Monday, October 10, 2016

USULAN BARU DARI USKUP JERMAN...

USULAN BARU DARI USKUP JERMAN: ADA JENIS MANUSIA LAINNYA SELAIN PRIA DAN WANITA


Gereja Katolik di Jerman nampaknya semakin kebablasan di dalam usulan-usulan mereka. Misalnya saja, baru-baru ini, website resmi dari Konperensi Wali Gereja Jerman,  katholisch.de, telah melaporkan tentang ide untuk menjadikan wanita sebagai kardinal; mengesahkan homosex sebagai hak asasi manusia; perlunya imam-imam yang menikah dan diakon wanita – ini adalah beberapa saja dari usulan kaum heterodox (modernist) di Jerman.

Tema lainnya yang baru-baru ini menjadi berita internasional adalah dibentuknya sebuah komisi dari Uskup-uskup Jerman, setahun yang lalu, 22 Oktober 2015, dimana mereka menerbitkan sebuah brosur yang seakan mengabaikan bahaya-bahaya dari Teori Gender, bahkan mereka mengaku bahwa “Gender Mainstreaming” berkewajiban untuk mewujudkan sebuah kesamaan antara pria dan wanita. Di dalam konteks ini laporan berita yang sampai kepada kita semakin memperburuk reputasi Gereja Katolik Jerman.

Dan saat ini, seorang Uskup Katolik, Ludger Schepers, dari wilayah Essen, mengajukan usulan atau ide yang lancang dengan mengatakan bahwa ‘ada jenis manusia lainnya selain pria dan wanita’. Dia berbicara hal ini pada sebuah konperensi 5-6 Oktober 2016 mengenai ‘isu gender’ di Stuttgart, demikian menurut sebuah laporan tanggal 6 Oktober 2016 yang diterbitkan oleh katholisch.de. Konperensi itu sendiri memakai judul yang bersifat interogativ: “Apakah Gender Adalah Sebuah Ideologi?”. Diantara pembicara dalam konperensi itu adalah Dr. Stephan Goertz, seorang pembela yang gigih dari homosex.

Contoh brosur / undangan serta jadwal acara seminar ideologi gender yang dikeluarkan oleh panitia. Lihatlah, gambar orang yang sedang mencukur jenggot itu pria atau wanita?

Pada tanggal 6 Oktober 2016, Uskup Schepers berbicara pada konperensi itu dengan tema “Gender Trouble. Was nun? Zukunftsperspektiven der Kirche” (“Gender Trouble: Now What? Church Perspectives for the Future”). Dalam ceramahnya, dia menduga ada sebuah konflik mendalam diantara para uskup dari Konperensi Wali Gereja Jerman, mengenai Brosus Gender (gambar diatas) yang diterbitkan oleh Uskup-uskup Jerman. “Terdapat perselisihan yang sengit,” demikian Uskup Schepers mengatakan. Beberapa Uskup Jerman mengakui bahwa brosur itu ‘tidak mewakili pandangan uskup-uskup Jerman secara menyeluruh” mengenai perdebatan masalah gender. Tetapi sebuah media Austria kathpress.at melaporkan bahwa Uskup Schepers sendiri adalah anggota dari komisi yang menulis Brosur Gender yang kontroversial ini bagi Uskup-uskup Jerman. Maka secara politis, dia harus ikut bertanggung-jawab atas brosur itu.


Uskup pembantu Ludger Scheppers pada wilayah Essen, Germany (Image via Essen.de)

Schepers sendiri mengakui pada Konferensi Gender itu bahwa ada banyak ketakutan di dalam perdebatan tentang isu-isu gender, "dan ketakutan adalah selalu menjadi penasihat yang buruk." Dia menegaskan bahwa Gereja harus ikut ambil bagian dalam diskusi ini bersama masyarakat. Dalam konteks yang ambigu ini, Schepers bahkan secara samar-samar "mengajak Gereja Katolik untuk menyadari bahwa ada jenis manusia lainnya, selain pria dan wanita." Dari usulan yang lancang dan sebagai penegasan ini - seperti dikutip oleh Katholisch.de - jelas bahwa Schepers secara efektif mengusulkan agar Gereja saat ini menyajikan sebuah pandangan "heterodoks" (modern) mengenai Teori Gender.
Pernyataan ini muncul pada saat di mana para pejabat gereja lainnya dari Gereja Katolik - seperti misalnya Kardinal Gerhard Müller, Kardinal Carlo Caffarra dan Kardinal Robert Sarah – memberikan peringatan keras terhadap adanya gerakan bawah tanah yang berupa prinsip-prinsip palsu dan sesat dari Teori Gender serta pengaruhnya yang merusak pada perkawinan dan keluarga.


Selain itu, patut dicatat juga, pernyataan pribadi dari uskup ini juga datang pada saat di mana Paus Francis, Wakil Kristus, baru-baru ini juga mengeluarkan beberapa pernyataan yang samar-samar (ambigu) mengenai masalah yang sangat sama, yaitu masalah "Gender."

Artikel lain: 

 

No comments:

Post a Comment