Friday, June 5, 2020

VIGANÒ: BUNDA MARIA MEMPERINGATKAN TENTANG TERJADINYA ‘KEMURTADAN BESAR’


MAIKE HICKSON

 


USKUP AGUNG VIGANÒ:
BUNDA MARIA MEMPERINGATKAN TENTANG TERJADINYA ‘KEMURTADAN BESAR’ DI DALAM GEREJA YANG DIIKUTI OLEH RESIKO PD III


'Semua bukti menunjukkan bahwa kita telah memasuki masa pencobaan ini, sebuah ujian yang menentukan'

Tue Jun 2, 2020 - 5:55 pm EST

·        

Archbishop Carlo Maria ViganòDiane Montagna / LifeSiteNews 


2 Juni 2020 (LifeSiteNews) - Uskup Agung Carlo Maria Viganò, dalam sebuah wawancara dengan LifeSiteNews (baca wawancara lengkap di bawah), menjelaskan sejarah penampakan Bunda Maria di Civitavecchia, Italia, yang terjadi 25 tahun lalu. Selama peristiwa-peristiwa ajaib ini, Bunda Maria merujuk kembali kepada penampakan dan pesannya di Fatima (1917), dan Bunda Maria memperingatkan bahwa Setan sudah bergerak keluar untuk menghancurkan keluarga. 

Selain itu, Bunda Maria juga berbicara tentang kemurtadan di dalam Gereja, kegelapan yang membayangi Roma, kebutuhan untuk mengkonsekrasikan Italia kepada Hati Maria yang Tak Bernoda, dan menambahkan bahwa “dunia telah semakin menjadi tawanan kegelapan dan kejahatan Setan, tanpa mengecualikan banyak sekali para hamba Gereja (klerus)." Bunda Maria juga berbicara tentang risiko perang dunia ketiga jika kemurtadan ini terus berlangsung.

Bunda Maria berbicara kepada keluarga Gregori, setelah patung Maria di rumah mereka mulai meneteskan air mata darah pada tanggal 2 Februari 1995. Bunda Maria menjelaskan bahwa penampakan ini terkait dengan penampakannya di Fatima. Bunda Maria menyatakan: “Anak-anakku, kegelapan Setan sekarang telah mengaburkan seluruh dunia dan juga mengaburkan Gereja Tuhan. Bersiaplah untuk menjalani apa yang telah kusampaikan kepada putri-putri kecilku di Fatima ”

Memang, kata Viganò itu, "ramalan tentang ‘bunuh diri’ Gereja Katolik ini sebagian besar telah dipenuhi melalui upaya Setan-Masonik untuk merubah agama Katolik, mereduksinya menjadi salah satu dari banyak kepercayaan yang merupakan bagian dari satu agama tunggal dunia."

Lebih lanjut, menjelaskan pengaruh Masonik di dalam Gereja dan di dunia, Uskup Agung Viganò menambahkan: “Bahwa gurita Masonik yang mencengkeram Gereja Katolik dalam tentakel-tentakelnya bukanlah rumor atau rahasia. Tepat di jantung Vatikan, benteng yang sangat kuat dari Gereja Katolik, Masonry telah mempersenjatai diri dengan kesabaran jahat dan menunggu sampai mencapai tuas kekuasaan dan komando. Jantung agama Katolik, yang dengan mandat ilahi harus menjadi lampu suar dunia, telah lama menjadi rumah bagi kemegahan dan kepura-puraan yang meluruhkannya.” Namun ada juga sebuah pesan pengharapan. Bunda Maria menyatakan selama penampakannya di Civitavecchia, Italia: "Setelah tahun-tahun yang menyakitkan dari kegelapan Setan, tahun-tahun kemenangan dari Hatiku yang Tak Bernoda kini sudah dekat." Dan Bunda Maria mendesak kita untuk berdoa Rosario sebagai senjata yang kuat melawan kuasa-kuasa jahat. Seperti dinyatakan oleh Uskup Agung Viganò, penampakan-penampakan ini telah diakui oleh Keuskupan Civitavecchia dan bahkan Paus Yohanes Paulus II secara pribadi memberkati patung ajaib disitu. Selain itu, Viganò memberi tahu kita bahwa Pastor Gabriele Amorth, kepala pengusir setan yang dihormati dan sekarang telah meninggal, sangat percaya pada penampakan-penampakan ini dan bahkan meminta keluarga Gregori untuk berdoa baginya ketika dia berada di akhir hidupnya. Uskup Agung Viganò mengunjungi keluarga Gregori dan bahkan menyaksikan beberapa fenomena supernatural ketika berdoa di hadapan patung ajaib itu.

LifeSite menghadirkan disini sebuah wawancara panjang yang dilakukan dengan Uskup Agung Viganò setelah dia baru-baru ini menyebut tentang penampakan Civitavecchia dalam pernyataannya yang lain. Berbicara dengan situs web Portugis tentang pesan Fatima dan setelah mengatakan bahwa rahasia ketiga Fatima belum sepenuhnya terungkap, uskup Italia itu mengatakan, "Selain itu, [Kardinal Tarcisio] Bertone sendiri yang sangat mendiskreditkan dan mengecam Madonnina delle Lacrime (Bunda Airmata) dari Civitavecchia, yang pesannya sangat sesuai dengan apa yang dia katakan di Fatima."

Bagi Uskup Agung Viganò, peringatan-peringatan dari Bunda Maria di pinggiran Keuskupan Metropolitan Roma ini telah menjadi kenyataan di zaman kita sekarang. Berbicara tentang pesan-pesan Bunda Maria, tentang serangan Setan terhadap keluarga-keluarga - sesuatu yang pernah dibicarakan juga oleh Suster Lucia dalam suratnya kepada Kardinal Carlo Caffarra, Uskup Agung Viganò menjelaskan:

“Pertempuran menentukan antara Kerajaan Kristus dengan kerajaan Setan adalah menyangkut masalah pernikahan dan keluarga. Menyerang keluarga berarti menghancurkan sel fundamental masyarakat, dan juga Gereja. Agresi terhadap keluarga juga memanifestasikan dirinya di dalam Gereja, yang secara eksplisit tertuang dalam Anjuran atau Desakan Apostolik Amoris Laetitia (AL), dimana di dalam AL disebutkan adanya kemungkinan untuk menolak kaidah tidak terceraikannya perkawinan (yang berarti AL membuka peluang bagi perceraian), dan dengan memberikan legitimasi kepada perbuatan homosex dan promosi terhadap ideologi gender.

Civitavecchia, seperti Fatima, berisi sebuah peringatan bagi Gereja dan sebuah penghakiman atas Sejarah, dan menawarkan satu-satunya obat yang menentukan, Penangkal Ilahi, bagi kejahatan dan kutukan Sejarah dan manusia.

Adalah penting untuk mengetahui bahwa Jessica Gregori, putri keluarga yang menyaksikan penampakan-penampakan dan peristiwa-peristiwa supernatural ini, diberi oleh Bunda Maria isi dari rahasia ketiga Fatima dan bahwa pesan ini kemudian disampaikan kepada Paus Yohanes Paulus II saat itu. Jessica Gregori sendiri dapat bertemu, pada tahun 1996, dengan Suster Lucia dari Fatima dan membandingkan pesan yang mereka terima mengenai rahasia ketiga. Ternyata pesan yang mereka terima adalah cocok.

Penampakan-penampakan Bunda Maria di Civitavecchia tampaknya belum banyak dikenal di dunia berbahasa Inggris. LifeSite berterima kasih kepada media Daily Compass yang telah secara luas melaporkan penampakan ini dan yang telah melakukan wawancara dengan Pastor Flavio Ubodi, wakil presiden komisi keuskupan yang mengakui penampakan tersebut, di mana patung ajaib itu ditempatkan di sebuah gereja untuk adorasi. Pastor Ubodi baru saja menerbitkan sebuah buku, dalam bahasa Italia, yang berjudul Civitavecchia. 25 years with Mary

Tampaknya sudah takdir bahwa sekarang Uskup Agung Viganò yang membawa pesan peringatan dan harapan yang diberikan kepada kita oleh Bunda Maria dari Civitavecchia, Italia, kepada dunia berbahasa Inggris. Di tengah-tengah kekacauan dan kehancuran yang kita saksikan saat ini, marilah kita ingat bahwa kita memiliki Bunda Maria di surga yang selalu memperhatikan kita, kepada siapa kita dapat berpegang teguh, dan Bunda Maria telah berjanji akan menolong kita.

Viganò juga berkata: “Jika kemenangan Hati Tak Bernoda sudah tidak jauh, maka sekarang adalah waktu dari pertempuran itu, dan Bunda Maria yang menjadi Pemimpin dan Coredemptrix kita, ingin melihat kita ikut bertarung, menderita dan memohon kemenangannya, yang sekarang ada di pintu gerbang." Dan kemudian Viganò mengutip perkataan Bunda Maria sendiri: “Melalui kamu, aku dapat menyebarkan cahaya iman pada hari-hari kemurtadan besar ini. Kamu adalah terang Tuhan, karena kamu adalah anak-anak yang dikuduskan sepenuhnya bagiku. Biarkan dirimu dibimbing olehku ... Jika kamu mendengarkan aku dengan kasih yang sejati, dan memenuhi permintaanku dengan berjalan di jalan yang kutunjukkan kepadamu di dalam pikiran dan hatimu, maka melalui kamu aku akan dapat mewujudkan Rencana Ilahi yang agung dari kemenangan besar Hatiku yang Tak Bernoda.”(8 September 1995).

