Sunday, January 15, 2017

WAWANCARA DENGAN KARDINAL BURKE




LaVerità Interview With Cardinal Burke
January 11, 2017
Original available at La Verità website (Paywall)
Translation by Andrew Guernsey
 

CARDINAL BURKE: IMAN BERADA DALAM BAHAYA
WAWANCARA DENGAN KARDINAL BURKE

"Tidak ada ultimatum kepada Paus, tapi kami harus maju terus, karena iman berada dalam bahaya!"
Dialah pemimpin dari para kardinal yang ingin meluruskan Bergoglio: "Kebingungan di dalam Gereja jelas terasa. Maka klarifikasi sangat diperlukan. "
Pembahasan tentang dubia, yaitu pernyataan keraguan yang disampaikan kepada Paus oleh empat orang kardinal tentang bagaimana menafsirkan Amoris Laetitia, terus menarik perhatian khalayak Gereja Katolik. Kardinal Gerhard Ludwig Muller, kepala ‘Kongregasi untuk Ajaran Iman’, dalam sebuah wawancara dengan Tgcom24 mengatakan bahwa pertanyaan dubia itu semestinya tidak usah dipublikasikan (surat kepada Paus disampaikan pada bulan September dan surat itu dibuka kepada media La Verita pada bulan November 2016), karena tidak ada kebutuhan untuk meluruskan paus karena "tidak ada bahaya terhadap iman."

Tetapi "Kebingungan di dalam Gereja atas penafsiran dari alinea-alinea tertentu dalam Amoris Laetitia sangat jelas terjadi," demikian kata Kardinal Raymond Leo Burke, yang paling vokal dari empat kardinal pengusung dubia. Kepada media La Verita, Kardinal Burka mengatakan: "Itulah sebabnya mengapa saya tidak melihat alasan mengapa orang bisa mengatakan bahwa tidak ada bahaya terhadap iman. Selain itu, kami telah menyampaikan kepada paus, dengan cara yang terhormat, tentang lima buah keraguan kami, dan ketika hal itu tidak ditanggapi, maka kami memutuskan, demi kebaikan jiwa-jiwa, untuk mempublikasikan pernyataan keraguan kami mengenai Amoris Laetitia dan bahwa semua umat beriman hendaknya merasa terpanggil untuk menaruh perhatian."
Kardinal Burke, seorang penandatangan dubia bersama dengan Kardinal Walter Brandmuller, Carlo Caffara dan Joachim Meisner, kemudian menyampaikan usulan kemungkinan untuk memberikan "koreksi secara formal" kepada Paus. Dan menurut laporan dari beberapa media Italia yang mengambil kesimpulan dari sebuah wawancara yang diterbitkan di Amerika Serikat [dengan LifeSiteNews], Burke seolah memberi ultimatum melalui "koreksi formal" ini yang akan berakhir setelah hari raya Natal. Tetapi sebenarnya "sama sekali tidak ada ultimatum itu," demikian Kardinal Burke menegaskan. Banyak media telah salah paham. Dalam wawancara di Amerika Serikat, mereka bertanya kepada saya, apa langkah saya selanjutnya sehubungan dengan dubia yang disampaikan kepada paus, dan saya hanya berkata bahwa tidak ada yang bisa terjadi sekarang karena kita akan memasuki masa Natal dan Epifani. Hanya setelah itulah kita bisa berpikir bagaimana untuk melanjutkan dubia ini, tetapi yang pasti bahwa itu bukanlah ultimatum untuk berkonfrontasi dengan paus. "
