Friday, June 16, 2017

DIA BERADA DI JALAN MENUJU NERAKA

dia berada di jalan menuju neraka
Dia perlu diberitahu soal ini, sebelum terlambat!
by Michael Voris (umat awam)

June 15, 2017 


Sebelum membahas topik hari ini, saya ingin memohon: apakah anda berkenan berdoa bagi ibu saya? Dia meninggal 13 tahun yang lalu pada tanggal ini; melalui pengorbanannya maka dia telah membawa saya kembali kepada Iman. Banyak dari anda yang telah mengerti masa lalu saya.

Saat ini, harus ada seseorang yang mengatakannya dengan jelas, demi kebaikan jiwanya; Pastor James Martin sedang melaju cepat menuju neraka. Dia sedang berbohong tentang Iman dan dia sedang menipu banyak orang. Dia adalah salah satu imam pendukung kuat perbuatan homoseksual yang terkenal di Amerika Serikat dan dia sedang menyalahgunakan wewenang dan peranannya sebagai imam, yang disampaikan kepada pers demi kepentingannya sendiri.

Orang ini ditahbiskan agar menjadi serupa dengan Kristus, untuk menjadi seorang alter christus, tetapi dia membiarkan dirinya dimanipulasi oleh si jahat untuk mempromosikan kejahatan. Dengan menjadi anggota dari kelompok orang-orang yang tertahbis ternyata tidak membuat apa yang diucapkannya menjadi benar atau menajuhkan dirinya dari neraka.

Pastor Martin telah lama dikenal menjadi pendukung homoseksualitas di lingkungan Gereja. Dengan cerdiknya dia berhasil mengangkat ide-ide sesatnya ke permukaan, tanpa pernah mengakui secara jelas apakah dia seorang homosex atau apakah dia hanya mendukung tindakan seksual pada kaum homosex, tetapi semua yang dia katakan dan dia lakukan hanyalah seputar masalah ini, dan hal itu menunjukkan bahwa dia memang melakukannya.

Dia menggunakan kosakata yang sudah jamak dilakukan oleh kaum gay, misalnya, dia tidak pernah menggunakan istilah ‘tertarik kepada sesama jenis’ tapi lebih memilih istilah ‘LGBT,’ dimana hal ini tidak layak diucapkan oleh seorang imam Katolik. Kata ‘gay’ atau istilah ‘LGBT’ adalah bagian yang tak terpisahkan dari ucapan organisasi kaum homosex. Sebenarnya pastor Martin memiliki jutaan kesempatan untuk memperjelas status dirinya, tetapi dia memilih untuk tetap terselubung dalam mantel ambiguitas. Dan setelah sekian lama, mungkin dia merasa aman untuk mengatakan bahwa dia memang mendukung gaya hidup homosex, yang berarti bahwa dia menganggap tindakan homosex itu adalah sangat bermoral.

Dia menulis sebuah buku baru, Building a Bridge — How the Catholic Church and the LGBT Community Can Enter into a Relationship of Respect, Compassion and Sensitivity (Membangun Sebuah Jembatan - Bagaimana Gereja Katolik dan Komunitas LGBT Dapat Memasuki Suatu Relasi secara terhormat, baik dan sabar).



Wow! Sebuah judul yang penuh dengan omong kosong! Pertama-tama, perhatikanlah akibatnya jika Gereja tidak bertindak penuh kasih atau perhatian atau hormat. Gereja telah menyediakan sarana bagi keselamatan meskipun mereka memiliki kelainan homosex. Sampai seberapa besar lagi Gereja harus bersikap lebih berbelas kasih dan lebih menaruh perhatian? Namun kemudian terbukalah agenda yang sebenarnya dari pastor Martin: dalam sebuah wawancara sehubungan dengan penerbitan buku itu, dengan media Religious News Service (RNS), pastor Martin akhirnya mengakui agenda sebenarnya - dia ingin agar ajaran Gereja tentang homoseksualitas dirubah.