*****

Wawancara Lifesite Dengan Uskup Agung Carlo Maria Viganò


LifeSiteNews: Baru-baru ini Anda menyebutkan penampakan Bunda Civitavecchia dalam kaitannya dengan pesan-pesan Bunda Fatima. Anda mengatakan dalam sebuah wawancara baru-baru ini: "Selain itu, Bertone sendiri yang sangat mendiskreditkan dan mengecam Madonnina delle Lacrime [Patung Menangis Bunda Maria] dari Civitavecchia, yang pesannya sangat sesuai dengan apa yang dikatakannya di Fatima." Bisakah Anda ceritakan kepada kami tentang kejadian di Civitavecchia, yang terletak di pinggiran Keuskupan metropolitan Roma? Apa yang terjadi disana?

Uskup Agung Carlo Maria Viganò: “Papa, papa, Madonna menangis!” Pada tanggal 2 Februari 1995, jam 16:21, Jessica Gregori, seorang gadis kecil yang belum genap berusia enam tahun, akan pergi ke Misa Kudus bersama keluarganya, ketika pertama kalinya dia melihat patung kecil Mary Most Holy menangis air mata darah di gua batu kecil yang baru dibangun ayahnya di depan rumah mereka.
Fabio, ayahnya, sedang memasukkan putranya yang berusia 18 bulan, Davide, ke dalam mobil ketika dia mendengar putrinya berseru berulang kali. Ketika dia mendengar kata "darah" dia bergegas dan menyadari apa yang terjadi, meskipun pada awalnya hal itu cukup membingungkan dirinya. Istrinya, Annamaria, sudah menunggu mereka di gereja, tetapi dia tidak terkejut mendengar apa yang telah terjadi di rumahnya, karena dia tidak melupakan mimpi yang dia alami 18 Januari sebelumnya, yang merujuk pada peristiwa menyakitkan yang akan terjadi pada hari perayaan Candlemas. Sejak hari itu, fenomena itu berulang sebanyak tiga belas kali, di depan kerumunan banyak saksi mata, hingga 6 Februari. Sejumlah agen keamanan publik, yang segera dipanggil oleh Fabio, juga hadir tanpa melakukan gangguan selama hari-hari itu untuk menjaga patung kudus itu dan juga akan memberikan kesaksian dibawah sumpah tentang peristiwa itu selama dilakukan investigasi.

Badai pecah di sekitar keluarga muda itu. Pastor paroki, yang adalah saksi mata pertama setelah anggota keluarga, memberi tahu Uskup setempat, Mgr. Girolamo Grillo, tetapi uskup ini tidak ingin tahu tentang peristiwa itu, dan dia merobek laporan pertama yang ditulis oleh pastor paroki sendiri.
Perlawanan Mgr.Grillo terhadap peristiwa itu sangat kuat dan memicu reaksi media yang negatif. Atas permintaan berbagai pihak, Pengadilan menginvestigasi keluarga tersebut dalam berbagai hal. Mereka melakukan segala macam penelitian dan pemeriksaan pada cairan, pada patung dan di rumah keluarga Gregori serta kerabat mereka. Fabio Gregori sendiri mendorong agar penyelidikan ini dilakukan, karena dia ingin kebenaran diungkapkan dan untuk melindungi keluarganya, bahkan dia sampai mengusulkan untuk menggadaikan rumahnya untuk membayar pengujian DNA yang sangat mahal yang perlu dilakukan.

Patung Maria yang ada disitu, disita oleh Uskup Grillo dan disimpan di rumahnya sendiri, di mana patung itu terus menangis darah di depan banyak saksi sampai 15 Maret. Uskup Grillo sendiri menceritakan kepada saya apa yang terjadi hari itu. Saat itu jam 8:15 pagi. Setelah merayakan Misa Kudus, Uskup Grillo menyetujui permintaan saudara perempuannya untuk berdoa di hadapan patung suci itu, yang telah disimpannya di lemari. Bersama dengan orang-orang yang hadir hari itu, Uskup Grillo mulai mendaraskan doa "Salam, Ratu Suci." Ketika mereka mengucapkan kalimat, "Oh pembela yang murah hati, arahkanlah pandangan kasihmu kepada kami," patung itu mulai menangis darah. Uskup Grillo terkejut begitu hebatnya hingga dia harus menerima pertolongan darurat dari seorang ahli jantung.

Setelah peristiwa yang cukup mengejutkan ini, Uskup Grillo secara radikal merubah sikapnya. Dia menghentikan penyelidikan DNA, membentuk Komisi Teologis dan memulai proses gerejawi untuk mempelajari dan memverifikasi peristiwa itu. Seperti yang dia nyatakan, dia berubah dari menjadi hakim, kemudian menjadi saksi. Sementara itu, Paus, Yohanes Paulus II, memberi tahu Uskup bahwa dia secara pribadi merasa tertarik dan memintanya untuk tidak bersikap skeptis. Kini keadaan mulai berbalik: media massa berbalik melawan Uskup dan mereka tidak mau menerima kesaksiannya dan kemudian pihak Pengadilan menaruh patung kecil itu ke dalam tahanan. Saat itu, Yohanes Paulus II memberikan tanda nyata dukungan dan kedekatannya: pada 10 April 1995, dia mengirim teman dekatnya, Kardinal Andrzej Maria Deskur untuk memimpin sebuah acara doa di katedral keuskupan, demi pembebasan penyitaan patung itu. Pada kesempatan itu, kardinal juga memberkati, atas nama Paus, patung kedua yang identik dengan patung pertama yang menangis, yang kemudian diberikan kepada keluarga itu. Selanjutnya patung pengganti ini menampilkan fenomena memancarkan minyak yang sangat harum di hadapan banyak saksi.

Patung yang sama [patung kedua] menangis air mata selama hari-hari penderitaan terakhir Yohanes Paulus II pada 2005, dan sekali lagi pada hari yang sama, dari 28 Maret hingga 2 April, pada tahun berikutnya. Pada tanggal 31 Maret 2006, Uskup Grillo secara pribadi menyaksikan tangisan ini sekali lagi, dan dia bersaksi di depan umum di hadapan media massa.

Setelah patung Bunda Maria yang pertama dilepaskan dari tahanan oleh Pengadilan pada tanggal 11 Juni 1995, Yohanes Paulus II ingin memuliakan dan memahkotainya di Vatikan, di apartemennya, tetapi dilakukan secara rahasia, agar tidak mengganggu penyelidikan oleh Komisi Keuskupan. Dia kemudian mengkonfirmasi secara tertulis bahwa peristiwa ini sungguh terjadi, dalam sebuah dokumen tertanggal 8 Oktober 2000, yang ditandatangani secara pribadi olehnya pada 20 Oktober berikutnya.

Pada tanggal 17 Juni 1995, patung asli Bunda Maria diberkati dengan upacara besar di gereja paroki di Civitavecchia dan bagi adorasi umat beriman, di mana ia berada sampai hari ini.

Pada 15 Maret 2005, peringatan sepuluh tahun terakhir kali patung itu menangis pada 1995, uskup setempat mengeluarkan dekrit untuk pembangunan sebuah tempat suci keuskupan.

LifeSite: Apa pesan utama Bunda Maria kepada Jessica dan ayahnya, Fabio Gregori?

Uskup Agung Viganò: Dimulai pada 6 Februari 1995, tak lama setelah kesempatan ketiga belas patung Bunda Maria menangis, Fabio mendengar suara dari luar dirinya yang berbicara kepadanya. Sebenarnya, Annamaria sebelumnya telah menerima wahyu dalam bentuk mimpi, dan sedikit demi sedikit seluruh keluarga secara bertahap terlibat dalam manifestasi Surgawi ini. Sejak saat itu, suara itu berbicara berkali-kali, tetapi dengan identitas yang berbeda - kadang-kadang dari Allah Bapa, kadang-kadang Allah Putra. Kemudian, mulai pada 2 Juli 1995, serangkaian penampakan mulai terjadi dari Yesus, Maria, dan para Malaikat, termasuk banyak pesan diberikan, dan berakhir pada 17 Mei 1996. Perawan Maria Terberkati juga muncul lagi baru-baru ini, memberikan pesan pada 23 Desember 2018. Selain itu, peristiwa itu sendiri dan penglihatan secara diam-diam adalah menjadi tanda signifikan yang membawa pesan penting di dalamnya.

Ketika Jessica, ditanya tentang pesan utama yang diberikan oleh Bunda Maria di Civitavecchia, dia menjawab: “Pesan utamanya adalah bahwa mereka ingin menghancurkan keluarga. Dan kemudian menciptakan kemurtadan di dalam Gereja dengan resiko perang dunia ketiga."

Pesan yang paling jelas adalah patung Bunda Maria yang menangis air mata darah. Suara yang didengar oleh Fabio mengungkapkan bahwa itu adalah Darah Yesus "yang ditumpahkan bagi semua anak-anak yang berpaling menjauh dari Hatinya yang Tak Bernoda, untuk memberi Anda keselamatan" (17 Mei 1995). Ini, pada saat yang sama, merupakan peringatan akan adanya bahaya yang besar serta melakukan cara-cara keselamatan.

