Thursday, October 26, 2017

USKUP SCHNEIDER BERKATA...

USKUP SCHNEIDER BERKATA:
UMAT KATOLIK HARUS SIAP UNTUK MENJADI MARTIR BAGI IMAN MEREKA

 

 

"Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku dari pada kamu. Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia mengasihi kamu sebagai miliknya. Tetapi karena kamu bukan dari dunia, melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia, sebab itulah dunia membenci kamu. John 15:18-19

Pertempuran ini, anakku, akan semakin meningkat dalam waktu singkat, karena saat itu bukan hanya terjadi perang besar dengan menggunakan senjata-senjata manusia, tetapi akan segera diketahui di seluruh dunia bahwa saat itu telah terjadi sebuah perang spirituil. Pesan Our Lady of the Roses kepada Veronica Lueken, August 21, 1974

Anak-anakku, apakah hanya sedikit saja yang mau menderita demi Iman? Apakah anak-anakku kehilangan kesadaran akan perlunya penderitaan dan kemartiran demi Iman? Tidakkah kamu mengerti, anak-anakku, bahwa kemartiran berarti saat itu juga masuk ke dalam Surga. Bukankah hal ini layak untuk diperjuangkan? Pesan Our Lady of the Roses kepada Veronica Lueken, November 20, 1978

Penganiayaan
Semua orang yang terlibat dalam pertempuran mendatang haruslah mau menerima kemartiran. Anakku, hal itu bukan hanya berarti kematian di dalam tubuhmu, ia juga bisa berupa penganiayaan. Berteguhlah di dalam iman. Pertahankanlah iman di dalam hati mereka yang kau kasihi. Bagikanlah kemurahan hatimu kepada sesamamu di seluruh dunia. Berdoalah selalu.  Pesan Our Lady of the Roses kepada Veronica Lueken, October 2, 1974

Pesan-pesan diatas berasal dari Surga yang diberikan kepada Veronica Lueken di Bayside, New York. Read more


LifeSiteNews.com  October 20, 2017:
oleh Pete Baklinski

“Umat Katolik yang berusaha untuk selalu setia kepada ‘harta yang terbesar’ dari iman Katolik mereka, haruslah bersiap-siap untuk mengalami kemartiran jika mereka harus bersaksi di hadapan kaum berhala atau orang-orang yang tak beriman, ataupun di hadapan sesama umat Katolik yang kemudian menjadi bidaah,” demikian kata Uskup Kazakhstan, Athanasius Schneider dalam sebuah wawancara. Schneider, uskup pembantu di Astana, Kazakhstan, menjadi pembicara kunci dalam wawancara hari Kamis, pada Konperensi Internasional mengenai Pengendalian Penduduk. Simposium online itu berbicara mengenai ancaman terhadap pengendalian penduduk serta mencermati betapa musuh-musuh radikal dari kehidupan sedang melemahkan dan menyesatkan Gereja Katolik. Acara itu diadakan oleh The Lepanto Institute. 

Uskup Schneider dalam pidatonya yang berjudul “Catholic faith and martyrdom” (Iman Katolik dan kemartiran) berkata kepada para pendengarnya bahwa Tuhan telah berjanji: Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan. (Why 2:10)

“Sabda Tuhan ini merupakan sebuah tugas suci bagi setiap umat Kristiani. Menjadi setia berarti mempertahankan iman, yang telah ditiupkan ke dalam jiwa kita oleh Allah Tritunggal, dalam segala kepenuhannya, kemurniannya dan keindahannya, tanpa merubah apapun, tanpa menambahkan apapun, kepada kebenaran-kebenarannya yang tak dapat berubah,” demikian kata Uskup Schneider. Dia berkata bahwa jika umat Katolik tidak mempertahankan imannya, maka dia menjadi orang bidaah.

“Bidaah berarti tidak setia kepada iman… bukan seperti umat Katolik yang sejati, orang bidaah menerima beberapa jenis dogma, yang sesuai dengan keinginannya dan penilaiannya sendiri,” katanya lagi.

Dia berkata bahwa dosa karena tidak mempertahankan iman, “adalah dosa moral yang terbesar, selain dosa yang melawan keutamaan pengharapan dan kasih Ilahi.”

Uskup Schneider berkata bahwa umat Katolik yang setia tidak boleh merasa khawatir jika melihat kenyataan bahwa ‘kesetiaan kepada iman Katolik tetap menjadi sebuah fenomena minoritas.’

“Dari yang minoritas ini, beberapa ada yang dipanggil kepada kemartiran sebagai saksi atas kebenaran iman. Dia mengutip ucapan St. Thomas Aquinas: Para martir dipanggil untuk menjadi saksi, karena dengan melalui penderitaan di dalam tubuh, hingga sampai mati, mereka bersaksi atas kebenaran; bukan sembarang kebenaran, tetapi kebenaran yang selaras dengan kesalehan, yang diperkenalkan kepada kita oleh Kristus, sementara itu kematian Kristus adalah merupakan kesaksianNya. Saat ini kebenaran ini adalah merupakan kebenaran iman. Karena semua alasan dari kemartiran adalah kebenaran iman.”

