Wednesday, February 27, 2019

USKUP AGUNG VIGANO MENYERUKAN KEPADA...


uskup agung Vigano menyerukan kepada para uskup peserta pertemuan puncak, agar bertobat

NEWS: WORLD NEWS



by Stephen Wynne  •  ChurchMilitant.com  •  February 21, 2019    

 

Viganò Memperingatkan 'kita harus memiliki keberanian dan kerendahan hati untuk mengikuti Yesus'


ROMA (ChurchMilitant.com)  - Seminggu setelah memperingatkan umat beriman Katolik dan  "nampaknya tidak ada tanda-tanda dari kesediaan yang tulus " di antara para uskup untuk "memperhatikan dan menangani penyebab yang sebenarnya" dari krisis pelecehan seks para klerus, maka uskup agung Carlo Maria Viganò berbicara lagi - kali ini langsung kepada para wali gereja (uskup).

Saat pertemuan puncak mengenai kasus pelecehan seks Vatikan sedang berlangsung pada hari Kamis, uskup agung Viganò mengeluarkan surat terbuka  kepada rekan-rekan uskupnya yang sedang berkumpul di Roma.

Dengan mengutip ucapan Paus Benediktus XVI, Viganò mengingatkan mereka bahwa mereka harus memilih antara menolak Yesus atau menerima Dia dan misi-Nya, dan mendesak mereka untuk menjawab panggilan Kristus untuk bertobat - untuk memanggul salib mereka dan mengikuti Yesus, yang merupakan "Jalan, Kebenaran dan Kehidupan."

Di bawah ini adalah surat uskup agung Viganò kepada para presiden konferensi para uskup yang sedang berkumpul di Roma:

Kita tidak dapat menolak untuk melihat sebagai sebuah tanda Providencia bahwa Anda, Paus Francis, dan saudara-saudara Uskup yang mewakili seluruh Gereja, telah berkumpul pada hari dimana kita merayakan kenangan akan Santo Petrus Damian. Rahib agung dari abad ke-11 ini telah mengerahkan segenap kekuatan dan semangat apostoliknya untuk memperbarui Gereja pada masanya, yang begitu rusak parah oleh dosa-dosa sodomi dan penjualan suat pengakuan dosa. Dia melakukan hal itu dengan bantuan para uskup yang setia dan umat awam, terutama dengan dukungan Abbas Hildebrand dari Biara Santo Paulus ekstra muros, yang kemudian menjadi Paus St. Gregorius Agung.

Maka ijinkanlah saya untuk mengusulkan, sebagai bahan perenungan, perkataan dari Paus Emeritus Benediktus XVI yang terkasih yang ditujukan kepada umat Allah dalam Audiensi Umum hari Rabu, 17 Mei 2006, dalam mengomentari bagian yang paling dalam dari Injil Markus 8: 27–33 yang kita bacakan pada Misa hari ini.

Petrus akan menjalani momen penting yang baru dari perjalanan rohaninya di dekat Kaisarea Filipi ketika Yesus mengajukan pertanyaan yang tepat kepada para murid: "Menurut orang-orang, siapakah Aku ini?" (Markus 8:27). Tetapi bagi Yesus, kabar angin saja tidaklah cukup. Dia menginginkan dari mereka yang telah setuju untuk terlibat secara pribadi dengan-Nya, pernyataan pribadi tentang sikap mereka. Konsekuensinya, Dia bersikeras bertanya lagi: "Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?" (Markus 8:29).

Adalah Petrus yang menjawab atas nama teman-teman yang lain: "Engkau adalah Kristus" (ibid.), yaitu, Mesias. Jawaban Petrus, yang tidak diungkapkan kepadanya dengan "daging dan darah" tetapi diberikan kepadanya oleh Bapa yang di Surga (lih. Mat 16:17), berisi, seperti dalam sebuah benih, pengakuan masa depan tentang iman Gereja. Namun, Petrus belum memahami isi mendalam dari misi Mesianik Yesus, makna baru dari kata ini: Mesias.

