Friday, June 12, 2020

Sr. LUCIA YAKIN BAHWA AMERIKA SERIKAT AKAN MENJADI NEGARA KOMUNIS


MAIKE HICKSON



LUCIA, VISIUNER FATIMA, YAKIN BAHWA AMERIKA SERIKAT AKAN MENJADI NEGARA KOMUNIS JIKA TANPA KONSEKRASI KEPADA MARIA


"Dengan melihat kepada agenda resmi dari gerakan Black Lives Matter, orang dapat dengan mudah mendeteksi adanya ideologi anti-keluarga dari Marxis dan LGBT yang ada di dalam gerakan ini"


Tue Jun 9, 2020 - 2:49 pm EST

·        

Sister Lucia of Fatima


9 Juni 2020 (LifeSiteNews) - Ada sebagian kecil dari wawancara yang dilakukan oleh sejarawan Amerika yang terkenal dan penulis buku, William Thomas Walsh, dengan Suster Lucia, visiuner Fatima, yang sekarang Walsh memberikan inspirasi khusus kepada kami, dengan melihat kondisi kacau dan revolusioner yang sedang berlangsung di Amerika Serikat.

Suster Lucia dari Fatima adalah salah satu dari tiga anak yang menyaksikan penampakan Bunda Maria pada tahun 1917 di Fatima, dan dia terus menerima pesan-pesan dari surga selama bertahun-tahun sesudahnya. Salah satu pesan itu berkaitan dengan Revolusi Bolshevik yang akan terjadi di Rusia dan adanya kebutuhan untuk mengkonsekrasikan Rusia kepada Hati Maria yang Tak Bernoda.

Pada tahun 1947, Profesor William Thomas Walsh menulis sebuah buku tentang Fatima, berjudul Our Lady of Fatima, di mana dia menceritakan dalam sebuah epilog sebuah wawancara yang telah dia lakukan dengan Suster Lucia dari Fatima tahun sebelumnya.

Berbicara dengan Sr.Lucia pada tahun 1946 tentang permintaan Bunda Maria sebelumnya, agar Rusia dikonsekrasikan kepada Hati Maria Yang Tak Bernoda, yang harus dilakukan oleh Paus bersama dengan para uskup di dunia, Sr. Lucia mengatakan kepada Profesor Walsh:

“Apa yang diinginkan oleh Bunda Maria adalah bahwa Paus bersama semua uskup di dunia mengkonsekrasikan Rusia kepada Hatinya Yang Tak Bernoda pada sebuah hari tertentu. Jika hal ini dilakukan, maka dia akan mempertobatkan Rusia dan akan ada kedamaian di dunia. Jika tidak dilakukan, maka kesalahan Rusia akan menyebar ke setiap negara di dunia."

"Apakah ini berarti," Walsh kemudian bertanya, "menurut pendapat Anda, bahwa setiap negara, tanpa kecuali, akan dikuasai oleh Komunisme?" Dan Suster Lucia menjawab: "Ya."

Sebagai penerjemah dari wawancara ini, Pastor Manuel Rocha, kemudian mengungkapkan, Walsh kemudian bertanya secara eksplisit tentang Amerika Serikat, dan menambahkan: "... apakah itu berarti Amerika Serikat juga?" Lalu, Sr. Lucia menjawab sekali lagi dengan “ya.”

Dengan kata lain, Sr.Lucia, yang peristiwa penampakannya telah diakui oleh Gereja Katolik, meramalkan bahwa Amerika Serikat, dalam kondisi tertentu, juga akan menjadi Komunis. Kutipan ini juga dapat ditemukan di sini.

Jawaban ini mungkin terdengar agak tidak realistis pada tahun 1946 yang lalu, tepat setelah berakhirnya Perang Dunia Kedua dan awal dari Perang Dingin. Namun, hari ini, mengingat kerusuhan revolusioner yang tampaknya mengubah Amerika secara sangat mendalam, mereka (komunis) mungkin akan menyerang dengan nada yang lebih kuat.

Gerakan Black Lives Matter tampaknya adalah organisasi yang menjadi pusat pemberontakan melawan struktur sosial yang telah mapan di AS, untuk melakukan penggundulan terhadap lembaga kepolisian dan perubahan radikal pada masyarakat. Pengaruh mereka dibuktikan oleh fakta bahwa Washington D.C. baru saja memberi nama sebuah taman di sebelah Gereja St. John yang baru dibakar oleh beberapa pengunjuk rasa, dengan nama Black Lives Matter Plaza.

Kelompok ini telah menerima dana besar dari promotor kaya pendukung kaum kiri, George Soros (seperti halnya organisasi mitranya, Color of Change dan the National Association for the Advancement of Colored People NAACP.)

