Thursday, December 28, 2017

Uskup Schneider:12 LANGKAH UNTUK BERTAHAN

Uskup Schneider:

12 LANGKAH UNTUK BERTAHAN SEBAGAI SEBUAH KELUARGA KATOLIK 
DI TENGAH PADANG GURUN KESESATAN SAAT INI 


John-Henry Westen interviewing Bishop Schneider, Rome, May 2016.
  
by Pete Baklinski

ROMA, 27 Mei 2016 (LifeSiteNews) – Sementara pertarungan untuk memperebutkan jiwa atau inti keluarga serta seluruh anggotanya semakin meningkat di seluruh dunia, dengan berbagai dorongan untuk melakukan anarki seksual yang berkedok sebagai "pendidikan," dengan melemahkan pengertian atas apa yang benar-benar laki-laki dan benar-benar perempuan dengan alasan "hak gender", serta penghancuran atas perkawinan yang disamarkan sebagai "kesetaraan," maka masih ada seorang pemimpin spiritual yang telah pernah mengalami penderitaan teror dari rezim komunis, yang telah menyusun rencana untuk bisa bertahan hidup bagi orang tua Katolik yang mendapati diri mereka berada dalam lingkungan yang tidak bersahabat dari dunia sekuler, serba relativ, namun ingin membesarkan anak-anak mereka agar menjadi warga dari Surga nantinya. 
Uskup Athanasius Schneider dari Kazakhstan mengatakan kepada media LifeSiteNews dalam sebuah wawancara eksklusif awal bulan ini bahwa orang tua Katolik harus memandang serius tugas utama mereka: membesarkan anak-anak mereka di dalam iman, jika anak-anak mereka diharapkan bisa mengatasi pengaruh-pengaruh negatif dan bahkan pengaruh-pengaruh keras yang mendesak dari segala penjuru dan berusaha untuk menghancurkan anak-anak yang tak berdosa itu. 
Dalam sebuah wawancara panjang lebar, yang meliputi pengalamannya sebagai anak Katolik yang tumbuh di bawah rejim komunisme, pemikirannya tentang apa artinya menjadi keluarga Katolik saat ini, pemikirannya tentang pendidikan, paroki-paroki dan keuskupan-keuskupan yang buruk yang dikelola oleh imam-imam dan uskup-uskup yang didorong oleh agenda-agenda sesat, serta pandangannya tentang bagaimana umat awam yang setia harus memperhatikan dan mengkhawatiran tentang tingkah laku Paus Fransiskus, maka uskup Athanasius Schneider memberikan pedoman dua belas langkah yang menurutnya harus dilakukan oleh para orang tua Katolik untuk melindungi keluarga dan anak-anak mereka. 
Uskup Athanasius Schneider berkata bahwa untuk bisa bertahan hidup di tengah padang gurun kesesatan saat ini, maka orang tua Katolik haruslah :
  1. Memandang penganiayaan yang terjadi saat ini sebagai rahmat dari Allah, agar diri kita bisa dimurnikan dan dikuatkan, bukan menganggapnya hanya sebagai sesuatu yang negativ saja.  
  2. Berakarlah di dalam iman Katolik dengan banyak mempelajari Katekismus.
  3. Lindungilah keutuhan keluargamu lebih dari segalanya.
  4. Berikanlah ajaran-ajaran Kristus kepada anak-anakmu sebagai tugasmu yang utama.
  5. Berdoalah bersama anak-anakmu setiap hari, dengan berdoa rosario, litani, dll.
  6. Jadikanlah rumahmu sebagai sebuah gereja domestik.
  7. Jika tidak ada imam untuk merayakan Misa hari Minggu, lakukanlah Komuni rohani.
  8. Jauhkanlah keluargamu dari paroki atau wilayah yang menyebarkan kesesatan dan ikutlah di paroki lain yang masih setia kepada ajaran Kristus, meskipun kamu harus menempuh perjalanan yang jauh.
  9. Jauhkanlah anak-anakmu dari sekolah jika disitu ada bahaya penyebaran ajaran sex yang tak bermoral.
  10. Jika kamu tak bisa menjauhkan anak-anakmu dari tempat-tempat yang menyebarkan kesesatan itu, bentuklah kelompok di antara orang tua untuk memerangi hal itu.
  11. Berusahalah untuk menegakkan hak orang tua untuk mendidik anak-anaknya dengan menggunakan sarana-sarana demokratis yang ada.
  12. Bersiaplah menghadapi penganiayaan demi melindungi anak-anakmu. (lihat point pertama).

