kepada wartawan setelah keuskupannya meluncurkan program persiapan pro-homoseksual, mengatakan bahwa ini akan menjadi kesempatan yang akan terlewatkan jika Gereja gagal untuk merangkul "keluarga" dalam segala keragamannya (termasuk homosex).

"Kami telah mengadakan referendum yang mendukung pernikahan sesama jenis 'dan banyak orang ikut memilih dalam referendum tersebut dan semuanya dipersilahkan untuk bergabung dalam perayaan keluarga ini," katanya, seperti dilansir oleh media Independent.

“Kita sedang hidup di saat yang sedang berubah dan keluargapun sedang berubah,” katanya.


Dublin Archbishop Diarmuid MartinPatrick Craine / LifeSiteNews




 Sebelum ini, pada bulan Oktober tahun lalu, Uskup Agung Martin (gambar diatas) mengatakan bahwa Uskup-uskup Katolik tidak boleh "membiarkan diri kita terjerat dalam usaha untuk membuat definisi mengenai keluarga," karena nilai-nilai budaya yang berbeda berarti keluarga juga "tidak dapat didefinisikan secara sederhana."

*****
Marilah kita melihat pesan MDM berikut ini:

Bunda Keselamatan : Kebenaran itu akan dipelesetkan dan Sabda Allah akan dihadirkan secara terbalik
MDM, Rabu, 1 Januari 2014, jam 13.44

Anakku, doronglah semua anak-anak Allah untuk tetap teguh selama saat-saat cobaan yang akan terjadi. Banyak sekali tantangan akan mengenai semua umat Kristiani yang harus menyaksikan kemurtadan jahat yang akan dipamerkan di hadapan mereka oleh orang-orang yang seharusnya menjadi tuntunan, untuk menjalani kehidupan Kristiani secara penuh.

1Tim 4:1 Tetapi Roh dengan tegas mengatakan bahwa di waktu-waktu kemudian, ada orang yang akan murtad lalu mengikuti roh-roh penyesat dan ajaran setan-setan
1Tim 4:2 oleh tipu daya pendusta-pendusta yang hati nuraninya memakai cap mereka.

1Tes 4:3 Karena inilah kehendak Allah: pengudusanmu, yaitu supaya kamu menjauhi percabulan,
1Tes 4:4 supaya kamu masing-masing mengambil seorang perempuan menjadi isterimu sendiri dan hidup di dalam pengudusan dan penghormatan,
1Tes 4:5 bukan di dalam keinginan hawa nafsu, seperti yang dibuat oleh orang-orang yang tidak mengenal Allah,
1Tes 4:7 Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus.

Mat 19:5 Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging.
Mat 19:6 Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia."

Kej 2:24 Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging. 

*****

Namun Gereja Katolik mengajarkan bahwa Tuhan menciptakan manusia sebagai "pria dan wanita" dan saling memberi perkawinan sehingga mereka dapat "bertambah dan berkembang biak."

Daya tarik seksual, serta tindakan seksual antara pria dan wanita yang sudah menikah, secara khusus diciptakan oleh Tuhan dengan tujuan untuk prokreasi (menghasilkan keturunan). Gereja Katolik tetap setia pada rencana kreatif Allah yang asli ketika ia menyatakan dengan otoritatif dan untuk selama-lamanya bahwa tindakan homoseksual adalah "tindakan kebobrokan yang parah" dan "secara intrinsik tidak teratur (tidak wajar)" karena mereka "bertentangan dengan hukum kodrat" karena mereka "menutup kemungkinan bahwa hubungan seksual  mereka menghasilkan kehidupan berikutnya."

"Mereka tidak melanjutkan tujuan berikutnya dari sikap saling melengkapi yang sejati dalam hubungan sexual (yaitu meneghasilkan keturunan). Dalam keadaan apapun mereka tak bisa dibenarkan," demikian tertulis dalam Katekismus Gereja Katolik.

Kardinal Carlo Caffarra, dalam salah satu presentasi terakhirnya sebelum dia meninggal, menyebut homoseksualitas sebagai karya setan yang "menyangkal sepenuhnya kebenaran dari pernikahan" karena pernikahan adalah berasal dari "pikiran Tuhan, Pencipta." Dia mengatakan bahwa setan sedang mencoba untuk menggunakan homoseksualitas sebagai tongkat pemukul untuk menghancurkan salah satu ‘pilar penciptaan’ yang utama, yaitu pernikahan.

