Sunday, February 17, 2019

VIGANÒ: TIDAK ADA KESEDIAAN YANG TULUS DI ANTARA PARA USKUP...


VIGANÒ: TIDAK ada kesediaan yang tulus di antara PARA uskup untuk mengakhiri krisis pencabulan


NEWS: WORLD NEWS


Pengungkap kebenaran Vatikan (Viganò) menyuarakan keraguannya atas komitmen para -uskup dalam melakukan reformasi

by Stephen Wynne  •  ChurchMilitant.com  •  February 15, 2019    


ROMA (ChurchMilitant.com) - Uskup Agung Carlo Maria Viganò berbicara tentang pertemuan puncak pelecehan seks Vatikan yang akan datang.

Dalam sebuah essay bagi sebuah acara simposium National Catholic Register minggu ini, uskup agung Viganò menyoroti akar dari krisis Gereja serta kelemahan yang melekat dari pertemuan para uskup 21-24 Februari 2019 nanti.

Viganò memulai renungannya dengan kritik atas pembentukan (pendidikan) para imam.

"Jelas bagi semua orang bahwa penyebab utama dari krisis pelecehan seksual yang amat mengerikan saat ini, yang dilakukan oleh para klerus yang telah ditahbiskan, termasuk uskup-uskup, adalah kurangnya pendidikan spiritual yang tepat dari para calon imam," katanya. "Kekurangan itu, pada gilirannya, sebagian besar diwujudkan oleh kebusukan ajaran dan moral dari banyak formator (guru-guru) di seminari, kebusukan yang terus meningkat secara eksponensial yang mulai pada 1960-an."
Melihat kembali pada pengalamannya sendiri, Viganò ingat bahwa pembusukan yang merayap ini terlihat jelas bahkan sebelum akhir Konsili Vatikan II:

Saya memasuki seminari kepausan di Roma dan memulai studi saya di Universitas Gregorian ketika saya berusia 25 tahun. Itu tahun 1965, hanya beberapa bulan sebelum akhir Vatikan II. Saya tidak bisa tidak memperhatikan, tidak hanya di perguruan tinggi saya sendiri tetapi juga di banyak tempat lain di Roma, bahwa beberapa seminaris bersikap sangat tidak dewasa dan bahwa rumah-rumah pembinaan ini ditandai oleh kurangnya disiplin yang menyeluruh dan sangat serius. ...

Para seminaris kadang-kadang menghabiskan malam di luar seminari saya, karena pengawasannya sangat tidak memadai. Pembimbing rohani kami mendukung penahbisan im ad tempus - gagasan bahwa penahbisan imamat dapat menjadi status yang bersifat sementara belaka.

Di Gregorian, salah satu profesor teologi moral mendukung etika situasi. Dan beberapa teman sekelas menceritakan kepada saya bahwa direktur spiritual mereka tidak keberatan dengan kehadiran mereka untuk ditahbiskan menjadi imam meskipun mereka membawa dosa-dosa besar yang belum terselesaikan dan terus menerus melakukan perbuatan yang melanggar kesucian.

Viganò menegaskan bahwa "mereka yang menderita ‘ketertarikan kepada sesama jenis’ seharusnya tidak pernah diterima di seminari."

"Terlebih lagi, sebelum seorang seminaris diterima untuk ditahbiskan, dia tidak hanya harus berjuang demi kesucian, tetapi juga harus benar-benar mencapainya," lanjut uskup agung itu. "Dia harus sudah hidup selibat suci dengan damai dan untuk jangka waktu yang lama, karena jika ini kurang, seminaris itu dan para gurunya tidak dapat memiliki keyakinan yang diperlukan bahwa dia dipanggil untuk hidup selibat."


Mengapa Paus Francis tetap dan bahkan memilih sebagai kolaborator dekatnya, orang-orang yang terkenal sebagai homoseksual? Tweet

Viganò menyalahkan para uskup karena membiarkan kerumunan pria cacat mental dan spiritual ini untuk bergabung dengan barisan imamat dan menyerukan setiap keterlibatan uskup dalam pelecehan seks atau tindakan menutup-nutupi untuk diberhentikan dari posisi dan jabatannya.

"Para uskup memiliki tanggung jawab utama untuk pembentukan kandidat mereka menjadi imam," Viganò mengingatkan para pembaca. "Setiap uskup yang telah menutup-nutupi tindakan pelecehan atau bujuk rayu terhadap anak-anak di bawah umur, orang dewasa yang rentan atau orang dewasa di bawah asuhan pastoralnya, termasuk para seminaris, tidak cocok untuk memegang tanggung jawab atau untuk pelayanan episkopal dan dia harus dipindahkan dari jabatannya."

Melihat ke depan, kepada pertemuan puncak tentang pelecehan seks minggu depan di Roma, Viganò menyatakan bahwa hanya sedikit sekali harapan bahwa pertemuan para uskup itu akan bisa menyelesaikan skandal imam-imam predator yang sedang berlangsung saat ini, dimana dia mencatat bahwa penyelenggara konferensi itu telah mengabaikan akar dari krisis yang ada.

"Saya berdoa dengan sungguh hati bagi keberhasilan pertemuan Februari itu," kata uskup agung itu, seraya menambahkan bahwa dirinya "akan sangat bersukacita jika pertemuan itu berhasil."

