Sunday, November 1, 2015

Apakah Kasperisme adalah sebuah bidaah baru?

Apakah Kasperisme adalah sebuah bidaah baru?

By Michael Lofton on October 29, 2015

Nampaknya sebuah bidaah baru sedang diciptakan di depan mata kita semua. Apakah bidaah baru itu? Jika Arianisme dulu diberi nama begitu sesuai dengan nama imam dan teolog yang mencetuskannya, Arius, yang menentang keilahian Kristus, maka nampaknya tepat sekali jika untuk saat kita sekarang ini kita menyebut kebusukan didalam kepercayaan Katolik ini sebagai ‘Kasperisme’ – karena ia dipromosikan dengan semangat sekali oleh seorang Kardinal dari Jerman, Walter Kasper. Apakah Kasperisme itu? ia adalah pandangan bahwa dogma adalah tetap utuh didalam teori, namun dilanggar didalam praktek pelaksanaannya.

Banyak orang (Katolik) kini telah menjadi terbiasa dengan contoh dari Kasperisme ini, yang dikenal sebagai “Kasper Proposal” – sebuah usulan yang menegaskan tak terceraikannya perkawinan namun kenyataannya bertentangan dalam pelaksanaannya, dengan mengijinkan si pezinah untuk menerima Komuni Kudus dengan alasan sebagai sebuah ‘ketetapan pastoral’. Namun sebenarnya Kasperisme ini tidak hanya berbicara tentang Kasper Proposal saja. Kenyataannya, Kasperisme adalah merupakan ancaman yang jauh lebih besar lagi cakupannya, karena ia bisa saja diterapkan terhadap doktrin mana saja, bukan hanya doktrin mengenai tak terceraikannya perkawinan.
Sebagai contoh, ia bisa juga diterapkan pada tindakan sodomi. Sebagian besar pendukung Kasperisme ini ingin bertindak lebih jauh dengan mengatakan bahwa tindakan sodomi secara teoritis adalah sebuah keutamaan, karena mereka tahu bahwa Gereja juga mengajarkan masalah ini, namun dalam prakteknya mereka ingin menafsirkannya seolah tindakan itu bukannya tak bermoral (seperti yang diajarkan oleh Gereja). Mengenai sodomi ini, juru bicara Vatikan, Pastor Thomas Rosica, menyederhanakan sekali ajaran Kasperisme dengan berkata :”Hendaknya dihentikan adanya pemakaian bahasa yang terlalu eksklusiv serta penekanan yang kuat untuk menerima realita sebagaimana adanya. Janganlah kita takut akan berbagai situasi yang baru dan komplex... Bahasa inklusiv itu mungkin saja menjadi bahasa kita namun hendaknya selalu mengingat adanya kemungkinan dan solusi pastoral dan kanonis.”

Dalam kalimat ini Pastor Rosica tidak menyangkal bahwa perbuatan sodomi adalah dosa. Namun dia juga tidak harus, (akhir dari permainan ini hasilnya tetaplah sama), melepaskan ‘bahasa eksklusiv’ itu dan tindakan sodomi akan tetap saja diterima dalam prakteknya.

Contoh lain didapatkan dalam ajakan paus baru-baru ini untuk mengadakan desentralisasi terhadap Gereja. Didalam ajakan ini, paus tidak secara terus terang mengatakan bahwa dia tak lagi memiliki kekuasaan hukum yang utama dan universal, karena jika mengatakan begitu dia akan melanggar formulasi doktrinal dari KV I :

"Kami mengajarkan dan menyatakan bahwa, menurut bukti Injil, sebuah kekuasaan hukum yang utama atas seluruh Gereja Allah telah dijanjikan dengan segera dan secara langsung diberikan kepada rasul Petrus yang terberkati dan hal itu diberikan kepadanya oleh Kristus Tuhan  ... Oleh karena itu, jika ada yang mengatakan bahwa rasul Petrus terberkati bukan diangkat oleh Kristus Tuhan sebagai pangeran atas semua rasul dan kepala yang kelihatan dari seluruh Gereja militan; atau bahwa hanya memiliki kehormatan utama saja dan bukan salah satu dari kekuasaan hukum yang benar dan tepat yang dia terima langsung dan segera dari Tuhan kita Yesus Kristus sendiri: terkutuklah ia".
Sebaliknya, paus Francis menunjukkan bahwa dia berniat untuk menyederhanakan tindakan seolah itu bukanlah hal yang benar dalam prakteknya dan -- voila! – doktrin dari KV I, adalah baik, namun kini ia telah berlalu. Paus Francis mengatakan :

