Thursday, October 1, 2020

Tentang Api Penyucian - Bagian I

 On Purgatory - Part I

 

Api Penyucian Adalah Sebuah Dogma Iman

 Dr. Remi Amelunxen

 https://traditioninaction.org/religious/e051-Purg_1.htm

  

Tema dari Keistimewaan Hari Sabat, 30 Misa Gregorian dan indulgensi disampaikan untuk menunjukkan manfaat semua kegiatan ibadah itu untuk melepaskan jiwa-jiwa dari Api Penyucian. Berikut ini adalah presentasi yang lebih rinci dari dogma Api Penyucian yang banyak terlupakan - jika tidak disangkal, yaitu tempat di mana jiwa-jiwa anggota Gereja Yang Menderita melakukan penebusan atas dosa-dosa mereka.

Pada zamannya, St. Francis de Sales (1567-1622) menyesalkan bagaimana orang-orang
dekat kita yang telah meninggal dilupakan, dengan mengatakan: "Ingatan mereka tampaknya ikut lenyap bersamaan dengan suara lonceng pemakaman." (1) Seperti yang disampaikan oleh pastor  François Xavier Schouppe dalam bukunya yang brilian Purgatory Explained, “penyebab utama dari kelupaan ini adalah ketidaktahuan dan kurangnya iman; gagasan kita tentang Api Penyucian terlalu kabur dan iman kita terlalu lemah.”

Untuk mengoreksi
semua kekurangan ini, dia mengemukakan tiga sumber terang untuk menjelaskan kepada umat yang setia tentang pentingnya topik ini: Ajaran Gereja, ajaran para Doktor Gereja dan teolog, dan pewahyuan dari para kudus.


Ajaran dogmatis tentang Api Penyucian

Gereja mengemukakan dua kebenaran yang secara jelas didefinisikan sebagai dogma iman: pertama, ada suatu tempat yang bernama Api Penyucian; kedua, jiwa-jiwa yang berada di Api Penyucian dapat dibantu oleh usaha dari umat beriman yang masih hidup di dunia, terutama melalui Kurban Misa Kudus.

 

Bunda Maria memberikan penghiburan bagi

Jiwa-Jiwa Malang di Api Penyucian

 

Menanggapi Revolusi Protestan, Konsili Trente menegaskan kembali keberadaan Api Penyucian sebagaimana telah diajarkan oleh Konsili Pertama di Lyon. Konsili itu juga menginstruksikan para Uskup agar doktrin Gereja tentang Api Penyucian diajarkan dan dikhotbahkan di mana-mana, agar dapat dipegang dan dipercaya oleh umat Katolik.

 

Di sini dikutip tiga Kanon penting dari Trent:

• Sesi 255 (1563) - Dekrit tentang Api Penyucian - Karena Gereja, yang diajar oleh Roh Kudus, telah mengajar di
Konsili-konsili Suci dan baru-baru ini di Konsili Ekumenis ini, dan dengan mengikuti Tulisan-tulisan Suci dan tradisi kuno para Bapa Gereja, bahwa ada sebuah Api Penyucian, dan bahwa jiwa-jiwa yang ditahan di sana bisa dibantu oleh upaya dari umat beriman dan terutama oleh Kurban di atas Altar (Misa Kudus) yang dapat diterima, maka Konsili Suci memerintahkan kepada para Uskup agar mereka berusaha dengan tekun sehingga doktrin Api Penyucian yang benar, yang disampaikan oleh Para Bapa dan Konsili-konsili Suci, untuk dipercaya dan yang dipelihara oleh kesetiaan Kristus, dan diajarkan dan diberitakan dimana saja.

• Sesi 6 (1547) - Kanon 30 - Jika ada yang mengatakan bahwa setelah menerima rahmat pembenaran [melalui Sakramen Tobat], kesalahannya sepenuhnya dihapus dan hutang hukuman kekal dihapuskan begitu saja bagi setiap orang berdosa yang bertobat sehingga tidak ada hutang hukuman sementara yang masih harus dijalani, baik di dunia ini atau di Api Penyucian, sebelum pintu Surga dapat dibuka, biarlah dia menerima kutukan.

• Sesi 14 (1551) - Kanon 12 - Jika ada yang berkata bahwa Tuhan selalu mengampuni seluruh
denda bersama dengan kesalahannya dan bahwa pelunasan atau denda [atas dosa] yang dibuat oleh orang yang bertobat tidak ada lagi, karena iman yang mereka anggap bahwa Kristus telah menghapuskan dosa-dosa mereka, biarlah dia menerima kutukan.

