Sunday, October 2, 2016

Vol 2 - Bab 19 : Keringanan bagi jiwa-jiwa

Volume 2 : Misteri Kerahiman Allah

Bab 19

Keringanan bagi jiwa-jiwa melalui Kurban Kudus dari Misa Kudus
Bunda Agnes Venerabilis dan Suster Seraphique
Margaret dari Austria
the Archduke Charles
Pastor Mancinelli

Kita telah menceritakan betapa besarnya manfaat dari Kurban Kudus didalam meringankan penderitaan jiwa-jiwa yang malang didalam Api Penyucian. Sebuah iman yang hidup atas misteri yang amat menyenangkan ini telah mengobarkan devosi dari umat beriman yang sejati serta meringankan kepahitan dari kesedihan mereka. Apakah kematian telah membuat mereka kehilangan seorang bapa, ibu, atau sahabat ? Mereka mengarahkan pandangan matanya yang berlinangan itu kearah altar, yang menyediakan segala sarana untuk memuaskan rasa kasih dan terima kasih mereka kepada saudara-saudara mereka yang meninggal. Namun Misa Kudus yang banyak diselenggarakan bagi mereka, serta kesediaan yang ada dari orang-orang untuk menolong melalui Kurban Kudus dari Perdamaian demi orang yang meninggal.

Bunda Agnes de Lengeac Venerabilis, seorang religius Dominikan yang telah kita bicarakan diatas, telah banyak menolong melalui Misa Kudus dengan rasa devosi yang besar, serta dia mendorong para sahabatnya kaum religius untuk memiliki semangat yang sama. Dia mengatakan kepada mereka bahwa Kurban Ilahi ini adalah tindakan yang paling suci dari agama Katolik, karya Allah yang utama, dan mengingatkan mereka akan Kitab Suci :”Terkutuklah orang yang melaksanakan pekerjaan Tuhan dengan lalai, dan terkutuklah orang yang menghambat pedangNya dari penumpahan darah” (Yer. 48:10).

Seorang Suster dari komunitas itu yang bernama Sr.Seraphique telah meninggal dunia. Dia belum cukup menaruh perhatian kepada nasihat dari Suster Kepala dan dia dihukum dengan amat kerasnya didalam Api Penyucian. Bunda Agnes mengetahui hal ini melalui pencerahan yang dialaminya. Didalam ekstase, rohnya dibawa menuju tempat penebusan dosa dan dia melihat amat banyak jiwa-jiwa berada ditengah-tengah nyala api. Diantara mereka itu dia mengenali ada Sr.Seraphique yang dengan nada merintih sedih hingga menimbulkan rasa kasihan, meminta pertolongannya. Tersentuh oleh rasa belas kasihan, Sr.Kepala yang murah hati ini melakukan segala sesuatu sekuat tenaganya selama 8 hari dengan berpuasa, dan menyampaikan hal itu kepada para sahabatnya dan dia ikut aktiv didalam Misa Kudus bagi Suster yang meninggal itu. Ketika dia sedang berdoa, dengan bercucuran air mata dan helaan-helaan napas panjang, dia memohon Kerahiman Ilahi melalui Darah Yang Berharga dari Yesus Kristus agar Dia berkenan melepaskan Sr.Seraphique dari nyala api yang amat mengerikan itu dan berkenan memberinya kebahagiaan didalam kehadiranNya. Dia mendengar suara yang berkata kepadanya :”Teruslah berdoa. Saat pembebasannya masih belum tiba”. Bunda Agnes terus bertekun didalam doa-doanya. Dan dua hari kemudian ketika ikut merayakan Misa Kudus, pada saat konsekrasi, dia melihat jiwa dari Sr.Seraphique naik ke Surga dengan rasa bahagia sekali. Penglihatan yang amat menyenangkan ini merupakan ganjaran dari kemurahan hatinya dan sekaligus membakar semangatnya untuk berdevosi kepada Kurban Kudus dari Misa Kudus.

