Thursday, December 21, 2017

AJARAN KATOLIK MENGENAI NERAKA

AJARAN KATOLIK MENGENAI NERAKA
oleh Pastor John Trigilio, PhD, ThD.




Petunjuk Moral Katolik yang jelas dan ringkas tentang Neraka


Q. Bisakah orang masuk ke dalam neraka?


A. 
Keberadaan Surga dan neraka adalah merupakan doktrin formal dari ajaran Kristiani. Neraka itu ada seperti halnya Surga itu ada. Neraka diciptakan bagi para malaikat durhaka yang memberontak melawan Allah dan memerangi Malaikat Agung Michael. Manusia memiliki potensi atau kemungkinan untuk masuk ke dalam neraka karena kita memiliki kemungkinan dan potensi untuk masuk ke dalam Surga (dengan Rahmat Allah). (lihat CCC #1035). Penghakiman khusus terjadi segera setelah seseorang meninggal dan jiwanya terpisah dari tubuh mereka. Kemudian jiwa itu dihakimi dan jika orang tersebut meninggal dengan dosa berat yang tak terampuni, dalam keadaan tidak mau bertobat, maka mereka akan langsung masuk neraka untuk selamanya. Lucifer dan malaikat-malaikat jahat lainnya dilemparkan ke dalam neraka setelah mereka memberontak melawan kuasa kehendak Allah. Mereka lebih memilih menjadi tuan atas takdir mereka sendiri daripada menjadi bahagia sebagai hamba Allah. John Milton, seorang penyair terkenal, dalam epiknya berjudul "Paradise Lost" menyampaikan bahwa Lucifer mengatakan: 'Jauh lebih baik untuk memerintah di dalam neraka daripada melayani di dalam Surga.' Kesombongannya ini telah mencegahnya memiliki kebahagiaan, sukacita dan kemuliaan kekal, di Surga, hingga dia bisa memuaskan egonya yang besar dan tak terkendali.

Last Judgement by Fra Angelico

Neraka adalah pemisahan selamanya dari Tuhan dan itu adalah kesepian yang nyata dan paling besar. Tidak peduli berapapun banyaknya setan, iblis atau jiwa-jiwa terkutuk berada di dalam neraka, tetapi semua yang berada di sana benar-benar terisolasi satu sama lain, dan yang paling malang: mereka terisolasi dari Tuhan, yang merupakan Kasih. Itulah sebabnya Dante Alighieri dalam puisinya "Divine Comedy" menggambarkan neraka sebagai tempat dimana ada suhu dingin yang absolut karena tiadanya kehangatan kasih. Ini hanyalah kiasan saja, tetapi ia menggambarkan secara bagus sekali tentang keadaan disana.

Api di dalam neraka adalah nyata, meski sejauh ini ia melambangkan rasa sakit dan siksaan sebagai hukuman atas dosa. Karena jiwa adalah sesuatu yang abstrak, maka api disana juga bukanlah api yang fisik, tetapi ia sangat menyakitkan dan menyebabkan penderitaan yang sangat besar. Setelah kebangkitan orang mati pada akhir dunia nanti, jiwa orang yang benar akan dipersatukan kembali dengan tubuhnya dan kembali ke Surga, sementara itu jiwa orang yang terkutuk, mereka akan bersatu kembali dengan tubuhnya untuk kemudian masuk lagi ke dalam neraka. Tubuh yang telah dibangkitkan itu tak bisa mati, hingga siksaan neraka juga akan semakin besar ketika tubuh dan jiwanya bersatu. Bagi orang benar yang masuk ke dalam Surga, sukacita dan kebahagiaan mereka juga semakin besar ketika tubuh dan jiwa mereka bersatu.






Ada orang yang bertanya, bagaimana bisa Allah yang begitu baik dan penuh kasih mengirim anak-anak-Nya ke dalam neraka? Pertama-tama, Allah tidak pernah mengirimkan siapapun ke dalam neraka. Tetapi manusia itu sendiri yang mengirim diri mereka ke dalam neraka. Ketika kita melakukan dosa berat (dengan kesadaran penuh, secara sengaja dan dilakukan secara bebas), maka kita secara sadar telah menolak kuasa Allah. Hal ini lebih dari sekedar pembangkangan terhadap sebuah hukum. Dosa adalah penyakit bagi jiwa. Sama halnya seperti ada tumor jinak dan ganas, jadi, ada dosa ringan dan dosa berat. Dosa berat adalah seperti tumor ganas karena ia mematikan dan bisa membunuh kehidupan rahmat. Hanya sakramen penebusan dosa (pengakuan dosa) yang bisa menghapus dosa berat itu bagi umat Katolik, seperti halnya seorang ahli kanker yang bisa menyingkirkan dan membunuh tumor dengan operasi atau menghancurkannya dengan radiasi atau kemoterapi.

