Monday, October 12, 2020

Pandemi global lainnya: seksualisasi anak-anak kita...

JOHN-HENRY WESTEN 

From the desk of the editor. 

BLOGS 

Pandemi global lainnya: seksualisasi anak-anak kita, yang dibantu oleh para uskup 

https://www.lifesitenews.com/blogs/the-other-global-pandemic-the-sexualization-of-our-children-helped-by-bishops

 

John-Henry Westen dari LifeSite menjelaskan bagaimana para uskup bertanggung jawab atas pendidikan sex untuk menghilangkan sikap kepolosan anak-anak di sekolah-sekolah Katolik.

 

Fri Oct 9, 2020 - 5:01 pm EST

·        

         

John-Henry Westen at the 2020 Acies Ordinata event in Munich,

GermanyLifeSiteNews 

 

Catatan editor: Ceramah berikut ini diberikan sebagai bagian dari judul konferensi online “Seruan para ayah kepada para Uskup: Tolonglah kami untuk mempertahankan kemurnian anak-anak kami.” Acara virtual ini diselenggarakan oleh Voice of the Family dan tersedia melalui LifeSiteNews pada 9 Oktober 2020.

 

9 Oktober 2020 (LifeSiteNews) - Kita telah mencapai tahap akhir dari proses seksualisasi anak-anak kita. Agendanya tidak lagi tersembunyi dalam bayang-bayang dan terselubung. Itu dinyatakan secara terbuka, diterbitkan, bahkan dipuji-puji. Aturan hukumnya telah disahkan yang menunjukkan agenda itu untuk dilihat semua orang. Pembusukan atas anak-anak kita oleh gerombolan setan telah dicapai, meski bukan upaya terbaik dari para gembala sejati Gereja, tetapi, saya benci mengatakannya disini, hal itu terjadi melalui kolusi dengan sebagian besar dari mereka yang menyebut diri mereka sebagai penerus para rasul. 

Kesederhanaan dan kepolosan, hak asuh atas anak-anak, dan kesederhanaan, hampir sepenuhnya diabaikan oleh hierarki Gereja Katolik Amerika Serikat. Mereka telah memberi perhatian pada "otoritas" dunia - para psikolog, psikiater, dan pakar homosex, yang membawa mereka kepada krisis pelecehan seksual para klerus serta upaya menutup-nutupi kasus itu sejak awal.

Hirarki Gereja Katolik telah memasuki ranah politik dan memainkan permainan politik. Kaum anarkis telah mempertahankan permintaan menetap mereka bagi kehancuran total keluarga;

antek-antek mereka dalam dunia politik telah bergerak pelan-pelan menuju agenda buruk seksualisasi anak-anak kita; dan sebagian besar uskup telah menyerah, sedikit demi sedikit, dan berpikir bahwa mereka melakukan yang terbaik untuk mempertahankan pendirian mereka dengan sedikit kompromi di sana-sini. Di sini saya bahkan tidak berbicara tentang uskup kiri radikal, seperti Kardinal Blase Cupich dari  Chicago, yang telah mendorong indoktrinasi LGBT kepada umat Katolik. 

Bahkan para Kardinal konservatif, seperti Kardinal Thomas Collins dari Toronto, setelah bernegosiasi dengan politisi yang menuntut kepatuhan pada ideologi LGBT, dan mengancam penghapusan dana publik dari sekolah-sekolah Katolik, juga menyerah untuk mengizinkan dan bahkan mengundang semua sekolah menengah Katolik untuk memiliki klub-klub gay yang saling berkaitan langsung, dengan alasan non-diskriminasi. 

Politik digambarkan sebagai seni kompromi. Tapi disini tidak ada kompromi dengan kebenaran. Para penerus para rasul, para klerus, diberi tugas yang tidak disukai dan tidak populer untuk menuntut kepatuhan pada kepenuhan kebenaran dalam masyarakat, di mana hal itu akan disambut dengan ejekan dan tuduhan melakukan gerakan extrim. 

Tetapi keinginan untuk menyenangkan dunia, untuk menyesuaikan diri dengan ide-ide modern, untuk menjadi "terbuka" terhadap dunia modern, begitu memikat, sehingga tindakan kompromi dengan kebenaran diizinkan. 