Ada juga peringatan tentang bahaya tertentu bagi Italia: “Bangsamu berada dalam bahaya besar. Di Roma kegelapan sedang turun dan menyelimuti Batu Karang yang ditinggalkan bagimu oleh Putraku, Yesus, dimana kamu harus membangun, mendidik, dan secara rohani membesarkan anak-anak-Nya. Para uskup, tugasmu adalah untuk melanjutkan perkembangan Gereja Allah, karena kamu adalah pewaris Allah."

Selalu saja ada ajakan kepada persatuan di dalam Gereja Yesus, para imam dan umat yang bersatu dengan para Uskup, sementara para Uskup dipanggil untuk "kembali menjadi satu hati yang penuh dengan iman dan kerendahan hati yang sejati."

Pesan-pesan itu dengan tegas mengajak orang-orang untuk kembali kepada kehidupan sakramental, berbicara tentang perlunya umat diberi makanan Komuni Ekaristi, setiap hari jika mungkin; untuk pergi kepada Pengakuan Dosa secara teratur ‘pada hari-hari Minggu’ (penekanan yang bijaksana diberikan tentang pentingnya menerima Komuni dalam keadaan rahmat); pesan-pesan itu mengajak semua umat untuk melakukan adorasi Ekaristi.

Ada seruan kuat untuk doa pribadi, untuk menempatkan diri dalam Kehadiran Yesus di dalam Ekaristi selama setidaknya seperempat jam sehari, untuk berdoa Rosario setiap hari, "sebuah senjata ampuh untuk mengalahkan setan," dan untuk pengudusan kehidupan sehari-hari dengan mengubah semua aktiitas kehidupan keluarga menjadi "tindakan kasih" yang "menyelamatkan jiwa dari ancaman Setan."

Ada juga ajakan untuk menerapkan kasih dalam keluarga, kasih kepada anak-anak, yang adalah "milik Kami dan milikmu." Pada Hari untuk Kehidupan di Italia, patung itu menangis hingga tujuh kali. Pada saat yang sama pesan itu berisi peringatan tentang adanya serangan sengit oleh setan terhadap keluarga, sebagai strategi untuk menghancurkan Gereja bersama dengan serangan internal yang dilakukan melalui sarana banyak sekali imam.

Ada juga seruan untuk “mendengarkan Putraku Yesus, Allah yang sejati dan Saudaramu. Dengarkanlah dan laksanakan Firman-Nya, yang diwahyukan kepada Gereja Kudus agar kamu dapat menjadi anak-anak Allah yang sejati, sehingga kamu dapat melakukan kehendak Allah dalam kehidupanmu sehari-hari demi pengudusan dirimu. Dunia semakin menjadi tawanan kegelapan dan kejahatan setan, tanpa mengecualikan banyak sekali para pelayan Gereja (klerus).”

Nasihat yang tulus dan serius juga disampaikan oleh seorang Ibu yang sangat sedih: “Anak-anak, Gereja telah memasuki masa pencobaan besar, dan banyak dari kamu akan goyah imanmu.”

Seperti yang telah kita katakan, pesan-pesan peringatan tentang adanya bahaya besar dari perang dunia ketiga, yang mungkin merupakan perang nuklir, tetapi yang dapat dihentikan dengan melalui "senjata yang lebih kuat dari yang digunakan setan, yaitu kasih, doa, kerendahan hati, Rosario dan pertobatan sejati kepada Tuhan melalui Bunda Surgawi kita, yang memeluk semua orang dalam pelukannya, dekat dengan Hatinya yang Tak Bernoda.”

Ada juga permintaan yang mendesak untuk melakukan konsekrasi keluarga kepada Hatinya yang Tak Bernoda, juga konsekrasi Paroki, Kota, Keuskupan, dan Dunia, sebagai sebuah janji perlindungan dari Bunda Maria.

"Konsekrasikanlah dirimu kepadaku, kepada Hatiku yang Tak Bernoda, dan aku akan melindungi bangsamu di bawah mantelku yang saat ini penuh dengan rahmat. Dengarkanlah aku, tolong, aku mohon! Aku adalah Ibu Surgawimu, aku mohon: jangan membuatku menangis lagi karena melihat begitu banyak anak-anakku yang mati karena kesalahanmu sendiri dengan tidak mau menerima aku dan membiarkan setan berkuasa atas dirimu.”

Namun seruan Bunda Maria juga menanamkan kedamaian yang luar biasa: "Biarkan dirimu dibimbing dengan kesederhanaan dalam setiap langkahmu, yang dengan hal itu seorang anak meletakkan tangannya di Tangan Bapanya."

"Hatiku yang Tak Bernoda akan merubah penderitaanmu menjadi sukacita yang kau terima dengan kasih sejati, karena ini adalah cobaan yang diijinkan terjadi oleh Tuhan Yesus." (8 September 1995)


LifeSite: Apa saja temuan penyelidikan polisi, serta temuan medis mengenai sifat darah yang dicucurkan oleh patung Bunda Maria?

Uskup Agung Viganò: Cairan merah pada patung pertama dianalisis di tempat patung itu berada, oleh dokter resmi, yang menemukan fakta bahwa itu adalah darah manusia yang asli. Patung Bunda Maria belum berhenti menangis. Bukti foto setelah menangis pada 15 Maret 1995, ketika patung itu berada di tangan uskup Grillo, juga sangat mengesankan, karena jejak darah menutupi noda identik yang sama dengan yang sebelumnya yang telah dihapus untuk diperiksa, meskipun patung itu sekarang dalam posisi horisontal. Analisis X-ray dilakukan dengan 42 CT scan, dan juga analisis pertama dari darah yang bertujuan mengisolasi DNA dan tim medis menemukan lima polimorfisme dan memberikan hasil yang berganti-ganti mengenai jenis kelamin, dimana pada satu saat menunjukkan jenis pria dan pada waktu yang lain wanita, tetapi diakui sebagai dominan pria.

Ada sebuah kampanye media yang tidak jujur, yang bertujuan untuk mendiskreditkan keluarga Gregori, dengan mengatakan bahwa mereka menolak untuk tunduk pada tes DNA komparatif karena mereka ingin menghindari penyelidikan lebih lanjut. Bahkan baru-baru ini, seseorang mencoba untuk membuka kembali masalah itu dengan melakukan tindakan yang memalukan. Patut diingat bahwa sebagian besar peristiwa patung menangis disitu terjadi tanpa kehadiran keluarga Gregori.

Yang benar adalah bahwa pada saat itu, Fabio menolak untuk membiarkan darahnya diambil semata-mata karena kepatuhan kepada Uskup, dimana uskup itu sangat menentang peristiwa itu. Hanya sebuah pesan yang terdengar dari suara yang berbicara (melalui patung itu) kepadanya yang bisa menghentikannya untuk menolak pemeriksaan. Sangat menarik untuk mendengar pesan ini: “Jalan kebenaran ada di dalam Gereja Allah. Kebenaran berasal dari Allah. Janganlah takut kepada manusia, takutlah kepada Allah ”(6 Mei 1995).

Kemudian diketahui dengan jelas bahwa sampel darah yang diambil dari patung telah diambil secara keliru, tanpa adanya seorang ahli, tanpa alasan yang masuk akal, dan oleh karena itu tidak mungkin untuk secara prosedural memastikan keabsahan slide dari cairan yang diambil. Lebih jauh lagi, bahkan jika sampel darah itu telah diterima, jumlahnya tidak cukup untuk memungkinkan pemeriksaan DNA secara lengkap. Karena tidak ada lagi tangisan selanjutnya, tidak ada kemungkinan material darah untuk membuat perbandingan.

Tetapi harus diingat bahwa Fabio Gregori selalu mengatakan kepada Gereja bahwa dia sepenuhnya bersedia untuk melakukan segala jenis penyelidikan.

LifeSite: Ada penyelidikan tentang peristiwa supernatural ini oleh Komisi Keuskupan; dapatkah Anda memberi tahu kami tentang hasil penyelidikan itu dan apakah penampakan ini telah disetujui oleh Gereja?

Uskup Agung Viganò: Komisi Teologi Keuskupan yang dibentuk oleh Uskup menyatakan mendukung sifat supernatural dari peristiwa tersebut oleh suara mayoritas anggotanya. Pada tahun 1997, Uskup Grillo sendiri meneruskan hasilnya kepada Kongregasi untuk Ajaran Iman, dan pada tanggal 27 Oktober 1997, CDF mengumumkan pembentukan Komisi yang dipimpin oleh Kardinal Camillo Ruini. Komisi ini kemudian dibubarkan tanpa pernah menerbitkan satu pun keputusan, yang secara yuridis berarti memberi konfirmasi diam-diam atas putusan Komisi Keuskupan.