Gereja juga bersikap konsisten saat ia mengajarkan bahwa ketertarikan seksual kepada seseorang dari jenis kelamin yang sama adalah "tidak teratur (tidak wajar) secara obyektif" karena Tuhan menciptakan ketertarikan seksual itu ada antara laki-laki dan perempuan demi menghasilkan keturunan.

Gereja mengajarkan bahwa setiap orang yang berjuang melawan kecenderungannya yang tidak wajar, termasuk kecenderungan kepada nafsu, masturbasi, percabulan, perzinahan, pornografi, dan homoseksualitas, haruslah "diterima dengan rasa hormat, penuh kasih sayang, dan kepekaan." Tetapi bukan dengan melampiaskan kecenderungan yang tidak wajar itu.

Dengan mengikuti nasihat Santo Agustinus, Gereja berpendapat bahwa orang Kristiani harus selalu "mengasihi" orang berdosa, namun "membenci" dosa itu.

Anthony Murphy, pendiri dan editor surat kabar Catholic Voice dan pendiri Lumen Fidei Institute, mengatakan bahwa homoseksualitas adalah "anti-keluarga" dan tidak memiliki tempat dalam pertemuan keluarga-keluarga Katolik.

"Apakah tindakan homoseksual berdosa atau tidak? Iman Katolik kita mengajarkan bahwa perbuatan itu adalah berdosa. Perbuatan itu adalah salah satu tindakan anti-keluarga yang paling besar. Jadi, apa yang anda pikirkan jika para pemimpin Katolik saat ini gencar mempromosikan homoseksualitas dalam acara yang seharusnya membantu keluarga-keluarga mempersiapkan Pertemuan Dunia Keluarga?" tanya Murphy kepada LifeSiteNews.

Murphy mengatakan bahwa sementara program tersebut memberi persetujuan kepada perilaku homoseksual, maka sepenuhnya ia gagal untuk mewartakan ajaran moral Katolik tentang kesucian, kontrasepsi, dan aborsi.

"Tanpa menyebut kata ‘aborsi’ adalah kelalaian yang mencolok setiap saat, dan terutama dalam konteks Irlandia, ketika kita akan mengadakan referendum mengenai apakah bayi kita yang akan lahir dapat dibunuh secara sah atau tidak," katanya.

Murphy mengatakan bahwa penyelenggara acara tersebut adalah keluarga-keluarga yang gagal.

"Memberikan persetujuan secara implisit terhadap homoseksualitas, yang di dalam Gereja selalu diajarkan sebagai satu dari empat dosa yang menyerukan kepada Surga untuk dibalas, sementara penyelenggara acara itu gagal untuk mengutuk tindakan aborsi, maka mereka telah lalai dalam tugasnya," katanya.

Kardinal Caffarra mengatakan kepada peserta konferensi keluarga di Roma pada bulan Mei 2016 lalu bahwa persetujuan atas tindakan homoseksualitas yang datang dari segala penjuru menunjukkan bahwa "pertempuran terakhir" antara Allah dengan setan telah tiba.

Caffarra, salah satu penandatangan dubia, mengatakan bahwa visiuner Fatima, Suster Lucia, pernah menulis kepadanya, setelah dia memintanya berdoa saat mendirikan Institut John Paul II bagi pernikahan dan keluarga. Suster Lucia mengatakan kepadanya bahwa pertempuran terakhir antara Tuhan dengan setan akan terjadi di bidang pernikahan dan keluarga.

"Apa yang dikatakan Suster Lucia pada hari-hari itu sedang digenapi di zaman sekarang ini," kata Caffarra saat itu.

Pertemuan Keluarga Sedunia terakhir berlangsung pada tahun 2015 di Philadelphia dan dihadiri oleh Paus Fransiskus. Saat itu Walikota Philadelphia menggunakan sebuah platform yang diberikan kepadanya pada acara itu di hadapan puluhan ribu peziarah Katolik untuk mempromosikan "hak-hak" kaum homoseksual.

***

Readers who wish to respectfully make their concerns known to the organizers of the 2018 World Meeting of Families can do so by email: [email protected] or alternatively contact the Archbishop of Dublin: 

Most Rev. Diarmuid Martin, Archbishop’s House, Drumcondra, Dublin 9. Tel: 01837 3732
Secretary to the Archbishop Mr. Joseph Merrick
Email: [email protected]

Silakan melihat artikel lainnya disini : http://devosi-maria.blogspot.co.id/

No comments:

Post a Comment