Friday, October 2, 2020

Tentang Api Penyucian - Bagian II

 On Purgatory - Part II 

Perlunya Api Penyucian Dan Rasa Sakitnya Kehilangan 

Dr. Remi Amelunxen 

https://traditioninaction.org/religious/e053-Purg_2.htm 

 

Beberapa orang bertanya, "Mengapa jiwa harus menderita, sebelum mereka dapat melihat wajah Tuhan?" Bukankah Sakramen Tobat sudah cukup untuk menghilangkan efek dari dosa di dalam jiwa dan membayar hutang yang dibutuhkan untuk memperoleh pengampunan? ”

Menurut para teolog, bukannya kesalahan dosa, tetapi hutang rasa sakit yang berasal dari dosa itulah yang membutuhkan penebusan. (1) Dosa menghasilkan dua efek pada jiwa: kesalahan karena menentang Tuhan dan hukuman yang harus dibayar untuk kejahatan itu. Dalam Sakramen Pengakuan, imam membebaskan kesalahan ketika orang tersebut benar-benar bertobat. Ini disebut rasa sakit karena bersalah, yang dihilangkan dengan melalui absolusi dari imam.

 

Kobaran api dari Api Penyucian diperlihatkan kepada Virgil dan Dante 

Namun, harga denda tetap harus dibayar. Ketika pengampunan dosa yang diberikan oleh imam tidak cukup untuk menyamai hukuman karena Keadilan Ilahi, ada hal lain yang perlu dibayar. Hal lain yang tidak dikompensasikan dengan semestinya ini disebut hutang rasa sakit. Jika, ketika orang itu meninggal, dia masih memiliki hutang yang terakhir ini, hutang rasa sakit, maka dia harus melunasinya di hadapan Keadilan Ilahi dengan menderita di Api Penyucian.

Hutang penderitaan berasal dari semua kesalahan yang dilakukan selama hidup
seseorang, terutama dari dosa-dosa berat. Meskipun kesalahannya telah diampuni dengan melalui pengakuan dosa yang baik, namun dosa-dosa itu belum ditebus dengan buah-buah pertobatan external yang layak. Apa yang membentuk hutang rasa sakit ini adalah sisa-sisa dari banyak hukuman yang kepuasannya belum diberikan, jadi semacam noda, yang menjadi penghalang bagi persatuan jiwa dengan Tuhan.

St. Catherine dari Genoa mengatakan bahwa meskipun jiwa-jiwa di Api Penyucian harus dibebaskan dari kesalahan dosa mereka, tetapi masih ada penghalang antara mereka dan persatuan dengan Tuhan selama masih ada ketidaksempurnaan dalam dirinya. (2) Dalam Treatise on Purgatory, St. Catherine menjelaskan bahwa jiwa merasakan penghalang ini di dalam dirinya dan keinginan untuk membuat penebusan ini dituntut oleh Keadilan Ilahi:

“Saya melihat bahwa
Esensi Ilahi memiliki kemurnian sedemikian rupa sehingga jiwa mana pun, kecuali dia benar-benar tak bernoda, tidak dapat menanggung pemandangan itu. Jika, di hadapan Yang Mulia, jiwa menemukan dalam dirinya adanya atom ketidaksempurnaan yang paling kecil sekali pun, daripada tinggal di sana dengan noda, maka dia akan bersedia menceburkan dirinya kedalam Neraka. Untuk menemukan cara guna menghilangkan noda-noda di Api Penyucian, maka jiwa [secara sukarela] akan menghempaskan dirinya ke dalamnya. Dia menganggap dirinya bahagia karena, sebagai akibat dari belas kasihan yang besar, dia bisa memiliki tempat yang diberikan kepadanya di mana dia dapat membebaskan dirinya dari rintangan untuk mencapai kebahagiaan tertinggi." (3)

Begitulah, jiwa-jiwa yang menderita di Api Penyucian memahami sepenuhnya dan merangkul penderitaan yang harus mereka tanggung. Mereka melihat dengan jelas betapa seriusnya di hadapan Tuhan bahkan hambatan sekecil apa pun yang ditimbulkan oleh sisa-sisa dosanya.