Ada banyak tanda pengakuan secara tidak langsung oleh Gereja:

  • Penempatan secara khidmat patung Bunda Maria ajaib itu untuk menerima penghormatan publik di gereja paroki, sesuai dengan permintaan yang dibuat kepada Fabio melalui suara yang didengarnya pada 6 Februari 1995.
  • Konsekrasi kota Civitavecchia dan Keuskupan oleh Uskup sehubungan dengan pesan Perawan Maria 7 Desember 1995, yang dibacakan di depan umum selama upacara pada 8 Desember 1996.
  • Dokumen yang disusun oleh Uskup pada 8 Oktober 2000, dan ditandatangani kembali oleh John Paul II pada 20 Oktober 2000, mengesahkan pemujaan kepausan dan pemberian mahkota kepada patung itu.
  • Keputusan pendirian Tempat Suci Diosesan di gereja paroki tempat patung itu dihormati.
  • Misa Kudus dirayakan oleh uskup setempat di rumah keluarga Gregori, serta penghapusan tertulis secara simultan dari semua larangan yang sebelumnya dikeluarkan terhadap keluarga.
  • Publikasi oleh uskup setempat atas sebuah dokumen tentang acara peringatan 10 tahun patung Bunda Maria disitu yang menangis, dalam terbitan Diocesan Review 2005.
  • Keinginan yang diungkapkan secara tertulis oleh Uskup Grillo untuk mempublikasikan berita-berita dan pesan-pesan Bunda Maria, dalam sebuah buku yang ditulis oleh Wakil Presiden Komisi Teologi Keuskupan, yang diterbitkan pada 2005 oleh Pastor Flavio Ubodi.
  • Banyak kesaksian tertulis dan melalui film oleh Uskup Grillo tentang aliran air mata dan minyak dari patung itu, serta hubungannya dengan keluarga Gregori.
  • Pengumuman awal pembangunan Tempat Suci Maria oleh penerus Uskup Grillo, Uskup Carlo Chenis, pada 28 Agustus 2008. Dia kemudian meninggal sebelum waktunya dan tidak dapat menyelesaikan proyek itu. Namun dia meninggalkan surat tertulis pengesahan kesetiaan keluarga Gregori kepada Gereja pada 1 Maret 2008.
  • Pemahkotaan Patung Bunda Maria oleh penerus Uskup Chenis, Uskup Luigi Marrucci, pada tanggal 26 April 2014, yang adalah uskup pada waktu itu (sejak saat itu dia kemudian mengundurkan diri) di hadapan uskup emeritus dan Uskup Agung Giovanni Marra. 

LifeSite: Karena Anda menyebutkan peran Kardinal Tarcisio Bertone, dalam wawancara Anda baru-baru ini, dapatkah Anda memberi tahu kami, apa yang dia coba lakukan ketika Uskup Grillo, meskipun ia tidak diwajibkan untuk melakukannya, meminta Vatikan untuk melakukan penyelidikan sendiri tentang penampakan di Civitavecchia?

Uskup Agung Viganò: Saya telah menyebutkan sebelumnya bahwa Uskup Grillo sendiri meminta Kongregasi untuk Ajaran Iman untuk melanjutkan studi atas peristiwa tersebut. Komisi dipimpin oleh Kardinal Ruini sebagai pengawas, tetapi didelegasikan kepada pengawasan Mgr. Domenico Pecile, Uskup Latina. Dan dia tidak pernah  mempublikasikan temuannya sampai sekarang, seperti yang telah dikatakan.

Pada 17 Februari 2005, Kardinal Bertone, yang telah menjadi Uskup Agung Genoa sejak tahun 2002, melakukan intervensi di jaringan televisi RAI nasional untuk menyatakan bahwa Komisi Vatikan telah menyatakan penilaian yang tidak terkait [yang berarti bahwa penampakan itu diragukan atau tidak dapat dipercaya]. Keesokan harinya, uskup setempat, Uskup Grillo, secara terbuka menyatakan bahwa dirinya belum pernah menerima pemberitahuan tentang pernyataan semacam itu oleh Komisi. Tidak pernah ada tindak lanjut dengan dokumen tertulis yang mengkonfirmasi pernyataan Bertone. Selain itu, Grillo kemudian mengaku bahwa dia sebelumnya pernah mendengar tentang kecenderungan Komisi untuk mengeluarkan pendapat yang mencurigakan, tetapi Kardinal Ruini, yang telah mengomunikasikan hal ini kepadanya, kemudian memintanya untuk diam mengenai masalah ini setelah dia mengetahui ketertarikan Yohanes Paulus II dengan kasus ini. Uskup Pecile dapat mengkonfirmasikan kepada Wakil Presiden Komisi Keuskupan, Pastor Flavio Ubodi, sikap positif dari Komisi Vatikan terkait peristiwa patung Bunda Maria menangis disitu.

Setelah itu, pengangkatan Mgr. Chenis sebagai uskup Civitavecchia [pada tahun 2006], yang memang diinginkan oleh Kardinal Bertone, menegaskan niat Bertone untuk menghentikan penyelidikan atas peristiwa tersebut, karena uskup baru itu secara terbuka menyatakan tujuan dari pengangkatannya. Sampai saatnya, seperti yang saya sebutkan sebelumnya, Tuhan memanggilnya melalui penyakit mendadak yang dengan cepat menyebabkan kematiannya, dia mampu menunjukkan rasa hormat kepada keluarga Gregori dan komitmen nyata untuk menumbuhkan pemujaan patung Bunda Maria.

LifeSite: Karena diketahui juga bahwa Kardinal Bertone sangat terlibat dalam debat soal Fatima, menurut Anda apa tujuannya? Mengapa dia berusaha merusak pesan yang bersifat ortodoks dan Katolik seperti itu?

Uskup Agung Viganò: Kardinal Bertone, dalam konferensi pers tentang Rahasia Ketiga Fatima, yang diadakan pada bulan April 2000, membuat deklarasi yang mencengangkan yang diakhiri dengan kata-kata ini: “Rahasia Ketiga Fatima tidak ada hubungannya dengan kemurtadan yang terkait dengan Konsili, Novus Ordo (Misa) dan para Paus konsilier, seperti yang diklaim oleh para pendukung Fatima selama beberapa dekade.” Mari kita coba membandingkan pernyataan-pernyataan ini dengan pernyataan mengejutkan yang dibuat oleh Kardinal Pacelli, Paus Pius XII di masa depan, enam belas tahun setelah penampakan Fatima, pada tahun 1933:

“Saya prihatin tentang pesan-pesan Perawan Suci kepada Lucia kecil Fatima. Desakan Maria ini, tentang bahaya yang mengancam Gereja, adalah peringatan ilahi terhadap tindakan ‘bunuh diri’ Gereja melalui perubahan di dalam Iman, Liturgi, di dalam teologinya dan di dalam jiwanya ... Saya merasakan di sekeliling saya adanya para inovator yang ingin membongkar Kapel Suci (Gereja), menghancurkan nyala api iman universal dari Gereja, menolak segala hiasannya, dan menyulut penyesalan pihak Gereja atas masa lalu historisnya.” Sementara itu ramalan tentang ’bunuh diri’ Gereja Katolik sebagian besar telah dipenuhi melalui upaya Setan-Masonik untuk merubah agama Katolik, meredahkannya menjadi salah satu dari banyak kepercayaan yang merupakan bagian dari satu agama tunggal dunia.

Kita dapat mempertimbangkan kata-kata Suster Lucia berikut ini sehubungan dengan ulah Kardinal Bertone: “Ada disorientasi kejam yang sangat membingungkan dunia dan jiwa ... Hal terburuk adalah bahwa hal itu telah berhasil menimbulkan kesalahan dan menipu jiwa-jiwa yang memiliki tanggung jawab besar karena posisi yang mereka pegang ... Mereka buta dan sedang menuntun orang buta ... Mereka membiarkan diri mereka didominasi oleh gelombang jahat yang menyerang dunia."

Benediktus XVI sendiri menanggapi upaya untuk mengurangi teks Rahasia Fatima dengan adanya serangan tahun 1981 terhadap Yohanes Paulus II selama perjalanannya tahun 2010 ke Fatima. Mengacu pada teks bahwa pada tahun 2000, Kardinal Ratzinger, sebagai Prefek Kongregasi untuk Ajaran Iman, dia telah menguraikan sebagai komentar pada teks Rahasia yang diterbitkan, katanya, pada 13 Mei 2010, ketika dia pergi sebagai paus, ke Fatima: "Seseorang akan menipu dirinya sendiri jika dia berpikir bahwa misi kenabian Fatima telah berakhir."

Terhadap pertanyaan Pastor Lombardi yang menanyakan apakah Rahasia Ketiga juga mengatakan tentang “penderitaan Gereja saat ini karena dosa-dosa pelecehan seksual anak di bawah umur,” Benediktus XVI menjawab: “Di luar visi besar tentang penderitaan Paus ini, yang pertama-tama kita dapat hubungkan dengan Paus Yohanes Paulus II: ada realitas yang diindikasikan tentang masa depan Gereja yang secara bertahap berkembang dan mengungkapkan diri. Oleh karena itu memang benar bahwa di luar momen yang ditunjukkan di dalam visinya, kita bisa berkata, kita bisa melihat perlunya semangat Gereja, yang tentu saja tercermin dalam pribadi Paus, tetapi Paus mewakili Gereja, dan oleh karena itu, hal itu merupakan penderitaan Gereja yang diumumkan. Tuhan memberi tahu kita bahwa Gereja akan selalu menderita, dengan cara yang berbeda, sampai akhir dunia. Yang penting adalah bahwa pesan, tanggapan atas pesan Fatima, pada dasarnya tidak terletak pada devosi tertentu, tetapi justru pada respons mendasar umat beriman, yaitu pertobatan yang permanen, penebusan dosa, doa, serta tiga kebajikan teologis: iman, harapan, dan kemurahan hati. Dengan demikian kita melihat di sini respons yang benar dan mendasar yang harus diberikan Gereja, yang kita, masing-masing individu, harus berikan dalam situasi saat ini."

