Sunday, February 10, 2019

Manifesto Iman dari Kardinal Gerhard Müller







MANIFESTO IMAN




"Janganlah gelisah hatimu!” (Yoh.14:1)

Dalam menghadapi kebingungan yang tumbuh mengenai doktrin Iman, banyak uskup, imam, religius dan umat awam, Gereja Katolik telah meminta agar saya untuk membuat kesaksian secara terbuka tentang kebenaran wahyu. Adalah tugas para gembala untuk membimbing mereka yang dipercayakan kepada mereka di jalan keselamatan. Hal ini hanya bisa berhasil jika mereka mengetahui cara ini dan mengikutinya sendiri. Perkataan rasul Paulus berlaku di sini berlaku: Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri (1Kor 15:3). Saat ini, banyak umat kristiani bahkan tidak lagi sadar akan ajaran-ajaran dasar Iman, sehingga ada bahaya yang semakin besar untuk kehilangan jalan menuju kehidupan kekal. Namun, adalah tetap menjadi tujuan Gereja untuk memimpin umat manusia menuju kepada Yesus Kristus, yang menjadi terang bagi umat (lihat LG 1).

Dalam situasi seperti ini, pertanyaan tentang orientasi muncul. Menurut Yohanes Paulus II, Katekismus Gereja Katolik adalah "standar yang aman bagi doktrin iman" (Fidei Depositum IV). Ia ditulis dengan tujuan untuk memperkuat Iman saudara-saudari yang keyakinannya dipertanyakan secara besar-besaran oleh "kediktatoran relativisme."

1. Allah yang tunggal dan tritunggal dinyatakan dalam diri Yesus Kristus

Lambang Iman dari semua orang Kristen ditemukan dalam pengakuan akan Tritunggal Mahakudus. Kita telah menjadi murid Yesus, anak-anak dan teman-teman Allah dengan cara dibaptis dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Perbedaan tiga pribadi dalam kesatuan ilahi (CCC 254) menandai perbedaan mendasar dalam kepercayaan kepada Tuhan dan citra manusia, dari pada agama-agama lain. Agama-agama tidak sependapat atas kepercayaan kepada Yesus Kristus seperti ini. Dia adalah sungguh Allah dan sungguh Manusia, yang dikandung oleh Roh Kudus dan lahir dari Perawan Maria. Sabda yang menjadi manusia, Putera Allah, adalah satu-satunya Juruselamat dunia (CCC 679) dan satu-satunya Pengantara antara Allah dan manusia (CCC 846). Oleh karena itu, surat Yohanes yang pertama merujuk pada orang yang menyangkal keilahian-Nya sebagai seorang antikristus (1 Yohanes 2:22), karena Yesus Kristus, Anak Allah, berasal dari keabadian bersama dengan Allah, Bapa-Nya (CCC 663). Kita harus melawan kekambuhan kepada bidaah kuno dengan tekad yang jelas, yang melihat dalam diri Yesus Kristus hanya sebagai sosok orang baik, saudara dan teman, nabi dan moralis. Dia adalah Sabda pertama dan terutama yang ada bersama Allah dan adalah Allah, Putera Bapa, Yang mengenakan sifat manusiawi kita untuk menebus kita dan Yang akan datang untuk menghakimi yang hidup dan yang mati. Hanya kepada Dialah, kita menyembah dalam persatuan dengan Bapa dan Roh Kudus, sebagai Satu-Satunya dan Allah Yang Benar (CCC 691).

