Sunday, June 11, 2017

Pastor Richard Heilman : KITA TELAH BERADA DALAM PERPECAHAN


KITA TELAH BERADA DALAM PERPECAHAN

APA YANG LEBIH BURUK LAGI ADALAH BAHWA PERPECAHAN INI BERLANGSUNG SECARA SILUMAN ATAU TERSEMBUNYI

 

by Pastor Richard Heilman -- March 5, 2017



 




Hari ini, Pastor Dwight Longenecker telah menyampaikan buah pikirannya, bahwa telah ada sebuah skisma atau perpecahan di dalam Gereja Katolik. (Silakan lihat disini atau disini). Saya sangat setuju dengan pendapat beliau.


perpecahan siluman atau perpecahan tersembunyi

Dalam sebuah artikel saya yang berjudul An Open Letter to All Those Looking to Restore a Sense of the Sacred,” saya memaparkan keadaan-keadaan yang terjadi saat ini serta apa yang saya anggap sebagai jawabannya. Saya berpendapat bahwa yang menjadi dasar dari semuanya ini adalah sebuah kejahatan yang semakin dalam, sebuah kesesatan yang lama dan sulit diatasi, yang kemudian memunculkan semua akibat yang ada sekarang. Banyak orang yang menunjuk kepada apa yang disebut ‘Modernisme’ sebagai bidaah zaman kita kini. Modernisme, dalam segala bentuknya, pada intinya adalah sebuah pemisahan atau penolakan terhadap masa lalu untuk menerima segala sesuatu yang baru. Sementara Modernisme saat ini nampak semakin meluas, maka saya menganggap bahwa hal itu merupakan sebuah gejala dari ancaman yang lebih fundamental lagi.

Apa yang saya maksudkan disini adalah sesuatu yang berakibat pada keberadaan dari manusia itu sendiri, serta kesempatan bagi keselamatan kita semua. Saya menyebutnya sebagai ‘Arianisme Siluman’. Para ahli sejarah tahu tentang kesesatan Arianisme, yaitu sebuah krisis terburuk dalam Gereja sebelum zaman sekarang ini. Aliran itu berpendapat bahwa Yesus Kristus hanyalah suatu makhluk ciptaan, tidak sama dengan Allah Bapa. Maka Arianisme Siluman saat ini mengikuti kesesatan yang sama fatalnya, namun dengan dipelesetkan sedikit: kaum Arian abad ke 4 dulu secara terbuka menyangkal keilahian Kristus, namun kaum Arian zaman ini di dalam mulutnya mereka mengakui Yesus sebagai Allah, namun di dalam perbuatannya mereka menyangkal hal itu. Dengan kata lain, bahwa mereka tidak menyadari bahwa dirinya adalah penganut arianisme.

Anda semua tahu jika kita mengecilkan identitas Kristus sebagai Putera Allah, maka kita akan menganggapNya sebagai tokoh sejarah yang biasa saja, seseorang yang baik, seorang guru yang layak dihormati, dan sebagai contoh yang baik untuk diikuti. Kemudian agama Kristiani akan menjadi sekedar sebuah organisasi yang baik saja, yang melakukan hal-hal yang baik bagi orang banyak, seperti halnya organisasi atau perguruan psikoterapi yang menyampaikan aktualisasi-diri bagi para pengikutnya. Dan sesungguhnya, bukan bagi semua ini Dia datang kepada kita, tetapi Dia datang bagi sesuatu yang jauh lebih besar daripada itu.

Bagaimana kita bisa mengetahui semakin meluasnya Arianisme Siluman ini? Ada sebuah kisah yang patut direnungkan yang terjadi pada dua orang yang bersahabat. Seorang imam Katolik dan sahabatnya seorang rohaniwan dari agama tetangga. Mereka berdua berdiri di depan pintu sebuah Gereja Katolik sambil memandang ke arah tabernakel di altar. Rohaniwan dari tetangga ini bertanya kepada si imam Katolik: “Apakah kamu percaya bahwa Tuhan ada di dalam tabernakel itu?” Si imam terkejut dan dengan segera dia menjawab: “Apa maksudmu? Tentu saja saya sangat percaya.” Lalu rohaniwan tetangga itu berkata lagi: “Dengar, seandainya saya percaya bahwa itu adalah Tuhan, maka saat inipun dan di tempat inipun saya akan bersujud hingga wajah saya menyentuh lantai dan saya akan merangkak menuju tabernakel itu, dengan air mata bahagia membasahi wajah saya… ternyata kamu tidak percaya bahwa itu adalah Tuhan.”