Instruksi tentang pakaian sederhana untuk wanita yang ditetapkan oleh Paus Pius XII tidak pernah lagi disebutkan atau diwartakan. Nasihat untuk mempraktikkan hak asuh terhadap anak-anak, tidak pernah diajarkan. Usia tidak bersalah anak-anak dilanggar di sekolah-sekolah Katolik atas perintah para uskup sendiri - bahkan meski dengan keberatan para orang tua. Jadi kami, para ayah di sini, akan berkata kepada para uskup: "CUKUP!" 

Tindakan kompromi Anda telah sangat merugikan anak-anak kami, dan inilah saatnya untuk bertobat. Anda telah melihat statistik yang ada – dan dunia tidak pernah seburuk ini. Ada lebih banyak orang yang menonton pornografi secara teratur hari ini daripada orang yang hidup pada tahun 1917, ketika Bunda Maria memperingatkan bahwa lebih banyak orang yang masuk neraka karena dosa daging daripada karena alasan lain. Sebuah studi tahun 2008 menemukan bahwa sembilan puluh tiga persen anak laki-laki berusia 17 tahun ke bawah dan 62% anak perempuan pada usia yang sama, terpapar pornografi online selama masa remaja, dan itu tahun 2008, ketika internet relatif tidak berbahaya dibandingkan dengan yang terjadi di dunia belasan tahun terakhir ini. 

Para uskup dan guru sekolah Katolik di keuskupan mereka memutuskan untuk "mendidik" anak-anak usia taman kanak-kanak tentang bagian-bagian tubuh manusia dengan cara yang "terbuka dan polos." Secara alami, anak-anak kecil ini, ketika dihadapkan pada apa yang disebut ‘pendidikan’ ini, akan merasa penasaran dan mereka mengajukan pertanyaan lebih lanjut, membangkitkan rasa ingin tahu yang tidak perlu ada selama bertahun-tahun. 

Kebijaksanaan kuno Gereja pada waktu dulu yang didukung secara psikologis, mengakui ketidakbersalahan anak-anak, yang dapat dibuktikan oleh semua orang tua yang telah membesarkan banyak anak mereka jika anak-anak kecil yang berharga itu tidak diracuni oleh pornografi atau pendidikan sex. 

Para orang tua tahu kapan anak mereka siap untuk menerima pendidikan di bidang sex. Kesiapan untuk menerima informasi semacam itu berbeda-beda pada setiap anak -- seperti yang diketahui orang tua! Pendidikan sex yang diwajibkan dengan ‘satu ukuran untuk semua’ di kelas telah menjadi bencana dan, pada kenyataannya, lebih tepat disebut sebagai pelecehan sexual. 

Skandal pendidikan sex modern telah dirinci oleh banyak orang tua yang ngeri mengetahui apa yang dipelajari anak-anak mereka di sekolah. 

Awal tahun ini, Family Research Council yang berbasis di AS, merilis buklet 56 halaman tentang “Pendidikan Sex di Sekolah Umum,” yang menunjukkan bagaimana “program pendidikan sex mendorong batasan pada apa yang pantas, baik dalam hal materi yang disajikan kepada siswa maupun usia saat materi itu disajikan." 

Saya minta maaf karena harus menyebutkan secara terbuka apa yang diberikan kepada anak-anak kita sendiri di sekolah-sekolah yang didanai oleh para pembayar pajak di Amerika. Investigasi FRC menemukan:

 

  • Anak-anak pra-puber di Austin, Texas, didorong untuk "mempertimbangkan 'hubungan sex  vagina', 'hubungan oral', dan 'hubungan sex anal.'”
  • Homosexualitas dan ideologi transgender didorong dalam program oleh Planned Parenthood bagi siswa sekolah menengah.
  • “Banyak sekolah umum mulai mengajarkan proposisi radikal dan anti-sains, bahwa sex biologis tidak ada artinya, bahwa beberapa anak dilahirkan dalam tubuh yang salah, dan beberapa anak perempuan juga memiliki penis.”
  • “Sekolah-sekolah di Indiana benar-benar mengirim para remaja untuk berbelanja kondom, dengan membawa lembar kerja untuk diisi dan membandingkan berbagai merek, harga, pelumas, dan apakah mereka nyaman berbelanja di toko atau tidak.”
  • Seperti yang dilaporkan LifeSite, “hak” untuk melakukan aborsi adalah bagian standar dari pendidikan sex di sekolah-sekolah umum. Di beberapa institusi, siswa diberi tahu cara melakukan aborsi dan merahasiakannya dari orang tua. Buklet tersebut melaporkan bahwa "sekolah-sekolah di Indiana 'mengirim siswanya untuk mengunjungi klinik-klinik aborsi dengan membawa lembar kerja untuk diisi tentang layanan yang diberikan, dan tempat-tempat untuk mengetahui rute bus yang bisa mereka pilih untuk sampai ke klinik-klinik aborsi itu.'” 