2. Gereja

Yesus Kristus mendirikan Gereja sebagai tanda yang nyata dan sarana keselamatan yang diwujudkan dalam Gereja Katolik (816). Dia memberikan Gereja-Nya, yang "yang mengalir dari lambung Kristus yang terluka dan mati di kayu salib" (766), sebuah konstitusi sakramental yang akan tetap sampai Kerajaan sepenuhnya tercapai (CCC 765). Kristus, Kepala, dan umat beriman sebagai anggota tubuh, adalah satu pribadi mistik (CCC 795), itulah sebabnya Gereja adalah kudus, karena satu-satunya Pengantara telah merancang dan mempertahankan strukturnya yang kelihatan (CCC 771). Melalui itu karya penebusan Kristus hadir dalam ruang dan waktu melalui perayaan Sakramen-Sakramen Kudus, khususnya dalam Kurban Ekaristi, Misa Kudus (CCC 1330). Gereja menyampaikan, dengan kewenangan Kristus, wahyu ilahi, yang meluas ke semua elemen doktrin, "termasuk ajaran moral, yang tanpanya kebenaran iman yang menyelamatkan tidak dapat dilestarikan, dijelaskan, dan dilaksanakan." (CCC 2035).

3. Tatanan Sakramental

Gereja adalah sakramen universal keselamatan di dalam Yesus Kristus (CCC 776). Ia tidak memancarkan dirinya sendiri, tetapi terang Kristus yang bersinar pada wajahnya. Tetapi ini terjadi hanya ketika kebenaran yang diungkapkan dalam Yesus Kristus menjadi titik rujukan, bukannya pandangan mayoritas atau semangat zaman; karena Kristus sendiri telah mempercayakan kepenuhan kasih karunia dan kebenaran kepada Gereja Katolik (CCC 819), dan Dia Sendiri hadir di dalam akramen-sakramen Gereja.

Gereja bukanlah sebuah asosiasi buatan manusia yang struktur anggotanya memilih untuk menjadi ada atas kehendak mereka. Itu berasal dari sesuatu ilahi. "Kristus sendiri adalah pencetus pelayanan di dalam Gereja. Dia memberinya wewenang dan misi, orientasi dan tujuannya (CCC 874). Peringatan rasul Paulus masih berlaku hari ini, bahwa “..sekalipun kami atau seorang malaikat dari sorga yang memberitakan kepada kamu suatu injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia.” (Gal 1: 8). Penyampaian iman terikat erat dengan kredibilitas manusiawi dari para utusannya, yang dalam beberapa kasus telah meninggalkan orang-orang yang telah dipercayakan kepada mereka, mengganggu mereka dan sangat merusak iman mereka. Di sinilah Sabda Tuhan dalam Kitab Suci telah menggambarkan mereka sebagai orang yang tidak mendengarkan kebenaran dan yang mengikuti keinginan mereka sendiri, yang memuaskan keinginan telinga mereka karena mereka tidak dapat tahan terhadap ajaran yang benar (lih. 2 Tim 4: 3-4) .

Tugas Magisterium Gereja adalah untuk "melindungi umat Allah dari penyimpangan dan pembelotan" untuk "menjamin mereka menyatakan iman yang benar tanpa kesalahan" (CCC 890). Hal ini khususnya benar berkaitan dengan ketujuh sakramen. Ekaristi Kudus adalah "sumber dan puncak kehidupan Kristiani " (CCC 1324). Kurban Ekaristi, di mana Kristus melibatkan kita ke dalam Kurban Salib-Nya, ditujukan pada persatuan yang paling intim dengan-Nya (CCC 1382). Karena itu, Kitab Suci memperingatkan kita sehubungan dengan penerimaan Komuni Kudus: "…barang siapa dengan cara yang tidak layak makan roti atau minum cawan Tuhan, ia berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan." (1 Kor 11:27 ). “Siapa yang sadar akan sebuah dosa besar, harus menerima Sakrainen Pengakuan sebelum ia menerima komuni.” (CCC 1385). Dari logika internal sakramen, dapat dipahami bahwa orang yang bercerai dan menikah kembali secara sipil, dimana pernikahan sakramentalnya masih berlaku di hadapan Allah, serta orang-orang Kristen yang tidak dalam persekutuan penuh dengan Iman Katolik dan Gereja, sama seperti semua orang yang tidak siap untuk menerima Ekaristi Kudus secara layak (lht. CCC 1457), karena hal itu tidak akan membawa mereka kepada keselamatan. Untuk menunjukkan bahwa hal ini sesuai dengan karya kemurahan hati spiritual. Pengakuan dosa di dalam Sakramen Pengakuan Suci setidaknya setahun sekali adalah salah satu perintah Gereja (CCC 2042). Ketika orang-orang yang percaya tidak lagi mengakui dosa-dosa mereka dan tidak lagi menerima pengampunan atas dosa-dosa mereka, maka keselamatan menjadi tidak mungkin bagi mereka. Bagaimanapun juga Yesus Kristus menjadi Manusia untuk menebus kita dari dosa-dosa kita. Kuasa pengampunan yang diberikan Tuhan Yang Bangkit kepada para Rasul dan penerusnya melalui pelayanan para uskup dan imam, juga berlaku untuk dosa berat dan dosa ringan yang kita lakukan setelah Pembaptisan. Praktek pengakuan dosa yang populer saat ini memperjelas bahwa hati nurani umat beriman tidaklah dibentuk secara memadai. Kemurahan hati Allah diberikan kepada kita, agar kita dapat memenuhi Perintah-perintah-Nya untuk menjadi satu dengan Kehendak Kudus-Nya, dan tidak bertujuan untuk menghindari panggilan kepada pertobatan. (CCC 1458).