Kalimat yang berbicara tentang homoseksual ada di dalam paragraf 2357 dan 2358 (Katekismus Gereja Katolik):

Katekismus Gereja Katolik:
2357. Homoseksualitas adalah hubungan antara para pria atau wanita, yang merasa diri tertarik dalam hubungan seksual, semata-mata atau terutama, kepada orang sejenis kelamin. Homoseksualitas muncul dalam berbagai waktu dan kebudayaan dalam bentuk yang sangat bervariasi. Asal-usul psikisnya masih belum jelas sama sekali. Berdasarkan Kitab Suci yang melukiskannya sebagai penyelewengan besar, tradisi Gereja selalu menjelaskan, bahwa "perbuatan homoseksual itu tidak baik" (CDF, Perny. "Persona humana" 8). Perbuatan itu melawan hukum kodrat, karena kelanjutan kehidupan tidak mungkin terjadi waktu persetubuhan. Perbuatan itu tidak berasal dari satu kebutuhan benar untuk saling melengkapi secara afektif dan seksual. Bagaimanapun perbuatan itu tidak dapat dibenarkan.
2358. Tidak sedikit pria dan wanita mempunyai kecenderungan homoseksual. Mereka sendiri tidak memilih kecenderungan ini; untuk kebanyakan dari mereka homoseksualitas itu merupakan satu percobaan. Mereka harus dilayani dengan hormat, dengan kasih sayang dan dengan bijaksana. Orang jangan memojokkan mereka dengan salah satu cara yang tidak adil. Juga mereka ini dipanggil, supaya memenuhi kehendak Allah dalam kehidupannya dan, kalau mereka itu orang Kristen, supaya mereka mempersatukan kesulitan-kesulitan yang dapat tumbuh dari kecenderungan mereka, dengan kurban salib Tuhan.

Demikian juga Kitab Suci mengatakan:
Rm 1: 26-27 : Karena itu Allah menyerahkan mereka kepada hawa nafsu yang memalukan, sebab isteri-isteri mereka menggantikan persetubuhan yang wajar dengan yang tak wajar. Demikian juga suami-suami meninggalkan persetubuhan yang wajar dengan isteri mereka dan menyala-nyala dalam berahi mereka seorang terhadap yang lain, sehingga mereka melakukan kemesuman, laki-laki dengan laki-laki, dan karena itu mereka menerima dalam diri mereka balasan yang setimpal untuk kesesatan mereka.

Bagi kaum homosex dan pendukungnya, ayat-ayat dan bahasa ini harus dihapus. Bahkan Uskup Agung Philadelphia, Charles Chaput, yang dipandang sebagai jagonya dalam mendukung homosex, dia tidak setuju dengan pemakaian istilah ‘penyelewengan’ karena hal itu tidak mendukung (kaum homosex). Apapun yang dimaksudkan olehnya, terserah. Dan klerus seperti Chaput dan Martin inilah yang mengatakan bahwa istilah ‘penyelewengan’ itu tidak mendukung atau membantu (bagi kaum homosex). Mereka berdua mengatakan, orang-orang tidak mengerti ungkapan ini karena bobot filosofisnya, yang memunculkan pemikiran mereka – bahwa alasan mengapa orang tidak memahami kaum homosex itu adalah karena para klerus tidak menjalankan tugas mereka dengan benar dan membiarkan kawanan mereka mengalami ‘fobia’ oleh desakan dan gerakan kaum homosex.

Tentu saja tindakan itu adalah sebuah penyelewengan. Daya-daya sexual memang dikehendaki Allah untuk menghasilkan keturunan. Itulah sebabnya maka daya itu ada. Jadi daya sexual itu ada bukan sekedar untuk memuaskan kenikmatan manusia. Daya itu ada dengan tujuan akhir untuk menciptakan kehidupan baru. Dan menggunakan daya ini di dalam perbuatan sexual demi kenikmatan sexual semata, adalah bertentangan dengan tujuan akhir itu, yaitu keteraturan (order) itu. Oleh karena itu tindakan itu menjadi tidak teratur (disorder), dan itulah penyelewengan.

