Friday, November 6, 2015

SETAN ADA DI ROMA

THE VORTEX : setan ada di Roma



Marilah kita buka sejelas siang hari apa yang bisa kita katakan tentang istilah spirituil ini : Setan ada disini, di Roma, bagi Sinode tentang Keluarga.

Setan telah menunjukkan dirinya dengan membawa tas yang penuh dengan trik kebohongan (seperti biasanya), kelemahan, distorsi, setengah kebenaran, racun intelektual, dan dia ada di sini bisa bekerja karena anak-anaknya yang sedang melaksanakan keinginannya. Ingatlah ketika Tuhan kita dihadapkan kepada para penyesat agama pada zamanNya, orang-orang Parisi. Dia menumpahkan dakwaan tujuh kali lipat terhadap mereka, berkata keras terhadap mereka ‘Bagaimana bisa kamu dapat lepas dari hukuman?’ dan kemudian menyebut mereka apa adanya : anak-anak Setan.

Ingatlah juga akan Kitab Kejadian, ketika Allah berkata kepada ular itu, "Aku akan mengadakan permusuhan antara anak-anakmu dengan anak-anaknya (Maria)" - Perempuan itu. Setan memiliki keturunan. Anda yakin dia memilikinya. Pastor John Hardon, seorang Hamba Allah, sebelum kematiannya pada tahun 2000, memperingatkan semua umat Katolik yang memiliki telinga untuk mendengar, bahwa seperti halnya Tuhan kita memiliki murid, demikian juga Setan. Dan banyak dari mereka (anak-anak setan) itu telah tiba di sini, di Roma, memakai jubah Yudas. Ulah setan itu luar biasa aktif dalam Sinode kali ini.

Dari dokumen Sinode, Instrumentum Laboris - hampir tidak memiliki unsur Katolisitas apapun, hanya penuh dengan kosakata duniawi – yang hanya bermanfaat bagi para promotor racun tersebut, antara lain Kard. Lorenzo Baldisseri, Uskup Agung Bruno Forte, Kard. Donald Wuerl, Kard. Daneels, Kard. John Dew, Uskup Agung Paul Andre Durocher, Pastor Thomas Rosica dan sejumlah orang lainnya. Orang-orang ini semua memiliki setan sebagai bapa mereka karena seperti kata Yesus, mereka melakukan keinginan bapa mereka. "Dia adalah seorang pembunuh dari sejak awal dan tidak memiliki kebenaran di dalam dirinya. Ketika dia berbohong, dia berbicara menurut sifatnya, karena dia adalah pendusta dan bapa segala dusta."

Mereka menginginkan diterimanya homoseksualitas dan memperoleh status diberkati didalam Gereja. Jika Anda pikir ini adalah terlalu ekstrim, ijinkanlah kita bertanya: Apakah anda berpikir bahwa Setan tidak berusaha melakukan hal ini? Apakah dia tidak ingin melihat hal ini dilaksanakan, terutama di sini di jantung Gereja? Apakah anda pikir itu terlalu banyak pencapaian hingga melampaui batas dari setan? Jika anda berpikir seperti itu, maka anda tidak memahami cara setan bekerja.

Ada kejahatan di sini, di Roma, kejahatan yang didalangi oleh anak-anak setan yang tidak memiliki kasih kepada Tuhan kita, tidak ada kasih kepada Iman. Mereka menginginkan sebuah hasil : penerimaan Komuni Kudus secara sakrilegis. Itu saja. Mereka kemudian akan merubah seluruh ajaran tentang seksualitas. Jika anda dapat memberikan Komuni Kudus kepada orang-orang yang tinggal dalam keadaan berzinah demi alasan belas kasih, mengapa anda tidak juga memberikan Komuni Kudus bagi pasangan muda yang kumpul kebo, pasangan homoseksual, dan segala praktik seksual yang tidak bermoral lainnya yang sulit untuk dibayangkan? Jika belas kasih menjadi kedoknya, maka alasan yang sama akan diberikan bagi seorang pezinah New York dengan alasan bahwa orang-orang itu juga membutuhkan belas kasihan, dan dengan logika yang mengalir dari Sinode ini, mereka akan bisa dibenarkan.