Uskup Athanasius Schneider mengatakan bahwa menjadi "keluarga" Katolik dalam arti sebenarnya, adalah kunci untuk bertahan hidup. 
"Dari pengalaman saya di saat mengalami penganiayaan Komunis dulu, yang terpenting adalah keluarga, integritas atau keuutuhan keluarga, dan agar kedua orang tua berakar kuat di dalam iman. Hal ini kemudian ditularkan kepada anak-anak. Saya ingin mengatakan bahwa anak-anak harus menerima iman dengan susu ibunya. Dan kemudian tugas pertama orang tua adalah menularkan kepada anak-anaknya kemurnian, keindahan, integritas iman Katolik dengan cara yang sederhana." 
Dia mengatakan bahwa orang tua perlu bangkit untuk bertanggung jawab menciptakan lingkungan di dalam rumah di mana anak-anak dapat berkembang secara spiritual. 
"Saya pikir ini adalah tugas utama keluarga: membangun budaya gereja domestik," katanya. 
Jika anak-anak diracuni di luar rumah, seperti di sekolah, melalui program-program pendidikan seks yang hedonistik dan nihilistik, maka orang tua memiliki "kewajiban" untuk mengeluarkan anak-anak mereka dari sekolah itu. 
"Anda tidak bisa menghadapkan anak-anak anda kepada bahaya tak bermoral. Hal itu tidak mungkin bisa diterima. Orangtua Katolik, dalam membela anak-anak mereka dari amoralitas ini, bahkan harus siap untuk menderita, ya, untuk menderita akibat-akibatnya," kata Uskup Schneider. Jika undang-undang suatu negara membuat penarikan atau mengeluarkan anak-anak itu dari sekolah tidak mungkin dilakukan, dia menambahkan, maka para orang tua harus bersatu dan memperjuangkan haknya dengan menggunakan sarana demokrasi apa pun yang tersedia. 
Jika anak-anak diracuni dari atas mimbar kotbah, maka logika yang sama juga berlaku dan orang tua harus mencari paroki-paroki lain yang tetap setia kepada kebenaran Kristus, dan menyebut para imam dan uskup yang tidak setia itu sebagai "pengkhianat iman." 
"Jika pastor-pastor atau anggota hirarki Gereja bertindak bertentangan dengan ajaran Kristus, ajaran Magisterium Gereja yang abadi, ajaran dari Katekismus, maka anda harus menarik anak-anak anda dari Gereja-gereja ini, dan tidak usah pergi kesitu lagi, meski anda harus menempuh perjalanan 100 km (ke Gereja lain yang tetap setia kepada ajaran Kristus)." 
Uskup Schneider menceritakan bagaimana orang tuanya dulu sangat senang pindah ke sebuah lokasi di Uni Soviet dimana ada sebuah Gereja Katolik dalam jarak 100 kilometer dari rumahnya. 
"Saya pikir di dunia Barat, di Amerika Serikat, anda bisa menemukan Gereja yang mungkin lebih dekat dari 100 kilometer, di mana mungkin ada seorang imam yang baik dan setia kepada Kristus. Karena itu, hindarilah gereja-gereja dimana kesesatan disebarkan. Tempat-tempat seperti itu akan menghancurkan iman umat Katolik. Gereja-gereja ini sedang menghancurkan, bukan membangun iman. Kita harus menghindarinya. Orang-orang seperti itu adalah para pengkhianat iman, meski mereka adalah imam ataupun uskup," demikian kata Uskup Schneider. 
Uskup Schneider kemudian memberikan nasehat mengenai bagaimana umat Katolik yang setia, yang mengasihi Paus dan tidak ingin merusak institusi kepausan, bisa mengekspresikan diri mereka dalam mengemukakan kekhawatiran tentang tingkah laku Paus Fransiskus.
Gereja tidaklah dijalankan seperti sebuah ‘kediktatoran,’ di mana tidak ada orang yang boleh "bertentangan dengan sang diktator," katanya; dan dia menambahkan bahwa Bapa Suci adalah "ayah kita" dan umat Katolik tidak boleh takut untuk menyuarakan kepedulian dan keprihatinan mereka kepadanya di dalam mengelola Gereja. 
Dia mengakhiri wawancara kepada LifeSiteNews dan pendukungnya dengan memberikan berkatnya. "Tuhan memberkati anda dan lanjutkanlah tugas suci yang amat berharga dari anda ini demi keluarga dan perkawinan dan demi Injil serta Gereja," katanya.
Silakan melihat artikel lainnya disini : http://devosi-maria.blogspot.co.id/

No comments:

Post a Comment