Selama lebih dari 50 tahun belakangan ini Arianisme Siluman telah melakukan segala sesuatu dengan segenap kemampuannya untuk menghilangkan pengalaman dan pemahaman Katolisitas dari kehidupan kita, segala sesuatu yang menjurus kepada keilahian Kristus, serta kualitas supernatural dari iman kita. Banyak sekali yang telah dihilangkan dari Gereja-gereja kita. Karya-karya seni yang suci, arsitektur yang suci, musik-musik liturgi yang suci, berbagai macam tindakan dan seruan-seruan yang suci di dalam dan selama Kurban Misa Kudus berlangsung, hingga kita saat ini berada di tengah padang gurun ‘kedangkalan-makna-spirituil’ yang masih tersisa.

Terlebih lagi Arianisme Siluman sengaja memasukkan ajaran-ajaran mereka dengan cara yang kacau, ambigu dan sulit dipahami, untuk mementingkan ‘kepekaan pastoral’ (bukan ajaran Kristus, Doktrin atau Tradisi Suci) sebagai nilai yang paling tinggi diantara yang lainnya, hingga membuat umat merasa baik-baik saja mengenai dirinya yang boleh bertingkah laku apa saja; dan umat semacam ini pastilah tidak siap jika ditantang untuk menjalani kehidupan seperti orang-orang kudus dahulu. Di tengah keadaan umat yang kacau dan serba tidak pasti itu, mereka akan cenderung untuk berkompromi dengan dunia ini.

Apakah nubuat Uskup Agung Fulton Sheen mengenai keadaan Gereja saat ini?

“Setan akan mendirikan sebuah lawan-Gereja yang merupakan tiruan dari Gereja Katolik… ia (gereja tiruan itu) akan memiliki berbagai sifat dan tulisan-tulisan  seperti Gereja Katolik, namun dalam hal yang sebaliknya dan ia tak memiliki bobot ilahiah sama sekali.”

Kita sedang hidup di saat-saat Apokalips, hari-hari terakhir dari zaman kita. Dua kekuatan besar – Tubuh Mistik Kristus dan tubuh mistik antikris – telah menarik garis pertempuran bagi sebuah pertandingan yang  mematikan.

Nabi palsu itu akan memiliki sebuah agama tanpa salib. Sebuah agama tanpa dunia yang akan datang. Sebuah agama untuk menghancurkan agama-agama. Akan muncul sebuah gereja palsu.

Gereja Kristus, Gereja Katolik, adalah satu; dan nabi palsu itu akan menciptakan gereja yang lain.

Gereja palsu itu akan bersifat duniawi, ekumenis, serta global. Ia akan merupakan sebuah persekutuan yang longgar antar gereja-gereja dan agama-agama, membentuk semacam asosiasi global.

Sebuah parlemen gereja-gereja sedunia. Ia tak akan memiliki bobot iIahiah sama sekali, ia  akan menjadi tubuh mistik antikris. Tubuh Mistik Kristus di dunia saat ini akan memiliki Judas Iskariot-nya sendiri, dan dialah nabi palsu itu. Setan merekrut dia dari antara uskup-uskup kita.

Antikris tidak akan disebut namanya seperti itu. Sebab jika begitu, dia tak akan memiliki pengikut. Dia tidak akan mengenakan pakaian merah ketat, atau memuntahkan belerang dari mulutnya, atau membawa tongkat trisula, atau mengayun-ayunkan  ekornya yang berujung panah seperti Mephistopheles dari kisah Faust. Penyamaran  yang dilakukan oleh antikris akan menolong setan meyakinkan manusia bahwa setan itu tidak ada. Ketika tidak ada manusia yang bisa mengenali setan, maka semakin besarlah kekuatan setan. Allah telah memperkenalkan DiriNya sebagai ‘AKU ADALAH AKU’ maka setan memperkenalkan dirinya sebagai ‘aku bukanlah aku.’

Tidak ada di dalam Kitab Suci yang menjamin realita dari mitos populer mengenai iblis sebagai suatu badut berpakaian merah. Tetapi Kitab Suci menjelaskan bahwa dia adalah sebagai malaikat yang durhaka dan terusir dari Surga dan menjadi Pangeran dari dunia ini, yang kesukaannya adalah ngomong kepada kita bahwa tak ada dunia yang lainnya. Logikanya adalah sederhana saja: jika tak ada Surga maka tak ada neraka. Jika tak ada neraka, maka tak ada dosa. Jika tak ada dosa maka tak ada penghakiman. Jika tak ada penghakiman maka yang jahat adalah baik dan yang baik adalah jahat. Namun disamping semua penjelasan ini, Tuhan telah berkata kepada kita bahwa setan akan meniru DiriNya hingga dia bisa menipu bahkan orang pilihan sekalipun – dan yang pasti: tak ada iblis di dalam buku-buku gambar yang bisa menipu orang-orang pilihan. Bagaimana setan datang di zaman ini untuk merebut para pengikutnya, agar memeluk agamanya?