 

Sekolah-sekolah telah menipu orang tua dengan menyalahgunakan bahasa. 

Buklet tersebut memperingatkan bahwa istilah "persetujuan" (untuk melakukan aborsi) tidak lagi digunakan secara eksklusif "untuk melengkapi anak-anak agar tidak melakukan, atau menjadi korban pelecehan seksual." Sebaliknya, gerakan ‘persetujuan' ini tampaknya bukan tentang menghindari penyerangan sexual, tetapi lebih banyak tentang mempromosikan sexs dan hak-hak sexual." FRC mengutip Institut Guttmacher, badan penelitian pro-aborsi Planned Parenthood, yang mengungkapkan, "Mengajar tentang persetujuan (aborsi) adalah kunci untuk melawan pesan-pesan yang hanya menganjurkan berpantang." Pantang, pada gilirannya, tidak ada hubungannya dengan menunggu pernikahan, tetapi berarti "pantang sampai memiliki pacar tetap berikutnya." 

Para orang tua yang berusaha menghindari masalah-masalah ini dengan menarik anak-anak mereka dari kelas pendidikan sex -- di mana penghapusan semacam itu tidak dilarang oleh hukum - juga harus menyadari bahwa mereka tetap tidak bisa menghindarkan anak-anak mereka dari indoktrinasi seperti yang sekarang berlaku di semua kursus sekolah. Bahkan kelas mata pelajaran yang tampaknya tidak berbahaya, seperti sejarah misalnya, masih tidak aman. “Semua sekolah umum di California, New Jersey, dan Illinois sekarang diwajibkan untuk mengajar sejarah LGBTQ kepada anak-anak. Di Illinois, sekolah bahkan tidak diperbolehkan membeli buku pelajaran sejarah yang tidak menyertakan sudut pandang LGBTQ,” demikian lapor Family Research Council. Di kelas olahraga, remaja laki-laki diizinkan berada di ruang ganti murid perempuan. 

Jadi, dalam hal duniawi, segalanya menjadi lebih buruk. Dengan seksualisasi terbuka dan ekstrim terhadap anak-anak yang terjadi di depan mata kita, beberapa filsuf dan politisi sekuler telah berbicara, mendesak orang tua untuk bertindak. 

Tahun lalu, legislator Prancis, Xavier Breton, menyarankan agar pendidikan sex dihapus dari sekolah. Breton, seorang anggota partai konservatif arus utama, Les Républicains, berkata di Komisi Urusan Kebudayaan Majelis Nasional Prancis: “Orang tua adalah pendidik utama bagi anak-anak mereka. Prinsip ini dapat ditemukan dalam setiap penegasan hak nasional dan internasional. Penegasan kembali prinsip ini mengharuskan sekolah tidak melanggar hak orang tua. Mengenai pendidikan emosional dan seksual, yang menyentuh keyakinan orang yang paling intim, intervensi negara adalah tidak sah." 

Psikolog dan filsuf Kanada, Dr. Jordan Peterson, mendesak orang tua untuk "memutuskan apa yang penting" dan mengambil tindakan segera. “Orang-orang yang mendorong agenda semacam ini sebenarnya adalah minoritas kecil. Tetapi mereka sangat berisik, dan mereka terorganisir dengan sangat baik. Tetapi jika Anda tidak berdiri dan melakukan sesuatu tentang hal itu, terutama ketika hal itu mempengaruhi keluarga Anda sendiri, maka yang akan terjadi adalah hal itu akan terus menyebar." 

Konsekuensinya bagi anak-anak kita sangat parah. Pusat Pengendalian Penyakit A.S. melaporkan bahwa penyakit human papillomavirus, yang dapat menyebabkan kanker serviks, berada pada proporsi epidemi (wabah yang meluas) di kalangan anak muda. Menulis di LifeSite, aktivis keluarga, Linda Harvey, menunjukkan ada 1,7 juta kasus klamidia pada 2017, dan 45% dari kasus itu ditemukan pada anak muda kita. Gonore meningkat 67%, sifilis 76%. 

