Sunday, October 29, 2017

YANG BARU DARI PENGERTIAN TENTANG AKHIR DUNIA

YANG BARU DARI PENGERTIAN TENTANG AKHIR DUNIA:
‘TUJUAN TERAKHIR KEHIDUPAN’ VERSI PF






Dalam surat kabar penting ‘la Repubblica,’ di mana dia adalah pendirinya, Eugenio Scalfari, seorang wartawan, atheis, tokoh pemikiran sekuler Italia yang tak terbantahkan, pada 9 Oktober 2017 lalu kembali berbicara tentang apa yang dia pandang sebagai "revolusi" di dalam kepausan saat ini, yang berasal dari komentar-komentar Francis, berdasarkan pada percakapan yang sering dilakukannya dengan PF.

"PF telah menghapuskan tempat-tempat di mana jiwa-jiwa seharusnya menuju setelah kematian: neraka, api penyucian, surga. Gagasan yang dia pegang adalah: jiwa-jiwa yang dikuasai oleh kejahatan dan tidak mau bertobat, akan musnah dan tidak ada lagi, sementara itu jiwa-jiwa yang telah ditebus dari kejahatannya, akan diangkat menuju kebahagiaan, menuju kontemplasi akan Tuhan."

Berarti, akibat dari gagasan PF itu adalah:

"Penghakiman universal yang ada di dalam ajaran Tradisi Gereja tidak lagi memiliki makna. Ia hanya sekedar dalih sederhana yang telah melahirkan lukisan-lukisan indah dalam sejarah seni. Tidak lebih."

Memang, sangat diragukan bahwa PF benar-benar ingin menyingkirkan "hal-hal terakhir" (Surga, neraka, Api Penyucian) dalam istilah yang digambarkan oleh Scalfari itu.

Namun di dalam khotbahnya, bagaimanapun juga, ada sesuatu yang cenderung menggelapkan ajaran tentang penghakiman terakhir serta tujuan akhir kehidupan dari orang-orang yang terberkati dan terkutuk.

***

Pada hari Rabu, 11 Oktober 2017, di dalam acara audiensi umum di Lapangan Santo Petrus, PF mengatakan bahwa penghakiman semacam itu tidak perlu ditakuti, karena "pada akhir dari sejarah kehidupan kita ada Yesus yang penuh dengan belas kasihan," dan karena itu "semuanya akan diselamatkan. Semuanya."

Dalam teks yang dibagikan kepada para jurnalis yang hadir di Tahta Suci saat itu, kata terakhir ini, "semuanya," ditekankan dan ditulis dalam huruf tebal.

***

Pada audiensi umum lainnya beberapa bulan yang lalu, pada hari Rabu, tanggal 23 Agustus, 2017, untuk menggambarkan akhir dari sejarah, PF memberikan sebuah gambaran yang sepenuhnya hanya untuk menghibur dan menyenangkan: "Ada sebuah tenda besar, di mana Tuhan akan menyambut seluruh umat manusia disitu agar Dia dapat tinggal bersama mereka secara definitif."

Gambaran seperti ini bukanlah milik PF sendiri, melainkan diambil dari Wahyu 21(:3), namun dari situlah PF secara hati-hati sekali (sengaja) tidak mengutip kata-kata Yesus berikut ini:

“Barangsiapa menang, ia akan memperoleh semuanya ini, dan Aku akan menjadi Allahnya dan ia akan menjadi anak-Ku. Tetapi orang-orang penakut, orang-orang yang tidak percaya, orang-orang keji, orang-orang pembunuh, orang-orang sundal, tukang-tukang sihir, penyembah-penyembah berhala dan semua pendusta, mereka akan mendapat bagian mereka di dalam lautan yang menyala-nyala oleh api dan belerang; inilah kematian yang kedua." (Why.21:7-8)
***

Sekali lagi, dalam kotbahnya selama perayaan Angelus pada hari Minggu, 15 Oktober 2017, tentang perumpamaan perjamuan kawin (Mat. 22: 1-14) yang dibacakan pada semua Misa pada hari itu, PF dengan hati-hati sekali (sengaja) menghindari mengutip bagian yang paling meresahkan dari ayat-ayat Kitab Suci itu, yang berisi kata-kata: "raja menjadi marah, mengirim tentaranya, membunuh para pembunuh itu dan membakar kota mereka." (Mat. 22:7). Dimana pada ayat itu juga ada  tertulis “ia (raja) melihat ada satu orang yang tidak mengenakan pakaian pesta, lalu raja memerintahkan kepada pelayannya: “Ikatlah kaki dan tangannya dan campakkanlah orang itu ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi.” (Mat. 22:13)

***

Pada hari Minggu sebelumnya, 8 Oktober 2017, perumpamaan lain, tentang penggarap-penggarap kebun anggur yang membunuh hamba-hamba pemilik kebun anggur (Mat. 21: 33-43).