 

Jiwa-jiwa menderita, dengan kepasrahan, rasa sakit di Api Penyucian  

Dalam bukunya Purgatory Explained, pastor Schouppe mencatat, “Jiwa-jiwa senantiasa bersatu dengan Tuhan di Api Penyucian. Mereka benar-benar pasrah pada kehendak-Nya, atau lebih tepatnya, kehendak mereka begitu berubah menjadi kehendak Tuhan, sehingga mereka tidak bisa menghendaki yang lain kecuali kehendak Tuhan. … Mereka memurnikan diri mereka sendiri dengan sukarela dan penuh kasih, karena seperti itulah kesenangan Ilahi.”(4)

Pastor Schouppe membuat daftar panjang dosa yang membutuhkan penebusan. Hal itu termasuk yang berikut ini: dosa nafsu (pikiran kotor, perkataan dan perbuatan), dosa keduniawian dan skandal, dosa kehidupan kesenangan dan mengejar kenyamanan, dosa dari sifat suam-suam kuku, dosa kelalaian menerima Komuni Kudus dan kurangnya rasa hormat dalam doa, dosa kurangnya penyiksaan atas indera dan lidah, dosa terhadap keadilan, dosa kelalaian, dosa kesucian, dosa penyalahgunaan rahmat, dan dosa terhadap Sepuluh Perintah Allah, terutama dosa-dosa daging.

Sakitnya rasa bersalah masih tetap ada untuk semua dosa, bahkan setelah pengakuan dosa yang baik dilakukan. Itulah mengapa Api Penyucian adalah merupakan rahmat belas kasih Tuhan. Bagi mereka yang belum cukup melakukan penebusan dalam kehidupan ini, ada tempat setelah kematian di mana jiwa mereka rela menderita - meskipun sangat besar - sehingga mereka dapat dimurnikan.

Rasa sakit karena kehilangan

Semua jiwa di Api Penyucian menderita rasa sakit karena kehilangan penglihatan atas Tuhan. Namun, beberapa hanya menderita rasa sakit ini, dan bukan rasa sakit pada indera, yang akan dibahas dalam artikel berikutnya.

Dalam bukunya, Treatise on Purgatory, St. Catherine dari Genoa menjelaskan betapa hebatnya rasa sakit karena kehilangan 

Nyatanya, penyiksaan atas rasa kehilangan, yaitu kehilangan penglihatan atau pandangan atas Tuhan, menurut semua Orang Kudus dan para Doktor Gereja, jauh lebih akut dan nyeri daripada rasa sakit pada indera. Kita tidak dapat memahami hal ini karena kita memiliki terlalu sedikit pengetahuan tentang Kebaikan Yang Berdaulat, dimana bagi penglihatan itu kita diciptakan. Tetapi, di dalam kehidupan selanjutnya, kehidupan roh, Kebaikan yang tak terlukiskan itu tampak bagi jiwa-jiwa seperti roti bagi orang yang sangat kelaparan, atau air segar bagi orang yang sekarat karena sangat kehausan, atau seperti kesehatan bagi orang yang sakit keras yang disiksa oleh penyakit yang berkepanjangan. (5)

Dalam
bukunya, The Castle of the Soul, St. Teresa dari Avila berbicara tentang rasa sakitnya kehilangan penglihatan atas Tuhan : “Rasa sakit kehilangan ini, atau kekurangan pandangan atas Tuhan, melebihi semua penderitaan yang paling menyiksa yang dapat kita bayangkan, karena jiwa-jiwa mendesak terus menuju Tuhan, sebagai pusat aspirasi mereka, namun terus menerus ditolak oleh Keadilan-Nya. Anda mungkin membayangkan diri Anda sebagai seorang pelaut karam yang, setelah lama berjuang melawan ombak, akhirnya sampai di jangkauan pantai, hanya untuk menemukan diri Anda terus-menerus didorong ke belakang oleh tangan yang tak terlihat. Sungguh penderitaan yang sangat menyiksa! Namun jiwa-jiwa di Api Penyucian seribu kali lebih besar daripada itu." (6)

Semua jiwa di Api Penyucian menderita rasa sakit karena kehilangan, yaitu penyembunyian pandangan atas Allah. Namun, kita tidak boleh membayangkan bahwa ini adalah hukuman yang ringan.

Hal ini dibenarkan oleh kata-kata St. John Chrysostom dalam Homili ke-47. Dia berkata: "Bayangkan tentang segala siksaan di dunia. Anda tidak akan dapat menemukan siksaan yang setara dengan rasa kehilangan penglihatan beatifik tentang Tuhan."(7) 

***** 

Dogma tentang Neraka – Bagian IV

Dogma tentang Neraka - Bagian V

LDM, 25 September 2020

Mengapa Begitu Banyak Orang Pergi ke Neraka

Pedro Regis 5021 - 5025

Vatican Membela ‘Perjanjian Dengan Iblis’

Tentang Api Penyucian – Bagian I

 

 

 

 

 

 

No comments:

Post a Comment