• Kanon 13 - Jika ada yang mengatakan bahwa
hukuman atas dosa, seperti hukuman sementara, sama sekali tidak perlu dilakukan, karena jasa-jasa Kristus, dengan melalui hukuman yang dijatuhkan oleh-Nya dan dengan sabar ditanggung, atau oleh [penebusan dosa] yang dijatuhkan oleh imam, atau bahkan yang dilakukan secara sukarela seperti puasa, doa, sedekah atau karya kesalehan lainnya, dan karena itu penebusan dosa yang terbaik baginya hanyalah berupa menjalani kehidupan yang baru, biarlah dia menerima kutukan.

• Kanon 14 - Jika ada yang mengatakan bahwa
penebusan yang dilakukan oleh orang yang bertobat untuk menebus dosa-dosa mereka melalui Kristus bukanlah penyembahan kepada Tuhan, tetapi hanya sebagai tradisi manusia, yang mengaburkan doktrin tentang rahmat dan penyembahan yang benar kepada Tuhan dan manfaat dari kematian Kristus, biarlah dia menerima kutukan. 

Dari doktrin-doktrin ini jelas bahwa keberadaan Api Penyucian merupakan dogma Gereja Katolik dan mereka yang menyangkalnya tidak dapat menyebut dirinya Katolik.

Nilai dari pewahyuan pribadi

Pewahyuan-pewahyuan yang diberikan kepada para kudus, yang disebut wahyu pribadi, bukanlah termasuk dalam Deposit Iman yang diberikan oleh Tuhan kita Yesus Kristus kepada Gereja-Nya. Itu adalah fakta sejarah, berdasarkan kesaksian manusia yang mungkin tidak kita percayai tanpa berdosa melawan iman. Tetapi karena pewahyuan-pewahyuan itu diakui sebagai otentik, maka kita tidak dapat menolaknya tanpa melawan penalaran, yang menuntut persetujuan atas suatu kebenaran ketika ia diperlihatkan secara memadai.

Pewahyuan pribadi ada dua jenis, penglihatan dan penampakan. Penglihatan adalah cahaya subjektif yang ditanamkan oleh Tuhan ke dalam pemahaman orang-orang pilihan untuk mengungkapkan misteri-misteri-Nya. Seperti inilah penglihatan-penglihatan dari banyak Nabi dan orang kudus untuk menyampaikan kebenaran spiritual secara supernatural kepada manusia. 


Tiga sidik jari yang nampak terbakar tercetak di sampul buku doa oleh satu jiwa malang di Api Penyucian - lihat ceritanya di sini 

Sedangkan penampakan adalah fenomena obyektif yang dapat dibuktikan dengan bukti material yang berada di luar orang-orang yang menerimanya. Penampakan jiwa-jiwa di Api Penyucian sering terjadi dan dapat dibuktikan dengan benda-benda yang disentuhnya hingga ada yang menimbulkan cetakan bekas api. Penampakan seperti itu ditemukan dalam jumlah besar dalam kehidupan para orang kudus.

Bukti nyata yang ditinggalkan oleh jiwa-jiwa ini dikumpulkan oleh seorang pastor
di abad ke-19, pastor Victor Jouet, dan disimpan di Museum khusus Jiwa-jiwa Malang di Roma. Anda dapat membaca tentang artefak yang diakui oleh Gereja itu, di sini dan di sini.

Tuhan mengizinkan penampakan-penampakan semacam ini untuk membebaskan jiwa-jiwa serta untuk menginspirasi belas kasih dan doa-doa kita bagi mereka. Mereka juga berjasa dalam menunjukkan dan menekankan betapa kerasnya Pengadilan Tuhan terhadap kesalahan-kesalahan, yang sayangnya, kita anggap remeh.

Bunda Maria menghibur Jiwa-jiwa Malang di Api Penyucian

Jiwa-jiwa dari Gereja Yang Menderita (di Api Penyucian) selalu memohon pertolongan dan silih dari anggota Gereja Militan (Gereja di dunia). Doa dan persembahan kita bagi mereka merupakan sumber kelegaan yang luar biasa bagi mereka. Bagi kita yang masih hidup di dunia, itu adalah sarana untuk mendapatkan kesucian yang lebih besar.

Satu penghiburan besar bagi jiwa-jiwa di Api Penyucian adalah kunjungan dari Perawan Maria yang Terberkati. Dalam pewahyuan-pewahyuan St. Bridget, Ratu Surga (Bunda Maria) menyebut dirinya dengan nama yang indah "Ibu dari Jiwa-jiwa di Api Penyucian; Ibu dari semua orang yang berada di tempat pelunasan." Dia melanjutkan, "Doa-doaku akan meringankan hukuman yang ditimpakan kepada orang berdosa karena kesalahan mereka." (2)

Bunda Maria melimpahkan belas kasihannya kepada jiwa-jiwa di dalam Api Penyucian khususnya pada hari-hari Sabtu dan pada hari-hari rayanya yang lain, dimana hari-hari itu menjadi hari raya besar di Api Penyucian. Seperti yang terlihat dalam pewahyuan dari banyak orang kudus, pada hari Sabtu - hari yang secara khusus dipersembahkan bagi Bunda Maria, maka Bunda Maria turun ke ruang-ruang bawah tanah dari Api Penyucian untuk mengunjungi dan menghibur mereka yang berbakti kepadanya. Menurut keyakinan yang saleh, Bunda Maria membebaskan jiwa-jiwa yang telah mengenakan skapulirnya dan pantas mendapatkan Hak Istimewa hari Sabat, dan kemudian memberikan kelegaan dan penghiburan bagi jiwa-jiwa lain yang melaksanakan devosi sejati kepadanya.

