Thursday, July 21, 2022

Apa yang diajarkan oleh film Marvel 'Avengers' tentang agenda depopulasi kaum globalis

 

Apa yang diajarkan oleh film Marvel 'Avengers' tentang agenda

depopulasi kaum globalis

 

https://www.lifesitenews.com/opinion/what-the-marvel-movie-avengers-can-teach-us-about-the-globalist-depopulation-agenda/

 


 

 

Sejarah menunjukkan bahwa para ideolog megalomaniak tidak akan peduli berapa juta orang yang menjadi korban dan mati, demi mengejar ideologi mereka yang gagal. Maka muncullah salah satu pelajaran universal dalam film Avengers ini: Ketika rencana dari orang yang kuat gagal, maka orang-orang yang tidak berdayalah yang akan membayar ongkosnya.

 

World Economic Forum founder Klaus Schwab and

Marvel's ThanosShutterstock/YouTube screenshot 

 

by Laura Hollis

 

Tue Jul 19, 2022 - 3:20 pm EDT

 

Cerita ini awalnya diterbitkan oleh WND News Center

 

(WND News Center) – Dalam film Marvel “Avengers: Infinity War,” Thanos, makhluk super dari planet lain, sedang mencari enam permata – Batu Keabadian – untuk dimasukkan ke dalam Sarung Tangan Keabadian, senjata yang, ketika selesai, memungkinkan orang yang memakainya untuk memusnahkan setengah dari semua kehidupan di alam semesta hanya dengan menjentikkan jarinya.

 

Si tokoh, Thanos, berperan sebagai penjahat super, tetapi dia menganggap dirinya sebagai altruis (bekerja untuk orang lain). Dia menjelaskan kepada karakter Marvel lainnya, Dr. Steven Strange, bahwa dia menyaksikan kehancuran planetnya sendiri, Titan, dan bahwa motifnya menggunakan Infinity Gauntlet (Sarung Tangan Keabadian) adalah murni demi kebaikan:

 

“Titan adalah seperti kebanyakan planet yang lain – terlalu banyak mulut dan tidak cukup untuk memberi makan penduduknya. Dan ketika kita menghadapi kepunahan, saya menawarkan sebuah solusi … Saya hanya bisa menjentikkan jari saya dan mereka semua akan lenyap.”

 

Thanos menolak tuduhan Dr. Steven Strange tentang genosida. "Saya menyebutnya 'rahmat'," katanya. "Pilihan tersulit memang membutuhkan kemauan paling kuat."

 

Di sini, di dunia nyata, kita memiliki orang-orang kelas dewa yang menunjuk dirinya sendiri,  yang mencoba menjalankan planet ini, termasuk Bill Gates dan Yayasan Bill dan Melinda Gates, Klaus Schwab dan Forum Ekonomi Dunia (WEF), pasukan antek-antek WEF yang telah berhasil masuk ke pemerintahan nasional di seluruh dunia, dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

 

Dewa-dewa yang loyo ini, dan banyak lainnya yang mengkhotbahkan dogma mereka, menuntut agar kita menyembah di depan “altar perubahan iklim,” menerapkan kebijakan yang mereka ajukan tanpa pertanyaan, yang mereka anggap bisa menyelamatkan kita semua dari kehancuran.

 

Sesuai dengan metafora Marvel, berikut adalah enam "permata" kehidupan kita di mana para raksasa gila "perubahan iklim" ini berusaha mengendalikan: energi, produksi pangan, perumahan, mata uang, hukum/penegakan hukum, dan pemerintahan. Di masing-masing bidang ini, mereka menuntut penerapan kebijakan yang mereka iklankan akan bisa “menyelamatkan planet ini.”

 

Para elit ini menampilkan jenis arogansi yang selalu mendahului malapetaka. Mereka menganggap bahwa mereka begitu brilian dan mahatahu sehingga mereka dapat mengantisipasi setiap kemungkinan, setiap halangan yang mungkin terjadi. Setiap siswa sejarah tentunya dapat menyanggah klaim itu, tetapi peristiwa yang sangat baru sekarang ini menawarkan contoh lain yang jelas.

 

Pada tahun 2018, pemerintah Sri Lanka memberlakukan peraturan pertanian yang didorong oleh agenda “perubahan iklim” WEF. Semua pupuk non-organik dilarang. Dalam dua tahun, produksi pertanian runtuh. Kemudian, ekonomi secara keseluruhan hancur. Pekan lalu, kerusuhan di ibu kota Colombo membuat para pemimpin pemerintah meninggalkan negara itu.