"Imam melanjutkan karya penebusan di dunia " (CCC 1589). Penahbisan imam "memberinya sebuah kuasa kudus" (CCC 1592), yang tidak tergantikan, karena melaluinya Yesus secara sakramental hadir dalam tindakan penyelamatan-Nya. Oleh karena itu, para imam secara sukarela memilih untuk hidup selibat sebagai "tanda kehidupan baru" (CCC 1579). Ini adalah soal penyerahan diri demi pelayanan kepada Kristus dan kerajaan-Nya yang akan datang. Dengan sebuah pandangan untuk menerima penahbisan dalam tiga tahap pelayanan ini, Gereja "terikat oleh pilihan yang dibuat oleh Tuhan sendiri. Itulah sebabnya mengapa tidak mungkin untuk menahbiskan wanita" (CCC 1577). Jika menyimpulkan bahwa ketidakmungkinan ini adalah suatu bentuk diskriminasi terhadap perempuan, hal itu hanya menunjukkan kurangnya pemahaman terhadap sakramen ini, yang bukan berbicara soal kekuatan duniawi, tetapi representasi Kristus, sebagai Mempelai Pria Gereja.

4. Hukum Moral

Iman dan kehidupan tidak dapat dipisahkan, karena Iman yang terpisah dari perbuatan adalah mati (CCC 1815). Hukum moral adalah merupakan karya kebijaksanaan ilahi dan menuntun manusia kepada berkat yang dijanjikan (CCC 1950). Akibatnya, "pengetahuan akan hukum ilahi dan hukum kodrat diperlukan" untuk bisa berbuat baik dan mencapai tujuan ini (CCC 1955). Menerima kebenaran ini sangat penting bagi semua orang yang berkehendak baik. Sebab siapa yang mati dalam keadaan dosa berat tanpa pertobatan akan dipisahkan dari Allah selamanya (CCC 1033). Hal ini mengarah pada konsekuensi praktis dalam kehidupan orang Kristen, yang sering kali diabaikan dewasa ini (lih. 2270-2283; 2350-2381). Hukum moral bukanlah beban, tetapi adalah bagian dari kebenaran yang membebaskan (lih. Yoh 8:32) yang melaluinya orang Kristen berjalan di jalan keselamatan dan yang tidak bisa dianggap relatif.