Sementara itu, hal-hal di Gereja tetap relatif serupa selama 60 tahun terakhir dengan pengecualian yang langka. Para uskup terus mengikuti nasihat dari apa yang disebut pakar pendidikan tentang pendidikan sex dan telah mengabaikan dan meremehkan jeritan orang tua yang benar-benar Katolik. Selain itu, mereka yang ditunjuk untuk menggembalakan umat beriman telah gagal untuk membedakan antara orang tua yang benar-benar Katolik, yang percaya pada semua ajaran Iman seputar masalah seksualitas, dan sebagai gantinya kadang-kadang memberikan kepatuhan yang lebih besar kepada orang tua tersebut - seringkali dengan prestise yang lebih tinggi di dunia - yang mengaku Katolik tetapi menghindari ajaran Iman tentang masalah moralitas sexual. 

Para uskup terus berpikir bahwa mereka paling tahu apa ajaran seksual yang harus diterima anak-anak kita di sekolah Katolik. Mereka kadang-kadang bahkan secara tidak bermoral melarang orang tua Katolik mengeluarkan anak-anak mereka dari kelas pendidikan sex di sekolah Katolik, seperti yang terjadi dengan Uskup David Choby di Nashville, Tennessee. Hal ini telah memaksa orang tua untuk berpindah ke sekolah sekuler, yang setidaknya, mengizinkan mereka memiliki hak memilih. Ini benar-benar memalukan. 

Lebih dari satu dekade yang lalu, beberapa uskup yang tersebar di seluruh dunia, yang membela orang tua Katolik melawan ekses menyedihkan di sekolah, sebenarnya telah diserang atau dijauhi oleh sesama uskup mereka, karena berani membela iman dan umat yang dipercayakan kepada perawatan mereka oleh Kristus. 

Tetapi yang benar-benar berubah adalah Vatikan. Pada suatu waktu, di masa lalu, orang tua Katolik setidaknya dapat berpaling ke Vatikan, kepada Paus Yohanes Paulus II atau Benediktus XVI, dan memperingatkan para uskup bahwa orang tua, dalam peran utama mereka sebagai pendidik anak-anak mereka, harus ditaati keinginan mereka berkenaan dengan pendidikan seksual anak mereka. Tetapi sekarang kita memiliki Vatikan sendiri yang mempromosikan versinya sendiri tentang pendidikan seksual kotor yang penuh dengan foto-foto tidak sopan yang pada waktu sebelumnya masih dianggap pornografi. Paus Francis sendiri berkata, "Kita harus menyediakan pendidikan sex di sekolah." 

Tetapi hal lain telah berubah dalam dekade terakhir. Orang tua Katolik sekarang sudah tahu adanya hubungan antara para klerus busuk dan korup dengan agenda pendidikan sex. Mantan kardinal Theodore McCarrick, yang merupakan salah satu penggerak terkemuka dalam Konferensi Para Uskup di AS mempermalukan Gereja Katolik karena dia memaksakan pendidikan sex yang menyimpang pada anak-anak Katolik, yang bertentangan dengan keinginan orang tua mereka.

Aktivis Katolik, Christopher Manion, menunjukkan bahwa McCarrick memerintahkan semua sekolah Katolik di keuskupan agung miliknya, untuk mengeluarkan anak-anak yang orang tuanya mengeluarkan mereka dari program sekolah yang mengajarkan pencegahan pelecehan seksual kepada anak-anak. 

Orang tua Katolik di Keuskupan Agung Washington mendapatkan kembali hak mereka untuk menjauhkan anak-anak mereka dari kelas pendidikan pelecehan seksual ini hanya setelah Kardinal McCarrick pensiun. Manion menunjukkan bahwa Konferensi Uskup Katolik AS mengeluarkan peraturan baru yang mengizinkan orang tua untuk mengeluarkan anak-anak mereka dari program pelatihan sex yang disponsori keuskupan dalam pencegahan pelecehan seksual terhadap anak, pada hari yang sama ketika Paus Benediktus XVI menerima pengunduran diri McCarrick - 15 Mei 2006. Manion berkata: “Orang tua di seluruh negeri sangat marah karena USCCB (Konferensi Uskup Katolik AS) bersikeras bahwa 'ahli' sekuler, dan bukan orang tua, yang harus mengajari anak-anak mereka -- hingga usia lima tahun – tentang cara menghindari pelecehan seksual. Tapi kendali McCarrick atas USCCB tampaknya begitu luas dan kuat sehingga tidak ada yang bisa dilakukan orang tua." 