Dia menunjukkan hal ini beberapa saat kemudian, dan menyimpulkan bahwa Mesias yang dia ikuti dalam mimpi-mimpinya sangatlah berbeda dari rencana yang sebenarnya dari Tuhan. Dia terkejut dengan perkataan Tuhan tentang Sengsara-Nya dan dia memprotes, hingga memicu reaksi yang keras dari Yesus (lih. Mrk 8: 32-33).

Petrus menginginkan Mesias sebagai seorang "manusia ilahi" yang akan memenuhi harapan orang banyak dengan menerapkan kekuatannya kepada mereka semua: kita ingin Tuhan menerapkan kekuatan-Nya dan mengubah dunia ini secara instan. Tetapi Yesus menampilkan diri-Nya sebagai "Allah manusia," Hamba Allah, yang membalikkan harapan orang banyak dengan menempuh jalan kerendahan hati dan penderitaan.

Ini adalah alternatif yang hebat yang harus kita pelajari berulang-ulang: dengan memberi prioritas pada harapan kita sendiri, menolak Yesus, atau menerima Yesus dalam kebenaran dari misi-Nya dan mengesampingkan semua harapan yang terlalu manusiawi.

Petrus, yang bersifat impulsif, tidak ragu untuk mengesampingkan Yesus dan menegur Dia. Dan jawaban Yesus telah menghancurkan semua harapannya yang palsu, memanggilnya untuk bertobat dan untuk mengikuti-Nya: "Enyahlah Iblis, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia." (Mrk 8:33). Bukannya kamu yang menunjukkan jalan bagi-Ku, karena Aku akan menempuh jalan-Ku sendiri dan kamu harus mengikuti Aku.

Maka Petrus belajar apa arti dari ‘mengikuti Yesus yang sesungguhnya.’ Itu adalah panggilan keduanya, mirip dengan panggilan Abraham dalam Kejadian 22, setelah itu dalam Kejadian 12: " Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia akan menyelamatkannya."(Markus 8: 34-35). Ini adalah aturan yang menuntut hal berikut ini dari orang yang mau mengikuti Kristus: seseorang harus, jika perlu, menyerahkan seluruh dunia untuk menyelamatkan nilai-nilai sejati, untuk menyelamatkan jiwa, untuk menyelamatkan kehadiran Allah di dunia (lih. Mrk 8 : 36–37). Dan meskipun dengan susah payah, Petrus menerima ajakan itu dan melanjutkan hidupnya mengikuti jejak sang Guru.

Dan bagi saya tampaknya pertobatan Santo Petrus ini pada kesempatan yang berbeda, dan seluruh tokohnya, adalah penghiburan besar dan pelajaran besar bagi kita semua. Kita juga memiliki keinginan demi Tuhan, kita juga ingin bermurah hati, tetapi kita juga berharap Tuhan dalam keadaan kuat di dunia dan mengubah dunia dalam sesaat, sesuai dengan ide dan kebutuhan yang kita rasakan.

Tetapi Tuhan memilih cara yang berbeda. Tuhan memilih jalan transformasi di dalam hati dengan menanggung penderitaan dan kerendahan hati. Dan kita, seperti Petrus, harus bertobat, berulang kali. Kita harus mengikuti Yesus dan tidak berjalan mendahului Dia : Dialah yang menunjukkan jalan kepada kita.

Begitulah yang dikatakan Petrus kepada kita: Anda (para uskup peserta pertemuan puncak), Anda pikir Anda punya resep dan terserah pada Anda untuk mengubah agama Kristen, tetapi Tuhanlah yang tahu jalannya. Tuhanlah yang berkata kepadaku, yang berkata kepada Anda: Ikutilah Aku ! Dan kita harus memiliki keberanian dan kerendahan hati untuk mengikuti Yesus, karena Dialah Jalan, Kebenaran dan Kehidupan."

Maria, Mater Ecclesiae, Ora pro nobis,
Maria, Regina Apostolorum, Ora pro nobis.
Maria, Mater Gratiae, Mater Misericordiae, Tu nos ab hoste protege et mortis hora suscipe.
+ Carlo Maria Viganò
Tit. Archbishop of Ulpiana
Apostolic Nuncio
February 21, 2019
Memorial of St. Peter Damian

No comments:

Post a Comment