Dalam mengomentari perumpamaan tersebut selama Angelus, PF (sengaja) tidak mau membicarakan apa yang dilakukan oleh pemilik kebun kepada para penggarap yang membunuh para pelayannya dan akhirnya juga membunuh anaknya: "Dia akan membinasakan orang-orang jahat itu ke dalam kematian yang menyedihkan." PF juga tidak mau mengutip kata-kata Yesus yang berikutnya, yang menyebut DiriNya sebagai "batu penjuru": "Barangsiapa jatuh ke atas batu ini, ia akan hancur berkeping-keping; tapi saat (batu penjuru itu) jatuh pada siapa pun, itu akan menghancurkannya. "

Sebaliknya, PF berkeras untuk (seolah) membela Tuhan dari tuduhan melakukan dendam, dimana nampak sekali bahwa PF ingin menutupi akibat dari "keadilanNya" yang tersirat dalam perkataannya berikut ini:

"Di sinilah kabar hebat tentang Kristianitas didapatkan: Tuhan, yang meski dikecewakan oleh kesalahan dan dosa kita, tetapi Dia tidak membalas dendam melalui firmanNya, tidak berhenti, dan yang terpenting: tidak membalas dendam! Saudara-saudari, Tuhan tidak membalas dendam! Tuhan mengasihi, Dia tidak membalas dendam, Dia menunggu kita untuk memaafkan kita, untuk memeluk kita."

***
Dalam homili pada hari raya Pentakosta, 4 Juni 2016 lalu, PF berpendapat, seperti yang sering dilakukannya, dia mencela "orang-orang yang suka menghakimi." Dan dengan mengutip kata-kata Yesus yang telah bangkit kepada para rasul dan secara implisit terhadap penerus mereka di dalam Gereja (Yoh. 20: 22-23), dia sengaja memotong kalimat Kitab Suci di tengah jalan: Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni. Titik. (padahal kutipan Kitab Suci itu ada lanjutannya: dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada." (Yoh.20:23). Bagian ini yang sengaja dibuang oleh PF.

Dan fakta bahwa pemotongan itu adalah disengaja, dibuktikan dengan pengulangan pemotongan yang sama. Karena Francis telah membuat penghapusan kata-kata Yesus yang sama persis pada 23 April 2016 sebelumnya, di saat Regina Coeli pada hari Minggu pertama setelah Paskah.

***

Pada 12 Mei 2016 lalu, saat mengunjungi Fatima, PF menunjukkan bahwa dia ingin membebaskan Yesus dari reputasiNya sebagai hakim yang tidak fleksibel pada akhir zaman. Dan untuk melakukan ini PF memperingatkan penggambaran yang salah mengenai Maria seperti berikut ini:

"Sosok Maria ciptaan kita sendiri: sebagai seseorang yang menahan lengan Tuhan yang penuh pembalasan; karena Maria adalah lebih manis dari pada Yesus sebagai Hakim yang kejam. "

***

Perlu ditambahkan juga bahwa kebebasan yang dilakukan oleh PF dengan memotong dan menyatukan kata-kata dalam Kitab Suci tidak hanya menyangkut penghakiman universal. Secara jelas PF bersikap diam di mana dia selalu menyelimuti atau menutupi tindakan penghukuman Yesus atas tindakan perzinahan (Mat. 19: 2-11 dan ayat-ayat lain yang sejalan).

Dalam sebuah kebetulan yang mengejutkan, kutukan Tuhan terhadap perzinahan tertulis dalam bacaan Injil yang dibacakan di semua gereja di dunia tepatnya pada hari Minggu di awal sesi kedua sinode para uskup mengenai keluarga, 4 Oktober 2015. Tetapi baik di dalam homili maupun Angelus pada hari itu, PF sama sekali tidak membicarakan kutukan Tuhan terhadap perzinahan itu. (Catatan: kita tahu bahwa hasil sinode itu, yang disimpulkan dalam Amoris Laetitia, justru memberi peluang untuk melakukan perzinahan).

Begitu juga pada saat Angelus pada hari Minggu tanggal 12 Februari 2017, saat bacaan Injil berbicara mengenai kutukan Tuhan terhadap perzinahan yang dibacakan di semua Gereja di dunia, PF juga tidak pernah menyinggung kutukan itu.

Tidak hanya itu. Ucapan Yesus yang menentang perzinahan juga tidak muncul dalam dua ratus halaman dari dokumen pasca-sinode "Amoris Laetitia."

Begitu juga kutukan keras sekali dari rasul Paulus terhadap perzinahan, yang ada pada bab pertama dari suratnya kepada umat di Roma, juga tidak ada ditemukan di dalam dokumen Amoris Laetitia.