Nah, dengan logika ini tidaklah sulit menjelaskan homosex, kan? Kami berani bertaruh bahwa siapa saja yang memahami penjelasan ini dapat dengan mudah memahami apa yang dimaksud, apakah mereka setuju dengan itu atau tidak. Ini bukanlah cara yang sulit untuk mengalihkan pikiran anda. Tetapi para uskup ternyata sangat tidak bersedia menceritakan tentang dosa seksual selama lima puluh tahun terakhir ini, hingga mereka telah menciptakan sebuah kekosongan dan kemudian dimanfaatkan oleh para imam sesat seperti Martin itu. Setelah melepaskan peran mereka sebagai guru, mereka membiarkan penyimpangan untuk masuk, dan kini hal itu telah terjadi.

Sebagai contoh lainnya, coba renungkan sebentar hal berikut ini. Mengapa orang awam (seperti saya ini) berbicara di sini memperingatkan seorang imam bahwa dia sedang dalam perjalanan menuju neraka, bukannya para atasannya atau uskupnya? Ya, kita tahu mengapa. Martin, dalam sebuah wawancara baru-baru ini yang mempromosikan propaganda gay sebagai teologi, mengatakan hal berikut, "Mengatakan bahwa salah satu bagian terdalam dari seseorang – yaitu bagian yang memberi dan menerima kasih – dalam keadaan menyeleweng, hal ini sungguh menyakitkan. Beberapa minggu yang lalu, saya bertemu dengan seorang teolog Italia yang menyarankan agar kita memakai ungkapan 'tingkah laku yang berbeda’ dimana kalimat ini bisa menyampaikan gagasan ‘penyelewengan sexual’ itu lebih pastoral." Tindakan ini merupakan bentuk ‘pengaburan dosa’ atau ‘penghalusan kata dosa’.

Pertama-tama, lihatlah adanya upaya untuk menyeret kita kepada emosi-emosi manusia, dan bukan kepada Kebenaran. Hal ini amat menyakitkan. Memang, pastor Martin yang terkasih, terkadang kebenaran itu menyakitkan, tetapi Salib tetap harus dipanggul. Dan hal itu berlaku bagi semua orang di dunia. Tetapi yang terpenting, perhatikanlah adanya sulapan ketrampilan permainan kata disini. Menggantikan istilah ‘penyelewengan’ (yang selama ini digunakan oleh Gereja) dengan istilah baru ‘tingkah laku yang berbeda dalam hal tindakan sex,’ ini adalah benar-benar merubah makna dari ajaran Gereja. Ini adalah sebuah kebohongan.

Dan di sinilah pastor Martin sedang membahayakan jiwanya. Dia sadar bahwa dirinya sedang mengubah ajaran Gereja secara halus dengan cara memperkenalkan istilah yang salah ke dalam perbendaharaan Gereja. Mengatakan bahwa sesuatu adalah sebuah ‘tindakan atau tingkah laku yang berbeda’ berarti secara instrinsik dia mengakui bahwa semula ada sesuatu yang ‘sejalan’ (dengan kaidah umum di dalam Gereja). Tindakan homoseksual tidaklah sejalan dengan apapun yang ada di dalam Gereja, kecuali hal itu dilakukan oleh seorang gila yang mencari kenikmatan jasmani yang narsistik. Semua tindakan homoseksual, pada hakikatnya, adalah sebuah bentuk tindakan masturbasi dan oleh karena itu tindakan itu tidak sejalan dengan apapun juga kecuali sebagai bentuk kejahatan yang intrinsik. Dan tindakan itu adalah segolongan dengan tindakan pembunuhan dan pemerkosaan, yang juga ‘sejalan’ dengan tindakan mencari kesenangan diri, dan sama sekali tidak ada niatan untuk menciptakan keturunan.

