Tuesday, June 16, 2020

KAUM ELIT GLOBAL BERKUMPUL DI DAVOS...


JEANNE SMITS, PARIS CORRESPONDENT



KAUM ELIT GLOBAL BERKUMPUL DI DAVOS, SEBUAH KOTA RESORT DI SWISS, GUNA MERENCANAKAN SEBUAH ‘RESET BESAR’ SETELAH PANDEMI COVID


Tujuannya adalah 'membangun kembali' sistem ekonomi dan sosial dunia agar lebih 'berkelanjutan'.

Fri Jun 12, 2020 - 8:43 pm EST
·        
·        
RUMIR / SHUTTERSTOCK.COM



12 Juni 2020 (LifeSiteNews) - “Tidak akan ada yang sama lagi.” Itu adalah mantra yang kami dengar di banyak negara pada puncak pandemi COVID-19. Kalimat itu datang dengan peringatan bahwa "normal baru" akan menggantikan tatanan yang ada sebelumnya. Perjalanan kesana kemari yang mudah, hubungan antarpribadi, pertemuan-pertemuan besar, bahkan hal-hal seperti berjabatan tangan, harus memberi jalan pada ‘menjaga jarak sosial’ (social distancing) dalam jangka panjang, aturan-aturan yang drastis, dan pengawasan. Tetapi perubahan pada tingkat pribadi ini hanyalah bagian kecil dari sebuah gambaran yang utuh. World Economic Forum, bersama dengan Pangeran Charles dari Inggris dan Dana Moneter Internasional (IMF), telah meluncurkan sebuah inisiatif yang secara jelas diberi nama "The Great Reset," dengan tujuan untuk "membangun kembali" sistem ekonomi dan sosial dunia untuk menjadikannya lebih "berkelanjutan."

Gagasan tersebut telah menerima dukungan penuh dari Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, mantan presiden the Socialist International dari 1999 hingga 2005.

Secara teknis, reset adalah inisialisasi ulang: dalam bahasa era digital kita, itu berarti menghapus semua perangkat keras dan data pada hard disk dan memformatnya lagi dengan awal yang baru. Ditransposisikan kepada aktivitas manusia, reset berarti revolusi: transformasi mendalam dari semua yang dilakukan, dipikirkan, atau dipercayai - membuat terobosan baru yang terpisah dari masa lalu.
Selama beberapa dekade, Forum Ekonomi Dunia, yang didirikan oleh Prof. Klaus Schwab pada tahun 1971, telah mengumpulkan para kepala negara, miliarder, dan para kepala bisnis besar, setiap tahun, untuk merefleksikan masalah-masalah ekonomi dan pemerintahan dan bekerja menuju tujuan bersama: perdagangan bebas yang global, aturan dunia bersama untuk menggantikan keputusan kedaulatan nasional, mempromosikan non-diskriminasi, "untuk mengubah ekonomi dan masyarakat."

Untuk waktu yang lama, pertemuan tahunannya di Davos telah diadakan secara diam-diam, bahkan secara rahasia. Namun kini perlahan-lahan telah berubah, karena tujuan WEForum telah menjadi lebih mengemuka: pertemuan-pertemuan utama, jadwal, dan daftar peserta sekarang tersedia online, meskipun secara luas dikatakan bahwa banyak pembicaraan dan keputusan dari ‘orang-orang kuat’ berlangsung dan terjadi setelah jam atau acara yang resmi.

Tetapi edisi 2021 menjanjikan akan sangat berbeda. Sementara pertemuan fisik akan diadakan di kota resor ski Swiss, Davos, seperti biasa - dan tidak ada orang biasa yang bisa memasuki Davos pada saat itu tanpa undangan resmi kepada Forum - kali ini, akan ada partisipasi online global untuk forum virtual termasuk banyak "pemangku kepentingan" dan kaum muda yang akan diberi tahu bahwa mereka akan memiliki suara yang menentukan bagi dunia yang akan datang. Beberapa akan menyebutnya sebagai "dinamika kelompok."