"Tingkat kedua adalah dari Provinsi Gerejawi dan Wilayah Ecclesiastical, Dewan khusus dan, dengan cara yang khusus, Konferensi Uskup. Kita perlu merenungkan bagaimana lebih baik untuk melaksanakan, melalui lembaga-lembaga ini, contoh-contoh pengantaraan kolegialitas, mungkin dengan mengintegrasikan dan memperbaharui aspek-aspek tertentu dari organisasi gerejawi kuno. Harapan yang diungkapkan oleh Konsili adalah lembaga tersebut akan membantu meningkatkan semangat kolegialitas uskup yang belum terealisasi sepenuhnya. Kami masih dalam perjalanan, sebagian jalan menuju ke sana. Dalam Gereja Sinode, seperti yang saya katakan, "Tidaklah dianjurkan bagi Paus untuk mengambil tempat atau peranan dari Uskup lokal dalam proses pembedaan atas setiap masalah yang timbul di wilayah mereka. Dalam hal ini, saya sadar akan kebutuhan untuk mempromosikan 'desentralisasi' yang lebih besar."
Tak seorang pun yang pernah menyarankan bahwa kepausan harus mengatur segala sesuatu yang terjadi di wilayah uskup lokal atau setempat, karena ini merupakan tipuan yang bertujuan untuk mengajukan agenda yang akan merongrong keutamaan Paus. Namun, tanpa ada sanggahan yang spesifik dalam hal doktrin, setiap tantangan atas tindakan tersebut akan berhadapan dengan penegasan pribadi dari Paus Fransiskus sendiri atas apa yang diajarkan oleh gereja mengenai hal ini. Melalui lensa Kasperian, adalah mungkin untuk mengakui bahwa doktrin itu ada dan sekaligus bertentangan dalam pelaksanaannya. Dengan demikian Infalibilitas tetap dipertahankan, tetapi hasil pelaksanaan hanya bisa efektif jika ajaran itu sendiri yang benar-benar dirubah. Kita semua tahu bahwa Gereja penuh dengan uskup-uskup heterodoks (liberal) yang ingin menghancurkan Iman Katolik seperti yang telah ada selama dua puluh abad ini, yang mau merubah Iman Katolik sesuai dengan tujuan dan keinginan mereka sendiri. Sangat jelas bahwa mereka akan merubah dogma Gereja. Mereka telah mengalami frustrasi dalam upaya ini, yang menempatkan mereka di bawah kutukan dan laknat dari Konsili Vatikan Pertama:
"Oleh karena itu arti dari dogma suci selalu dipertahankan, seperti yang telah dinyatakan oleh Bunda Gereja Kudus, dan tidak pernah boleh ada pengabaian atas pengertian ini dengan dalih atau atas nama pemahaman yang lebih mendalam."

Maka solusi yang mereka susun adalah cukup sederhana dan efektif: mereka tidak akan menyangkal dogma. Mereka bahkan akan menegaskan dogma itu. Namun kemudian mereka akan memperlakukannya seolah-olah dogma itu tidak ada, dengan mencari-cari  alasan mengapa "belas kasihan" atau "keprihatinan pastoral" menuntut dogma itu untuk dihindari dalam praktek pelaksanaannya. Dalam Gereja awali dulu, mereka mendata kasus-kasus dimana mereka dicap sebagai bidaah dan dipecat; tetapi sekarang bukanlah saat seperti itu, dan mereka tahu betul bahwa mereka dapat melakukan penyimpangan keluar dari dogma dengan kekebalan terhadap hukum.
Jika Kasperisme adalah bid'ah seperti yang saya duga, maka ia adalah jenis yang paling berbahaya dari kesesatan yang pernah diciptakan oleh setan. Mengapa? Karena ia tak tersentuh. Arius dan pengikutnya tidak membuat penolakan atas keyakinan mereka bahwa Kristus tidaklah kekal atau memiliki substansi yang sama seperti Allah, melainkan hanya sebagai makhluk biasa saja. Mereka dihadapkan pada apa yang mereka percayai dan bagi kesalahan yang mereka ajarkan. Sedangkan Kasperian menyombongkan dirinya sendiri dengan kepura-puraan. Mereka membuat sebuah ‘pertunjukkan’ besar seolah tetap mempertahankan hukum yang ada, sambil mereka benar-benar menghancurkannya didalam rohnya. Jika orang mengatakan kepada Kasperian ini "Bagian manakah yang anda katakan bertentangan dengan dogma!", mereka hanya akan merespon : "Tidak! Kami menegaskan dogma yang ada.” Dengan demikian, mereka secara efektif melucuti orang-orang yang akan berusaha untuk menunjukkan kesalahan mereka, memaksa orang-orang itu untuk percaya bahwa mereka bukan pembohong sambil menabur kebingungan di belakang mereka. Karena alasan inilah maka Kasperisme harus ditentang lebih keras dari pada bid'ah Arianisme dulu, karena ia jauh lebih licik sifat tipuannya, dan memiliki potensi untuk menimbulkan bahaya yang lebih besar.
Akankah paus masa mendatang mau mengutuk kesalahan yang merusak ini sebagai bidah? Waktu akan berbicara. Tetapi kita tidak harus menunggu dalam upaya kita untuk memeranginya. Karena jiwa-jiwa dipertaruhkan disini.


No comments:

Post a Comment