Sunday, June 3, 2018

DEBAT MASALAH INTER-KOMUNI ADALAH DEBAT MASALAH HIDUP DAN MATI


Dengan nada emosional Cdl. Woelki berkata:

DEBAT MASALAH INTER-KOMUNI ADALAH DEBAT MASALAH HIDUP DAN MATI




Kamis lalu, pada hari Pesta Corpus Christi, Kardinal Rainer Woelki, salah satu dari tujuh uskup Jerman yang menentang selebaran yang berisi anjuran dari beberapa uskup Jerman yang membuka kemungkinan pasangan Protestan-Katolik untuk menerima Komuni Kudus, memberikan pidato yang menyentuh pada akhir Prosesi dan Misa Kepausan di Katedral Cologne.

Dalam pidatonya, Kardinal Woelki menegaskan bahwa dia tidak akan menyerah dalam perjuangannya di jalan yang benar berkaitan dengan masalah inter-Komuni (pemberian Komuni kepada umat non-Katolik). Dia berkata bahwa pertanyaan ini bukanlah "omong kosong," tetapi, lebih tepatnya: "Dalam masalah ini, kita berbicara soal hidup dan mati! " "Ini adalah tentang kematian dan kebangkitan. Ini adalah tentang kehidupan kekal,” demikian tambah Woelki. "Di sini kita berbicara tentang Kristus, ini adalah tentang Gereja-Nya, dan dengan demikian ia langsung menuju kepada inti masalah."

Kardinal itu dan penerus Kardinal Joachim Meisner dari Jerman, sebagai Uskup Agung Cologne, melanjutkan dengan berkata:

Itulah sebabnya kita harus berjuang untuk itu dan menemukan jalan yang benar -- yaitu Jalan Tuhan yang telah Dia tunjukkan kepada kita, bukan jalan yang lain. Tuhan sendiri adalah Jalan, Kebenaran, dan Kehidupan.

Kardinal Woelki, yang bersama dengan enam uskup Jerman lainnya telah menulis sebuah surat kepada Vatikan sebagai protes terhadap selebaran yang menganjurkan inter-Komuni di Jerman baru-baru ini. Dia menolak klaim bahwa dirinya telah mendukung usulan itu di belakang Kardinal Reinhard Marx, kepala Wali Gereja Jerman. Kardinal Woelki mengatakan: "Saya menjawab dengan kutipan Kitab Suci: Saya muncul secara terbuka dan bebas, dan saya menulis dan mengatakan apa yang perlu ditulis dan dikatakan, dalam semua publisitas."

Uskup Jerman itu juga memperingatkan agar Gereja Katolik di Jerman tidak berubah menjadi “gereja nasional.” “Kami bukanlah gereja nasional.” Woelki, yang nampak emosionil ketika berbicara, bersikeras bahwa semua gereja nasional di dunia harus berjalan bersama sebagai anggota Tubuh Mistik Kristus. “Kita berjalan menuju Kristus, di dalam kesetiaan ke pada Deposit Iman, seperti yang telah diwariskan kepada kita oleh para Rasul.” Dia juga mendorong umat untuk “memperdalam imanmu akan Ekaristi Kudus” yang merupakan “detak jantung dari Gereja."

Woelki akhirnya mengajak seluruh umat Katolik untuk bekerja bersama-sama, bukannya saling bertentangan satu sama lain.

Homili-nya itu disambut hangat oleh seluruh umat dengan tepuk tangan meriah.

Ucapan Kardinal Woelki ini tidak hanya mengungkapkan iman yang dalam dan kesetiaan yang besar kepada Tuhan kita di dalam Ekaristi Kudus, dan kesetiaan ke pada ajaran tradisional Gereja Katolik, tetapi ia juga menegaskan kembali keputusannya untuk menentang sikap liberalisasi berkaitan dengan pertanyaan tentang pemberian Komuni Kudus bagi pasangan yang Protestan. Baru-baru ini, pada tanggal 18 Mei, Kardinal Woelki bertemu dengan Paus Fransiskus di Roma, dan para pengamat Katolik berasumsi bahwa perdebatan soal inter-Komuni di Jerman menjadi topik pembicaraan Kardinal Woelki dengan Paus Fransiskus. Namun tidak ada informasi yang diberikan oleh Vatikan mengenai isi pertemuan 18 Mei itu.

Namun, kenyataan bahwa Kardinal Woelki masih tetap berdiri tegak dan penuh semangat membela Kristus yang ada di dalam Ekaristi Kudus, adalah tanda yang paling menggembirakan bagi kita.



Silakan melihat artikel lainnya disini : http://devosi-maria.blogspot.co.id/

No comments:

Post a Comment