Melihat ke dalam agenda resmi Black Lives Matter, orang dapat dengan mudah mendeteksi adanya ideologi anti-keluarga dari Marxis dan LGBT dari gerakan ini, yang telah didanai oleh mereka yang berada di luar komunitas kulit hitam, seperti Soros, si globalis:

“Kami akan merusak segala persyaratan bagi struktur keluarga inti yang telah ditentukan di Barat dengan mendukung satu sama lain sebagai keluarga besar dan 'desa' yang secara kolektif memelihara satu sama lain, terutama anak-anak kami, sampai para ibu, orang tua, dan anak-anak merasa nyaman.

Kami membina jaringan yang mendukung kami. Ketika kami berkumpul, kami melakukannya dengan maksud untuk membebaskan diri dari cengkeraman ketat pemikiran heteronormatif, atau lebih tepatnya, kepercayaan bahwa semua orang di dunia adalah heteroseksual (kecuali jika mereka mengungkapkan sebaliknya)."

Elemen agresif lain dari protes kekerasan saat ini yang telah disebut oleh Presiden Trump sendiri adalah gerakan Antifa. Seperti yang baru-baru ini ditunjukkan, simbol yang masih digunakan oleh gerakan Antifa hari ini - dua bendera yang diletakkan di atas satu sama lain – yang mengingatkan kita kembali kepada pendirian Antifaschistische Aktion (Aksi Anti-fasis) pada 1930-an oleh Komunis Jerman. Dan bahkan penerus yang lebih baru dari gerakan asli ini diorganisir pada tahun 1970 oleh Liga Komunis Maois Jerman (Kommunistischer Bund). Dengan demikian, jenis protes yang keras dan agresif saat ini di Amerika Serikat adalah inspirasi dari paham Komunis. Mereka memiliki pandangan anarkis yang sama terhadap otoritas negara dan khususnya terhadap polisi.

Seperti komentar Tucker Carlson dari Fox News baru-baru ini tentang perkembangan politik baru yang bertujuan untuk menggunduli lembaga kepolisian, namun pada saat yang sama mereka menindas pesan-pesan dari warga yang mengumumkan bahwa mereka akan membela diri dengan senjata mereka sendiri: "Ini adalah langkah menuju kontrol sosial otoriter.” "Mereka menciptakan kekacauan," katanya pada 8 Juni 2020, "Anda tidak diizinkan membela diri."

Masa depan dari ‘kelompok kiri,’ seperti yang diamati oleh Tucker Carlson, adalah: bahwa hanya mereka yang akan memiliki senjata "yang ada di dalam tim mereka, dan itulah yang benar-benar berarti 'menggunduli lembaga kepolisian'," yaitu: "penegakan hukum partisan." Carlson juga menggambarkan dalam wawancaranya “...adanya tindakan keras terhadap kebebasan berbicara dan kebebasan berpikir” yang telah terjadi dalam beberapa hari terakhir. Aturan yang baru nanti adalah: "Anda tidak diizinkan untuk mempertanyakan Black Lives Matter dengan cara apa pun," dan ini akan diberlakukan oleh raksasa media sosial seperti Facebook dan lain-lainnya. Setelah menambahkan bahwa "kita tidak pernah hidup di dalam lingkungan seperti ini," jurnalis itu menambahkan bahwa banyak orang mendapatkan pesan ini dan mengikutinya. "Dan mereka yang lemah akan sangat cepat untuk bergabung, seperti kelompok Pengawal Merah (Red Guards) kecil yang selalu ada di bawahnya," jelasnya. Mengingat teknik-teknik penghinaan publik terhadap mereka yang memiliki pendapat atau berada pada posisi yang berbeda - di sini adalah contoh penghinaan publik terhadap walikota Minneapolis ketika ia menolak untuk dipaksa berjanji untuk membubarkan Departemen Kepolisian - orang juga teringat akan teknik-teknik revolusi Komunis sebelumnya, yang memaksa orang-orang dari pandangan yang lain untuk tunduk.

Juga dengan mengingat aksi penjarahan dan kerusuhan yang memalukan, yang telah meneror jutaan orang Amerika selama dua minggu terakhir, kita dapat mengatakan bahwa kita berada semakin dekat dengan, setidaknya, atmosfer Komunis di Amerika. Kita semakin teringat akan suasana yang mirip dengan negara-negara komunis Timur di Eropa dimana warganya diharuskan mendukung tesis penderitaan abadi dan superioritas moral kaum proletariat, yang pada akhirnya orang harus merasa malu dengan latar belakang dan warisannya sendiri, jika ada, yang bukan dari latar belakang proletar. Pemaksaan akan mengikuti paham ini, untuk memasukkan pemindahan "patung kontra-revolusioner" dan barang-barang lain dari tradisi dan warisan. Korban jutaan nyawa di seluruh dunia sudah kita ketahui.