 

Seorang malaikat memberikan kelegaan bagi suatu jiwa di Api Penyucian 

 

Salah satu saksi ini adalah Ven. Suster Paula dari St. Teresa, seorang religius Dominikan dari Biara St. Catherine di Napoli. Suatu hari Sabtu dia mengalami ekstase dan dia dibawa, di dalam rohnya, ke Api Penyucian, di mana dia mendapati tempat itu sebagai sebuah surga kesenangan, disinari oleh cahaya terang, bukannya kegelapan. Dia kemudian melihat Ratu Surga dikelilingi oleh para Malaikat, kepada siapa dia memberi perintah-perintah untuk membebaskan jiwa-jiwa tertentu dan membawa mereka ke Surga. (3)

Hari raya Pengangkatannya yang mulia tampaknya menjadi salah satu
saat pembebasan khusus. St Peter Damian menyatakan bahwa pada hari itu, Bunda Terberkati membebaskan beberapa ribu jiwa. (4) Ini karena Bunda Maria dengan senang hati memperkenalkan anak-anaknya ke dalam kemuliaan Surga pada hari dia sendiri menyaksikan penglihatan indah itu.

Selain penghiburan yang diterima dari Bunda Yang Terberkati, Jiwa-Jiwa yang Malang di Api Penyucian juga dihibur oleh para Malaikat suci, terutama oleh Malaikat Pelindung mereka. Para Doktor Gereja mengajarkan bahwa misi perlindungan Malaikat Pelindung berakhir sampai di pintu masuk anak asuh mereka ke Surga.

Jika, pada saat kematian,
suatu iwa dalam keadaan rahmat namun belum layak untuk melihat wajah Tuhan, maka Malaikat Pelindungnya akan membawa jiwa itu ke tempat penebusan dan tetap berada di sana untuk mendapatkan semua bantuan dan penghiburan bagi jiwa itu yang berada dalam kuasanya. (5) Tujuan dari Malaikat Pelindung yang setia adalah untuk membantu jiwa asuhannya memasuki rumahnya di Surga.

Dalam sebuah penampakan kepada St. Margaret dari Cortona yang sedang berdoa untuk Jiwa-jiwa Malang di Api Penyucian, Penebus Ilahi kita mengatakan kepadanya: "Rasa sakit yang mereka tanggung sangatlah besar, tetapi rasa sakit itu akan jauh lebih besar jika mereka tidak dikunjungi dan dihibur oleh para Malaikat-Ku, dimana dengan menyaksikan Malaikat-Ku hal itu menjadi pemandangan yang sangat menghibur mereka dalam penderitaan mereka, dan menyegarkan mereka dalam pemurnian mereka." (6)

Pewahyuan ini sangat konsisten dengan ajaran Gereja. Menurut banyak Doktor Gereja, Malaikat Pelindung memberi tahu jiwa-jiwa di Api Penyucian siapa saja para penolong mereka dan mendesak jiwa-jiwa itu untuk berdoa bagi mereka (para penolong).

Ven. Agnes dari Yesus, yang hidup dalam komunikasi akrab terus-menerus dengan para Malaikat suci, menceritakan banyak penampakan di mana dia melihat Malaikat Pelindung membuat syafaat untuk anak asuh mereka, membawa penghiburan kepada mereka yang berada di tengah api di mana mereka sangat menderita, dan menuntun mereka ke Surga ketika waktu penebusan mereka selesai. (7)

Bunda Maria dan para Malaikat Kudus adalah perantara alami antara Api Penyucian dan dunia, karena keduanya berada di antara Surga dan Api Penyucian. Betapa terhiburnya mereka yang selama hidupnya telah menunjukkan pengabdian kepada Perawan Terberkati dan kepada Malaikat Pelindung mereka!

 

*****

“Iblis dan Karl Marx”: sebuah ulasan

Dogma tentang Neraka – Bagian IV

Dogma tentang Neraka - Bagian V

LDM, 25 September 2020

Mengapa Begitu Banyak Orang Pergi ke Neraka

Pedro Regis 5021 - 5025

Vatican Membela ‘Perjanjian Dengan Iblis’

 

 

 

 

 

No comments:

Post a Comment