Tuhan lebih suka jika setiap orang masuk ke dalam surga, tapi Dia memberi kita 'kehendak bebas'. Manusia diciptakan menurut gambaran dan rupa Allah. Tuhan memiliki Akal Ilahi dan sebuah Kehendak Tuhan. Manusia memiliki kecerdasan rasional dan kehendak bebas. Kehendak bebas ini tidak berarti bahwa kita memiliki kebebasan untuk melakukan apapun yang kita inginkan. Saya tidak bisa melawan hukum gravitasi dan berjalan melampaui atap rumah saya dengan berharap untuk tidak jatuh. Saya dapat dengan bebas memilih untuk berjalan melampaui atap itu, tetapi akibat dari pilihan saya ini (terjatuh) tidak berada di bawah kendali saya. Hukum gravitasi tetap bekerja, entah saya mau atau tidak. Demikian juga saya bisa dengan bebas memilih untuk berbuat dosa dan melanggar Perintah-perintah Allah, tetapi akibat dari pilihan bebas saya ini berada diluar kendali saya. Jika saya berbohong, mencuri atau membunuh seseorang, pasti ada konsekuensinya, tidak hanya konsekuensi hukum saja. Orang yang tidak bersalah akan terluka oleh perbuatan saya. Penderitaan akan terjadi. Dan saya akan dihukum, baik dalam kehidupan ini atau kehidupan berikutnya.

Karena Allah memberi kita kehendak bebas, Dia menghormati kehendak atau keinginan kita ini meskipun ia digunakan untuk menolak Dia. Jadi jika seseorang memilih neraka, bukan Surga, maka Allah tetap menghormati pilihan orang ini. Jika Allah campur tangan dan menghalangi kehendak bebas kita, maka kita tidak lagi menjadi manusia. Kita menjadi binatang yang bertindak dengan instink. Komputer bekerja melalui program. Tetapi manusia, memiliki kehendak bebas, dan kita melakukan keputusan moral yang memiliki akibat-akibat yang bisa meluas. Inilah yang disebut sebagai tanggung jawab moral. Saya tidak bisa menyalahkan masyarakat, iblis, atau orang-orang lain, atau yang salah adalah genetika manusia atas dosa yang saya lakukan. Anda dan saya secara bebas memilih untuk berbuat baik atau jahat.  

Sementara itu Gereja bisa secara pasti dan tidak salah menyatakan bahwa seseorang berada di Surga sebagai seorang kudus, maka Gereja juga tak pernah mengumumkan atau menyatakan seseorang berada di dalam neraka. Hal ini karena Kerahiman Allah itu menakjubkan dan misterius. Ada sebuah kemungkinan bagi seorang pendosa untuk bertobat atas dosanya dan memohon pengampunan dari Allah. Namun yang menyedihkan, ada juga kemungkinan seorang pendosa bersikap keras kepala dan secara bebas menolak rahmat pertobatan dari Allah. Inilah sebabnya neraka itu adalah dimunginkan bagi setiap orang dan hal itu haruslah dihindari dengan segala cara. Neraka itu tak bisa dihindari. Dan tak seorangpun yang dirancang untuk masuk neraka. Selalu ada harapan selama seseorang masih hidup. Hanya setelah kematian maka pertobatan itu menjadi terlambat. Penghakiman khusus, terjadi pada saat kematian seseorang. Penghakiman umum terjadi pada saat Akhir Zaman dimana hal ini merupakan pengesahan dari apa yang dilakukan saat Penghakiman khusus, namun kali ini disaksikan oleh setiap orang.