Selama berbulan-bulan menjelang pertemuan Davos Januari, "The Great Reset Dialogues" akan mempersiapkan acara dalam seri online yang menjanjikan untuk layak ditonton oleh mereka yang ingin tahu bagaimana para globalis dari Forum Ekonomi Dunia ingin membentuk kembali masa depan. Dan, ya, mereka bisa disebut sebagai "globalis" karena begitulah para duta besar ‘Inisiatif’ saat ini menggambarkan diri mereka sendiri.

Sebuah contoh? Perdana Menteri Ethiopia, Abiy Ahmed. Dia berkata: “Saya menganggap pandemi global yang menyakitkan ini sebagai tantangan yang kompleks dan adaptif. Dalam dunia yang saling terhubung dan saling tergantung, tantangan yang kompleks dan adaptif tidak dapat diselesaikan oleh masing-masing negara - itu hanya dapat diatasi melalui ... aksi kolektif dan kerja sama global."

Hal ini sesuai dengan harapan António Guterres bahwa seharusnya 10 persen dari PDB Bumi digunakan secara internasional untuk menanggapi dampak ekonomi dan sanitasi pandemi COVID-19, dengan solusi "global" dalam pandangan masyarakat "yang sedang lahir kembali."

Melihat Great Reset Initiative dari WEForum yang tumbuh dari COVID Action Platform, tampaknya sebagian besar chip sudah turun. “Ekonomi hijau,” “de-karbonisasi,” “memerangi ketidaksetaraan,” “kapitalisme pemangku kepentingan,” dan “tujuan pembangunan berkelanjutan” (seperti dalam “SDG” di AS) dimana ini semua adalah istilah berulang dalam artikel WEForum yang menyajikan Inisiatif. Tidak ada yang baru atau asli; sebenarnya, hal utama yang telah mengubah situasi adalah pandemi, yang digunakan sebagai momen pendorong perubahan saat ini. Bagaimana? Melalui kehancuran ekonomi global yang menyertainya ‘atas jasa’ dari lockdown internasional.

Adapun Reset itu sendiri, itu sudah dibicarakan sebelum virus corona Cina keluar dari Wuhan. Pada 30 Desember 2019, misalnya, Financial Times menerbitkan presentasi YouTube dengan judul "Mengapa kapitalisme perlu diatur ulang pada tahun 2020." Di sini tema yang berulang adalah "kapitalisme dari pemangku kepentingan," di mana "pendekatan perusahaan terhadap manusia, terhadap planet ini, dan inovasi - termasuk bagaimana perusahaan melindungi dan menerapkan nilai tambah data-datanya - harus lebih menonjol dalam keputusan alokasi modal" (seperti situs WEForum menjelaskan).

Menghadirkan Great Reset Initiative di mana dia adalah salah satu pemimpin utama, Pangeran Charles tampak cukup senang dengan situasi ini: “Kami memiliki peluang emas untuk merebut sesuatu yang baik dari krisis ini. Gelombang kejutan yang belum pernah terjadi sebelumnya mungkin membuat orang lebih mudah menerima visi perubahan besar,” katanya.

Kutipan-kutipan kunci dari pertemuan online virtual, dimana dalam kesempatan itu Presiden Forum Ekonomi Dunia, Prof. Klaus Schwab, Pangeran Charles, dan beberapa orang lain mempresentasikan Great Reset Initiative, memasukkan banyak komentar semacam itu.

Memperhatikan bahwa "perubahan iklim" adalah bahaya yang jauh lebih besar daripada pandemi coronavirus, Pangeran Charles berharap adanya "pemulihan hijau": "Ini adalah kesempatan yang belum pernah kita miliki sebelumnya dan mungkin tidak akan pernah terjadi lagi," katanya. Mempertimbangkan bahwa planet kita hampir setara dengan manusia, dia berkata: "Aktivitas kita telah merusak sistem kekebalan tubuh planet bumi."

