Saturday, June 17, 2017

Ted Flynn : KARDINAL MELAWAN KARDINAL, USKUP MELAWAN USKUP…

KARDINAL MELAWAN KARDINAL, USKUP MELAWAN USKUP…

by TED FLYNN JUNE 14, 2017


Pekerjaan setan akan masuk terutama ke dalam Gereja sedemikian rupa hingga orang akan melihat kardinal melawan kardinal, uskup melawan uskup. Imam-imam yang menghormati aku akan dicemooh dan ditentang oleh sesama imam. Gereja-gereja dan altar-altar akan dijarah. Gereja akan penuh dengan mereka yang mau menerima kompromi dan iblis akan mendesak imam-imam dan jiwa-jiwa yang dikonsekrasikan agar meninggalkan pelayanan kepada Allah.
Pesan dari Bunda Maria, Akita, Japan, October 13, 1973

Pesan dan penampakan Bunda Maria di Akita ini telah diakui oleh Gereja Katolik. Pesan itu diberikan kepada seorang biarawati yang bernama Sr.Agnes Sasagawa, yang sakit-sakitan dan juga mengalami stigmata. Cardinal Joseph Ratzinger yang saat itu menjadi kepala Kongregasi bagi Doktrin Iman (the Congregation for the Doctrine of the Faith/CDF) dibawah Paus Yohanes Paulus II, yang telah membaca Rahasia Ketiga Fatima, berkata “Pesan-pesan Fatima dan Akita secara esensiil adalah sama.”

Secara menyeluruh pesan-pesan Akita adalah termasuk yang paling keras bagi umat manusia beserta akibat-akibat dari dosa di dalam sejarah Gereja. Sebuah kutipan pesan Akita diatas, belakangan ini sering kita baca di dalam artikel-artikel yang berkaitan dengan keadaan Gereja Katolik saat ini, dimana banyak orang merasakan adanya skisma (perpecahan) diam-diam yang telah berlangsung selama dua generasi belakangan ini. Ada beberapa imam dengan sikap permisiv dan mengijinkan umatnya untuk memilih apa yang mereka inginkan. Dan jika ada satu imam tidak setuju dengan sebuah doktrin tertentu (biasanya masalah perkawinan dan Komuni), maka umat dengan mudahnya akan memilih imam yang lain dari wilayah lainnya sesuai dengan keinginan umat itu, untuk mendapatkan imam lain yang bisa memberikan kenyamanan bagi masalahnya. Hal ini telah berlangsung beberapa saat belakangan ini.

Namun dengan pemerintahan PF ini, kita melihat bahwa pertempuran dan pergolakan itu semakin terbuka. Orang bisa melihat dengan mudah di sisi mana orang lain dia berpihak mengenai suatu masalah. Begitulah perselisihan yang selama ini tidak terlihat, saat ini telah menjadi perbincangan rutin di gereja-gereja. Keadaan seperti ini semakin cepat berkembang saat ini daripada saat-saat sebelumnya. Beberapa orang (klerus maupun umat awam) yang memiliki agenda yang bertentangan dengan ajaran Gereja kini dengan beraninya memamerkan pandangan sesat mereka. Kebingungan, kekacauan serta tidak adanya disiplin semakin meluas dengan cepat, yang belum pernah terjadi sebelumnya. Maka berhati-hatilah jika anda tidak setuju dengan orang yang mendukung homosex ataupun perzinahan, karena anda akan disingkirkan dari persahabatan mereka dan anda dianggap tidak toleran, tidak berbelas kasih. Jangan berharap anda memperoleh undangan makan di Hari Natal nanti jika anda tidak sependapat dengan seseorang yang mendukung perbuatan dosa semacam itu.

