Monday, July 6, 2020

MEMAJUKAN PAHAM MARXISME KE SELURUH DUNIA


MEMAJUKAN PAHAM MARXISME KE SELURUH DUNIA






by Martina Moyski  •  ChurchMilitant.com  •  June 29, 2020


Peran Cina dalam proyek ‘Global Education Compact’ dari Vatikan

VATICAN CITY (ChurchMilitant.com) – Sebuah ‘sirene alarm’ berbunyi keras atas konferensi besar yang diadakan oleh Vatikan pada bulan Oktober 2020, ketika muncul berita tentang keterlibatan Partai Komunis Tiongkok (PKC) dalam acara tersebut dan dalam urusan Vatikan pada umumnya.

The Global Compact on Education disusun sebagai "pengaturan ulang rencana perjalanan pedagogis dari etika ekologis" dan, menurut situs webnya, sedang berusaha "untuk memastikan partisipasi yang paling luas dan setenang mungkin."

Tapi "kita harus memelototi Vatikan," kata mantan jaksa penuntut dan jurnalis investigasi, Liz Yore, yang mendesak pada War Room Pandemic pekan lalu, ketika dia mengingatkan publik tentang hubungan Vatikan dengan PKC.

Acara milik Vatikan ini, yang berjudul Global Compact on Education, dijadwalkan 15 Oktober 2020, telah bermitra dengan "One People, One Planet [yang] sponsornya tidak lain adalah, Huwei [penyedia telekomunikasi yang di-blacklist oleh Amerika Serikat karena masalah keamanan nasional]" demikian Yore melaporkan.

Berbicara tentang jenis pendidikan yang dapat diharapkan pada konferensi yang terjadi kurang dari dua minggu sebelum pemilihan A.S., Yore berkata terus terang: "Paus Francis sangat anti-Amerika dan komunis ..."

Untuk menjelaskan bagaimana Takhta Suci dan PKC bisa menjadi teman akrab, dia menunjuk pidato "globalis" Presiden Tiongkok Xi Jinping di Davos pada 2017 ketika dia berkata, "Semua jalan menuju Roma" untuk menggambarkan rencananya tentang bagaimana cara menyerang pasar dunia. "Rupanya, semua rekening bank mengarah ke Vatikan juga," kata Yore.

Pernyataan Yore menggemakan berita terbaru lainnya yang menjelaskan rincian perjanjian rahasia Cina-Vatikan.

Pada 22 Juni 2020, media sosial menyiarkan klaim miliarder Tiongkok Guo Wengui yang diasingkan oleh pemerintah Cina, bahwa Beijing membayar Vatikan agar tetap bersikap diam tentang penindasan PKC terhadap kebebasan beragama dan rencana dominasi dunia sebagai bagian dari perjanjian 2018.

Yore dengan hal ini. "Xi mendapat keuntungan dari uangnya," dan menjelaskan bahwa PKC membeli sikap diam dari paus atas kekerasan pemerintah (Cina) di Hong Kong terhadap pawai kebebasan dan program pengambilan paksa atas organ manusia di Cina, yang disebut sebagai salah satu kekejaman massal terburuk abad ini. Itu juga menjelaskan pujiannya atas "pekerjaan hebat" yang dilakukan Tiongkok dan PKC dalam mengendalikan virus Wuhan.

"Hal ini cukup membingungkan," katanya. "Selama beberapa dasawarsa kita memiliki ‘pagar paus’ yang melawan PKC, pagar yang melawan Gereja Patriotik bentukan pemerintah Cina, dan kemudian kini muncullah Francis ...."

Dalam penilaian singkat atas seluruh situasi yang ada, dia berkata: "PKC telah menangkap suara moral vikaris Kristus."

 

 

Italia Sebagai 'Kuda Troya' Tiongkok

 

Yore dan Wengui bukan satu-satunya ahli yang berbicara tentang kolusi antara Vatikan dan PKC.

Dalam bukunya yang baru Red Contagion: How Italy Became China's Trojan Horse in the West, (Red Contagion: Bagaimana Italia Menjadi Kuda Troya Cina di Barat), pakar kebijakan publik Italia dan manajer hedge fund, Francesco Galietti, mengungkapkan interaksi yang saling mempengaruhi antara korupsi politik dan keuangan antara Cina, Italia, dan Vatikan.

Galietti mengatakan dalam sebuah wawancara dengan Steve Bannon baru-baru ini:

Italia memiliki sistem politik yang sangat rapuh dan korup yang sangat terpapar pada serangan pesona Cina. Dan apa yang dimiliki Italia yang tidak dimiliki orang lain adalah kehadiran Vatikan di tanah Italia. Dan akhir-akhir ini, Vatikan, yang sangat berpengaruh dalam sistem politik Italia, condong ke Cina, menginginkan kesepakatan dengan Cina dan menawarkan Italia untuk memeluk Cina.

Pakar keuangan itu mengatakan, Italia "selalu menjadi bagian dari Barat. Ini bahkan menjadi tempat lahir Barat. Jadi melihat Italia ‘melayang’ ke arah Asia dan terutama menuju Cina yang otoriter, adalah sebuah mimpi buruk."

Dan menggambarkan keramahan Paus - atau kurangnya keramahan itu - terhadap Amerika Serikat,
Galietti berkata : "Jangan lupa, paus ini bukanlah teman A.S. yang pasti."

"Orang-orang harus memperhatikan terutama pada musim gugur mendatang," kata Yore mengulangi.

"Akan ada beberapa acara besar anti-Amerika termasuk Global Compact on Education," katanya. Dan  konferensi di Vatikan itu "akan mendorong paham sosialisme kepada anak-anak kita" sementara PKC "menyembunyikannya".

Undangan untuk acara 15 Oktober nanti telah disebarkan kepada perwakilan dari berbagai agama, organisasi non-pemerintah (LSM), akademisi dan pemimpin budaya dan politik - "semua orang yang peduli tentang pendidikan generasi muda," menurut situs webnya. Para undangan akan mewakili "penghuni bumi," dan akan menandatangani "Perjanjian Global tentang Pendidikan, yang masing-masing akan diusahakan untuk diterapkan di wilayah mereka dan disebarkan sebanyak mungkin.
Detail pakta kesepakatan masih belum dirilis.

Sebelumnya, pada awal tahun, paus menyampaikan rencana konferensi itu kepada para peserta Pleno Kongregasi untuk Pendidikan Katolik sebagai "permohonan kepada semua orang yang memiliki tanggung jawab politik, administratif, agama dan pendidikan untuk membangun kembali 'desa pendidikan."

"Pendidikan adalah kenyataan yang dinamis. Ini adalah gerakan yang membawa orang kepada terang," tambah paus.

Pakta pendidikan harus "revolusioner," katanya lebih lanjut.


*****





No comments:

Post a Comment