Dubia berbicara seputar pemberian Ekaristi bagi umat Katolik yang bercerai dan menikah lagi dan hidup secara uxorio (sebagai suami-istri), dimana pada kasus tertentu Amoris Laetitia memberikan ijin kepada mereka untuk menerima Ekaristi. Sementara itu magisterium sebelumnya telah melarang hal itu, kecuali mereka berkomitmen untuk hidup sebagai saudara dan saudari, bagi orang-orang yang bercerai dan menikah lagi dimana relasi mereka tidak dapat dipisahkan karena alasan yang sah (misalnya karena mereka harus mendidik anak-anak mereka bersama). Brandmuller mengatakan bahwa mungkin "koreksi formal" terhadap paus bisa dilakukan “in camera caritatis” (dalam semangat kemurahan hati)" Tetapi Kardinal Burke mengatakan bahwa “Saya tidak pernah mengatakan bahwa konfrontasi terbuka dengan paus harus dilakukan.”
Saya setuju dengan Kardinal Brandmüller, langkah pertama akan meminta pertemuan pribadi dengan paus untuk menunjukkan kepadanya bahwa ada beberapa pernyataan yang tidak dapat diterima di dalam Amoris laetitia; bahwa pernyataan-pernyataan itu, dalam satu atau lain cara, tidak bisa mengungkapkan atau tidak sejalan dengan apa yang selama ini diajarkan oleh Gereja.
Ada orang-orang yang mengatakan bahwa sebuah lembaga "koreksi formal" terhadap paus tidak ada dalam disiplin Gereja. Apakah anda akan menciptakannya?
"Tentu saja tidak. St. Thomas Aquinas dalam tulisan-tulisan teologisnya mengusulkan kemungkinan adanya koreksi formal terhadap paus dan juga dalam disiplin Gereja. Namun hal itu jarang digunakan, meski ada beberapa contoh, dan tentu saja kita dapat membayangkan kasus seorang paus yang dalam beberapa cara mungkin saja dia bisa jatuh ke dalam kesalahan. Maka dalam hal ini, koreksi itu harus dilakukan. "
Mengatakan bahwa, dalam kasus-kasus tertentu, orang yang bercerai dan menikah lagi dan yang hidup bersama "more uxorio" (sebagai suami-istri) boleh menerima Ekaristi, maka hal itu telah berbuat kesalahan?
"Kami bisa mengatakan bahwa pernyataan tersebut adalah jelas keliru, karena tidaklah mungkin menerima Sakramen-sakramen bagi orang yang hidup bersama, sebagai suami-istri, dengan seseorang yang bukan pasangannya (yang sah menurut Gereja). Jika ada yang mengatakan bahwa hal itu adalah mungkin maka dia telah melakukan kesalahan formal yang bertentangan dengan apa yang diajarkan Yesus sendiri dan yang selalu diajarkan oleh Gereja".

