Friday, January 6, 2017

Vol 2 - Bab 47 : Berbagai manfaat

Volume 2 : Misteri Kerahiman Allah

Bab 47

Berbagai manfaat
Karunia sementara
L’abbe Postel dan hamba-hamba dari Paris

Berikut ini diceritakan oleh Uskup Postel, penerjemah dari tulisan Pastor Rossignoli. Hal ini terjadi di Paris, katanya, sekitar tahun 1827, termasuk didalam no.77 dari buku the Marveilles du Purgatoire.
Seorang hamba miskin yang dibesarkan menjadi seorang Kristiani yang baik di desanya, telah menjalankan tindakan yang suci yang berupa Misa Kudus setiap bulan bagi jiwa-jiwa suci. Majikannya, telah membawanya menuju ibukota negara, namun dia tak pernah melalaikan tugas itu dan selanjutkan menjadikan hal itu sebagai aturan dan kebiasaan bagi dirinya untuk membantu didalam melaksanakan Kurban Ilahi dan menyatukan doa-doanya dengan imam, terutama bagi jiwa yang hampir menyelesaikan penebusan dosanya. Inilah intensinya.
Tuhan lalu mencobai dia dengan penyakit yang berlangsung hingga lama, yang bukan saja menimbulkan penderitaan yang besar bagi dirinya, tetapi juga membuatnya kehilangan pekerjaannya dan menghabiskan sisa-sisa tenaganya. Pada hari dimana dia boleh meninggalkan rumah sakit, dia hanya memiliki 20 sen saja. Setelah dia berdoa sungguh-sungguh kearah Surga dengan penuh percaya, dia mencari-cari pekerjaan disekitar tempat itu. Dia diberitahu bahwa mungkin dia bisa memperoleh pekerjaan disebuah keluarga tertentu di pinggiran kota, ke tempat mana dia pergi, dan ketika dia melewati Gereja St.Eustachius, dia memasukinya. Dia melihat imam di altar dimana hal itu mengingatkan dia bahwa bulan ini dia lupa mempersembahkan Misa Kudus seperti biasanya bagi orang yang meninggal, dan itu adalah hari dimana selama bertahun-tahun dia sudah biasa melakukan tindakan itu. Namun apa yang dia lakukan ? Jika dia menyerahkan sisa uangnya yang terakhir, maka tak ada lagi yang tersisa baginya, bahkan untuk mengobati rasa laparnya. Sebuah perjuangan antara devosi dan sifat manusiawi alamiahnya. Devosi memperoleh kemenangan atas dirinya. Dia berkata dalam hati :”Tuhan yang maha baik mengetahui bahwa hal ini adalah bagi Dia, dan Dia tak akan mengingkari aku”. Dia lalu memasuki sakristi dan menyerahkan persembahan bagi Misa Kudus dimana dia mengikuti misa itu dengan penuh semangat.
Beberapa saat kemudian, dia meneruskan perjalanannya, dengan penuh kesedihan. Tak memiliki apa-apa lagi, apa yang akan dia lakukan jika dia tak bisa memperoleh pekerjaan ? Dia masih dipenuhi oleh berbagai pertanyaan ini ketika tiba-tiba ada seorang pria muda yang pucat wajahnya mendekati dia dan berkata :”Apakah anda mencari sesuatu “”. “Ya tuan”. “Baiklah, pergilah ke suatu jalan tertentu dan nomor tertentu, ke rumah Nyonya... Kukira anda cocok dengannya dan anda akan puas disana”. Setelah berkata seperti ini orang itu menghilang di tengah banyak orang yang ada disekitarnya tanpa menunggu ucapan terima kasih dari gadis miskin itu.
Gadis itu menemukan jalan dan nomor yang dimaksud, dan dia naik ke apartment. Seorang pelayan nampak keluar sambil membawa bungkusan di tangannya dan berkata menggerutu dan marah :”Apakah Nyonya ada disana ?”, kata orang itu. “Mungkin saja”, jawab yang lain. “Apa hubungannya denganku ? Nyonya akan membuka sendiri pintunya. Aku tak akan menghiraukan hal itu. Adieu ! Dan orang itu menuruni anak tangga.
Gadis kita yang miskin itu menekan bel sambil gemetar. Sebuah suara yang merdu memintanya untuk masuk. Gadis itu mendapati seorang wanita tua yang penampilannya amat terhormat yang menanyakan maksud kedatangannya.
“Nyonya”, kata gadis miskin itu, “aku mendengar pagi ini anda membutuhkan pelayan dan aku datang ini untuk menawarkan tenagaku. Aku yakin bahwa anda akan bersedia menerima aku dengan baik”. “Oh, anakku yang terkasih, apa yang kau katakan itu amat luar biasa. Pagi ini aku tidak butuh apa-apa. Hanya dalam waktu setengah jam terakhir ini aku telah mengeluarkan pelayan yang tidak sopan, dan tak ada orang di dunia ini yang tahu tentang masalah ini kecuali dia dan aku. Siapakah yang menyuruhmu kemari ?”. “Seorang pria, pria muda yang kutemui di jalan, dimana dia menghentikan aku dan menunjukkan kepadaku rumah ini. Aku memuji Tuhan atas hal ini, karena hal ini sangat kuperlukan sekali. Aku tak memiliki uang sama sekali”.
Wanita tua itu tak bisa mengerti siapa pria muda yang diceritakan itu, dan ketika gadis miskin itu memandang sebuah potret di dinding, dia berseru :”Tunggu ! Nyonya ! jangan bingung. Itu adalah gambar dari pria muda yang bertemu denganku. Karena petunjuknya maka aku datang kesini”.
Atas perkataan ini wanita itu berteriak keras dan sepertinya dia kehilangan kesadarannya. Wanita itu meminta gadis itu mengulangi ceritanya, bahwa dia berdevosi kepada jiwa-jiwa di Api Penyucian, tentang Misa Kudus pagi hari itu, dan perjumpaannya dengan pria yang tak dikenal itu. Lalu wanita itu segera memeluk gadis itu sambil menangis dan berkata :”Sejak saat ini kamu tidak lagi menjadi pelayanku. Kamu adalah puteriku. Pria itu adalah anakku, anak tunggalku, yang kau lihat itu, dia sudah meninggal dua tahun yang lalu, dimana dia telah berhutang kepadamu atas pembebasannya, dimana Tuhan mengarahkan kamu kesini. Aku tidak ragu. Semoga kamu diberkati dan marilah kita berdoa lebih banyak lagi bagi semua jiwa yang menderita sebelum mereka memasuki keabadian”.



No comments:

Post a Comment