Orang tua Katolik telah diperingatkan pada abad kesembilan belas oleh Paus Leo XIII bahwa “...adalah kewajiban orang tua untuk melakukan segala upaya untuk mencegah pelanggaran hak mereka dalam hal ini, dan untuk memastikan secara mutlak bahwa pendidikan anak-anak mereka tetap di bawah pengawasan mereka dan memiliki kendali sendiri sesuai dengan tugas Kristiani mereka, dan di atas segalanya, untuk menolak mengirim mereka ke sekolah-sekolah di mana ada bahaya meminum racun mematikan dari ketidaksopanan." (ensiklik 'On Christians as Citizens') 

Ketika berbicara kepada para orang tua di Kanada, Paus Leo XIII menambahkan dengan pedih: “Karena anak-anak kita tidak dapat pergi ke sekolah-sekolah yang mengabaikan atau dengan tujuan tertentu memerangi agama Katolik, atau ajaran Katolik dihina dan prinsip-prinsip dasar Katolik ditolak. Di mana pun Gereja mengizinkan hal ini dilakukan, dengan rasa sakit dan karena kebutuhan, pada saat yang sama mengelilingi anak-anaknya dengan banyak perlindungan yang, meskipun demikian, terlalu sering diakui tidak cukup untuk berhasil mengatasi bahaya yang mengikutinya.” (Tentang Pertanyaan Sekolah Manitoba, Paus Leo XIII - 1897) 

Tetapi nasihat untuk dengan keras melindungi anak-anak dari sekolah yang akan merusak iman mereka tidak hanya datang dari Paus ratusan tahun yang lalu. Atas rahmat Tuhan, ada contoh-contoh langka dari para pemimpin gereja, penerus para rasul, yang memiliki kepentingan terbaik bagi anak-anak di hati mereka. 

Salah satunya adalah Yang Mulia Kardinal Burke yang, dalam pidato pembukaan konferensi online ini, berkata: “Sayangnya, beberapa sekolah Katolik, karena berbagai alasan, meniru situasi di sekolah non-Katolik dengan menekankan ajaran anti-kehidupan, anti-keluarga, dan ideologi anti-agama, yang menandai pendidikan secara umum. Situasi yang terakhir ini sangat merusak, karena orang tua menyekolahkan anak-anak mereka ke sekolah Katolik, percaya bahwa itu akan benar-benar Katolik, padahal sebenarnya tidak seperti itu. Pengoperasian sekolah semacam itu, dengan nama Katolik, adalah ketidakadilan yang mendalam bagi keluarga-keluarga." 

Yang lainnya adalah Uskup Agung Carlo Maria Viganò, yang telah mengingatkan orang tua tentang “...tanggung jawab mereka, sebagai hak utama dan yang tidak dapat dicabut, untuk mendidik anak-anak mereka. Negara," katanya, "tidak dapat merebut hak ini, apalagi anak-anak yang rusak moralnya dan mengindoktrinasi mereka dengan prinsip-prinsip sesat yang tersebar luas saat ini." 

“Merupakan tugas Anda untuk bersuara sehingga upaya untuk mencuri pendidikan anak-anak Anda ini dapat dikecam dan ditolak dengan paksa,” tambahnya, “karena Anda tidak akan dapat berbuat banyak untuk mereka jika iman, gagasan, dan budaya dianggap tidak sesuai dengan orang-orang dari negara yang fasik dan materialistis." 

Saya ingat ketika berbicara dengan Uskup Athanasius Schneider tentang pertanyaan ini pada tahun 2016. 

Ketika saya bertanya kepadanya tentang pendidikan sex di sekolah-sekolah, dan bagaimana orang tua harus menghadapinya, dia berkata kepada saya: “Ketika anak-anak mereka diajar di sekolah dengan cara yang tidak bermoral, mereka (orang tua) harus menarik anak-anak itu. Ini adalah kewajiban mereka. Anda tidak dapat mengekspos anak-anak Anda pada bahaya yang tak bermoral. Itu tidak mungkin. Para orang tua Katolik, dalam membela anak-anak mereka dari amoralitas ini, bahkan harus siap menderita, ya, menanggung akibatnya.” 