LifeSite: Civitavecchia juga berisi pesan bahwa akan ada kemurtadan besar di dalam Gereja Katolik. Banyak yang percaya bahwa ada uskup dan kardinal di dalam Gereja yang merupakan anggota Freemason atau bekerja sama dengan Freemason. Apakah Anda sendiri memiliki pengetahuan tentang ini, terutama mengingat tugas Anda sendiri di dalam korps diplomatik?

Uskup Agung Viganò: Bahwa gurita Masonik mencengkeram Gereja Katolik dalam tentakelnya, bukanlah rumor atau rahasia. Tepat di jantung Vatikan, benteng yang sangat kuat dari Gereja Katolik, Masonry telah mempersenjatai diri dengan kesabaran jahatnya dan menunggu sampai mencapai tuas kekuasaan dan komando tertinggi. Jantung agama Katolik, yang dengan mandat ilahi harus menjadi lampu suar, telah lama menjadi rumah bagi kemegahan dan kepura-puraan yang meluruhkannya.

Di Civitavecchia, selama penampakan di taman dari rumah Gregori, pada tanggal 27 Agustus 1995, Perawan Yang Terberkati memberikan pesan yang cukup mengkhawatirkan, merujuk pada apa yang telah diungkapkan di Fatima pada 1917: “Anak-anakku, kegelapan Setan sekarang mengaburkan seluruh dunia dan hal itu juga mengaburkan Gereja Allah. Bersiaplah untuk menjalani apa yang telah kukatakan kepada putri-putri kecilku di Fatima ... Setelah tahun-tahun yang menyakitkan dari kegelapan Setan, tahun-tahun kemenangan Hatiku Yang  Tak Bernoda kini sudah dekat." Semua bukti menunjukkan bahwa kita sekarang telah memasuki masa pencobaan ini, sebuah ujian yang menentukan. “Penderitaan Gereja,” kata Benediktus XVI dalam perjalanan yang sama ke Fatima yang telah kami sebutkan, “berasal dari dalam, dari dosa-dosa yang ada di dalam Gereja. Hal ini telah diketahui, tetapi hari ini kita melihatnya dengan cara yang benar-benar menakutkan.”

"Ini adalah saat ketika penghakiman telah dimulai, dimulai dari Rumah Allah!" (1 Ptr 4: 17). Murid-murid Kristus dihadapkan dengan pilihan radikal dari konsistensi dan kesetiaan, dedikasi total kepada-Nya, di dalam pengakuan tegas atas iman yang benar. Hal ini dapat menuntut korban nyawa seseorang dalam kemartiran, sebagai kesaksian tertinggi. Dengan doa dan kurban kita dapat mengurangi kesengsaraan yang kini menimpa Gereja kita sebagai hukuman yang mengerikan, tetapi tidak mungkin lagi untuk membalikkannya: karena hal itu adalah milik dari rencana pemeliharaan Allah. Melalui pencobaan yang radikal ini, seperti melalui Triduum Paskah penderitaan, kematian dan turun ke neraka, yang panjangnya kita tidak tahu, Gereja akan secara efektif dimurnikan dari kejahatan yang menghancurkannya. Ini adalah apa yang ditulis oleh Katekismus Gereja Katolik nmr. 675-677, yang menyebutkan tentang kutukan dari penipuan antikristus. Gereja akan mengalami kemenangan Kerajaan Maria, yang akan membuka pintu bagi Kerajaan Kristus.

Jika kemenangan Hati Tak Bernoda dari Maria itu sudah tidak jauh lagi, maka sekaranglah saatnya pertempuran itu, dan Maria yang adalah Pemimpin dan Coredemptrix kita, yang ingin melihat kita bertarung, menderita, dan memohon Kemenangannya yang sekarang telah ada di pintu gerbang.
“Melalui kamu, aku dapat menyebarkan terang iman di zaman kemurtadan besar ini. Kamu adalah terang Tuhan, karena kamu adalah anak-anak yang dikonsekrasikan sepenuhnya kepadaku. Biarlah dirimu dibimbing olehku ... Jika kamu mendengarkan aku dengan kasih yang tulus, dan melaksanakan permintaanku dengan berjalan di jalan yang telah kutunjukkan kepadamu di dalam pikiran dan hatimu, maka melalui kamu aku akan dapat mewujudkan Rencana Ilahi yang agung dari kemenangan besar Hatiku yang Tak Bernoda.” (8 September 1995).

LifeSite: Bunda Maria memperingatkan kita di Civitavecchia: "Setan ingin menghancurkan keluarga." Apakah Anda melihat di sini hubungan antara apa yang terjadi di dalam Gereja Katolik dalam beberapa tahun terakhir, kemungkinan peran Freemasonry, dan Civitavecchia?

Uskup Agung Viganò: Pertempuran yang menentukan antara Kerajaan Kristus dan Kerajaan Setan menyangkut masalah perkawinan dan keluarga. Menyerang keluarga berarti menghancurkan sel fundamental masyarakat, dan juga menghancurkan Gereja. Agresi terhadap keluarga juga memanifestasikan dirinya di dalam Gereja, yang secara eksplisit telah dilakukan melalui Desakan Apostolik Amoris Laetitia, dengan membuka kemungkinan untuk membatalkan perkawinan, beserta dengan legitimasi terhadap perbuatan homosex dan promosi ideologi gender.

Civitavecchia, seperti Fatima, berisi peringatan bagi Gereja dan sebuah penghakiman tentang Sejarah, dan menawarkan satu-satunya obat yang menentukan, sebagai Penangkal Ilahi, bagi kejahatan dan kutukan Sejarah dan manusia.

Dosa asal, juga asal mula dosa yang sebenarnya, terdiri atas kepatuhan manusia terhadap saran Setan yang salah dan jahat. Setan ingin memanipulasi dan menipu manusia, menuntunnya untuk melihat apa yang jahat sebagai yang baik dan apa yang baik sebagai yang jahat. Setan menimbulkan kecurigaan bahwa Tuhan ingin mencegah kita untuk bisa menjadi seperti Dia, sehingga mengarah pada ilusi kebanggaan karena bisa menjadi Tuhan, tidak menaati Allah yang benar. Dengan cara ini si Jahat mengejar tujuannya menghancurkan rencana Kasih Ilahi, dan menjauhkan manusia dari Tuhan. Tidak dapat dihindari bahwa ketika manusia jatuh ke dalam perangkap ini, maka dia menjadi budak dosa, melihat jalan masuk kematian sebagai tempat keberadaannya, serta kehancuran alam dan dunia. Babel, sebagaimana diingatkan dalam Liturgi Pentakosta kepada kita, menunjukkan betapa kesombongan juga merupakan kutukan Sejarah.

Hati Maria yang Tak Bernoda telah ditawarkan kepada umat manusia sebagai penyembuh, karena di dalamnya, berdasarkan penyatuannya yang total dengan Putra Ilahinya, maka segala sesuatu dikuduskan bagi Allah, semuanya adalah milik eksklusif Allah. Di dalam Hati Maria yang Tak Bernoda semuanya adalah murni dari dosa. Ini adalah awal dari Ciptaan yang Baru. Karena alasan inilah di Civitavecchia, Italia, Perawan Suci berkata:

“Tuhan telah memberiku pakaian Cahaya-Nya dan Roh Kudus dengan Kuasa-Nya. Tugasku adalah mengambil semua anakku dari setan dan membawa mereka kembali kepada kemuliaan sempurna dari Tritunggal Mahakudus."

Dan Maria menambahkan: "Harapanku adalah agar kamu semua mengkonsekrasikan dirimu kepada Hatiku yang Tak Bernoda sehingga aku dapat menuntun kamu semua kepada Yesus, menumbuhkan dirimu di dalam taman surgawiku."

Gelar-gelar yang dia berikan pada dirinya sendiri juga mencerminkan misi ini: "Aku  menyerahkan diriku kepadamu sebagai Bunda Maria dari Mawar dari Hati Yang Tak Bernoda, Ratu Surga, Bunda Keluarga, Pembawa Kedamaian di dalam hatimu." Dan dia menambahkan, "Bertobatlah, anak-anakku yang manis, karena waktunya hampir habis."

Manusia, yang dalam keadaan dosa, telah kehilangan persekutuan dengan Allah, seperti ranting yang dicabut dari pokok anggur. Dan manusia, bisa menemukan persekutuan itu kembali di dalam diri Maria, yang selalu menyatu sempurna dengan Pokok Anggur, yang mampu membawa darah kehidupan kepada ranting-rantingnya. Maria-lah yang bertindak sebagai titik penyatuan antara cabang dan pokok anggur. Persatuan sempurna di dalam kerendahan Hati Bunda Maria ini adalah keselamatan yang ditawarkan oleh Allah bagi umat manusia yang tersesat, ini adalah kekalahan dari kesombongan Setan.

Jika Setan ingin merebut anak-anak Allah dari persekutuan dengan Sang Pencipta dan Bapa mereka, jelaslah bahwa Perawan Maria, Wanita yang tumitnya diserang oleh si ular tua, tidak bisa tidak menjadi musuh abadi dari si ular, menurut janji yang abadi. Memang, setan tahu bahwa Maria akan menghancurkan kepala ular, bahwa Maria telah mengalahkan kesombongan setan dengan kerendahan hatinya yang sempurna.

