Friday, December 8, 2017

COBAAN TERBESAR ATAS GEREJA DI SAAT AKHIR ZAMAN

COBAAN TERBESAR ATAS GEREJA DI SAAT AKHIR ZAMAN

paulsimeon2014
December 7, 2017

Katekismus Gereja Katolik no. 675 mengatakan bahwa gereja akan melewati sebuah ‘cobaan terbesar’ di saat Akhir Zaman, menjelang Kedatangan Kedua dari Yesus Kristus :

675. Sebelum kedatangan Kristus, Gereja harus mengalami ujian terakhir yang akan menggoyahkan iman banyak orang. Penghambatan, yang menyertai penziarahannya di atas bumi, akan menyingkapkan "misteri kejahatan". Satu khayalan religius yang bohong memberi kepada manusia satu penyelesaian semu untuk masalah-masalahnya sambil menyesatkan mereka dari kebenaran. Kebohongan religius yang paling buruk datang dari Anti-Kristus, artinya dari mesianisme palsu, di mana manusia memuliakan diri sendiri sebagai pengganti Allah dan Mesiasnya yang telah datang dalam daging.

Mungkin Kita Telah Sampai Di Saat ‘Akhir Zaman’ Itu

 

Dalam sebuah wawancara baru-baru ini dengan media the Catholic Herald yang terbit pada 30 November 2017 lalu, Kardinal Raymund Burke, mantan prefek Apostolik Signatura, mengatakan bahwa "kebingungan, perpecahan dan kesalahan" di dalam Gereja Katolik berasal dari "para gembala" bahkan pada tingkat tertinggi dimana hal ini menunjukkan bahwa "mungkin kita telah sampai di Akhir Zaman". Dia berkata:

Pada saat sekarang ini ada kebingungan dan kesalahan tentang ajaran Gereja yang paling mendasar, misalnya yang berkaitan dengan pernikahan dan keluarga. Misalnya, adanya gagasan bahwa orang-orang yang berada dalam relasi tidak wajar (bercerai dan menikah lagi secara sipil) boleh menerima Sakramen-sakramen adalah merupakan pelanggaran terhadap kebenaran dalam kaitannya dengan tidakterceraikannya pernikahan dan kesucian Ekaristi. Ada perasaan bahwa di dunia sekarang ini yang didasarkan pada sekularisme dengan pendekatan antroposentris sepenuhnya, dimana dengan hal itu kita berpikir bahwa kita dapat menciptakan makna hidup dan makna keluarga kita sendiri dan seterusnya, maka Gereja sendiri nampaknya menjadi bingung. Dalam hal ini seseorang mungkin memiliki perasaan bahwa Gereja memberi kesan tidak mau mematuhi amanat Tuhan kita. Jadi mungkin saja kita sudah sampai pada saat Akhir Zaman.

Kardinal Burke bukanlah satu-satunya pejabat Gereja yang secara terbuka memperingatkan bahwa kita mungkin telah berada di saat Akhir Zaman, dan bahwa Kedatangan Kedua dari Yesus Kristus telah dekat. Uskup Athanasius Schneider, Pastor Linus Clovis, dan banyak lagi pejabat Gereja lainnya telah menggemakan pikiran Kardinal Burke ini.


Silakan membaca artikel-artikel berikuit ini:

Adakah Allah Katolik?

 

Tidak dapat dipungkiri bahwa Gereja saat ini berada di tengah krisis yang belum pernah terjadi sebelumnya, dengan para uskup secara terbuka menentang para uskup lainnya dalam hal-hal yang mendasar mengenai iman dan moral. Krisis di dalam Gereja ini, sayangnya, mendapatkan sumber utamanya pada diri Paus kita sendiri. Banyak pernyataan kontroversial dan membingungkan yang dibuat oleh Paus tetap tidak terjawab. Misalnya, dalam sebuah wawancara dengan editor atheis La Republicca, Eugenio Scalfari, Paus berkata: "Saya percaya kepada Tuhan, tetapi bukan Tuhan Katolik. Yesus adalah guru saya dan pastor saya, tapi Tuhan, Bapa, Abba, adalah terang dan Pencipta."

Pernyataan seperti ini nampak menunjukkan bahwa Yesus (menurut PF) hanyalah seorang ‘guru’ dan ‘pastor’, dan tidak setara dengan Allah Bapa. Pernyataan tersebut juga mengisyaratkan bahwa semua agama memiliki interpretasi yang sama tentang sifat Tuhan, yang jelas tidak sesuai dengan kenyataan. Agama tertentu, tidak mengakui Tritunggal Mahakudus, dan tidak mengakui Yesus sebagai Tuhan. Jadi,memang ada pemahaman Katolik tentang Tuhan, pemahaman Trinitarian tentang Tuhan.