Seringkali orang berpikir bahwa hanya yang terburuk saja yang masuk neraka. Tetapi tolong diingat, hanya karena satu dosa berat saja sudah bisa membuat anda masuk neraka selamanya. Ini bukanlah permainan angka, atau di mana dan bagaimana Tuhan menghitung dan menimbang perbuatan baik dan perbuatan buruk anda. Yang jelas, jika saya melakukan dosa setiap hari, sangat mungkin saya akan berada dalam keadaan berdosa ketika saya meninggal dan menerima Penghakiman khusus. Di sisi lain, jika anda berbuat baik dan menghindari perbuatan jahat setiap hari dalam kehidupan anda, sangat mungkin bahwa anda dalam keadaan siap untuk menerima penghakiman kapan pun hal itu terjadi. Jika kita 'tidak tahu hari atau jamnya', maka sangatlah bijaksana bagi kita untuk selalu siap setiap hari dengan terus menerus berusaha berada dalam keadaan rahmat (yaitu terbebas dari dosa berat). Bunda Fatima menunjukkan kepada anak-anak visiuner disana (St. Jacinta, St. Francisco dan Sr. Lucia) sebuah penglihatan tentang neraka dan jiwa-jiwa yang disiksa di sana. Dia mengatakan bahwa banyak jiwa pergi ke sana karena tidak ada yang berdoa untuk mereka. Bunda Maria mendesak anak-anak itu untuk menyebarkan pesan bahwa Yesus ingin kita berdoa bagi pertobatan orang-orang berdosa; untuk menyelamatkan jiwa-jiwa dari neraka, dengan berdoa (misalnya Rosario) bagi mereka. Salah satu karya kemurahan hati adalah memberi peringatan atau teguran kepada orang yang  berdosa. Terlalu sering ada orang yang melakukan hal-hal yang buruk dimana orang-orang lainnya tetap diam, bukannya memberikan koreksi persaudaraan Kristiani (yang selalu dilakukan dengan kemurahan hati, kebijaksanaan dan kehati-hatian).

Realitas keberadaan neraka hendaknya membangunkan umat Kristiani agar menjalani kehidupan moral yang baik dan selalu berdoa bagi sesamanya dan memberi contoh yang baik kepada mereka. Realitas keberadaan Surga adalah menjadi tujuan hidup kita, sementara rasa takut akan neraka adalah sarana pencegahan yang baik. Hendaknya kita lebih menginginkan Surga daripada ingin menghindari kutukan.  


* * * * * * * * *





Penerapan praktis:

Seperti yang diminta Bunda Maria di Fatima, marilah kita berdoa setiap hari bagi orang-orang berdosa yang malang yang tidak memiliki seorangpun yang berdoa bagi mereka dan tidak ada yang mempersembahkan kurban demi keselamatan mereka. Marilah kita juga berusaha untuk melaksanakan dan menyebarkan devosi kepada Hati Maria yang Tak Bernoda!

Pada saat yang sama, janganlah kita sampai terjatuh ke dalam perangkap modern yang menganggap bahwa dosa itu bukan lagi dosa. Tidak peduli apa yang dikatakan oleh dunia atau media massa, dosa adalah tetap dosa apakah itu berupa dosa perzinahan, homoseksualitas, aborsi ataupun penghujatan! Dan dosa berat akan membawa jiwa ke dalam neraka!

Namun tidak peduli betapapun beratnya dosa, Tuhan akan selalu mengampuni orang berdosa yang bertobat atas dosa mereka dan memperbaiki kehidupan mereka. Jika anda tahu ada seseorang yang hidup dalam dosa, berdoalah bagi mereka dan doronglah mereka untuk mencari pengampunan Allah di dalam Sakramen pengakuan dosa. Tuhan kita Yesus Kristus menunggu untuk mengampuni orang berdosa seperti halnya ayah, dalam perumpamaan Injil, yang menunggu untuk mengampuni dan menyambut anak yang hilang.

Setelah kita mengakukan dosa-dosa kita dan mendapatkan pengampunan, janganlah kita membiarkan kegelisahan atau rasa bersalah menghantui kita, atau membiarkan iblis membuat kita kehilangan pengharapan. Marilah kita selalu mengingat kuasa kerahiman Tuhan, seperti yang diungkapkan oleh St. John Vianney, Cure D'Ars yang terkenal itu dan santo pelindung para imam:


"Dosa kita tidak lain hanyalah sebutir pasir di samping
gunung besar dari kerahiman Tuhan! "


Silakan melihat artikel lainnya disini : http://devosi-maria.blogspot.co.id/

No comments:

Post a Comment