Schwab menyebut situasi saat ini sebagai "jendela peluang yang unik." Kita harus "membangun kontrak sosial baru," katanya. "Kita harus mengubah pola pikir kita" dan "gaya hidup kita," katanya lebih jauh.

Apakah ini akan menjadi sebuah remake dari Revolusi Perancis yang berpendapat, bersama dengan Jean-Jacques Rousseau, bahwa manusia dilahirkan secara alami baik dan dirusak oleh masyarakat, dan bahwa masyarakat harus dihasilkan dari "kontrak sosial" di mana hukum dan norma moral bukanlah ekspresi hukum ilahi, tetapi kehendak mayoritas orang? Sejarah telah menunjukkan bahwa revolusi yang dibangun di atas dasar pemikiran itu berujung pada tirani.

Salah satu tujuan utama dari "Great Reset" adalah "mengurangi ketidaksetaraan," yang dalam istilah sehari-hari berarti "mendistribusikan kembali kekayaan." Gagasan ini diterima begitu saja, bahwa ketidaksetaraan adalah kejahatan itu sendiri. Berbicara selama pertemuan Great Reset virtual, Guterres mengatakan krisis COVID-19 harus mengarah pada respons terhadap “tingkat ketidaksetaraan yang tidak berkelanjutan dan pelanggaran hukum dunia maya.”

Pajak karbon dan “energi terbarukan” juga dijunjung tinggi dalam agenda Great Reset. Guterres mengutip kebutuhan untuk "maju menuju emisi-nol" dan mengimplementasikan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) dari PBB. SDGs ini, dengan pola pikir sosialis dan eko-radikalisme mereka, mengadvokasi "untuk akses universal kepada kesehatan seksual dan reproduksi serta hak-hak reproduksi," Jargon PBB ini juga memasukkan kontrasepsi dan aborsi - paling tidak, karena jumlah populasi manusia dianggap sebagai musuh utama alam dan keanekaragaman hayati.

Direktur pelaksana IMF, Kristalina Georgieva, yang tumbuh besar di Bulgaria Komunis, mempromosikan pendekatan "hijau" yang sama. Sementara IMF menyediakan bantuan darurat yang diperkirakan akan berjumlah hingga 100 miliar dolar, dengan "170 negara" diperkirakan memiliki ekonomi yang lebih kecil pada akhir tahun 2020 daripada yang mereka mulai pada awal tahun, dan  Georgieva menyatakan:

Disini kita melihat suntikan stimulus fiskal yang sangat masif [.] ... Tetapi yang terpenting adalah bahwa ini akan mengarah pada dunia yang lebih hijau, lebih adil, lebih cerdas di masa depan.
Dengan kata lain, bantuan keuangan harus digunakan dan didistribusikan untuk mendukung perusahaan-perusahaan yang benar secara ekologis. Dia menambahkan bahwa harus ada "insentif karbon rendah," mengambil "keuntungan dari harga minyak rendah" untuk menambahkan "harga karbon sebagai insentif." "Kami membutuhkan Reset Besar, bukan pembalikan besar," pungkasnya.
Mungkin pembicara yang paling penting pada peluncuran virtual Great Reset adalah Ma Jun, dari Komite Keuangan Hijau (Komunis) Cina. Dia juga penasihat khusus untuk gubernur Bank Rakyat Cina yang dikendalikan Partai Komunis Cina dan dipresentasikan sebelum pidatonya pada peluncuran virtual Great Reset sebagai "anggota NPC." "NPC" adalah singkatan dari Kongres Rakyat Nasional, yang secara teori adalah otoritas politik tertinggi di Cina, di mana, bagaimanapun, presiden Xi Jinping dan Partai Komunis yang berkuasa dan memerintah tertinggi.

Ma Jun menegaskan bahwa pemulihan pasca-COVID harus "lebih hijau daripada pemulihan sebelumnya," melalui pembiayaan "proyek hijau" yang harus "lebih tinggi daripada yang pernah terjadi dalam sejarah."

