Wednesday, March 25, 2020

PENGUNGKAP KEBENARAN COVID-19 DAN PELECEHAN SEXUAL KLERUS


PENGUNGKAP KEBENARAN COVID-19 DAN PELECEHAN SEXUAL KLERUS



Dr. Li Wenliang & Uskup Agung Carlo Maria Viganò
Dua orang whistle blower (pengungkap kebenaran),
yang satu di Wuhan dan yang satu di Vatikan


Kematian dari pelapor dan pengungkap kebenaran, Dr. Li Wenliang, seorang dokter yang ditangkap oleh polisi Wuhan karena memperingatkan publik tentang ancaman mematikan virus corona, telah memicu ‘tingkat kemarahan kolektif dan kesedihan yang tak terlihat di media sosial China.’

Cara para pejabat pemerintah komunis Cina dalam menangani pandemi coronavirus sama dengan cara dari para pemimpin Gereja Katolik yang telah menutupi tingkat kegawatan sebenarnya dan penyebab sebenarnya dari pelecehan seks di kalangan klerus.

Sementara sebagian besar laporan pelecehan sexual selama beberapa tahun terakhir telah mengalir keluar dari Amerika Serikat, maka kantor Vatikan yang bertanggung jawab atas kasus-kasus pelecehan seks ulama telah melaporkan memproses 1.000 kasus pada tahun 2019 saja, dimana banyak laporan itu berasal dari negara-negara yang belum pernah terdengar sebelumnya. Perkembangan ini membuat beberapa pengamat Vatikan percaya bahwa "yang terburuk masih belum datang atau belum muncul."

Pada tahun 1985, pastor Dominikan, Thomas Doyle, telah memperingatkan para pejabat Vatikan dan semua uskup A.S. tentang konsekuensi serius dari banyaknya pelecehan seksual di kalangan klerus dalam laporannya yang ditulis bersama, "Masalah Penganiayaan Seksual oleh Klerus Katolik Roma: Mengatasi Masalah dengan Cara yang Komprehensif dan Bertanggung Jawab."

Cara para pejabat komunis China menangani Dr. Li Wenliang mengingatkan kita bagaimana para pemimpin Gereja memecat pastor Doyle dari posisinya di kedubes Apostolik di Washington, D.C. dan mengubur laporan rekan penulisnya. Saat itu, Uskup Agung Edwin O'Brien yang mencabut dukungan terhadap pastor Doyle dan kemudian Theodore McCarrick ikut-ikutan mencabut peran dan profesi imamat dari Doyle, serta mengancam Doyle agar dia tidak memberi tahu umat paroki tentang pelecehan anak di bawah umur, seminaris, dan dewasa muda, yang dia tahu sedang dilakukan dan ditutup-tutupi.

Sama seperti ratusan ribu orang akan bisa menghindari tertular virus korona seandainya para pejabat komunis Cina mau menerima saran dari Dr. Li Wenliang, begitu juga ada ribuan umat Katolik di AS dan ratusan ribu umat Katolik di dunia akan bisa menghindari tindakan pelecehan seksual oleh para imam jika saja para pejabat Gereja mau memperhatikan peringatan dari pastor Doyle dan tidak menutup-nutupi laporan pastor itu. Sementara Doyle memperingatkan bahwa harga untuk mengabaikan masalah ini dapat menelan biaya Gereja sebesar $ 1 miliar, ternyata Gereja AS sampai saat ini telah membayar hampir $ 4 miliar untuk penyelesaian pelanggaran dan biaya hukum dari kasus-kasus pelecehan sexual yang dilakukan oleh para anggotanya.

Doyle bukanlah satu-satunya ahli yang peringatannya diabaikan dan ditutup-tutupi. Pada tahun 2001 Boy Scouts of America sedang berdebat untuk menentukan apakah memungkinkan kaum homoseksual untuk bertindak sebagai scoutmasters. Lebih dari 20 tahun sebelumnya, para uskup Katolik sudah mulai menerima kaum gay untuk belajar menjadi imam sebagaimana didokumentasikan oleh pastor Dr. D. Paul Sullins dalam penelitiannya di tahun 2018, dalam bukunya "Report: Clergy Sexual Abuse."   Sebelum para pemimpin pramuka itu memutuskan untuk mengizinkan orang gay menjadi pemandu pramuka, mereka diperingatkan akan konsekuensinya yang serius oleh Dr. Judith Reisman, yang penelitiannya, bersama dengan teman-temannya yang lain, menunjukkan betapa "73% homoseksual mengakui telah memangsa para remaja atau anak laki-laki muda."


