Friday, February 17, 2017

Vol 2 - Bab 59 : Cara-cara untuk menghindari Api Penyucian


Volume 2 : Misteri Kerahiman Allah

Bab 59

Cara-cara untuk menghindari Api Penyucian
Hak istimewa didalam skapulir suci
Pastor de la Colombiere Venerabilis
Rumah Sakit di Toulon
the Sabbatine
St.Teresa
Wanita di Otranto

Sesuai dengan apa yang telah kami katakan, Sang Perawan Terberkati telah menyematkan dua buah hak istimewa kepada skapulir suci. Selain itu Bapa Suci juga menambahkan banyak indulgensi kepadanya. Disini kita tidak membicarakan dua macam indulgensi itu. Namun kita ingat bahwa adalah bermanfaat untuk memperkenalkan dua buah hak istimewa ini. Yang satu disebut ‘meluputkan dan yang kedua ‘membebaskan’.
Yang pertama adalah diluputkannya atau dibebaskannya seseorang dari siksaan-siksaan neraka : In hoc moriens aeternum non patietur in cendium --- dia yang meninggal dengan mengenakan skapulir ini, tidak akan menderita api neraka”. Nyatalah bahwa dia yang meninggal dalam keadaan dosa berat, meskipun dia mengenakan skapulir, tak akan dibebaskan dari kutukan. Tetapi bukan inilah yang dijanjikan oleh Maria. Ibu yang amat baik ini berjanji dengan penuh kemurahan hati untuk memberikan segala hal sehingga orang yang meninggal dengan mengenakan skapulir suci itu akan menerima rahmat yang sangat bermanfaat sehingga dia layak dan sempat untuk mengaku dosa dan menyesali segala kesalahannya. Atau jika dia meninggal secara mendadak, dia akan masih memiliki waktu untuk melakukan penyesalan hati yang sempurna. Kita bisa menuliskan sebuah buku yang berisi peristiwa-peristiwa ajaib yang membuktikan pemenuhan dari janji-janji ini. Marilah kita menceritakan beberapa diantaranya.
Pastor de la Colombiere Venerabilis, menceritakan kepada kita ada seorang wanita muda, yang dulunya dia cukup baik dan rajin mengenakan skapulir suci. Namun dia tersesat dari jalan yang benar dari keutamaan iman. Akibat dari berbagai bacaan yang buruk serta lingkungan hidup yang berbahaya bagi jiwanya, wanita ini terjatuh kedalam kesalahan yang besar hingga hampir kehilangan kehormatannya. Bukannya dia lalu berpaling kepada Tuhan, dan meminta perlindungan kepada Perawan Terberkati, yang merupakan tempat pengungsian kaum pendosa, tetapi dia membiarkan dirinya didalam kekecewaan dan keputus-asaan. Setan segera menawarkan obat bagi segala kejahatannya itu, yaitu berupa tindakan bunuh diri, yang akan bisa mengakhiri kesedihannya yang bersifat sementara disini, tetapi yang semakin menceburkan dirinya kepada siksaan kekal nanti. Wanita ini berlari menuju ke sungai, dan masih mengenakan skapulir, dia menceburkan dirinya kedalam air. Tetapi, betapa sebuah keajaiban terjadi ! dia tidak tenggelam, tetapi hanyut dibawa air sungai itu dan dia tidak mati seperti yang diharapkannya. Seorang nelayan melihat dia dan segera menolongnya. Tetapi wanita itu menolaknya dan merenggutkan skapulirnya, dan melemparkan benda suci itu jauh-jauh dan segera saja dia tenggelam. Nelayan ini tak bisa menyelamatkan wanita itu namun dia bisa menemukan skapulir itu, dan mendapati bahwa ‘pakaian suci’ ini ketika masih dikenakan oleh wanita itu, telah berhasil mencegah pendosa itu untuk bunuh diri.
Di sebuah Rumah Sakit di Toulon, ada seorang pejabat, seorang yang tidak percaya kepada Tuhan, yang tidak mau bertemu dengan imam. Suatu saat, kematian mendatangi dia, dimana dia mengalami sakit parah. Seorang pembantunya memanfaatkan kesempatan ini dengan menaruh sebuah skapulir pada lehernya, tanpa sepengetahuannya. Setelah dia terbangun, dia berteriak-teriak :”Mengapa kamu menaruh api pada diriku, api yang membakar aku ? Ambillah, ambillah !”. Lalu orang-orang menyerukan kepada Perawan Terberkati dan berusaha menaruh kembali skapulir itu pada lehernya. Orang yang sakit itu merasakan hal ini dan dia menariknya keras-keras serta melemparkannya jauh-jauh. Dan dengan umpatan-umpatan yang kotor pada bibirnya dia meninggal dunia.