Ma Jun juga mengatakan, “Stimulus konsumsi harus berwarna hijau. Pemerintah dapat membuat daftar barang konsumsi hijau dan ini harus diberikan preferensi pada daftar subsidi dan kupon konsumen."

Memperhatikan bahwa banyak sekali pekerja migran kehilangan pekerjaan di Cina, ia menambahkan: "Daripada membayar mereka dengan tunjangan pengangguran, maka kita harus meminta mereka untuk menanam pohon dan membayar mereka untuk itu."

Mengenai "proyek non-hijau," Ma Jun menyatakan, mereka harus tunduk pada "peraturan baru" yang mewajibkan mereka untuk memenuhi "standar lingkungan yang ketat" dan dibuat untuk "merilis informasi" tentang kepatuhan mereka "atas dasar kewajiban".

Ingatlah bahwa rekomendasi ini dibuat oleh Ma Jun bukan hanya untuk Cina (yang merupakan penghasil karbon terbesar di dunia, dengan pabrik batubara baru yang direncanakan untuk dibangun hingga tahun 2030), tetapi untuk seluruh dunia.

Ma Jun sebenarnya menggemakan keinginan Bernard Looney, CEO BP (sebelumnya British Petroleum), yang mengatakan sebelumnya, "Setiap stimulus pemulihan harus memiliki kondisi hijau." Ini berarti membiarkan bisnis yang tidak patuh, untuk mati setelah terluka parah oleh tindakan lockdown.

Looney juga mengagumi Cina: "Pemulihan Cina dapat membuat kita keluar dari krisis," katanya.

Kembali kepada publikasi World Economic Forum tentang krisis COVID-19 dan jalan keluar yang tepat, kita tidak boleh lupa bahwa ideologi gender juga menjadi bagian dari paket ekologis-sosialis. Dalam sebuah op-ed oleh John Miller berjudul "Great Reset: Mengapa inklusi LGBT+ adalah kunci dari kesuksesan kota-kota pasca-pandemi," weforum.org mengklaim bahwa "ada korelasi positif yang kuat antara inklusi LGBT+ dan ketahanan ekonomi." "Secara khusus, kota-kota yang menganut keanekaragaman (termasuk keanekaragaman gender) dapat menuai 'dividen inklusi' ketika mereka mulai membangun kembali ekonomi mereka," lanjutnya.

Sementara krisis “mengancam untuk membalikkan kemajuan selama beberapa dekade dalam memerangi kemiskinan,” dikatakan bahwa “LGBT inclusion” akan memungkinkan untuk pulih lebih cepat sesuai dengan “Open for Business,” sebuah koalisi perusahaan yang mempromosikan “kesetaraan LGBT+.”

“Ini adalah temuan yang signifikan: peningkatan satu poin dalam penerimaan sosial menunjukkan peningkatan tiga poin dalam indeks ketahanan ekonomi, bahkan ketika harus mengendalikan PDB per kapita. Bisakah LGBT+ dimasukkan sebagai unsur rahasia untuk ketahanan ekonomi ?,” demikian tulis John Miller. Dia mengatakan bahwa "keterbukaan" dan "inovasi" adalah terkait dengan penerimaan gaya hidup homoseksual dan trans gender.

“Sekarang adalah saatnya bagi kita untuk merangkul komunitas LGBT+, bukan menstigmatisasi mereka. Menciptakan masyarakat inklusif bukanlah hal yang tepat untuk dilakukan; seperti yang diperlihatkan oleh bukti, ini merupakan bagian penting dari strategi ekonomi yang berfokus pada ketahanan dan pemulihan: "Kesimpulan Miller juga merupakan indikator yang jelas tentang apa yang dipromosikan oleh krisis COVID-19.