Semua institusi yang kuat tampaknya mencapai titik di mana mereka bekerja untuk melindungi diri mereka sendiri, bukannya melindungi orang-orang yang dirancang untuk dilayani oleh institusi-institusi itu. Tweet

Seperti yang kita ketahui sekarang, para pejabat Pramuka di Amerika Serikat mengabaikan peringatan Reisman dengan meyakini pendapat bahwa tidak ada hubungan antara pedofilia dan homoseksualitas. Namun, yang tidak bisa dipahami oleh para pemimpin pramuka itu adalah bahwa tidak seperti Cub Scouts, Boy Scouts, mereka adalah anak-anak pasca-puber dan bukan anak-anak pra-puber.

Hanya beberapa tahun setelah Boy Scouts mulai mengizinkan kaum gay untuk menjadi scoutmasters, para peneliti dari John Jay College of Criminal Justice melaporkan bahwa lebih dari 80% korban pelecehan seks klerus adalah anak-anak remaja pasca-puber. Para peneliti lebih lanjut menunjukkan bahwa hubungan antara homoseksualitas dan pedofilia tidak relevan karena kurang dari 5% imam-imam dengan menyandang tuduhan pelecehan sexual, menunjukkan perilaku yang konsisten dengan pedofilia."
 
Oleh karena itu, sementara homoseksual mungkin tidak menjadi ancaman bagi anak-anak pra-puber, tetapi seseorang tidak dapat berargumen bahwa imam-imam gay dan para scoutmaster tidak mengancam kaum pria dan anak laki-laki. Jika tidak ada risiko yang terlibat, maka Boy Scouts of America mungkin tidak akan mengumumkan pengajuan Bab 11 tentang Kebangkrutan pada 17 Februari 2020 seperti halnya lebih dari 20 keuskupan Katolik di Amerika Serikat dan ordo-ordo religius telah melakukannya.

Telah ditunjukkan bahwa para pejabat Cina sangat tidak memadai dalam melaporkan jumlah warga Tiongkok yang terkena virus corona. Pada 18 Februari 2020, dilaporkan bahwa "otoritas China  mungkin telah menghitung terlalu rendah jumlah infeksi COVID-19 yang secara mengejutkan sebesar 520%." Pelaporan angka yang terlalu kecil ini tidak berbeda dengan pelaporan yang sangat kurang dari para uskup A.S. kepada para peneliti dari lembaga John Jay. Jika Studi John Jay 2004 membuat orang percaya bahwa hanya "sekitar 4% klerus Katolik yang diduga melakukan pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur selama paruh terakhir abad ke-20," hal itu karena banyak uskup yang tidak mau melaporkan jumlah pelecehan seksual di keuskupan mereka.

Sebelum kemudian menjadi kardinal, Uskup Agung Edwin O'Brien dari Keuskupan Agung untuk Layanan Militer (AMS) melaporkan hanya ada dua kasus pelecehan seksual yang melibatkan anak di bawah umur selama periode 52 tahun (1950-2002) dari Studi John Jay yang pertama. Meskipun ini adalah dua kasus lebih dari apa yang dilaporkan oleh paus Francis ketika dia menjadi uskup agung Buenos Aires (Di keuskupan saya hal itu tidak pernah terjadi"), namun lembaga Akuntabilitas Uskup sejak itu telah menemukan lebih dari 150 imam AMS dengan tuduhan pelecehan sexual dengan kategori ‘dapat dipercaya.’