Fr. Martin ingin menjadikan tindakan homoseksualitas sebagai sesuatu yang berbeda dengan pengertian sebelumnya, dan bahwa kita harus menghormati dan memiliki belas kasihan kepada pelakunya. Ketika dia terus berbicara tentang belas kasih dan perhatian dan rasa hormat, maka dengan sengaja dia telah mengaburkan batas antara orang yang memiliki ketertarikan kepada sesama jenis dengan tindakan seksual. Dia mengaburkan lebih jauh perbedaan antara tindakan  seksual (melulu) dengan tindakan ‘saling memberi dan menerima kasih.’ Seseorang tidak perlu terlibat dalam tindakan seksual untuk mengasihi orang lain, demikian juga, hanya karena seseorang melakukan tindakan seksual, tidak berarti bahwa mereka saling mengasihi. Tetapi lihatlah, untuk mengemukakan perbedaan kritis ini benar-benar akan menghancurkan posisi Martin sendiri; dan dia sadar akan hal ini. Itulah sebabnya dia membiarkan masalah ini menggantung saja di udara.

Dia memelintirkan secara sesat istilah ‘penyelewengan besar’ menjadi ‘tindakan atau tingkah laku yang berdeda’ dan dia tidak berbicara bahwa orang yang saling mengasihi haruslah terlibat dalam tindakan seksual, agar dirinya tidak ditentang oleh banyak orang. Kejahatan semacam ini dari seorang imam hanya layak untuk menerima hadiah neraka, jika dia tidak bertobat. Jika dia mati dalam keadaan belum bertobat dari kesalahannya yang melawan Iman ini, bagaimana mungkin dia bisa memperoleh keselamatan? Dia telah menjadi alat dari kuasa-kuasa iblis dengan cara membingungkan banyak orang dan membawa orang banyak ke neraka bersama dirinya.

Tak ada semua yang disampaikan oleh imam itu, dalam hal homosex, yang memiliki arti penting, beserta semua tuduhan bodohnya itu. Hal ini saya sampaikan karena kekhawatiran yang mengerikan atas keselamatan jiwanya. Tidak ada umat Katolik atau imam yang mau atau mengharapkan orang lain untuk dikutuk di dalam neraka, apalagi jika yang dikutuk itu seorang imam. St. Teresa dari Avila mengatakan bahwa ketika dirinya diperlihatkan kepada suasana neraka, dia bisa mengetahui jiwa-jiwa mana yang dulunya adalah seorang imam, karena adanya penderitaan dahsyat yang mereka rasakan pada tangan mereka – yang berupa rasa terbakar mengerikan dimana minyak urapan suci telah diberikan kepada mereka pada hari pentahbisannya.

Tetapi jika hukuman seperti itu tidak cukup mampu untuk merubah imam ini dari pikiran dan tindakan jahatnya, maka paling tidak biarlah tulisan ini menjadi peringatan bagi mereka yang mungkin mendengarkan omongannya. Janganlah mempercayai perkataannya yang seperti itu. Dia dirasuki setan. Pastor Martin sedang menuju neraka atas pilihannya sendiri. Apa pun iblis yang sedang dilawannya, tetapi iblis itu telah menguasai dirinya; dan dia benar-benar telah menyerah kepadanya.


Marilah kita berdoa bagi pastor Martin agar dia bisa mendapatkan kembali kekuatannya dan berjuang melawan semua godaan yang membawanya di jalan menuju neraka. Sementara itu, lawanlah dan tolaklah segala jenis infiltrasi jahat dari setan dan iblis, karena mereka telah mendapatkan begitu banyak kemenangan, melalui para klerus yang sesat.

Silakan melihat artikel lainnya disini : http://devosi-maria.blogspot.co.id/

No comments:

Post a Comment