Saturday, June 23, 2018

JESUIT




JESUIT
by Bradley Eli, M.Div., Ma.Th.  •  ChurchMilitant.com  •  June 21, 2018    

ST. ALOYSIUS GONZAGA BUKANLAH SEORANG TEOLOG, MISIONARIS MAUPUN PROFESOR, DIA HANYALAH SEORANG KUDUS.


Jesuit muda ini, yang hari pestanya dirayakan pada 21 Juni, bukanlah seorang teolog, misionaris, profesor atau aktivis - tetapi dia adalah seorang kudus.

St. Aloysius Gonzaga menjadi seorang Jesuit hanya selama lima tahun saja, ketika pada tahun 1587 dia meninggal pada usia 23 tahun karena wabah penyakit yang dideritanya dengan gagah berani karena dia melayani orang-orang sakit selama epidemi itu terjadi. Dia tidak pernah mengkristenkan orang-orang kafir dalam banyak misi Yesuit yang dilakukannya, ataupun membentuk jiwa-jiwa pada banyak universitas yang dikelola oleh Yesuit, tetapi dia selalu menyelaraskan hidupnya dengan kehidupan Kristus. Karena pertobatan itulah hingga dia dianggap sebagai salah satu Yesuit yang paling terkenal saat ini, yang namanya mampu mempertobatkan hati dan pikiran banyak orang kepada Tuhan.

Di sisi yang lain, kita bisa melihat contoh seorang teolog Jesuit modernist seperti Karl Rahner dan Teilhard de Chardin, (lht. catatan 1 dibawah) dimana kedua orang ini telah menghancurkan iman banyak orang. Para misionaris Yesuit di Amerika Latin telah membenamkan diri dalam dunia politik dengan mendorong mempopulerkan teologi pembebasan yang diciptakan oleh komunis. Para profesor Yesuit telah menyesatkan iman para pemuda yang tak terhitung banyaknya di universitas-universitas mereka, dan para aktivis seperti imam homoseksual, pastor James Martin, yang bekerja keras untuk membuat gaya hidup homoseksual dianggap sebagai hal yang normal sambil merubah ajaran-ajaran Katolik dalam proses itu.

Para teolog, misionaris, dan profesor Yesuit saat ini harus belajar dari St. Aloysius Gonzaga untuk, pertama-tama, mengajari dan merubah diri mereka sendiri, sebelum menuntun orang lain kepada Kristus. Kisah St. Aloysius Gonzaga adalah salah satu contoh penaklukan diri yang dilakukan dengan kepatuhan dan rendah hati kepada para pembina spiritualnya, seperti penasihat spiritualnya saat itu, St. Robert Bellarmine yang agung.

Lahir dari keluarga bergengsi di Italia, St. Aloysius, pada usia sembilan tahun, bersumpah keperawanan abadi dan memutuskan untuk menjalani panggilan dalam kehidupan religius bagi masa depannya. Dia mendapat kehormatan menerima Komuni Kudus pertama dari St. Charles Borromeo. Penyakit pada masa kanak-kanaknya dan seorang ayah yang pemarah, yang bertekad mencegahnya memasuki kehidupan religius, telah mengeraskan tekadnya untuk menjadi seorang kudus.

Menurut biografi yang ditulis oleh St. Robert Bellarmine, St. Aloysius Gonzaga memang keras kepala ketika dia harus memilih pertapaannya sendiri yang berat dan keras, terutama dengan memiliki ketidaksempurnaannya sendiri. Atas perintah penasihat spiritualnya, St. Aloysius Gonzaga mempraktekkan kebajikan-kebajikan yang lebih lembut, seperti kesabaran, kerendahan hati, kepatuhan dan belas kasih.

Dia juga bekerja di beberapa rumah sakit, yang secara alami menjijikkan baginya. Salib inilah, yang berupa merawat orang-orang sakit, yang pada akhirnya menuntut pengorbanannya. Bekerja tanpa pamrih dengan pasien-pasein seperti itu selama terjadinya wabah penyakit, pada saat orang-orang lain tidak mau melakukannya, akhirnya St. Aloysius tertular wabah penyakit itu dan meninggal beberapa bulan kemudian.

Pemuda Aloysius Gonzaga tidak pernah menjadi seorang penulis, pengkhotbah, pengajar, atau misionaris, seperti banyak para Yesuit yang buruk dewasa ini. Tapi dia kemudian menjadi satu tokoh, yang tidak pernah orang-orang lain alami – menjadi orang kudus.

Watch the panel discuss the most problematic order of the age in The Download—The Jesuits

+++++++++++++++++++

Catatan:

1. Bunda Maria menyampaikan pesan kepada Veronica Lueken, visiuner Bayside: tentang TEILHARD, ROOSEVELT - Our Lady, September 13, 1975

Anakku, janganlah kamu ragu menyampaikan pengetahuan akan kebenaran. Teilhard de Chardin berada didalam neraka. Pemimpinmu, Roosevelt, juga berada didalam neraka. Franklin Roosevelt, anakku, rohnya berasal dari kegelapan. Dia memasuki dunia dari dalam lembah.

2. Seorang petinggi JESUIT, Arturo Sosa, berkata: IBLIS ADALAH SEBUAH GAMBARAN SIMBOLIS SAJA … YANG BERFUNGSI UNTUK MENYATAKAN ‘PERBUATAN JAHAT’. Jadi, iblis atau setan itu sebenarnya tidak ada. Silakan lihat disini atau disini.


3. Pastor Arturo Sosa ikut dibaptis pada acara pembaptisan agama Buddha di Kamboja.
Beberapa saat setelah mengatakan bahwa iblis atau setan itu tidak ada, pastor Arturo Sosa terlihat ikut bergabung dan ‘beribadah’ bersama para biarawan Buddha.
Silakan lihat disini atau disini.


Perintah pertama Allah:
Jangan menyembah berhala, berbaktilah kepada-Ku saja, dan cintailah Aku lebih dari segala sesuatu.

4. Pastor homoseksual, James Martin, seorang Jesuit, getol sekali mempromosikan penerimaan LGBT di dalam Gereja. Dia bahkan menulis sebuah buku: Building A Bridge. Isinya tentang bagaimana menjembatani Gereja dengan LGBT. Bagaimana mungkin Surga dan neraka dijembatani?




Silakan melihat artikel lainnya disini : http://devosi-maria.blogspot.co.id/

1 comment: