Wednesday, October 5, 2016

Vol 2 - Bab 20 : Keringanan bagi jiwa-jiwa

Volume 2 : Misteri Kerahiman Allah

Bab 20

Keringanan bagi jiwa-jiwa melalui Kurban Kudus  dari Misa Kudus
St.Teresa dan Bernardino de Mendoza
Penggandaan Misa Kudus
Kebesaran dari tindakan merendahkan diri

Marilah kita menyimpulkan apa yang telah kita katakan terhadap Kurban Kudus melalui apa yang diceritakan oleh St.Teresa mengenai Bernardino de Mendoza. Dia menyampaikan fakta ini didalam ‘the Book of Foundations’ :

“Pada pesta Hari Bagi Seluruh Jiwa-jiwa, Don Bernardino de Mendoza telah menyerahkan sebuah rumah dengan taman yang indah yang terletak di Madrid kepada St.Teresa, agar dia mendirikan sebuah biara untuk menghormati Bunda Allah”. Dua bulan sesudahnya, tiba-tiba Bernardino jatuh sakit dan tak bisa berbicara, sehingga dia tak bisa mengaku dosa meskipun dia menunjukkan tanda-tanda dari penyesalan hatinya. St.Teresa bercerita :”Dia meninggal sesudahnya, dan berada jauh dari tempat dimana aku berada. Namun Tuhan berkata kepadaku, dan menceritakan bahwa jiwanya diselamatkan, meskipun dia telah menjalankan tindakan yang besar resikonya. Bahwa kerahiman telah diberikan kepadanya karena dia telah memberikan sedekah yang berupa biara bagi IbuNya Yang Terberkati. Namun jiwanya belum bisa dibebaskan dari penderitaan hingga Misa Kudus pertama dilaksanakan di rumah yang baru. Aku sangat merasakan sakitnya jiwa ini, sehingga meskipun aku sangat ingin mendirikan fondasi di Toledo, pada saat itu aku merasa sangat perlu bertindak bagi Valladolid pada hari pesta dari St.Lawrence.

“Suatu hari ketika aku sedang berdoa di Medina del Campo, Tuhan mengatakan kepadaku untuk bertindak segera karena jiwa dari de Mendoza menjadi mangsa dari penderitaan yang amat kejam”.

“Segera saja aku memerintahkan para tukang batu untuk membangun dinding-dinding biara tanpa dtunda-tunda lagi. Namun karena hal ini membutuhkan waktu, maka aku meminta ijin kepada Uskup untuk membangun kapel sementara bagi para Suster yang menyertai aku. Setelah hal ini dilakukan, aku melaksanakan Misa Kudus. Dan pada saat aku meninggalkan tempatku untuk menuju ke Meja Perjamuan Suci aku melihat jiwa yang kudoakan itu dengan tangannya menyatu didepan dadanya dengan wajah yang bercahaya. Dia berterima-kasih kepadaku karena aku telah membebaskan dia dari Api Penyucian. Lalu aku melihat dia memasuki Surga. Aku menjadi lebih berbahagia lagi karena aku tidak berharap sebesar itu. Karena meskipun Tuhan kita telah menyatakan kepadaku bahwa pembebasan jiwa itu akan terjadi setelah Misa Kudus pertama dilaksanakan di rumah itu, tetapi aku mengira bahwa hal itu berarti Misa Kudus pertama ketika Sakramen Terberkati ditempatkan disitu”.

Kejadian yang indah ini menunjukkan kepada kita bukan saja besarnya manfaat dari Kurban Kudus, namun juga kebaikan yang besar dengan mana Yesus berkenan menganugerahi jiwa-jiwa suci terutama dengan merendahkan DiriNya untuk meminta permohonan kita bagi mereka.

Karena Kurban Ilahi ini memiliki nilai yang demikian besarnya, bisa juga dipertanyakan apakah jika semakin banyak Misa Kudus dimintakan bagi jiwa-jiwa, akan mendatangkan keringanan yang lebih besar dari pada sedikit Misa Kudus, dimana kesalahan jiwa-jiwa itu hanya ditebus oleh proses pemakaman yang besar–besaran dan sedekah yang berlimpah ? Jawaban atas pertanyaan ini diambil dari semangat Gereja yang merupakan semangat Yesus Kristus sendiri serta yang merupakan pernyataan dari KehendakNya.

Gereja menasihatkan kepada umat beriman untuk berdoa bagi orang-orang yang meninggal, memberikan sumbangan dan melaksanakan perbuatan-perbuatan baik, dan menyerahkan indulgensinya kepada mereka, namun terutama adalah dengan mengadakan Misa Kudus dan mengikutinya secara aktiv. Sementara kita memberi tempat yang utama kepada Kurban Ilahi ini, Gereja menyetujui dan memanfaatkan berbagai permohonan sesuai dengan keadaan yang ada, devosi atau keadaan sosial yang ada dari orang yang meninggal itu atau ahli warisnya. 

Adalah merupakan kebiasaan dari Gereja Katolik dari sejak dahulu untuk mengadakan Misa Kudus bagi orang yang meninggal dengan upacara yang meriah dan sebuah pemakaman yang meriah pula yang sesuai dengan keadaan yang ada. Biaya dari semua ini adalah hasil dari sumbangan yang diberikan kepada Gereja, sedekah yang di mata Tuhan sangat membesarkan nilai dari Kurban Kudus itu dan segala nilai kepuasannya bagi orang yang meninggal itu.

Adalah baik untuk mengatur pembiayaan dari pemakaman itu, sehingga masih ada tersisa untuk merayakan Misa Kudus dan memberi sedekah kepada orang-orang yang miskin.

Yang harus dihindari adalah jangan sampai kita kehilangan semangat dan ingatan akan sifat-sifat Kristiani dari tindakan pemakaman itu, dan memandang upacara pemakaman itu lebih rendah didalam ibadat agama dari pada sebuah pameran kesia-siaan yang bersifat duniawi.

Apa yang harus dihindari lebih jauh adalah lambang-lambang dukacita yang justru menghinakan dan tidak sejalan dengan tradisi Kristiani. Misalnya melalui pengiriman berbagai karangan bunga yang menghabiskan biaya besar, yang kemudian mereka tumpukkan diatas peti mati. Ini merupakan tindakan inovasi yang tidak disetujui oleh Gereja, dimana Yesus Kristus justru menganjurkan kita untuk memelihara ritus agama dan upacara agama, bukannya upacara pemakaman. Segala sesuatu yang digunakan didalam kematian anak-anak Gereja adalah terhormat sejak dahulu, penuh arti dan penghiburan. Segala sesuatu yang nampak di mata umat beriman dalam kesempatan seperti ini, salib-salib, air suci, lilin serta kemenyan, air mata dan doa, helaan-helaan napas panjang bagi jiwa-jiwa yang malang, iman akan kerahiman ilahi dan pengharapan akan kehidupan kekal.

Apakah artinya semua ini yang ada didalam karangan bunga violet yang dingin beku itu ? Hal itu tidak berkata apa-apa bagi jiwa Kristiani kecuali hanyalah lambang-lambang yang menghinakan dari kehidupan yang fana ini, yang sangat bertentangan dengan salib, yang sungguh asing bagi ritus agama Katolik.



No comments:

Post a Comment