Hal ini adalah juga merupakan inti dari drama Sejarah: mereka yang memperbarui pilihan ketidaktaatan, ingin menjadi Tuhan, tidak bisa tidak akan memihak Setan, dan tidak bisa tidak akan merasakan permusuhan yang sama terhadap garis keturunan Wanita yang menghancurkan kepalanya, Bunda Allah yang Tak Bernoda. Anak-anak Maria adalah rendah hati, dan Setan tidak dapat menanggung hal ini, karena keberadaan mereka sendiri merupakan suatu tuduhan kepadanya (lih. Keb. 2: 15-16). Setan berusaha dengan segala cara untuk menghasilkan pemberontakan di dalamnya dengan menganiaya mereka. Oleh karena itu saya percaya bahwa makna permintaan untuk melakukan konsekrasi kepada Hati Maria yang Tak Bernoda itu jelas, baik konsekrasi pribadi dan dalam setiap lingkungan komunitas manusia, baik di lingkungan agama maupun politik. Realitas sejarah tidak akan ditebus sampai manusia kembali kepada Tuhan dengan sepenuh hati, dalam setiap aspek kehidupannya: agama, publik, dan politik. Dalam sejarah Israel, Tuhan, yang kemudian memberkati Daud, dalam memberikan Kerajaan kepada Rakyat menjelaskan kepada mereka bahwa ini adalah sebuah kehendak permisif, sehingga mereka dapat memahami kebodohan dari ketidakpuasan mereka karena tidak memiliki raja seperti orang lain. Mereka berdosa terhadap Allah karena mereka tidak mengakui bahwa Dia adalah Raja mereka satu-satunya, dan mereka menganggap Dia masih tidak cukup.

Tidak hanya Gereja yang dapat benar-benar dimurnikan oleh Allah melalui konsekrasi kepada Hati Maria yang Tak Bernoda, tetapi juga setiap keluarga, setiap kota, orang-orang dan bangsa, dan seluruh umat manusia. Setiap orang yang memiliki otoritas atas realitas-realitas ini memiliki tanggung jawab untuk menerima ajakan yang tulus dari Maria untuk melakukan konsekrasi. Terjadinya peristiwa-peristiwa destruktif yang amat menyakitkan saat ini, yang juga telah disampaikan dengan sedih oleh Perawan yang Terberkati dalam upaya untuk mencegahnya, haruslah bisa menggugah hati kita semua. Orang-orang tua dulu mengatakan bahwa Anda bisa mengetahui adanya tembok dengan cara mematahkan hidung Anda. Namun sayangnya, hari ini, kita melihat lebih dari sekadar hidung yang patah, tetapi tampaknya umat manusia belum mau mengenali tembok itu, baik di luar Gereja maupun di dalamnya. Pada hari raya Kenaikan Tuhan yang baru-baru ini, kita semua merenungkan Yesus yang naik ke Surga, yang duduk sebagai Raja atas setiap kerajaan dan kekuasaan, atas setiap penguasa dan dominasi: di hadapan-Nya seharusnya setiap lutut akan menekuk.

Kesombongan Setan mungkin dapat menerima bahwa suatu hari nanti ia harus membungkuk rendah di hadapan Allah, tetapi ia tidak akan pernah mentolerir penghinaan yang sebenarnya, dimana ia harus berada di bawah kaki Maria. Ini adalah pertempuran eskatologis yang hebat, yang sisi-sisinya semakin lama semakin terlihat. Si ular tua tidak bisa menyembunyikan permusuhannya terhadap sang Wanita dan seluruh garis keturunannya.

Siapa pun yang secara spontan mengkonsekrasikan hati mereka kepada Hati Maria yang Tak Bernoda, telah memberi kesempatan dan kemungkinan bagi Maria untuk menumbuhkan dirinya di dalam taman Maria, demikian menurut perkataan Maria sendiri, untuk mempersembahkannya kepada Allah dalam keadaan telah dimurnikan, di dalam gambaran Hatinya yang Tak Bernoda, sehingga akhirnya kita akan mampu menyambut kebaikan abadi di dalam kerendahan hati yang sejati, persekutuan penuh dengan Allah, bagi apa kita semua diciptakan. Dalam kata-kata Yesus: “Bapa, kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu adalah kebenaran... dan Aku menguduskan diri-Ku bagi mereka, supaya merekapun dikuduskan dalam kebenaran. (Yoh.17:17 & 19)

LifeSite: Pernahkah Anda bertemu dengan visioner utama, Jessica Gregori, dan keluarga Gregori?

Uskup Agung Viganò: Jessica dan seluruh keluarga Gregori tidak suka disebut visioner sama sekali; akan lebih baik untuk menyebut mereka sebagai saksi. Uskup Grillo - yang saya kenal dengan baik selama bertahun-tahun, karena dia juga bekerja di Sekretariat Negara - mengundang saya ke Civitavecchia (bersama dengan Pastor Giovanni D'Ercole, yang sekarang menjadi Uskup Ascoli Piceno) untuk memperkenalkan saya kepada keluarga Gregori. Saat itu adalah hari raya Pentakosta, setelah saya kembali dari Nigeria, pada akhir 1990-an. Kami berkumpul dalam doa di depan gua kecil yang dikelilingi oleh semak-semak tempat Patung Bunda Maria berada. Saat itulah saya secara pribadi menyaksikan keluarnya balsem wangi dari bagian dasar patung. Balsem itu bahkan keluar dari daun salah satu semak, dan ada setetes yang jatuh di kepala saya. Mengingat pentingnya minyak yang mengalir keluar, Uskup Grillo mengambil patung itu di tangannya, sementara Fabio Gregori mengajak kami ke dalam rumah. Kami mengambil kapas dan mengumpulkan balsem yang terus mengalir keluar secara berlebihan. Saya juga berkesempatan memegang Patung Sang Perawan di tangan saya sendiri. Untuk mengenang peristiwa luar biasa itu, saya masih menyimpan sehelai saputangan dan kapas yang telah direndam dalam balsem yang ajaib itu, serta daun kecil tempat setetes balsem menetes pada kepalaku.

LifeSite: Kelihatannya Jessica menerima dari Bunda Maria isi dari Rahasia Ketiga yang kemudian dia sampaikan kepada Paus. Bunda Maria berkata: “Kegelapan Setan saat ini sedang menggelapkan seluruh dunia dan juga menggelapkan Gereja Allah. Bersiaplah untuk menjalani apa yang telah kusampaikan kepada putri kecilku di Fatima." Bisakah Anda memberi tahu kami tentang pertemuan Jessica dengan Suster Lucia pada 1990-an dan apa yang dibicarakan mereka?

Uskup Agung Viganò: Mengenai isi rahasia yang diterima oleh Jessica dan diperuntukkan bagi Paus saja, hal itu ditulis olehnya dan disegel dalam amplop tertutup dan dikirim kepada Uskup Grillo, tetapi tidak pernah diungkapkan apakah itu benar-benar dikirim kepada penerimanya atau tidak.

Hal ini tidak usah dikacaukan dengan pesan yang dia sampaikan kepada Paus pada 26 Februari 2005, yang diakui oleh Sekretariat Negara dan diberikan melalui Uskup. Jessica berkata kepada Bapa Suci: "Saya memiliki keinginan besar untuk bertemu dengan Anda dan memberi tahu Anda begitu banyak hal yang belum mereka katakan kepada Anda dan menyangkut diri Anda secara pribadi, tetapi itu terutama terkait dengan Fatima ... Pesannya menyangkut kemanusiaan, Gereja dan keluarga."

Adapun pertemuan dengan Suster Lucia (Fatima), inilah yang diketahui. Pada tahun 1996, Jessica pergi berziarah ke Fatima bersama keluarganya. Mereka ditemani oleh penasihat spiritual mereka, Pastor Manuel Hernandez Jerez, yang merayakan Misa di biara Coimbra di hadapan keluarga Gregori dan Suster Lucia. Di akhir Misa, Jessica dan Sister Lucia melakukan percakapan pribadi.

Mereka yang mengetahui sikap dan kepatuhan Suster Lucia dapat memahami fakta bahwa pertemuan ini terjadi, tanpa didahului oleh prosedur yang biasa, jelas merupakan sesuatu yang tidak biasa. Acara ini diabadikan secara tertulis dengan sangat rinci dan tidak pernah ditolak.

Lebih dari ini saya percaya bahwa tidak ada orang lain yang akan tahu, karena Suster Lucia sudah meninggal dan Jessica tidak akan membiarkan sepatah kata pun disampaikan kepada siapa pun tentang rahasia itu.

Kisah kunjungan itu, yang ditulis oleh penasihat spiritual, dapat ditemukan dalam buku Pastor Flavio Ubodi, Civitavecchia, 25 anni con Maria [Civitavecchia, 25 Years With Mary].

Setelah pergi berziarah ke Fatima bersama keluarga Gregori (Fabio, Annamaria, Jessica, dan Davide, bersama saya, yang menceritakan kisah ini), pada 15 Juni 1996, kami pergi ke Coimbra, khususnya ke Carmel of Coimbra, karena kami tahu bahwa di antara biarawati-biarawati lainnya tinggallah visiuner tertua Fatima, yaitu Lucia.

Kita memiliki keinginan yang besar untuk melihat Jessica dan bertemu dengannya, secara alami karena pengalaman mistik, penampakan dan pesan-pesan Bunda Maria di Civitavecchia.