Rusia sebelum zaman Komunis dulu, mereka percaya bahwa antikris akan datang dengan menyamar sebagai tokoh kemanusiaan yang hebat. Dia akan berbicara tentang perdamaian, kesejahteraan, kelimpahan, namun semua itu bukan sebagai sarana yang menuntun kita kepada Allah, tetapi sebagai tujuan akhir itu sendiri.

Godaan ketiga yang dilancarkan oleh setan adalah meminta agar Kristus menyembahnya dan seluruh kerajaan-kerajaan di dunia akan menjadi milikNya; dan saat ini godaan itu berbentuk iming-iming untuk memeluk sebuah agama baru tanpa salib, sebuah liturgi tanpa dunia yang akan datang,  sebuah agama untuk menghancurkan agama, atau sebuah politik yang berperanan sebagai agama, seperti zaman Caesar dulu, termasuk dalam hal-hal yang menjadi milik Allah.  

Di tengah tingkah lakunya yang seolah-olah dia mengasihi seluruh umat manusia, dimana mulutnya selalu berbicara soal kebebasan dan persamaan hak, antikris memiliki satu rahasia besar yang tak pernah dikatakan kepada siapapun: bahwa dia tidak percaya kepada Tuhan. Karena agamanya adalah persaudaraan tanpa peranan Kebapaan dari Allah, maka dia akan bisa menipu orang-orang pilihan. Dia akan mendirikan sebuah ‘lawan-gereja’ yang merupakan bentuk peniruan atas Gereja, karena dia, iblis, adalah sebagai peniru Allah. ‘Lawan-Gereja’ atau ‘gereja tiruan’ itu akan memiliki berbagai sifat dan tulisan-tulisan seperti Gereja Katolik, namun dalam hal yang sebaliknya dan ia tak memiliki bobot ilahiah sama sekali. Ia adalah tubuh mistik antikris yang dari luar ia akan menyerupai Tubuh Mistik Kristus …

Abad ke dua puluh akan menyatu dengan ‘lawan-gereja’ ini karena ia mengaku tak bisa salah padahal kepalanya berbicara ex cathedra dari Moskow mengenai masalah ekonomi dan politik, dan dia adalah sebagai pemimpin gembala dari komunisme dunia.

(Fulton J. Sheen, Communism and the Conscience of the West [Bobbs-Merril Company, Indianapolis, 1948], pp. 24-25)
Kini ‘lawan-gereja’ ini sedang muncul, dan inilah Lepanto bagi kita saat ini. Pada 1571 Paus St. Pius V mengajak dunia untuk mengerahkan kekuatan guna menghadapi serangan terakhir.

Pada 1571 Persekutuan Kudus (Holy League) ini merupakan sebuah kumpulan sisa kekuatan Kristianitas yang secara ajaib bisa mengalahkan kekuatan yang jauh lebih besar saat itu, yang berusaha untuk memberikan pukulan terakhir kepada Kristianitas di dalam perang Lepanto yang terkenal itu, pada 7 Oktober 1571. Di zaman kita sekarang, inilah pertempuran spirituil itu. Setan telah memperoleh banyak sekali tempat berpijak dengan pasukan-pasukan sekulernya yang telah masuk di dalam Gereja kita. Uskup Agung Fulton Sheen mengatakan hal ini sebagai ‘sebuah Gereja yang tak memiliki bobot ilahiah’. Maka kita harus merebut kembali tanah rampasan itu, tanah yang kudus itu, yaitu nilai supernatural dari Gereja.

Uskup Agung Fulton Sheen percaya bahwa inilah tempat dimana kita akan memenangkan perang ini. “Kamu harus menjalani berbagai pertempuran, tetapi janganlah khawatir, karena pada akhir nanti kamu akan memenangkan perang itu di hadapan Sakramen Terberkati…

Tak ada pengetahuan teologis saja ataupun tindakan sosial saja yang bisa mempertahankan kasih kita kepada Kristus, kecuali kedua hal itu didahului oleh sebuah perjumpaan pribadi dengan Dia. Pemahaman teologis diperoleh bukan hanya melalui isi dari sebuah buku, tetapi dari lutut yang bertekuk di depan altar. Maka tindakan devosi di dalam Jam Kudus menjadi semacam tangki oksigen yang meniupkan napas Roh Kudus di tengah atmosfer dunia yang telah berbau busuk dan pengap ini.


Sering-seringlah mengaku dosa, jadilah murni, sediakan waktu bagi Bunda Maria, didepan Sakramen Terberkati. 

Silakan melihat artikel lainnya disini : http://devosi-maria.blogspot.co.id/

No comments:

Post a Comment