Namun, dia mencatat, "tidak ada tanda-tanda kesediaan yang tulus (dari para uskup) untuk mengatasi penyebab yang sebenarnya" dari krisis ini.

"Mengapa pertemuan itu hanya berfokus pada penyalahgunaan anak-anak di bawah umur?" Viganò bertanya.

"Kejahatan-kejahatan ini memang yang paling mengerikan, tetapi krisis di Amerika Serikat dan Chili yang sebagian besar telah memicu pertemuan mendatang, berkaitan dengan pelanggaran yang dilakukan terhadap orang-orang dewasa muda, termasuk para seminaris, tidak hanya terhadap anak di bawah umur," katanya mengamati. "Hampir tidak ada yang dikatakan (dalam agenda pertemuan itu) tentang pelanggaran seksual terhadap orang dewasa, yang dengan sendirinya merupakan penyalahgunaan otoritas pastoral, terlepas apakah hubungan itu 'atas dasar sukarela atau tidak.' "

Selanjutnya dia menekankan:
Mengapa kata "homoseksualitas" tidak pernah muncul dalam dokumen resmi Tahta Suci baru-baru ini? Ini sama sekali tidak menunjukkan bahwa sebagian besar dari mereka yang memiliki kecenderungan homoseksual adalah pelaku kekerasan, tetapi faktanya adalah tetap bahwa sebagian besar pencabulan telah ditimpakan kepada anak laki-laki pasca-puber oleh para klerus homoseksual. Adalah sebuah kemunafikan jika mengutuk pelecehan itu saja dan pernyataan simpati dengan para korban, tanpa menghadapi dan menyelesaikan fakta ini dengan jujur. Revitalisasi rohani terhadap para rohaniwan diperlukan, tetapi pada akhirnya tidak akan efektif jika tidak mengatasi masalah ini secara keseluruhan. "Tempat mengapa Paus Francis tetap dan bahkan menunjuk sebagai kolaborator dekatnya, orang-orang yang terkenal homoseksual?" uskup agung Viganò melanjutkan. "Mengapa dia menolak untuk menjawab pertanyaan yang sah dan tulus tentang penunjukan ini? Dengan melakukan hal itu maka dia (paus) telah kehilangan kredibilitas atas keinginannya yang sebenarnya untuk mereformasi Kuria dan memerangi kebusukan."

Pada bulan Agustus, Viganò mengungkapkan bahwa hanya beberapa bulan setelah kepausannya, Francis mencabut hukuman dari Cdl. Theodore McCarrick saat itu. Theodore McCarrick adalah seorang pemangsa seksual serial terhadap para seminaris dan para putera altar. Dia juga melihat bahwa Paus mengangkat Cdl. Francesco Coccopalmerio dan uskup agung Vincenzo Paglia ke posisi kekuasaan, dimana kedua pria ini adalah "termasuk dalam arus homoseksual yang mendukung penumbangan doktrin Katolik tentang homoseksualitas."        

Dalam refleksinya saat simposium, Viganò mengulangi sebuah anjuran bulan Oktober kepada paus Francis.

"Dalam kesaksian ketiga saya, saya memohon kepada Bapa Suci untuk melaksanakan komitmen yang dibuatnya sendiri dalam mengemban jabatannya sebagai Penerus Petrus," kenangnya. "Saya menunjukkan bahwa dia melakukan sendiri misi untuk menguatkan saudara-saudaranya dan membimbing semua jiwa dalam mengikuti Kristus di sepanjang jalan salib."

"Saya mendesaknya saat itu, dan sekarang saya mendesaknya lagi, untuk mengatakan yang sebenarnya, untuk bertobat, dan menunjukkan kesediaannya untuk mengikuti mandat yang diberikan kepada Petrus, dan setelah bertobat, agar dia menguatkan saudara-saudaranya (lht. Luk.22:32)," katanya.

Demikian pula, Viganò meminta saudaranya, para uskup, untuk berkomitmen kembali pada kebenaran.

"Saya berdoa semoga para uskup yang berkumpul di Roma nanti akan mengingat Roh Kudus," katanya, "yang mereka terima dengan penumpangan tangan, dan melaksanakan tanggung jawab mereka untuk mewakili Gereja-gereja mereka dan secara tegas meminta, dan mendesak, sebuah jawaban bagi pertanyaan-pertanyaan di atas, selama pertemuan puncak itu nanti."

"Saya berdoa agar mereka tidak kembali ke negara mereka tanpa membawa jawaban yang tepat bagi pertanyaan-pertanyaan ini," tambahnya, "karena jika mereka gagal dalam hal ini berarti mereka meninggalkan kawanan mereka sendirian untuk diserahkan kepada serigala dan membiarkan seluruh Gereja menderita konsekuensi yang mengerikan."

Uskup agung Viganò menutup kalimatnya dengan menegaskan kembali kepercayaannya kepada Tuhan, dan akan janji-Nya bahwa gerbang neraka tidak akan menang melawan Iman: "Meskipun ada banyak masalah seperti yang telah saya jelaskan, saya terus memiliki harapan, karena Tuhan tidak akan pernah meninggalkan Gereja-Nya."

Khawatir akan keselamatannya, uskup agung Viganò hingga kini tetap tinggal dalam persembunyian.

No comments:

Post a Comment