Ada sebuah kebetulan lainnya lagi. Bab pertama dari surat kepada umat di Roma yang juga dibacakan pada Misa hari Minggu, minggu kedua dari sinode tahun 2015, adalah berbicara mengenai perzinahan Tapi meskipun begitu, baik PF maupun orang-orang lain tidak pernah menyebutkannya dan menjadikannya sebagai referensi saat diskusi diadakan dalam sinode itu, dalam upaya mereka merubah paradigma mengenai penghakiman terhadap homoseksualitas’ Apakah para peserta sinode itu tidak pernah membaca kutipan Injil ini? :

Rom. 1, 26-32: Karena itu Allah menyerahkan mereka kepada hawa nafsu yang memalukan, sebab isteri-isteri mereka menggantikan persetubuhan yang wajar dengan yang tak wajar.
Demikian juga suami-suami meninggalkan persetubuhan yang wajar dengan isteri mereka dan menyala-nyala dalam berahi mereka seorang terhadap yang lain, sehingga mereka melakukan kemesuman, laki-laki dengan laki-laki, dan karena itu mereka menerima dalam diri mereka balasan yang setimpal untuk kesesatan mereka. Dan karena mereka tidak merasa perlu untuk mengakui Allah, maka Allah menyerahkan mereka kepada pikiran-pikiran yang terkutuk, sehingga mereka melakukan apa yang tidak pantas: penuh dengan rupa-rupa kelaliman, kejahatan, keserakahan dan kebusukan, penuh dengan dengki, pembunuhan, perselisihan, tipu muslihat dan kefasikan. Mereka adalah pengumpat, pemfitnah, pembenci Allah, kurang ajar, congkak, sombong, pandai dalam kejahatan, tidak taat kepada orang tua, tidak berakal, tidak setia, tidak penyayang, tidak mengenal belas kasihan. Sebab walaupun mereka mengetahui tuntutan-tuntutan hukum Allah, yaitu bahwa setiap orang yang melakukan hal-hal demikian, patut dihukum mati, mereka bukan saja melakukannya sendiri, tetapi mereka juga setuju dengan mereka yang melakukannya.

***

Terlebih lagi, kadang-kadang PF bahkan mengambil kebebasan untuk menulis ulang kata-kata dari Kitab Suci saat ia merasa cocok dengan isinya.

Misalnya, pada pagi hari di Santa Marta, tanggal 4 September 2014, suatu saat PF berbicara soal kata-kata "sial" dari St. Paulus ini: "Aku hanya membanggakan dosa-dosa saya." Lalu PF segera menyimpulkannya dengan mengajak umat yang hadir agar "membanggakan" dosa mereka sendiri, karena mereka telah diampuni oleh Yesus dari atas kayu salib.

Tapi sesungguhnya tidak ada satupun dari surat St.Paulus yang menyatakan sikap seperti itu. Rasul Paulus berkata tentang dirinya sendiri: "Jika aku harus bermegah, maka aku akan bermegah atas kelemahanku." (2 Kor. 11:30), setelah dia mencatat semua kesulitan hidupnya – termasuk pemenjaraan, pelecehan, kapal yang ditumpanginya karam.

Atau: "Atas orang itu aku hendak bermegah, tetapi atas diriku sendiri aku tidak akan bermegah, selain atas kelemahan-kelemahanku." (2 Kor. 12: 5). Atau lainnya lagi: "Tetapi jawab Tuhan kepadaku: "Cukuplah kasih karuniaKu bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku." (2 Kor. 12: 9), dengan lebih banyak referensi tentang kemarahan, penganiayaan, kesedihan yang telah dideritanya.

***

Kembali kepada masalah penghakiman terakhir, Paus Benediktus XVI juga mengakui bahwa "di era modern ini, gagasan tentang Penghakiman Terakhir telah semakin pudar."

Tetapi di dalam ensiklik "Spe Salvi," yang dia tulis sendiri, dia dengan tegas mengatakan bahwa penghakiman terakhir adalah "gambaran dari pengharapan yang menentukan." Ia adalah gambaran yang "membangkitkan tanggung jawab," karena "karunia Allah tidaklah membatalkan keadilan Allah", namun sebaliknya "pertanyaan tentang keadilan merupakan argumen penting, atau dalam argumen apapun yang paling kuat, yang mendukung iman atas kehidupan kekal," karena "dengan ketidakmungkinan bahwa ketidakadilan sejarah seharusnya merupakan kata akhir dari perlunya kedatangan kembali Kristus, dimana kehidupan baru disana nanti menjadi sepenuhnya meyakinkan."

Begitu juga ini:

"Rahmat tidak bisa membuat yang salah menjadi benar. Ini bukan seperti busa yang menyerap semuanya hingga bersih, sehingga apapun yang telah dilakukan seseorang di dunia berakhir dengan nilai yang sama. Penulis Dostoevsky memang benar ketika dia memprotes hukum Surga yang seperti ini serta rahmat semacam ini, di dalam novelnya 'The Brothers Karamazov.' Orang-orang jahat pada akhirnya tidak akan duduk di meja perjamuan kekal di samping korban mereka, tanpa perbedaan, seolah-olah tidak ada apapun yang terjadi."

(English translation by Matthew Sherry, Ballwin, Missouri, U.S.A.)

Originally published at L’Espresso. Reprinted with permission. 


Silakan melihat artikel lainnya disini : http://devosi-maria.blogspot.co.id/

No comments:

Post a Comment