Banyak orang tua Katolik telah menerima tantangan ini dan telah mencari sekolah-sekolah Katolik tradisional swasta, yang menjaga kemurnian anak-anak mereka, atau melakukan tugas heroik untuk menyekolahkan anak-anak mereka di rumah. Tindakan luar biasa ini dituntut dari para orang tua dewasa ini untuk menjaga keselamatan kekal anak-anak mereka. Itu adalah tugas yang diperlukan dalam memenuhi panggilan kita sebagai orang tua, yang pada akhirnya berhubungan dengan keselamatan kita dan anak-anak kita, karena seperti yang diingatkan oleh St. John Chrysostom kepada kita, “Apa tugas yang lebih besar daripada melatih pikiran dan membentuk kebiasaan kaum muda?” Dan seperti yang dikatakan Kitab Suci, "...apa untungnya bagi seseorang untuk mendapatkan seluruh dunia namun kehilangan jiwanya?" (Markus 8:36) 

Namun, setelah Uskup Schneider memberi tahu saya, saya segera menindaklanjuti dengan pertanyaan tentang para imam dan uskup saat ini yang tidak setia, karena ini adalah situasi yang kebanyakan kita hadapi saat ini, karena pendidikan sex di sekolah hadir dengan setidaknya mendapat dukungan diam-diam dari hierarki. 

Uskup Schneider menasihati bahwa orang tua harus memahami iman Katolik mereka dengan sangat baik. Mereka harus mempelajari Katekismus, dan bukan sembarang Katekismus – melainkan “Katekismus dari orang tua dan kakek nenek mereka,” katanya, hal ini mengacu pada Katekismus Konsili Trent dan cabang-cabangnya, seperti Katekismus Baltimore bagi kita di Amerika Utara. 

“Ini adalah,” katanya, “suara Kristus dan Gereja sepanjang masa.” 

“Kemudian, ketika pastor atau anggota hierarki bertentangan dengan ajaran Kristus, ajaran Magisterium Gereja yang abadi, Katekismus, Anda harus menarik anak-anak Anda dari gereja-gereja ini, dan tidak usah pergi ke sana, bahkan jika Anda harus menempuh perjalanan 100 km [ke gereja yang masih setia].” 

Dia menjelaskan bahwa keluarganya tinggal di Uni Soviet dan menganggap diri mereka masih beruntung ketika mereka menemukan Gereja Katolik yang berjarak 100 km dari rumahnya. “Saya pikir di dunia Barat, di Amerika Serikat, Anda akan menemukan Gereja yang mungkin lebih dekat dari 100 km di mana mungkin ada seorang imam yang baik. Jadi, hindari gereja-gereja ini [di mana kesalahan disebarkan]. [Tempat-tempat seperti itu] sedang menghancurkan iman orang-orang. Gereja-gereja ini sedang menghancurkan. Kita harus menghindarinya. [Orang-orang seperti itu] adalah pengkhianat iman, bahkan ketika mereka masih menyandang gelar imam atau uskup.” 

Kita harus melindungi anak-anak kita. Kita harus bersedia berkorban dan menanggung penderitaan yang diperlukan untuk menjaga iman mereka (anak-anak) dan mempersembahkan cobaan kita dalam persatuan dengan Kurban Kudus di dalam Misa. Kita harus mempersembahkan doa, pengorbanan dan penderitaan kita demi pertobatan Anda para uskup, yang oleh kesesatan Anda, oleh niat atau kelalaian Anda, telah merusak iman anak-anak kita di sekolah-sekolah Katolik. 

Kita tidak akan menyerahkan anak-anak kita kepada serigala berpakaian gembala. Kita akan melawan. Kita akan memohon kepada Surga demi pemulihan Tubuh Mistik Kristus yang sedang menjalani Kalvari-Nya sendiri. Berpegang teguh pada tradisi Gereja, berlabuh pada pilar Bunda Maria dan Ekaristi Kudus, kita akan mampu berdiri tegak, tidak dapat diombang-ambingkan bahkan oleh badai yang paling dahsyat. 

***** 

Tentang Api Penyucian - Pastor Reginald Martin, O.P.

Freemason Menerima Ensiklis Baru Paus

Uskup Schneider Menjelaskan 'Wajah Asli’ Freemason

Sejarawan terkenal: Bukti menunjukkan bahwa COVID...

Mereka menangkap ibu saya...

Enoch, 9 Oktober 2020

Pedro Regis 5026 - 5030

 

 

 

 

Bottom of Form

 

 

No comments:

Post a Comment