Peristiwa Reformasi 500 tahun yang lalu terjadi karena masalah doktrin. Namun perpecahan yang kita saksikan dan alami saat ini adalah masalah moral. Saat itu para pendukung Reformasi tidak berusaha merubah Sabda Allah yang ada di dalam Kitab Suci, tetapi saat ini justru Kitab Suci itulah yang mau dirubah. Sr.Lucia dari Fatima pernah berkata sebelum dia meninggal, bahwa pertempuran terakhir di dalam Gereja akan terjadi dalam masalah perkawinan dan keluarga. Dan kita telah berada di dalam pertempuran itu, ia memisahkan orang-orang dewasa dengan anak-anak. Mereka yang berusaha mempertahankan ajaran Magisterium Gereja, dengan mereka yang ingin melemahkan iman, agar sesuai dengan budaya saat ini, kini terlibat dalam pertempuran spirituil yang sengit.

Saat ini kita tahu betapa kardinal-kardinal dan uskup-uskup di Amerika Serikat dan di kota-kota lainnya di dunia, bukan saja mereka mengijinkan dan mendukung agenda LGBT, bahkan mereka mempromosikannya. Para pembela dan juru bicara yang cerdik pandai menjadi ujung tombak dari pasukan pendukung homosex di berbagai negara. Orang-orang yang keras kepala itu kini sedang mempromosikan agenda tak beriman serta anti Kitab Suci. Cardinal Muller, kepala dari Kongregasi bagi Doktrin Iman (the Congregation for the Doctrine of the Faith) dibawah PF, bahkan mengatakan bahwa ‘para kardinal pengusung dubia sebenarnya telah mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sah.’

Saya teringat akan pembantaian atas orang-orang Yahudi di Jerman dan Eropa sebelum dan selama Perang Dunia II. Orang-orang Yahudi di seluruh dunia setelah perang bertanya-tanya bagaimana bencana itu bisa terjadi. Sejarawan menulis bahwa tidak ada pemberontakan atau kekacauan yang menjadi tanda di seputar orang-orang Yahudi Eropa yang merujuk kepada apa yang terjadi saat itu. Sejarah mengatakan kepada kita bahwa orang-orang yang berkehendak baik tak bisa menduga bahwa ada bangsa atau ras yang dapat melakukan sesuatu yang begitu kejam dan secara terbuka. Orang-orang Yahudi yang dibawa ke kamar gas (untuk dibunuh) berkata, "Mungkinkah hal ini terjadi? Tetapi itu tidak mungkin." Saat itu banyak orang yang tidak percaya akan kenyataan itu, terlepas dari apa yang telah terjadi selama satu generasi di Jerman, dengan hilangnya iman secara lengkap, yang dimulai dengan tindakan cuci-otak terhadap kaum muda dengan menyuntikkan filosofi humanistik dari George Hegel dan Friedrich Nietzsche. Dengan mengalahkan kaum muda, kamu akan mengalahkan negara. Demikianlah Amerika Serikat dan Barat telah diindoktrinasi oleh filsafat tak beriman dan telah direndahkan secara moral dengan melalui pengajaran sesat yang terus menerus mengenai pernikahan dan keluarga. Hal ini telah menjadi agenda besar atheisme praktis. Jika sebuah bangsa menyingkirkan Tuhan dari ruang kelas, maka negara itu dapat dengan mudah memanipulasi profesi mengajar dari para gurunya.

Setiap hari kita bisa melihat di media massa, bahwa ada pikiran yang merasuki kepala setiap orang: Bisakah kamu menghentikan keburukan ini? Apakah kamu tahu berita buruk hari ini? Apakah hal ini terjadi berkaitan dengan kemerosotan moral dari budaya kita? Dimanakah hal itu akan berhenti? Dimana hal itu akan berakhir?

Jawabnya adalah bahwa keburukan ini tidak akan berhenti hingga muncul orang-orang pemberani yang menyampaikan kebenaran, bukannya berani menerima kemerosotan moral. Masalahnya adalah, sebagian besar orang tidak memiliki keyakinan untuk disampaikan, karena takut akan pendapat orang lain.

Maka marilah kita ingat akan kutipan dari Timotius ini: Usahakanlah supaya engkau layak di hadapan Allah sebagai seorang pekerja yang tidak usah malu, yang berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu. Tetapi hindarilah omongan yang kosong dan yang tak suci yang hanya menambah kefasikan. 2Tim 2:15-16

Jesus, I Trust in You

Silakan melihat artikel lainnya disini : http://devosi-maria.blogspot.co.id/


No comments:

Post a Comment