Keluarga-keluarga Kristiani yang memiliki semangat iman yang hidup, menjadikan tindakan itu sebagai kewajiban mereka, untuk menyelenggarakan sebanyak mungkin Misa Kudus bagi orang yang meninggal. Didalam tindakan mereka yang suci itu, mereka menghabiskan segala daya upaya untuk meningkatkan permohonan Gereja, guna memberi keringanan kepada jiwa-jiwa suci itu. Diceritakan didalam biografi Ratu Margaret dari Austria, istri dari Pangeran Philip III, bahwa pada suatu hari didalam proses pemakamannya, yang diadakan di kota Madrid, ada sekitar 1100 Misa Kudus diadakan bagi jiwanya. Sang Ratu ini telah meminta 1000 kali Misa Kudus baginya. Sang raja telah meminta 20 ribu kali Misa Kudus untuk ditambahkan lagi. Ketika Archduke Albert meninggal di Brussels, maka Isabella yang baik hati itu, istrinya, meminta 40 ribu kali Misa Kudus bagi jiwa suaminya itu dan selama sebulan penuh dia sendiri mengikutinya dengan perhatian yang besar yang diadakan pada setiap jam 10 setiap hari.

Salah satu contoh yang paling sempurna dari devosi kepada Kurban Kudus dari Misa Kudus dan kemurahan hati terhadap jiwa-jiwa di Api Penyucian, adalah Pastor Julio Mancinelli dari the Society of Jesus. Banyak Misa Kudus yang dipersembahkan oleh Pastor ini, kata Pastor Rossignoli, memiliki manfaat yang sangat istimewa bagi keringanan umat beriman yang meninggal. Jiwa-jiwa itu sering nampak kepadanya untuk meminta sebuah Misa Kudus.

Caesar Costa, paman dari Pastor Mancinelli, adalah Uskup Agung dari Capua. Suatu hari dia bertemu dengan kemenakannya yang suci dengan memakai pakaian yang buruk sekali, tidak sesuai dengan cuaca saat itu, dan dia dengan kemurahan hati yang besar memberi bantuan dengan menyerahkan jubahnya sendiri kepadanya. Beberapa saat kemudian Uskup Agung itu meninggal. Ketika pada beberapa saat sesudahnya Pastor Mancinelli mengunjungi seorang yang sakit yang ternyata telah diselimuti oleh jubahnya yang baru itu, yang mengatakan bahwa dia telah berjumpa dengan pamannya yang telah meninggal, yang datang kepadanya dengan diselimuti oleh nyala api dan meminta tolong kepadanya untuk meminjamkan mantelnya kepadanya. Pastor Mancinelli memberikan kepadanya jubah itu. Dan ketika Uskup Agung itu memakainya, maka nyala api itu segera padam. Mancinelli mengerti bahwa jiwa itu menderita didalam Api Penyucian dan dia meminta pertolongannya, sebagai balasan atas kemurahan hatinya yang dulu. Lalu dia mengambil kembali jubahnya dan berjanji untuk berdoa bagi jiwa yang menderita itu dengan bersemangat, terutama di altar.

Cerita ini segera tersebar luas dan menimbulkan rasa takjub dan hormat, sehingga setelah kematian dari Pastor itu, diabadikan dalam sebuah lukisan yang kini disimpan di College Macerata, tempat asalnya dulu. Pastor Julio Manccinelli ada disana, diatas altar, dengan jubah sucinya, dan tubuhnya sedikit terangkat diatas anak tangga altar, yang menandakan suasana sukacita yang dikaruniakan Allah kepadanya. Dari mulutnya keluarlah kilatan-kilatan api, yang merupakan lambang dari doa-doanya yang bersemangat, dan semangatnga selama melakukan Misa Kudus. Dibawah altar itu terlihatlah Api Penyucian dan jiwa-jiwa yang menerima manfaat dari doa-doa permohonannya. Diatasnya, nampak dua malaikat yang membawa dua bejana emas yang mahal, yang mencurahkan berkat, rahmat dan pelunasan yang diberikan kepada jiwa-jiwa malang sebagai keutamaan dari Kurban Kudus. Kami juga melihat mantel yang diceritakan itu dan sebuah tulisan puisi yang kalau diterjemahkan berbunyi :

Oh pakaian ajaib
yang diberikan sebagai perlindungan
terhadap kejamnya hawa dingin
yang sesudahnya berfungsi
untuk mengurangi panasnya api.
Begitulah kemurahan hati memberikan kehangatan
atau kesegaran
sesuai dengan besarnya
penderitaan yang disembuhkan.


No comments:

Post a Comment