Tak satu pun dari kami yang pernah ke Coimbra sebelumnya. Kami meminta petunjuk dan pada akhirnya kami menemukan biara Carmel itu. Itu setelah jam 9 pagi dan kami menemukan bahwa tempat itu sudah tutup. Kami membunyikan interkom di pintu dan segera mendapat kesempatan untuk menjelaskan siapa dan apa yang kami inginkan. Setelah menunggu sangat lama, kami diberi tahu bahwa kami dapat memasuki gereja, bahwa mereka akan mengizinkan kami untuk merayakan Misa Kudus, tetapi tidak diizinkan bagi kami untuk membiarkan kami berbicara langsung dan sendirian dengan Suster Lucia.

Ketika kami pergi ke sakristi, Suster sakristan memberi saya instruksi untuk perayaan Misa yang, katanya kepada saya, akan dihadiri oleh seluruh Komunitas, termasuk si visioner. Lebih jauh lagi, dengan penuh keyakinan, dia menunjukkan sebuah tempat Paduan Suara, dimana para biarawati akan tinggal, yang akan ditempati oleh Suster Lucia.

Tempat Paduan Suara itu di sebelah kanan tempat kudus, yaitu di sebelah kiri selebran sebagai kelanjutan dari tempat kudus itu sendiri, yang dipisahkan oleh kisi-kisi dan tirai yang sesuai yang dibuka di kedua sisinya pada saat itu, saat Perayaan Misa.

Dari altar, saya dapat melihat dengan jelas di bagian bawah paduan suara, adanya Suster Lucia, yang kemudian juga membedakan dirinya pada saat pembagian Komuni Suci.

Secara alami, saya dapat berbicara sebanyak yang saya pikir pantas selama homili dan pada saat-saat ketika liturgi mengizinkannya, sebelum dan sesudahnya, untuk menjelaskan dengan sedetail mungkin siapa kami dan mengapa kami ada di sana.

Tidak ada yang mengganggu saya atau menghalangi saya dengan cara apa pun. Saya percaya bahwa hanya kita dan para biarawati yang hadir dalam Misa Kudus itu.

Setelah Ekaristi, mereka mengajak kami ke sebuah pertemuan dengan seluruh Komunitas di ruang tamu, dengan cahaya yang terang. Kami hanya dipisahkan oleh pembatas dalam gaya kebiasaan Carmel. Mereka memberi tahu kami bahwa Suster Lucia ada di antara para biarawati tetapi kami harus menebak sendiri dimana dia berada dan yang mana dia... Hal itu tidak sulit sama sekali.

Kami mulai bertukar pertanyaan dan jawaban. Saya tidak ingat berapa banyak waktu yang dihabiskan dengan cara ini, tetapi semuanya terjadi dengan tenang. Satu-satunya topik yang dibahas adalah kedatangan Bunda Maria dan pesan-pesannya, peristiwa Fatima dan Civitavecchia.

Di akhir pertemuan, kami mendekati pembatas, dan ada kesempatan untuk lebih mempersonalisasi hubungan timbal balik kami. Di sana, agak jauh terpisah, ada juga kesempatan untuk pertemuan yang sangat pribadi antara Jessica dan Sister Lucia.

Saya tidak mendengar apa pun dari apa yang mereka katakan satu sama lain. Tetapi saya dapat meyakinkan Anda bahwa kita semua keluar dari pertemuan itu dengan penuh rahmat dan sukacita. Kami sangat puas dengan kunjungan dan hak istimewa yang telah diberikan kepada kami, yang jelas telah diatur dalam rencana Tuhan. Dan itulah yang bisa saya katakan dalam hal ini.

LifeSite: Apakah Anda tahu, apakah Jessica akan pernah mengungkapkan kepada dunia kata-kata peringatan rahasia Fatima?

Uskup Agung Viganò: Jawabannya sangat sederhana: pasti tidak pernah!

LifeSite: Bunda Maria Civitavecchia juga pernah menyatakan: "Setan menguasai seluruh umat manusia, dan sekarang dia berusaha menghancurkan Gereja Tuhan melalui banyak imam." Apakah Anda ingin mengomentari kalimat ini?

Uskup Agung Viganò: Komentar saya, apa pun, akan bersifat berlebihan. Marilah kita menerima peringatan yang sangat serius dari Bunda Maria ini: “Aku memberimu kabar yang menyakitkan. Setan mengambil alih seluruh umat manusia, dan sekarang ia berusaha menghancurkan Gereja Allah melalui banyak imam ... Setan tahu bahwa waktunya sudah hampir habis, karena Putraku Yesus akan turun tangan. Saya mohon, tolonglah saya; jangan biarkan Putraku turun tangan, karena aku, Ibumu, ingin menyelamatkan banyak jiwa dan membawanya kepada Putraku dan tidak menyerahkannya kepada Setan. Berdoalah agar Allah, Bapa kita, akan memberi saya waktu lagi, karena ini adalah periode terakhir yang diberikan kepadaku oleh Allah. Mantelku sekarang terbuka untuk kalian semua, dalam keadaan penuh rahmat, untuk menempatkan kamu semua dekat dengan Hatiku Yang Tak Bernoda. Mantel ini akan ditutup; dan Putraku akan melepaskan pengadilan ilahi-Nya. Bahaya besar membayangi Bapa Suci, serangan keji oleh Setan.” (30 Juli 1995).

LifeSite: Bunda Maria juga meminta umat Katolik Italia untuk mengkonsekrasikan diri mereka kepada Hati Yang Tak Bernoda. Apakah Anda berpikir bahwa ‘penyerahan hati’ baru-baru ini kepada Hatinya yang Tak Bernoda seperti yang dilakukan oleh para uskup Italia, telah memenuhi standar itu?

Uskup Agung Viganò: Jawaban ini juga sangat sederhana: tidak! Di Tempat Suci Maria Caravaggio, pada hari pertama dalam bulan, yang secara tradisional didedikasikan untuk Bunda Maria, tidak ada sama sekali tindakan ‘penyerahan hati’ ini - jangan dikacaukan dengan tindakan konsekrasi. Pada malam tanggal 1 Mei, ketika upacara itu seharusnya diadakan di Tempat Suci itu, gereja disitu dalam keadaan gelap. Hal itu dicatat sejak beberapa hari sebelumnya dan disiarkan secara ulang. Malam itu Italia sama sekali tidak ‘diserahkan’ kepada Maria dengan partisipasi penuh doa dari orang-orang - apalagi orang-orang tertahbis (klerus)! Bagaimana mungkin para gembala Gereja bisa membuat tipuan seperti itu terhadap Maria?

Saya ingin menyampaikan permohonan yang tulus dari Fabio Gregori: “Saya mohon: menangislah, mohonlah agar Gereja Italia, Jantung Kekristenan, Tahta Petrus, juga mau melakukan konsekrasi kepada Hati Maria Yang Tak Bernoda. Bunda Maria telah meminta hal ini selama 25 tahun. Jangan takut untuk mendengarkan Bunda kita, mari kita membuat tindakan kepatuhan kepada Surga, tindakan iman yang rendah hati. Mari kita menjadikan diri kita anak-anak yang mempercayai Ibu mereka ... Mari kita tidak membiarkan Ibu kita menangis karena begitu banyak jiwa yang mati karena tidak bersedia mendengarkannya. Berapa banyak sih biaya yang kita keluarkan untuk meminta pertolongan Bunda kita?”

LifeSite: Tampaknya pesan Bunda Maria Civitavecchia juga merupakan salah satu harapan. Bisakah Anda memberi tahu kami caranya?

Uskup Agung Viganò: Pesan terakhir, yang diberikan pada 23 Desember 2018, bagi saya tampaknya merupakan jawaban terbaik untuk pertanyaan itu. Pada hari itu, di Tempat Suci Maria itu, di gereja paroki St. Agustinus, Perawan Suci menampakkan diri kepada Fabio dan Annamaria selama Misa Kudus, dan menyampaikan pesan ini. Mari kita dengarkan beberapa bagiannya:

Gereja Yesusku dikaburkan oleh asap Setan dan banyak orang yang telah dikuduskan (imam-imam), yang dipanggil untuk mewartakan Firman-Nya, telah jatuh ke dalam perangkap Setan, sama seperti Yudas juga jatuh! Tetapi Yesus mengasihi mereka dan berharap akan pertobatan dan keselamatan mereka.

Kepada kamu, para imam, Kami telah mempercayakan tugas: untuk bersaksi tentang Kebenaran, Yesus Kristus, sampai titik kenaikan ke Kalvari dan dipaku di kayu Salib bersama-Nya. Kamu diminta untuk memberikan kesaksian tentang apa yang telah Kami percayakan kepadamu, untuk selalu setia dan taat kepada Gereja Putraku Yesus, memberikan kesaksian tentang Kebenaran dan menolak Kebohongan ...

Dia memintamu untuk memanggul Salib. Jalannya akan panjang, berliku dan penuh penderitaan, tetapi kemudian terang Tuhan akan bersinar, dan kamu harus memberikan kesaksian akan terang ini dalam kehidupan sehari-hari dengan melalui perkataan dan kehidupanmu.

Jadilah pembawa kasih selalu, bijaksana dan berhati-hati dalam upaya mengetahui bagaimana membedakan jebakan Setan. Selalu bebas dari semua kompromi manusia dan selalu mendengarkan Tuhan yang berbicara dalam keakraban hatimu. Selalu menjadi garam dunia, terang dunia, bertumbuh di dalam kebajikan Keluarga Suci Nazareth, sehingga setiap keluarga manusia dapat menerima melalui kesaksian kita, jalan iman, harapan dan kasih. Dan Tritunggal Mahakudus akan mendirikan kembali keluarga Allah yang sejati dan baru yang didirikan oleh-Nya.