Relativisme Moral

 

Dalam sebuah wawancara kontroversial lain dengan Scalfari, Paus mengatakan bahwa tidak ada satu pandangan yang sama tentang kebaikan dan kejahatan (sudut pandang seperti ini disebut sebagai ‘relativisme moral’, sebuah ajaran sesat yang dikutuk oleh banyak paus dan Katekismus Gereja Katolik). Lalu Scalfari bertanya kepada Paus: "Yang Mulia, apakah memang tidak ada satu pandangan saja tentang Kebaikan? Dan siapa yang menentukan hal itu?” Paus menjawab: "Masing-masing dari kita memiliki pandangan sendiri-sendiri tentang Kebaikan dan juga Kejahatan. Kita harus mendorongnya (pandangan itu) untuk bergerak menuju apa yang dirasakan orang sebagai kebaikan ... Saya mengulanginya. Setiap orang memiliki ide sendiri tentang Kebaikan dan Kejahatan dan orang harus memilih untuk mengikuti yang Baik dan melawan yang Jahat saat dia telah memahaminya. Hal ini saja sudah cukup untuk memperbaiki dunia."

Scalfari: Pope Francis Telah MenghapusSurga, Neraka Dan Api Penyucian


Dalam sebuah wawancara kontroversial baru-baru ini yang diterbitkan di media La Repubblica, Eugenio Scalfari mengklaim bahwa Paus Fransiskus telah "menghapus" surga, neraka dan api penyucian. Scalfari berkata:

Paus Fransiskus ... telah menghapus tempat-tempat di mana, setelah kematian, jiwa-jiwa harus menuju: Neraka, Api Penyucian, Surga... Paus Fransiskus, saya ulangi, telah menghapus tempat tinggal abadi itu bagi jiwa. Tesis yang dipegangnya adalah bahwa jiwa-jiwa yang telah dikuasai oleh kejahatan dan tidak mau bertobat, akan musnah begitu saja, sementara itu orang-orang yang ditebus dari kejahatannya akan masuk ke dalam kebahagiaan, dan merenungkan Tuhan.

Kutipan kontroversial yang dikaitkan dengan paus oleh Scalfari ini, tetap tidak dikoreksi oleh publik sampai hari ini. Desakan Paus untuk terus mencari Scalfari guna melakukan wawancara dan diskusi-diskusi (dengan direkam) telah membenarkan tuduhan orang banyak bahwa Paus telah salah dalam mengartikan hal ini.

Penunjukan Yang Kontroversial Oleh Paus

 

Paus Fransiskus juga telah menunjuk banyak pejabat radikal liberal bagi posisi-posisi yang penting dalam hierarki Gereja. Dia menunjuk Uskup Agung Vincenzo Paglia yang kontroversial sebagai kepala Akademi Kepausan untuk Kehidupan. Uskup Agung Paglia adalah pendukung kuat dari hubungan homosex - kenyataannya, dia telah menugaskan pemasangan sebuah gambar mural yang erotis di dalam gereja katedralnya pada tahun 2007 yang menampilkan gambar-gambar homoseksual dalam posisi yang mengkompromikan kegiatan seksual. Mural itu termasuk Uskup Agung Paglia sendiri.






Paus Fransiskus juga menunjuk kembali Albrecht von Boeslager, mantan Kanselir Agung Ordo Malta yang memerintahkan untuk mendistribusikan kondom kepada umat. Von Boeslager sebelumnya dipecat oleh Matthew Festing, kepala Ordo tersebut, karena mendistribusikan kondom. Paus kemudian turun tangan, mengangkat kembali Von Boeslager, dan meminta pengunduran diri Festing.

Paus juga telah "membangkitkan" karir Kardinal Godfried Danneels dari Belgia, seorang pendukung terkenal dari perkawinan sejenis, homosex, pemakaian alat kontrasepsi, dan bahkan aborsi (Kardinal ini diketahui telah mengajukan usulan kepada Raja Belgia untuk melegalkan aborsi). Kardinal Danneels diberi kehormatan untuk mengucapkan doa bagi Paus selama saat pelantikan paus; dia juga ditunjuk sebagai penasihat khusus selama dua kali Sinode mengenai Keluarga (yang kemudian melahirkan Amoris Laetitia).

Apakah Amoris Laetitia Mengijinkan Penerimaan Komuni Oleh Umat Katolik Yang Bercerai Dan  Menikah Lagi?