Presiden Cina Xi Jinping dan Paus Francis sama-sama berada di bawah pengawasan ketat atas penanganan krisis mereka masing-masing. Tweet


Kantor Berita Associated Press baru-baru ini juga mengidentifikasi "lebih dari 900 anggota klerus yang dituduh melakukan pelecehan seksual terhadap anak, ternyata nama-nama mereka hilang dari daftar yang dirilis oleh keuskupan dan ordo religius tempat mereka bekerja." Laporan penyalahgunaan sexual dengan angka-angka yang jauh lebih kecil dari keadaan yang sebenarnya, yang dilaporkan oleh para pejabat Gereja pembohong, mengungkapkan bahwa persentase klerus kejam itu adalah jauh lebih tinggi daripada apa yang dilaporkan oleh tim peneliti John Jay.

Sama seperti orang-orang di seluruh dunia yang sangat marah kepada pejabat China karena mereka melaporkan COVID-19 yang lebih rendah daripada kenyataan, atau yang tidak dilaporkan dan menutupi laporan oleh dokter seperti Li Wenliang, bahwa virus baru itu benar-benar ditularkan dari orang ke orang, demikian juga banyak umat Katolik dan orang tua dari para Pramuka Amerika Serikat. marah pada Gereja dan para pejabatnya karena membiarkan pemangsaan homoseksual terhadap anak-anak mereka, bukannya mengindahkan peringatan orang-orang seperti pastor Thomas Doyle dan Dr. Judith Reisman.


Pator John Paul Kalchik


Presiden Cina Xi Jinping dan Paus Francis sama-sama berada di bawah pengawasan ketat atas penanganan krisis mereka masing-masing. Yang menarik, Ren Zhiqiang, seorang kritikus utama Presiden Xi, dan Uskup Agung Carlo Maria Viganò, keduanya dilaporkan telah bersembunyi. Beberapa teman Ren Zhiqiang takut akan keselamatan nyawanya.

Setelah paus mengumumkan, 18 bulan yang lalu, bahwa penyelidikan akan dilakukan sebagai tanggapan atas tuduhan bahwa dia dan para wali gereja tingkat tinggi lainnya menutup-nutupi kasus pemangsa homoseksual, mantan kardinal Theodore McCarrick, namun hingga kini belum ada laporan yang dikeluarkan oleh Vatikan soal itu. Seorang reporter investigator, pemenang Hadiah Pulitzer, yang telah meliput COVID-19 dan kisah-kisah pelecehan seks di kalangan klerus Katolik, dan yang ingin tetap anonim, berpendapat, "Lembaga-lembaga yang kuat semua tampaknya mencapai titik di mana mereka bekerja untuk melindungi diri mereka sendiri dan institusi mereka, bukannya melindungi orang-orang yang dirancang untuk mereka layani."

Sama seperti Presiden Xi membalas terhadap tindakan Li Wenliang dan yang lain-lainnya yang mengkritik penanganannya atas apa yang kini telah menjadi pandemi, demikian juga dengan para wali gereja seperti kardinal Blase Cupich dan uskup Barry Knestout membalas dendam terhadap para pastor, seperti pastor Paul John Kalchik dan Mark White yang, seperti Uskup Agung Viganò, telah mengkritik Paus Francis dan para pemimpin Gereja karena menutupi hubungan antara homoseksualitas dan penyalahgunaan klerus terhadap anak di bawah umur, seminaris, dan orang dewasa yang rentan. Berbeda dengan Li Wenliang yang sudah mati; Ren Zhiqiang yang "hilang"; dan Uskup Agung Viganò yang bersembunyi; pastor Mark White telah dibungkam dan pastor Paul John Kalchik belum dipulihkan jabatannya untuk melakukan pelayanan, setelah dia bersama umat paroki membakar spanduk pelangi (LGBT) yang digantung di dalam gereja oleh pastor gay sebelumnya, yang meninggal dalam keadaan yang paling memalukan.



*****








1 comment:

  1. Numpang promo ya gan
    kami dari agen judi terpercaya, 100% tanpa robot, dengan bonus rollingan 0.3% dan refferal 10% segera di coba keberuntungan agan bersama dengan kami
    ditunggu ya di dewapk^^^ ;) ;) :*

    ReplyDelete