LifeSite: Patung Bunda Maria yang menangis awalnya telah dibeli di Medugorje. Apakah Anda melihat hubungan yang lebih dalam antara dua tempat dan penampakan ini?

Uskup Agung Viganò: Banyak orang telah mencoba merenungkan hubungan antara dua realitas ini, mulai dari bahan asal patung yang menangis dan yang kedua, identik dengan yang pertama. Keluarga Gregori, sebagai penjaga dari seluruh peristiwa, selalu sangat tegas dalam menghindari tindakan manipulasi. Mereka selalu bersaksi tentang apa yang mereka terima di dalam pesan, dan di dalamnya ada referensi eksplisit hanya kepada peristiwa Fatima dan tidak kepada peristiwa lain. Adapun tanda-tanda eksternal, patung-patung yang merupakan objek dari fenomena yang tak dapat dijelaskan ini, tidak hanya ada dua patung Perawan Maria, tetapi juga patung Bunda Maria dari Fatima, gambar Padre Pio, dan bahkan alam lingkungan di sekitar gua kecil itu. Oleh karena itu, untuk melacak peristiwa di Civitavecchia kembali kepada keterkaitan dari bahan asal patung (Medugorje), tampaknya hal itu agak dipaksakan.

LifeSite: Bisakah Anda memberi tahu kami tentang sikap Paus Yohanes Paulus II terhadap Civitavecchia?

Uskup Agung Viganò: Kita telah merujuk pada minat awal Paus, dan pada penghormatannya terhadap patung Bunda Maria. Kita dapat menambahkan bahwa Uskup Grillo juga telah memberi kesaksian di depan umum beberapa kali secara terbuka tentang kunjungan [Paus] ke Pantano. Fakta ini juga dapat disaksikan oleh petugas polisi yang diberi “Monza 500” (kode radio yang digunakan pada saat itu untuk mengumumkan pengawalan yang harus melakukan perjalanan penyamaran), dan karena penasaran mereka menunggu untuk melihat siapa orang itu. Mereka tidak dapat bersaksi secara formal karena mereka terikat pada kerahasiaan profesional. Tentu saja jika investigasi dilakukan dengan izin yang diperlukan, tidak akan sulit untuk mengkonfirmasi kebenaran fakta. Bahkan di antara para imam di keuskupan setempat ada beberapa orang yang tahu kebenaran dengan sangat baik; sayangnya iklim sosial tidak selalu menguntungkan untuk memberikan kesaksian yang dirasakan tidak nyaman.

LifeSite: Salah satu pendukung Civitavecchia adalah Pastor Gabriele Amorth. Apakah Anda tahu lebih banyak tentang ini dan apa yang dia ketahui tentang Civitavecchia?

Uskup Agung Viganò: Pastor Amorth sangat percaya pada kebenaran peristiwa penampakan itu. Dalam hal ini saya ingin memberi kesempatan kepada jurnalis Antonio Socci, yang, selain peristiwa Fatima, juga belajar dengan hati-hati sesuatu yang berhubungan dengan Patung Bunda Maria dari Civitavecchia.

Dia menulis demikian pada tahun 2007: “Semua orang bisa mengingat sikap skeptis awal yang amat kuat dari uskup, Mgr. Grillo. Di halaman buku hariannya yang dia terbitkan, dia menceritakan bahwa pada 13 Maret [1995] dia menerima panggilan telepon dari pastor pengusir setan terkenal dari keuskupan Roma, Pastor Gabriele Amorth (seorang pejabat sejati, yang juga adalah teman Padre Pio ).

Pastor Amorth meminta kepada uskup (Mgr. Grillo) agar memiliki iman, “karena peristiwa itu telah diketahui olehnya sejak musim panas sebelumnya, dari suatu jiwa yang secara spiritual dibimbing olehnya, bahwa sebuah patung Bunda Maria akan menangis di Civitavecchia dan bahwa tanda ini tidak akan menjadi pertanda baik bagi Italia, dan karenanya pantas bagi semua orang untuk melakukan penebusan dosa dan untuk banyak berdoa.”

Uskup Grillo mencatat bahwa dia tidak percaya kepadanya (Pastor Amorth) dan kemudian dia membicarakannya dengan saudara perempuannya, Grazia, dengan aksen yang ironis. Akan tetapi saudara perempuannya itu merasa sedih, dan keesokan harinya, pada tanggal 15 Maret 1995, pada jam 8:15 pagi, setelah misa, dengan mengingat perkataan Pastor Amorth, Grazia mengungkapkan keinginannya untuk berdoa di depan patung, yang telah disimpan selama berhari-hari di lemari uskup Grillo. Uskup Grillo setuju, dan bersama-sama dengan yang lain mulai mendaraskan doa "Salam Ratu Suci." Pada kalimat, “Oh pembela yang murah hati, arahkanlah pandangan matamu yang penuh belas kasih kepada kami," tiba-tiba patung itu mulai menangis darah lagi, untuk keempat belas kalinya, tetapi kali ini patung itu sedang berada di tangan uskup yang sangat skeptis itu."

Banyak kali Pastor Amorth pergi berdoa di Civitavecchia dan juga mengunjungi keluarga Gregori. Ketika dia mendekati kematiannya, Pastor Gabriel Amorth mengirimkan salam kepada keluarga Gregori dan meminta mereka untuk mendoakannya.

Di Civitavecchia, seperti di Fatima, Bunda Maria telah banyak mengungkapkan dirinya, tetapi laporan pesan pewahyuan ini tidak diketahui secara keseluruhan karena banyaknya ketidaktaatan dan ketidaksetiaan para pastor. Peristiwa di Civitavecchia adalah bagian dari rencana Tuhan, yang ingin menyelamatkan Gereja dan seluruh umat manusia melalui Maria, Yang Selalu Menjadi Pemenang, sebagaimana St. Maximilian Kolbe suka menyebutnya, Musuh Yang Kekal dari Setan, seperti juga julukan yang diberikan oleh Paus Pius IX Terberkati kepada Bunda Maria.

Semoga Gereja, di dalam diri Sisa Pasukan Gereja yang kecil dan militan, terus berjuang dan melawan, pantang menyerah pada segala kompromi dengan dunia dan Pangeran dunia; Sisa Gereja yang bersikap tidak peduli terhadap pengakuan orang lain, yang tidak pernah mencari pujian, yang selalu terpaku kepada Tuhan, seperti Maria, menyatu di dalam Dia dan selalu setia kepada-Nya.

Saya ingin menyimpulkan dengan kata-kata Paus Pius XII: "Anda, berlutut di kaki Ratu Yang Tak Bernoda, harus rela untuk tidak beristirahat sampai Anda melihat dia berkuasa atas segalanya dan atas semua orang, pertama-tama dalam diri Anda sendiri, dan kemudian pada orang-orang di sekitar Anda, dalam keluarga, kelas dan kelompok sosial dan dalam semua kegiatan pribadi dan publik." (7 September 1954)

"Tingkatkanlah, anak-anakku yang terkasih, para pelopor suci dari pasukan yang heroik, yang tindakannya, atas kehendak Allah, dapat mempersiapkan kemenangan dan kemuliaan yang hampir tidak bisa dibayangkan." (18 Februari 1958)

Diterjemahkan kedalam bahasa Inggris oleh Giuseppe Pellegrino



*****

Katekismus Gereja Katolik

Ujian Akhir bagi Gereja

675. Sebelum kedatangan Kristus, Gereja harus mengalami ujian terakhir yang akan menggoyahkan iman banyak orang. Penghambatan, yang menyertai penziarahannya di atas bumi, akan menyingkapkan "misteri kejahatan". Satu khayalan religius yang bohong dan memberi kepada manusia satu penyelesaian semu untuk masalah-masalahnya sambil menyesatkan mereka dari kebenaran. Kebohongan religius yang paling buruk datang dari Anti-Kristus, artinya dari mesianisme palsu, di mana manusia memuliakan diri sendiri sebagai pengganti Allah dan Mesias-Nya yang telah datang dalam daging.

676. Kebohongan yang ditujukan kepada Kristus ini selalu muncul di dunia, apabila orang mengkhayalkan bahwa dalam sejarahnya mereka sudah memenuhi harapan mesianis, yang hanya dapat mencapai tujuannya sesudah sejarah melalui pengadilan eskatologis. Gereja telah menolak pemalsuan Kerajaan yang akan datang, juga dalam bentuknya yang halus, yang dinamakan "milenarisme", tetapi terutama bentuk politis dari mesianisme sekular yang secara mendalam bersifat salah.

677. Gereja dapat masuk ke dalam kemuliaan Kerajaan, hanya melalui Paskah terakhir ini, di mana ia akan mengikuti Tuhannya dalam kematian dan kebangkitan-Nya. Kerajaan itu tidak akan terwujud dalam kemajuan yang terus-menerus oleh kemenangan historis Gereja, tetapi oleh kemenangan Allah dalam perjuangan akhir melawan yang jahat. Dalam kemenangan ini pengantin Kristus akan turun dari surga. Sesudah keguncangan kosmis yang terakhir dunia ini yang akan lenyap, maka dalam bentuk pengadilan terakhir akan terjadi kemenangan Allah atas pemberontakan si jahat.


*****










No comments:

Post a Comment