 

Negara-negara lain tampaknya tidak memahami pesan ini. Inggris sedang mencoba untuk mendorong para petani untuk "pensiun." Pemerintah Belanda telah mengumumkan rencana untuk menutup sejumlah pertanian dan peternakan untuk membantu memperbaiki efek “perubahan iklim.” (Rumor mengatakan bahwa WEF berencana untuk membeli tanah pertanian Belanda. Ini tidak terlalu mengada-ada; pemuja WEF, Bill Gates, sekarang adalah pemilik tanah pertanian terbesar di Amerika Serikat.) Petani dan warga Belanda turun ke jalan melakukan protes. Protes serupa telah meletus di Jerman, Italia, Spanyol, Polandia, dan Armenia.

 

Seperti yang telah kita lihat dalam konteks lain di sini, di Amerika Serikat, warga negara yang taat hukum dapat menjadi sasaran penegakan hukum karena membela diri atau harta benda mereka, dan mereka dituduh sebagai “pemberontak” atau “teroris domestik” karena memprotes apa yang mereka yakini bahwa tindakan pemerintah tidak sah atau tidak bijaksana. Dan kedaulatan negara-negara merdeka adalah penghalang utama bagi penerapan global dari tujuan-tujuan yang diusulkan oleh para dewa “perubahan iklim” ini. Karena itu kedaulatan negara harus dikurangi atau dihilangkan.

 

Kemudian lagi, mungkin kegagalan kebijakan adalah bagian dari rencana awal. Sebagai hasil dari environmentalisme secara umum, gerakan “perubahan iklim” telah mengadopsi banyak prinsip lingkungan yang lebih ekstrem, termasuk pengurangan populasi. Terlepas dari prediksi yang salah secara spektakuler dari buku terlarisnya tahun 1970 “The Population Bomb,” penulis Paul Ehrlich masih dianggap sebagai kakek dari lingkungan yang bertema populasi. Ehrlich berpendapat bahwa populasi ideal bumi ini adalah kurang dari 2 miliar orang, sebuah sikap yang oleh penulis sains Alex Berezow, digambarkan sebagai "secara terbuka bersikap misantropis (pembenci orang) dan genosida samar-samar."

 

Menjelang akhir dari film “Infinity War,” menjadi jelas bahwa rencana Thanos tidak berjalan seperti yang dia bayangkan. Dia, seperti semua megalomaniak lain, tidak mau menyalahkan dirinya sendiri tetapi menyalahkan korbannya, yang menolak untuk berterima kasih kepada Thanos atas kerugian tak terduga yang ditimbulkan oleh tindakannya. Sebagai tanggapan, Thanos memutuskan untuk menggandakan metodenya.

 

"Saya pikir dengan menghilangkan separuh kehidupan manusia, separuh lainnya akan berkembang," keluh Thanos kepada Avengers yang masih hidup. “Tapi Anda telah menunjukkan kepada saya bahwa itu tidak mungkin. Selama ada orang yang mengingat apa yang ada, akan selalu ada orang yang tidak mampu menerima apa yang bisa terjadi. Saya tahu apa yang harus saya lakukan. Saya akan menghancurkan alam semesta ini sampai ke atom terakhirnya, dan kemudian, dengan batu-batu yang telah Anda kumpulkan untuk saya, saya buat yang baru ... alam semesta yang mau bersyukur.”

 

Sejarah menunjukkan bahwa ideolog megalomaniak – ingatlah akan Pol Pot, Mao Zedong, dan Josef Stalin – tidak peduli berapa juta orang mati demi mengejar ideologi mereka yang gagal. Dengan demikian muncul salah satu pelajaran universal dalam alur cerita Thanos:

Ketika rencana dari orang yang kuat gagal, maka orang-orang yang tidak berdayalah yang akan membayar ongkosnya.

 

Thanos dan Infinity Gauntlet adalah cerita fiksi, tetapi ancaman yang kita hadapi saat ini adalah nyata. Mereka yang menginginkan kontrol global atas negara-negara dan hidup kita, tidak boleh mendapatkannya.

 

----------------------------------

 

Silakan membaca artikel lainnya di sini:

 

Korban Homoseks uskup Zanchetta mengaku: Francis Tahu Segalanya

Dr.Joseph Mercola - 'Reset the Table'- Kekurangan makanan yang sedang mengancam saat ini tidak terjadi secara kebetulan

Belanda berada di garis depan dalam revolusi pangan totaliter dari Forum Ekonomi Dunia

Kardinal Yang Rusak, Kepausan Yang Rusak

Pertunjukan Thrive Time bersama Clay Clark

LDM, 18 Juli 2022

Fumitory (Fumaria officinalis): Informasi Manfaat dan Cara Kerja