Ada beberapa uskup di sini yang menghadapi hal ini. Mereka mengerti apa yang sedang terjadi. Kard. Pell, Kard. Peter Erdo, Uskup Agung Stefan Gadecki, dan sebagainya. Tapi lebih aman untuk mengatakan dua hal saja : satu, mereka kalah dalam hal jumlah, dan dua, mereka juga dikalahkan dalam hal manuver. Anak-anak setan disana menempati sebagian besar posisi administratif kunci. Mereka memiliki sejumlah pendukung di pihak mereka untuk mendapatkan setidaknya beberapa jenis penerimaan atas racun ini, jika tidak secara umum, maka setidaknya secara regional. Dan itu karena banyak dari para uskup di sana buruk pendidikannya dan karena kurangnya pelatihan atau pemahaman teologis yang memadai. Ya – itulah para uskup!

Masalah itu telah dibawa pulang oleh salah satu dari mereka sendiri, beberapa hari yang lalu. Uskup Agung Polandia, Henryk Hoser, mengatakan jika sudah jelas baginya bahwa uskup-uskup banyak yang tidak tahu ajaran Gereja tentang hal ini dari apa yang tidak mereka katakan. Jadi para uskup yang telah menyerahkan diri mereka kepada setan - sengaja atau tidak, itu tidaklah terlalu penting - kini telah menjadi sarana mereka untuk meyakinkan para uskup yang kurang terlatih dan kurang terdidik secara memadai (bahkan di antaranya sudah dikatakan oleh Paus Benediktus sebelum dia menjadi Paus). Ini akan digunakan untuk mengamankan apa yang dia inginkan.

Hilangnya iman yang adikodrati diantara para gembala didalam Sinode ini sangatlah mengejutkan. Hal ini sebenarnya telah melampaui kosakata yang ada. Bagi orang-orang ini, hal ini pada dasarnya merupakan kekuatan untuk memutar-balikkan persepsi atas ajaran Gereja. Dan realitas yang menyedihkan ini sudah ada jauh sebelum mereka tiba di Roma, mereka sudah mengatur panggung sedemikian rupa dengan melalui proses pembentukan yang mengerikan selama beberapa dekade sebelumnya di paroki-paroki di seluruh dunia. Berapa banyak paroki yang setiap hari Minggu menyaksikan pasangan yang bercerai dan menikah lagi datang dan menerima Komuni Kudus, dan semua orang tahu itu. Berapa banyak paroki memiliki klub bagi kaum gay serta perutusan yang menyampaikan ajaran Gereja dengan kedipan mata dan anggukan kepala tanda setuju?

Hal ini amat mengerikan. Berikut ini adalah tujuan dari semua pembicaraan ini : pemakaian  bahasa yang lebih ramah dan inklusif dan mempersiapkan umat Katolik yang bodoh untuk mau menerima semua perubahan ini: Unsur positif dari gay yang ditanamkan pada berbagai pejabat gereja dan mereka ingin bahasa tentang homoseksualitas diluar dari Katekismus. Tujuan khususnya adalah berupa penghapusan kalimat ini:

Berdasarkan Kitab Suci, yang mengatakan bahwa tindakan homoseksual adalah tindakan kebejatan yang berat, 141 tradisi selalu menyatakan bahwa "tindakan homoseksual adalah tindakan kesalahan yang intrinsik." Perbuatan itu melawan hukum kodrat, karena kelanjutan kehidupan tidak mungkin terjadi waktu persetubuhan. Perbuatan itu tidak berasal dari satu kebutuhan yang benar untuk saling melengkapi secara afektif dan seksual. Bagaimanapun perbuatan itu tidak dapat dibenarkan.  (2357)

Tidak sedikit pria dan wanita mempunyai kecenderungan homoseksual. Mereka sendiri tidak memilih kecenderungan ini; untuk kebanyakan dari mereka homoseksualitas itu merupakan satu pencobaan.  (2358)

Ini adalah tujuan yang ingin dicapai oleh orang-orang ini. Mereka tidak akan mendapatkannya didalam Sinode ini, tetapi mereka menggunakan Sinode ini sebagai persiapan untuk tujuan itu. Bahasa telah menjadi masalah yang cukup mengganggu bagi para kontingen gay dalam Gereja karena masalah itu telah muncul ketika Katekismus diterbitkan pada tahun 1992.


Yakinlah semua rekan-rekan Katolik bahwa terjadi intrik di belakang layar di sini. Berdoalah Rosario dengan sungguh-sungguh. Sementara beberapa dari orang-orang ini adalah keturunan dari si ular, janganlah lupa bahwa anda adalah keturunan Perempuan itu.

No comments:

Post a Comment