Sunday, October 9, 2016

Vol 2 - Bab 21 : Keringanan bagi jiwa-jiwa

Volume 2 : Misteri Kerahiman Allah

Bab 21

Keringanan bagi jiwa-jiwa
Doa
Bruder Corrado d’Offida
Pancing ikan dari emas dan senar perak

Setelah Kurban Kudus dari Misa Kudus, kita masih memiliki banyak sarana kedua yang cukup bermanfaat juga didalam meringankan jiwa-jiwa suci itu, jika kita menerapkannya dengan hati, semangat dan iman.

Yang pertama adalah melalui doa, dalam segala bentuknya. Didalam buletin Annals of the Seraphic Order, bercerita dengan penuh hormat tentang Bruder Corrado d’Offida, salah satu pendamping pertama dari St.Francis. Dia terkenal memiliki semangat doa dan kemurahan hati, yang sangat berperanan besar bagi kemuliaan para saudaranya. Diantara para saudaranya itu ada seorang rahib muda yang tingkah lakunya cukup mengganggu didalam komunitas suci itu. Namun atas jasa-jasa dari doa dan kemurahan hati Corrado, dia telah memperbaiki hampir seluruh dirinya dan dia menjadi contoh dari kehidupan disiplin disitu. Segera setelah pertobatan yang membahagiakan ini, dia meninggal dan para saudara seiman disitu memanjatkan doa-doa permohonan baginya. Beberapa hari berlalu, ketika Bruder Corrado sedang berdoa didepan altar, dia mendengar suara minta tolong doa-doanya. “Siapakah engkau ?“, tanya hamba Allah itu. Suara itu menjawab :”Aku adalah jiwa dari religius muda yang anda pertobatkan kepada semangat iman yang semula”. “Tetapi bukankah kamu telah meninggal secara suci ? Apakah kamu masih memerlukan bantuan doa ?”. “Memang aku meninggal secara baik, dan aku diselamatkan dari api neraka, tetapi atas dosa-dosaku yang dulu, yang masih belum kutebus, maka aku menderita pemurnian yang sangat mengerikan sekarang, dan aku memohon kepadamu untuk tidak menolak aku dari bantuan doa-doamu”. Segera saja Bruder yang baik hati itu bersujud didepan tabernakel dan mendaraskan doa Pater diikuti oleh Requiem Aeternam. “Oh bapaku yang amat baik”, kata jiwa itu, “betapa besarnya kesegaran yang didatangkan oleh doa-doamu bagiku”. Corrado dengan tekun mengulangi doa-doa yang sama. “Bapa yang terkasih”, kata jiwa itu lagi, “tambahkan lagi ! tambahkan lagi ! Aku merasakan keringanan yang sangat besar jika bapa berdoa bagiku”. Religius yang amat murah hati itu terus berdoa dan dengan semangat yang baru, dan dia mengulangi doa Bapa Kami sampai 100 kali. Lalu dengan nada suara yang bahagia sekali, jiwa orang yang meninggal itu naik ke Surga, sambil berseru :”Aku berterima-kasih kepadamu, bapaku yang terkasih, demi Nama Tuhan. Aku dibebaskan, lihatlah ! Aku akan memasuki Kerajaan Surga”.

Melalui contoh diatas kita tahu betapa besar manfaat dari doa-doa, yang terkecil sekalipun, serta permohonan-permohonan yang singkat, untuk meringankan penderitaan jiwa-jiwa yang malang itu. “Aku telah membaca”, kata Pastor Rossignoli, “bahwa ada seorang Uskup yang suci yang mengalami ekstase. Dia melihat ada seorang anak kecil, yang membawa sebuah pancing dari emas dan senar dari perak. Dia menarik keluar dari dalam sumur seorang wanita yang telah tercebur didalamnya. Setelah berdoa, Uskup itu, sambil berjalan ke Gereja, melihat anak kecil yang sama sedang bermain-main disebuah kuburan. “Apa yang kau lakukan disitu, sahabat kecilku ?”, tanya Uskup itu. “Aku sedang berdoa Bapa Kami dan Salam Maria”, jawab anak itu, “bagi jiwa ibuku yang dikuburkan disini”. Uskup itu segera menyadari bahwa Tuhan telah berkenan menunjukkan kepadanya manfaat dari doa yang paling sederhana itu. Dia tahu bahwa jiwa dari wanita itu telah dibebaskan, bahwa pancing emas itu adalah doa Bapa Kami dan senar perak itu adalah doa Salam Maria yang menjadi benang mistik dari pancing itu”.



No comments:

Post a Comment