Oleh karena itu, orang yang mengatakan hal itu adalah bidaah?
"Tidak begitu, menurut saya hal itu memang telah memenuhi syarat sebagai perbuatan yang salah, tetapi disini kita berhadapan dengan situasi yang kompleks. Bidaah adalah penolakan keras kepala atau sikap keraguan yang keras kepala, pada orang yang telah dibaptis, terhadap sebuah kebenaran yang harus dipercaya dengan iman ilahi dan Katolik. Salah satu perbuatan bidaah itu adalah jika ada seseorang yang telah dibaptis tetapi dia mempertahankan keyakinan bahwa tidak ada tindakan yang jahat secara intrinsik; mempercayai hal ini berarti sama dengan mengatakan sesuatu yang bertentangan dengan ajaran Gereja dan jelas hal itu adalah bidaah. Begitu juga pernyataan yang mengijinkan penerimaan Sakramen-sakramen seperti yang kita bicarakan barusan, di sisi lain, mengacu kepada praktek yang bertentangan dengan dua doktrin: tak terceraikannya perkawinan dan kehadiran nyata dari Yesus dalam Ekaristi. Dalam sekejap kita dapat mengatakan bahwa penerimaan Sakramen-sakramen itu adalah sebuah kesalahan."
Mari kita kembali kepada dubia. Ada orang-orang yang menyindir bahwa empat orang kardinal itu telah saling bertentangan di antara mereka sendiri. Apakah itu benar?
"Ini benar-benar bohong, kita tetap bersatu dan itulah sebabnya saya tidak ingin membuat spekulasi tentang kemungkinan langkah selanjutnya yang akan diambil untuk menindak-lanjuti usulan yang telah kita sampaikan. Jika kita melakukan tindakan selanjutnya, kita akan melakukannya setelah kita bertemu sendiri dengan paus."
Tapi apakah anda masih berpikir bahwa paus akan menanggapi dubia anda?
"Kami selalu menunggu jawaban dari paus sebagai pastor tertinggi kami. Tidak mengharapkan jawaban berarti tidak menghormati jabatannya."
Bagi banyak orang, jawabannya sudah diberikan: empat kardinal itu hanyalah "ahli hukum", yang kejam dan tidak peka.
"Bagi saya, hukum moral bukanlah sesuatu yang memenjarakan seseorang, tetapi sebaliknya: hukum moral membebaskan orang dan mengarahkan dia untuk berbuat baik. kenyataannya, jika tidak ada rasa hormat kepada hukum moral, maka situasi kacau akan terjadi, dan secara moral akan timbul semacam pemenjaraan. Bagi orang beriman, kita harus mengatakan bahwa hukum Tuhan itu membebaskan, dan itu bukanlah hal yang negatif. Dan kemudian mengajarkan hukum moral adalah tindakan kasih yang besar kepada sesama karena dengan begitu kita menunjukkan jalan bagi kebebasan dan kebahagiaan yang sejati. Tidaklah mungkin untuk mengatakan bahwa seseorang dapat menemukan suatu bentuk kebahagiaan sambil orang itu berbuat dosa. "
Paus telah berkata bahwa dia menghadapi perlawanan ‘jahat’ yang muncul ketika iblis mengilhamkan niat jahat pada seseorang. Apakah anda semua merasa dituduh dalam hal ini?
"Saya tidak tahu kepada siapa paus merujuk, secara pribadi saya tidak merasa bersalah, karena perkataannya itu tidak merujuk kepada posisi saya."
Dengan inisiatif terbuka dari anda ini, hal itu nampaknya anda ikut serta dalam memecah-belah Gereja, bukan menyatukannya.
"Apa yang memecah-belah adalah sikap kepalsuan dan ambiguitas, karena kebenaran selalu menyatukan. Sungguh tidak masuk akal untuk mengatakan bahwa empat kardinal yang mengajukan lima pertanyaan yang wajar ini, yang sangat penting dan mendasar bagi semua umat Kristiani, telah bertindak memecah-belah Gereja. Kami melayani jabatan Petrus, memberikan kesempatan kepada paus untuk menegaskan ajaran Gereja kepada kita, yang saat ini dihadapkan kepada situasi yang menimbulkan ambiguitas dalam prakteknya."
Apakah kardinal-kardinal lain serta para klerus mendukung usaha anda?
"Kami tidak hanya berempat. Saya pribadi tahu kardinal-kardinal lain yang sepenuhnya mendukung dubia".
Mengapa ada begitu banyak kegaduhan bagi sebuah masalah, sehingga ada banyak orang yang sulit memahaminya?
"Disini kita berhadapan dengan sebuah pertanyaan yang menyangkut Gereja dengan cara yang sangat mendalam: perkawinan dan keluarga, dimana hasilnya dan masalah itu sendiri menjadi dasar bagi kehidupan Gereja. Tugas kita adalah untuk tidak menghanyutkan diri kita dalam pertanyaan-pertanyaan yang sulit dan tidak jelas; kami hanya memberikan kontribusi demi pertumbuhan Gereja pada sel yang paling mendasar dari kehidupan."
Akhirnya, demikian menurut tuduhan mereka, satu-satunya kejahatan yang tersisa adalah dengan ‘menjadi tradisionalis’ yang  keras kepala?

"Yah, semua tuduhan itu memang sangat nyaman bagi orang-orang itu agar tidak ikut terlibat di dalam keprihatikan kami, yang merupakan kehidupan dari Gereja. Dubia itu, suka atau tidak suka, memang diarahkan untuk masalah ini (mempertahankan kelangsungan hidup Gereja)."

No comments:

Post a Comment