Anjuran Apostolik Amoris Laetitia telah melahirkan berbagai penafsiran yang saling bertentangan yang dibuat oleh para uskup dalam aspek yang paling kontroversial: apakah umat Katolik yang bercerai atau menikah kembali, dapat menerima Komuni?

Keuskupan Malta, Buenos Aires, dan Jerman telah membuat pernyataan yang mengijinkan pemberian Komuni bagi orang Katolik yang bercerai dan menikah kembali. Hal ini didukung oleh PF, yang dibuktikan dengan dukungannya terhadap pedoman yang dikeluarkan oleh para uskup Buenos Aires melalui sebuah surat di mana PF mengatakan bahwa "tidak ada tafsiran lainnya" selain membiarkan orang yang bercerai dan menikah lagi untuk menerima Komuni.

Sekretaris Vatikan Kardinal Pietro Parolin mengungkapkan pada tanggal 5 Desember 2017 bahwa Paus telah memerintahkan penerbitan surat tersebut kepada para uskup Buenos Aires di situs Vatikan dan di dalam "Acta Apostolicae Sedis (AAS)," yang merupakan catatan resmi dari dokumen dan keputusan Vatikan. Ini membuat surat PF kepada uskup-uskup Buenos Aires merupakan tindakan kepausan yang resmi – dan oleh karena itu sangat jelas sekali bahwa PF berusaha mengubah ajaran Gereja dengan membiarkan orang-orang Katolik yang bercerai dan menikah kembali untuk menerima Komuni (tanpa anjuran untuk menyesal dan menerima Sakramen Tobat).

Namun, banyak uskup dari negara-negara lain, seperti Polandia misalnya, telah mengeluarkan pedoman yang menegaskan kembali larangan Gereja untuk memberikan Komuni kepada orang yang bercerai dan menikah lagi.

Bertentangan Dengan Ajaran Gereja

 

Sikap PF mengenai umat Katolik yang bercerai dan menikah kembali ini bertentangan dengan Ajaran Gereja, yang jelas-jelas tidak mengijinkan umat Katolik yang bercerai dan menikah lagi untuk menerima Ekaristi. Paus St.Yohanes Paulus II, dalam paragraf 84 Familiaris Consortio, menulis: "Gereja menegaskan praktiknya, yang didasarkan kepada Kitab Suci, untuk tidak memberikan Komuni Ekaristi kepada umat yang bercerai dan menikah lagi", kecuali mereka mau hidup bersama ‘tanpa berhubungan sebagai suami-istri’.

Kongregasi untuk Ajaran Iman, yang kemudian dipimpin oleh Kardinal Joseph Ratzinger, dalam sebuah surat yang dikirim kepada para uskup pada tanggal 14 September 1994, dengan gigih mengajarkan: "Gereja menegaskan bahwa sebuah perkawinan baru tidak dapat dianggap sah jika perkawinan sebelumnya adalah sah. Jika orang yang bercerai itu menikah lagi secara sipil, maka mereka berada dalam situasi yang secara obyektif bertentangan dengan hukum Tuhan. Akibatnya, mereka tidak bisa menerima Komuni Kudus selama situasi ini masih berlanjut."

Uskup-Uskup Dan Para Teolog Yang Setia, Berbicara


Banyak uskup, imam dan konferensi wali gereja telah berbicara mengenai masalah ini, dengan tegas mengingatkan umat beriman bahwa ajaran tradisional Gereja tentang Ekaristi, Perkawinan, kebenaran moral yang mutlak, serta pertobatan, adalah tetap tidak berubah, terlepas dari Amoris Laetitia. Yang paling menonjol dari pernyataan publik ini adalah berupa Dubia yang disampaikan oleh empat orang kardinal, yang secara terbuka meminta PF untuk menjawab lima pertanyaan "ya" atau "tidak" pada masalah inti dari iman yang telah menjadi kacau oleh karena Amoris Laetitia. Tetapi sampai saat ini, PF telah menolak untuk menjawab Dubia tersebut.

Dalam sebuah tindakan atau gerakan yang belum pernah terjadi sebelumnya, yang tidak pernah  terlihat sejak Abad Pertengahan, ada 79 orang klerus dan ilmuwan awam, yang berasal dari lebih dari 20 negara di seluruh dunia, telah mengeluarkan apa yang mereka sebut sebagai "Koreksi Persaudaraan (koreksi filial)" kepada PF karena telah "menyebarkan kesesatan." Koreksi ini disampaikan kepada PF di kediamannya, Santa Marta, pada tanggal 11 Agustus 2017. Koreksi Filial ini dalam bentuk surat sebanyak 25 halaman, memuat tanda tangan dari tujuh puluh sembilan orang klerus, akademisi, teolog, dan ilmuwan Katolik di berbagai bidang dari dua puluh negara. Mereka menegaskan bahwa PF telah mendukung sikap yang sesat tentang pernikahan, kehidupan moral, dan Ekaristi, yang menyebabkan munculnya serangkaian "kesesatan dan kesalahan lainnya" yang menyebar ke seluruh Gereja Katolik.