*****

Kitab Suci tentang gender:

Kej 1:27 Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. 
Kej 2:23 Lalu berkatalah manusia itu: "Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki." 
Kej 2:24 Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging. 
Kej 4:1 Kemudian manusia itu bersetubuh dengan Hawa, isterinya, dan mengandunglah perempuan itu, lalu melahirkan Kain; maka kata perempuan itu: "Aku telah mendapat seorang anak laki-laki dengan pertolongan TUHAN.“
Kej 5:2 laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. Ia memberkati mereka dan memberikan nama "Manusia" kepada mereka, pada waktu mereka diciptakan. 
Mat 19:4 Yesus: "Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan?
Mat 19:5 Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging.
Mat 19:6 Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia."
1Tes 4:3 Karena inilah kehendak Allah: pengudusanmu, yaitu supaya kamu menjauhi percabulan,
1Tes 4:4 supaya kamu masing-masing mengambil seorang perempuan menjadi isterimu sendiri dan hidup di dalam pengudusan dan penghormatan,
1Tes 4:5 bukan di dalam keinginan hawa nafsu, seperti yang dibuat oleh orang-orang yang tidak mengenal Allah,
1Tes 4:7 Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus.

Kitab Suci tentang homosex:

Rm 1:24 Karena itu Allah menyerahkan mereka kepada keinginan hati mereka akan kecemaran, sehingga mereka saling mencemarkan tubuh mereka.
Rm 1:26 Karena itu Allah menyerahkan mereka kepada hawa nafsu yang memalukan, sebab isteri-isteri mereka menggantikan persetubuhan yang wajar dengan yang tak wajar.
Rm 1:27 Demikian juga suami-suami meninggalkan persetubuhan yang wajar dengan isteri mereka dan menyala-nyala dalam berahi mereka seorang terhadap yang lain, sehingga mereka melakukan kemesuman, laki-laki dengan laki-laki, dan karena itu mereka menerima dalam diri mereka balasan yang setimpal untuk kesesatan mereka.
Rm 1:32 Sebab walaupun mereka mengetahui tuntutan-tuntutan hukum Allah, yaitu bahwa setiap orang yang melakukan hal-hal demikian, patut dihukum mati, mereka bukan saja melakukannya sendiri, tetapi mereka juga setuju dengan mereka yang melakukannya.

Katekismus tentang perkawinan:

CCC1601. "Perjanjian Perkawinan, dengan mana pria dan wanita membentuk antar mereka kebersamaan seluruh hidup, dari sifat kodratinya terarah pada kesejahteraan suami-isteri serta pada kelahiran dan pendidikan anak;“
CCC1603. “Allah sendirilah Pencipta Perkawinan." Panggilan untuk Perkawinan sudah terletak dalam kodrat pria dan wanita, sebagaimana mereka muncul dari tangan Pencipta.
CCC1605. “Kitab Suci berkata, bahwa pria dan wanita diciptakan satu untuk yang lain... sehingga keduanya menjadi satu daging."

Katekismus tentang homosex:

CCC 2357. Homoseksualitas adalah hubungan antara para pria atau wanita, yang merasa diri tertarik dalam hubungan seksual, semata-mata atau terutama, kepada orang sejenis kelamin. Homoseksualitas muncul dalam berbagai waktu dan kebudayaan dalam bentuk yang sangat bervariasi. Asal-usul psikisnya masih belum jelas sama sekali. Berdasarkan Kitab Suci yang melukiskannya sebagai penyelewengan besar, tradisi Gereja selalu menjelaskan, bahwa "perbuatan homoseksual itu tidak baik" (CDF, Perny. "Persona humana" 8). Perbuatan itu melawan hukum kodrat, karena kelanjutan kehidupan tidak mungkin terjadi waktu persetubuhan. Perbuatan itu tidak berasal dari satu kebutuhan benar untuk saling melengkapi secara afektif dan seksual. Bagaimanapun perbuatan itu tidak dapat dibenarkan.

*****












1 comment:

  1. menang berapapun di bayar
    ayo segera bergabung bersama kami di bandar365*com
    WA : +85587781483

    ReplyDelete