Monday, October 31, 2016

Vol 2 - Bab 27 : Keringanan bagi jiwa-jiwa

Volume 2 : Misteri Kerahiman Allah

Bab 27

Keringanan bagi jiwa-jiwa
Indulgensi
Bunda Frances dari Pampeluna dan Uskup de Ribera
St.Magdalen de Pazzi
St.Teresa

Bunda Frances Venerabilis dari Sakramen Terberkati, dimana kemurahan hatinya terhadap jiwa-jiwa suci telah kita bicarakan diatas, juga sangat bersemangat didalam meringankan penderitaan mereka melalui indulgensi. Suatu hari Tuhan menunjukkan kepadanya jiwa-jiwa dari 3 orang religius yang dulunya telah menduduki Kepala di Pampeluna dan yang saat itu masih merana didalam Api Penyucian. Hamba Allah itu menyadari bahwa dia harus mengerahkan segala cara untuk mempercepat pembebasan mereka. Karena Tahta Suci telah memberikan anugerah kepada Spanyol berupa the Bulls of the Crusade yang memungkinkan orang bisa menerima indulgensi penuh dengan beberapa persyaratan khusus, maka Bunda Frances percaya bahwa cara terbaik untuk menolong jiwa-jiwa malang itu adalah dengan mengarahkan kepada mereka manfaat dari indulgensi penuh itu.

Dia lalu berbicara kepada Uskup, Christopher de Ribera, dan menceritakan kepadanya bahwa ada 3 orang Kepala terdahulu dari Pampeluna masih berada didalam Api Penyucian. Frances mendorong Uskup untuk memberikan kepadanya 3 buah indulgensi the Bulls of the Crusade itu. Frances memenuhi semua persyaratan yang diperlukan, dan dia menyerahkan indulgensi penuh itu kepada masing-masing dari tiga Uskup itu. Malam berikutnya, ketiganya menampakkan diri kepada Bunda Frances dimana mereka telah dibebaskan dari penderitaan mereka. Mereka berterima-kasih kepadanya dan meminta kepadanya untuk berterima-kasih kepada Uskup Ribera atas indulgensi itu yang telah berhasil membuka pintu Surga bagi mereka.

Berikut ini adalah kisah yang diceritakan oleh Pastor Cepari didalam biografi St.Magdalen de Pazzi. Ada seorang religius yang selama sakitnya yang terakhir telah dirawat dengan baik sekali oleh St.Magdalen, telah meninggal. Dan seperti kebiasaan disitu, mereka menaruh tubuh religius itu di Gereja dan Magdalen merasa terdorong untuk pergi dan melihat jenazah itu sekali lagi. Kemudian dia pergi kesana dan melihat jenazah itu. Tiba-tiba dia mengalami ekstase dan dia melihat jiwa dari Suster yang meninggal itu terbang ke Surga. Dengan suasana sukacita Magdalen berkata :”Adieu, Suster yang terkasih, Adieu jiwa terberkati ! seperti merpati yang murni engkau terbang menuju rumahmu yang kekal dan meninggalkan kami di tempat tinggal yang penuh derita ini. Oh betapa indah dan mulianya engkau.  Siapakah yang bisa menceritakan kemuliaan yang diberikan Allah bagi perbuatan-perbuatanmu yang suci itu ? Betapa cepatnya kamu tinggal didalam Api Penyucian. Tubuhmu masih belum luntur didalam kubur dan lihatlah ! jiwamu telah diterima didalam rumah suci yang mewah itu. Kini kamu tahu kebenaran dari perkataan yang kuberikan kepadamu dulu, bahwa semua penderitaan didalam kehidupan ini tak ada artinya apa-apa dibandingkan dengan ganjaran yang disediakan Allah bagi para sahabatNya”. Didalam penglihatan yang sama, Tuhan menyatakan kepadanya bahwa jiwa itu telah melewati waktu selama 15 jam didalam Api Penyucian karena dia telah banyak menderita didalam kehidupan ini, dan karena dia telah berusaha mendapatkan indulgensi yang disediakan oleh Gereja bagi anak-anaknya, karena keutamaan dari jasa-jasa Yesus Kristus.


St.Teresa didalam karya-karyanya bercerita tentang seorang religius yang sangat menghargai indulgensi yang terkecil sekalipun yang diberikan oleh Gereja, dan dia berusaha memperoleh semuanya itu dengan sekuat tenaganya. Di pihak lain dia juga menjalani kehidupan yang amat sederhana dan kesalehannya juga sangat terpuji. Dia meninggal dan orang kudus itu, St.Teresa, merasa terkejut, yang melihat jiwa Suster itu naik ke Surga hampir bersamaan setelah kematiannya, sehingga seolah-olah dia tidak perlu melewati Api Penyucian. Ketika St.Teresa menyatakan kekagumannya atas hal ini, Tuhan mengatakan kepadanya bahwa hal itu adalah karena perhatian Suster itu yang besar yang diberikan untuk memperoleh indulgensi kecil sebanyak mungkin selama kehidupannya. “Dengan cara-cara inilah”, kata Tuhan, “maka dia hampir membayar lunas seluruh hutang-hutangnya yang cukup berarti sebelum kematiannya. Dan karena itu dia nampak dengan kemurnian yang besar dihadapan Pengadilan Allah”.

No comments:

Post a Comment