5. Kehidupan Kekal

Banyak orang bertanya-tanya saat ini apa tujuan yang masih dimiliki oleh Gereja dalam keberadaannya, ketika bahkan para uskup pun lebih suka menjadi politisi daripada mewartakan Injil sebagai guru-guru Iman. Tetapi peran Gereja tidak boleh dilemahkan oleh hal-hal sepele. Untuk itu peranan yang tepat haruslah dituju. Setiap manusia memiliki jiwa yang kekal, yang dalam kematian ia dipisahkan dari tubuh, dengan harapan untuk menerima kebangkitan orang mati (CCC 366). Kematian membuat keputusan manusia untuk atau melawan Tuhan menjadi pasti. Setiap orang harus menghadapi penghakiman khusus segera setelah kematian (CCC 1021). Pada tahap ini, pemurnian adalah diperlukan, atau manusia itu langsung menuju kebahagiaan surgawi dan diizinkan untuk melihat Allah secara langsung. Ada juga kemungkinan mengerikan dimana seseorang akan tetap menentang Tuhan sampai akhir, dan dengan pasti dia menolak Kasih-Nya, dan dengan begitu dia "mengutuk dirinya sendiri dengan segera dan selamanya" (CCC 1022). "Tuhan menciptakan kita tanpa bantuan kita, tetapi Dia tidak ingin menyelamatkan kita tanpa keikutsertaan kita" (CCC 1847). Keabadian hukuman dalam neraka adalah kenyataan yang mengerikan, yang - menurut kesaksian Kitab Suci – akan menarik semua orang yang "mati dalam keadaan dosa berat" (CCC 1035). Orang Kristen melewati gerbang yang sempit, karena "lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya." (Mat. 7:13).

Bersikap diam tentang hal ini dan tentang kebenaran-kebenaran lainnya dari Iman, dan tidak mau mengajar orang-orang tentang hal ini, adalah penipuan terbesar seperti yang telah diperingatkan oleh Katekismus. Hal itu melambangkan ujian terakhir atas Gereja dan membawa manusia kepada sebuah khayalan religius, "yang menjadi harga dari kemurtadan mereka" (CCC 675); itu adalah penipuan Antikristus. "Dia akan menyesatkan orang-orang yang harus binasa karena mereka tidak menerima dan mengasihi kebenaran yang dapat menyelamatkan mereka." (2 Tes. 2:10). 


Ajakan

Sebagai pekerja di kebun anggur Tuhan, kita semua memiliki tanggung jawab untuk mengingat kembali kebenaran mendasar ini dengan berpegang teguh pada apa yang kita sendiri telah terima. Kami ingin memberikan keberanian untuk menempuh jalan yang dilewati oleh Yesus Kristus dengan tekad yang besar, untuk memperoleh hidup yang kekal dengan mengikuti perintah-perintah-Nya (CCC 2075).

Marilah kita memohon kepada Tuhan agar sudi memberi tahu kita betapa besar karunia Iman Katolik, yang melaluinya akan bisa membuka pintu menuju kehidupan kekal. "Sebab barangsiapa malu karena Aku dan karena perkataan-Ku di tengah-tengah angkatan yang tidak setia dan berdosa ini, Anak Manusiapun akan malu karena orang itu apabila Ia datang kelak dalam kemuliaan Bapa-Nya, diiringi malaikat-malaikat kudus." (Mark.8:38). Karena itu, kami berkomitmen untuk memperkuat Iman dengan mengakui kebenaran yang adalah Yesus Kristus sendiri.

Kami juga, dan terutama kami para uskup dan imam, telah disapa ketika Paulus, Rasul Yesus Kristus, memberikan nasihat ini kepada rekan dan penggantinya, Timotius: "Di hadapan Allah dan Kristus Yesus yang akan menghakimi orang yang hidup dan yang mati, aku berpesan dengan sungguh-sungguh kepadamu demi penyataan-Nya dan demi Kerajaan-Nya:
Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran. Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya. Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng. Tetapi kuasailah dirimu dalam segala hal, sabarlah menderita, lakukanlah pekerjaan pemberita Injil dan tunaikanlah tugas pelayananmu!" (2 Tim 4: 1-5).

Semoga Maria, Bunda Allah, memohon rahmat bagi kita, agar tetap setia dan tanpa ragu untuk mengakui kebenaran tentang Yesus Kristus.

Bersatu dalam iman dan doa

Rome, 10 February 2019

Gerhard Cardinal Müller
Prefect of the Congregation for the Doctrine of the Faith 2012-2017

No comments:

Post a Comment