Baru-baru ini, para teolog terkemuka Amerika Serikat dan Inggris telah mengeluarkan teguran terbuka terhadap Paus, dan memintanya untuk mengklarifikasi ajarannya. Pastor Thomas G. Weinandy, OFM, Cap., mantan kepala Komite Uskup untuk Doktrin di Amerika Serikat dan anggota Komisi Teologi Internasional Vatikan saat ini, mengatakan bahwa PF telah menyebabkan "kebingungan kronis" melalui ajarannya yang tidak jelas dan dengan menunjuk para imam/uskup/cardinal yang tingkah lakunya "mengacaukan" umat beriman untuk menduduki jabatan strategis di Vatikan. Dia mengatakan bahwa kepausan PF "telah memberi kesempatan kepada orang-orang yang memiliki pandangan teologis dan pastoral yang berbahaya untuk memiliki kebebasan dan kepercayaan diri untuk dikenal dan memamerkan keburukan yang sebelumnya mereka sembunyikan," yang pada suatu saat nanti, harus diperbaiki.

Pastor Aidan Nichols, yang dikenal luas sebagai teolog terkemuka Inggris, juga mengatakan bahwa anjuran PF Amoris Laetitia telah menyebabkan situasi yang "sangat serius" didalam Gereja Katolik. Pastor Nichols mengusulkan bahwa, mengingat pernyataan sesat dari PF mengenai isu-isu termasuk perkawinan dan hukum moral, maka Gereja memerlukan "sebuah prosedur untuk menegur dan memerintahkan seorang paus yang mengajarkan kesesatan" (agar segera memperbaiki kesalahannya).

Bagaimana Tentang Sumpah Kesetiaan?


Apakah para imam dan uskup berkewajiban, karena sumpah setia mereka, untuk mengikuti Paus bahkan jika Paus mengajarkan sebuah ajaran sesat yang sangat nyata? Kita perlu mengingat bahwa Gereja yang mengajarkan bahwa Paus tidak dapat salah, hal ini hanya berlaku dalam keadaan tertentu dan yang sangat terbatas, terutama didalam deklarasi ex-cathedra. Uskup Athanasius Schneider secara terpaksa telah menjawab keprihatinan ini dalam sebuah wawancara baru-baru ini.

"Sebagai orang Katolik," dia mengatakan, maka kita harus "tunduk, (secara kanonik) kepada Paus, kepada Wakil Kristus, untuk menerima otoritasnya, untuk menghormatinya, untuk mendoakannya, dan untuk memiliki kasih yang supernatural kepadanya. "Tetapi,” dia menambahkan, "hal ini tidak berarti sebuah ketaatan yang buta; tentu saja bukan karena kita tidak berada dalam kediktatoran." Uskup Schneider merenungkan contoh St.Catherine dari Siena, yang diakui oleh Gereja sebagai orang kudus dan Doktor Gereja. Sementara St.Catherine selalu memiliki "rasa hormat yang sangat dalam kepada Paus serta rasa kasih yang mendalam kepadanya," namun dia telah "menulis beberapa surat kepada Paus dengan isi yang sangat keras" dan dengan tepat St.Catherine menasihati paus, yang dia lakukannya "dengan rasa kasih kepadanya."

"St.Catherine menulis sebuah surat kepada Paus (Gregorius XI), 'Bapa Suci jika anda tidak mau bertobat, tolong turunlah segera!, lepaskan kepausan anda. Saya menulis ini karena kasih saya kepada pribadi anda, demi keselamatan kekal anda, dan demi Gereja.' " Surat ini dan sikap yang ada di baliknya,” kata Schneider, "bukanlah bersikap atau bertujuan skismatik, dan sama sekali tidak melawan Paus."

Tetaplah Didalam Kebenaran Kristus 

 


Doa kita, adalah bahwa di dalam masa-masa yang sulit ini, di tengah "cobaan terbesar" atas Gereja mejelang Kedatangan Kedua dari Tuhan kita, agar para imam dan uskup kita selalu berada di dalam Kebenaran Kristus.

Silakan melihat artikel lainnya disini : http://devosi-maria.blogspot.co.id/

No comments:

Post a Comment