“Beberapa martir dipanggil untuk bersaksi terhadap kebenaran-kebenaran iman di hadapan umat Kristiani lainnya yang telah meninggalkan iman sejati,” demikian lanjutnya.

“Kesetiaan kepada iman Katolik dan kemartiran Kristiani bukan hanya menuntut pengakuan atas kebenaran Ilahi, tanpa mengenal takut, di hadapan kaum berhala dan orang-orang tak beriman, terutama di hadapan umat Kristiani yang sesat,” demikian kata Uskup Schneider lebih lanjut.

Uskup Schneider memberi contoh dari Sir John Burke of Brittas dari Irlandia, yang pada awal abad 17 bersaksi atas kebenaran-kebenaran iman Katolik hingga saat kematiannya di tangan umat Kristiani lainnya.

Uskup Schneider berkata

Pada sebuah hari Minggu pagi, di istana John Burke, berkumpullah orang-orang Katolik yang membantu sebuah perayaan Misa yang akan dilaksanakan oleh seorang imam secara sembunyi-sembunyi. Namun ada seorang pengkhianat yang melapor kepada penguasa sipil saat itu. Tiba-tiba sepasukan tentara mengepung tempat itu, dimana Misa Kudus diadakan.

Si pemimpin tentara itu memaksa untuk masuk.

Tapi jawaban dari Sir Burke adalah : dia boleh masuk secara bebas jika dia mau mengaku dosa lebih dahulu dan menyuruh para pasukannya untuk melakukan hal yang sama. Jika tidak, mereka harus tetap berada diluar, karena orang yang tak beriman tak boleh mengikuti apa yang bersifat kudus; hal-hal yang kudus tidak boleh diberikan kepada anjing, mutiara tak boleh diberikan kepada babi.

Akhirnya Burke bisa lolos dan lari, meski kemudian dia bisa tertangkap. Ketika dia diadili di hadapan orang banyak, pemimpin pengadilan itu mengatakan bahwa dia akan memperlakukan Burke dengan baik asalkan dia mau mematuhi keinginan raja yang berkaitan dengan iman dan agama. Jika tidak, Burke akan dihukum mati. Namun John Burke tetap teguh di dalam imannya.

Kemudian dia mendengarkan putusan pengadilan itu dengan wajah yang bahagia, dan dia berkata bahwa dirinya bahagia karena mereka yang menyakiti tubuhnya tak mampu menyakiti dan menguasai jiwanya.

Dia menambahkan beberapa kata di mana dia menyatakan penolakannya terhadap doktrin dan opini-opini yang sesat, dan keinginannya yang tulus untuk mematuhi ajaran Gereja Katolik dimana dia menyatakan bahwa dia ingin mati di dalam persekutuan dengan Gereja Katolik.  Ketika tiba di tempat eksekusi, dia minta untuk diturunkan, agar dia bisa mendekati dan berlutut di hadapan sarana hukuman mati itu, dan hal ini diijinkan baginya.

John Burke memperlihatkan rasa puas dan sukacita seperti saat mau pergi ke sebuah pesta yang mewah. Pada saat terakhir dia diberi pengampunan, tanah-tanahnya yang disita akan dikembalikan, dan keinginannya akan dikabulkan asalkan dia mau bersumpah untuk mengakui supremasi raja dalam hal agama dan dia ikut di dalam penyembahan agama yang lain. Dia mengatakan bahwa dia tidak akan membiarkan seluruh dunia melawan Tuhan, dia tidak akan menukarkan surga dengan bumi, dan bahwa dia telah melepaskan dan membuang segala sesuatu yang ditolak dan dikutuk oleh Gereja Katolik. John Burke meninggal pada bulan Desember tahun 1607 di Limerick. Begitulah Schneider mendesak umat Katolik untuk berpegang teguh kepada ‘harta terbesar’ mereka, yaitu iman, ‘yang telah diletakkan Tuhan di dalam jiwa kita pada saat pembaptisan kita.’

“Iman ini berarti iman Katolik yang murni dan utuh,” kata Schneider.

Dia juga mendorong umat Katolik untuk memohon rahmat kesetiaan kepada iman Katolik, bahkan hingga mati.

"Saya ingin mendorong anda untuk menyimpan harta terbesar yang anda miliki, iman Katolik. Jagalah agar iman ini tidak berubah, tetap murni, dan mohonlah rahmat yang terbesar kepada Tuhan agar anda tetap setia kepada iman Katolik sampai mati, dan agar selalu dapat dan mampu dengan segala kerendahan hati, untuk mempertahankan iman, untuk mengakui iman anda, dan untuk membela iman anda dan kebenaran, dengan tegas dan dengan kasih," katanya.

Inilah sebabnya saya berharap kepada anda semua agar anda menjadi pelaku kebenaran dan mewartakan kebenaran itu kepada dunia, dan anda akan menjadi donatur kebaikan terbesar di dunia,” katanya menambahkan.



Silakan melihat artikel lainnya disini : http://devosi-maria.blogspot.co.id/

No comments:

Post a Comment