Hak istismewa kedua yaitu Sabbatine atau pembebasan, yaitu dilepaskannya seseorang dari Api Penyucian oleh Perawan Terberkati pada hari Sabtu pertama setelah kematiannya. Untuk bisa mendapatkan hak istimewa ini, beberapa keadaan tertentu haruslah dipenuhi. Pertama, mempertahankan kemurnian. Kedua, mendaraskan doa the Little Office dari Perawan Terberkati. Mereka yang mendaraskan doa the Canonical Office sudah bisa memenuhi syarat ini. Mereka yang tidak bisa membaca, maka dia tidak usah mendaraskan doa the Office itu, tetapi dia haruslah berpuasa seperti yang dianjurkan oleh Gereja dan tidak makan daging pada hari Rabu, Jumat dan Sabtu. Yang ketiga, dalam hal yang perlu, maka kewajiban mendaraskan the Office, puasa, dan pantang, bisa digantikan oleh perbuatan baik lainnya, oleh mereka yang berkuasa untuk memberikan dispensasi ini. Inilah hak istimewa Sabbatine atau Pembebasan itu, beserta berbagai keadaan untuk melaksanakannya. Jika kita ingat apa yang dikatakan tentang kerasnya Api Penyucian dan lamanya waktu disana, maka kita akan menyadari bahwa hak istimewa ini sangatlah berharga sekali, dan syarat-syaratnya juga sangat mudah.
Kita tahu bahwa banyak orang yang meragukan otentisitas dari the Sabbatine Bull, tetapi disamping sebagai tradisi dan tindakan yang baik dari umat beriman, Paus Benediktus XIV yang pengetahuan dan pendapatnya cukup terkenal, telah mengumumkan karunia-karunia yang ada disitu.
Di Otranto, sebuah kota di kerajaan Naples, ada seorang wanita bangsawan yang mengalami rasa sukacita setelah mendengarkan kotbah dari seorang karmelit, P., yang menjadi penganjur dari devosi kepada Maria. Dia meyakinkan para pendengarnya bahwa semua umat Kristiani yang dengan setia mengenakan skapulir, dan memenuhi semua persyaratan yang dianjurkan, akan melihat Bunda Ilahi mereka pada saat kematian mereka, dan bahwa Si Penghibur yang agung dari orang-orang yang berduka ini, akan datang pada hari Sabtu setelah kematian mereka untuk membebaskan mereka dari Api Penyucian dan menuntun mereka menuju tempat tinggal dari orang-orang terberkati. Tersentuh oleh manfaat yang sangat besar ini, wanita itu segera mengenakan ‘pakaian’ dari Perawan Terberkati, dan berteguh hati untuk menjalankan aturan-aturan dari konfraternitas. Kesalehan dari wanita ini cepat sekali mengalami kemajuan. Dia berdoa kepada Maria siang dan malam, dan menaruh seluruh kepercayaannya kepada Maria serta berlindung kepada Maria dalam segala hal. Diantara karunia-karunia yang dia minta adalah agar dia meninggal pada hari Sabtu, agar dia bisa segera dibebaskan dari Api Penyucian. Doa-doanya didengarkan. Beberapa tahun kemudian, setelah menderita sakit, meskipun bertentangan dengan pendapat dokter yang merawatnya, dia mengatakan bahwa penyakitnya itu akan membawanya ke kuburnya. Dia berkata :”Aku memberkati Allah dengan harapan agar aku segera bisa dipersatukan denganNya di Surga”. Penyakitnya segera saja memburuk sehingga para dokter menyatakan bahwa dia pasti segera meninggal, dan bahwa dia tak akan bisa bertahan melewati hari itu, yaitu hari Rabu. “Sekali lagi anda salah”, kata wanita itu, “aku akan hidup tiga hari lagi, dan tidak akan mati sampai hari Sabtu nanti”. Peristiwa yang terjadi telah membenarkan perkataannya. Mengenai hari-hari penderitaannya itu merupakan harta yang tak terhingga besarnya bagi wanita itu, karena dia memanfaatkan penderitaan itu untuk memurnikan jiwanya dan meningkatkan jasa-jasa dari penderitaan itu baginya. Ketika hari Sabtu tiba, dia menyerahkan jiwanya kepada tangan dari Penciptanya.
Puterinya, yang juga amat saleh kehidupannya, merasa bersedih atas kehilangan itu. Ketika dia berdoa di kamar doanya bagi jiwa ibunya, sambil mencucurkan banyak air mata, ada seorang hamba Allah yang sering dikaruniai dengan kemampuan berkomunikasi adikodrati, datang kepadanya dan berkata :”Jangan menangis anakku, dan gantikanlah kesedihanmu itu dengan sukacita. Aku datang untuk meyakinkan kamu, demi Allah, bahwa hari ini, Sabtu, atas jasa dari hak istimewa yang diberikan kepada para anggota konfraternitas skapulir, ibumu telah masuk ke Surga, dan sudah terbilang diantara orang-orang pilihan. Terhiburlah dan berkatilah Sang Perawan Tersuci, Bunda Kerahiman”.



No comments:

Post a Comment