Dalam semua kekacauan ini, kekristenan yang melemah semakin terkikis, karena kita sekarang dapat menyaksikannya dengan mata kepala sendiri, di mana seorang uskup agung justru menegur Presiden AS karena mengunjungi sebuah tempat ziarah Katolik dan seorang pastor berharap bahwa George Floyd akan menjadi pengantara bagi kita, karena pastor ini percaya bahwa  George Floyd sudah berada di surga, terlepas dari bagaimana kehidupan moralnya sendiri di dunia.

Kita juga ingat di sini surat terbuka yang baru dari Uskup Agung Carlo Maria Viganò kepada Presiden Donald Trump, di mana ia menulis: “Kita juga bisa melihat bahwa kerusuhan pada hari-hari ini dipicu oleh mereka yang, melihat bahwa virus itu pasti memudar dan bahwa alarm sosial dari pandemi akan berkurang, tentu mereka harus memprovokasi gangguan sipil, karena mereka akan diikuti oleh penekanan yang, meskipun sah, dapat dikutuk sebagai agresi yang tidak dapat dibenarkan terhadap warga. Hal yang sama juga terjadi di Eropa, dalam sinkronisasi yang sempurna. Cukup jelas bahwa penggunaan protes jalanan sangat berperan bagi tujuan mereka yang ingin melihat seseorang terpilih dalam pemilihan presiden mendatang, yang akan mewujudkan tujuan negara bagian dan yang mengekspresikan tujuan-tujuan itu dengan setia dan dengan keyakinan. Tidak akan mengejutkan jika, dalam beberapa bulan, kita belajar sekali lagi bahwa tersembunyi di balik tindakan perusakan dan kekerasan ini ada orang-orang yang berharap mendapat untung dari pembubaran tatanan sosial sehingga dapat membangun dunia tanpa kebebasan: Solve et Coagula, seperti pepatah Masonik mengajarkan."

Mengingat kata-kata Uskup Agung Viganò tentang aturan Masonik, mari kita ingat di sini sebuah surat bersejarah tahun 1918 – yang ditulis tidak lama setelah penampakan Bunda Maria tahun 1917 di Fatima - di mana Gereja Katolik diperingatkan oleh Kaisar Jerman, Willhelm II, tentang pengambilalihan Bolshevic yang akan datang sebagai bagian dari rencana Freemasonic untuk mendirikan sebuah ‘republik dunia.’ Surat ini asli dan telah ditemukan di Arsip Rahasia Vatikan.

Pesan dari Kaisar adalah “bahwa, menurut berita yang datang kepadanya kemarin, Grand Orient [Freemasonic] baru saja memutuskan untuk menggulingkan semua Penguasa - pertama-tama dia, Kaisar - kemudian untuk menghancurkan Gereja Katolik, untuk memenjarakan paus, dll dan, akhirnya, untuk membangun reruntuhan masyarakat borjuis yang lama, sebuah republik dunia di bawah kepemimpinan American Big Capital. Freemason Jerman konon loyal kepada Kaisar [Jerman] (yang harus diragukan disini!) Dan mereka memberitahunya tentang hal itu. Inggris juga ingin mempertahankan tatanan borjuis saat itu. Prancis dan Amerika, bagaimanapun, dikatakan berada di bawah pengaruh penuh dari Grand Orient [Freemasonic Lodge]. Bolshevisme dikatakan sebagai alat eksternal untuk menetapkan kondisi yang diinginkan. Dalam menghadapi bahaya besar yang mengancam selain Monarki, juga Gereja Katolik, dengan demikian penting bahwa keuskupan Jerman diberi tahu dan bahwa paus juga harus diperingatkan."

Surat ini berumur lebih dari seratus tahun. Pembaca kami dapat menilai sendiri apakah ada kesamaan dengan situasi kami saat ini.

Semoga kita menyadari permulaan yang berbahaya ini dan melawannya selama kita masih bisa. Tetapi tidak hanya dengan cara praktis seperti artikel dan item berita; yang paling penting, ini perlu dilakukan dengan cara spiritual. Kita perlu banyak berdoa Rosario Kudus, melakukan devosi kepada Hati Maria yang Tak Bernoda sebagaimana diminta oleh surga, dan, akhirnya, kita perlu mendesak agar konsekrasi Rusia secara lengkap, eksplisit dan benar, musti dilakukan, seperti yang dianjurkan lagi oleh Kardinal Raymond Burke dan sejarawan Italia Profesor Roberto de Mattei baru-baru ini.

*****










1 comment: