Tuesday, January 3, 2017

WAWANCARA DENGAN USKUP ANDREAS LAUN

WAWANCARA DENGAN USKUP ANDREAS LAUN
TENTANG AMORIS LAETITIA DAN DUBIA DARI EMPAT KARDINAL 




Catatan : Uskup Andreas Laun adalah uskup pembantu di Salzburg, Austria. Dia adalah seorang Profesor di bidang Teologi Moral di Fakultas Philosophical-Theologica, Heiligenkreuz, Austria. Dia adalah anggota dari the Oblates of St. Francis de Sales.

Maike Hickson (MH): Anda adalah salah satu penanda-tangan dari pengusul deklarasi “Church’s Unchangeable Teaching on Marriage and to Her Uninterrupted Discipline” (yang mengatakan bahwa ajaran Gereja tentang perkawinan dan disiplin Gereja adalah tidak pernah berubah), yang saat ini telah mendapatkan dukungan lebih dari 30.000 umat. Sisi manakah dari Amoris Laetitia yang menurut anda adalah bermasalah dan bersifat terbuka terhadap penafsiran yang kontradiktiv. 

Bishop Andreas Laun (AL): Saya telah membaca keprihatinan empat orang kardinal itu dan saya setuju dengan mereka. Selain itu, secara pribadi saya kenal dengan Cardinals Meisner dan Caffarra dan saya tahu betapa mereka sangat berkompeten dalam hal ini. Dengan mereka, saya adalah bersahabat baik.


 MH: Apakah anda melihat adanya kesempatan bagi orang yang bercerai dan menikah lagi, untuk menerima Sakramen-sakramen tanpa lebih dahulu merubah kehidupan mereka dan hidup sebagai kakak-adik?

AL: Sayang sekali TIDAK. Saya menyebut  itu sebagai ‘jalan yang lebih mudah’. Namun ini adalah berbicara mengenai kebenaran, dan bukan mengenai perasaan-perasaan saya. Pertanyaan ini tidak ada hubungannya dengan kerahiman atau belas kasih Allah. Bisakah St.Yohanes Pembaptis, dengan alasan belas kasih, mengijinkan Herodes menikahi istri saudaranya? Tuntunan spirituil yang sangat ditekankan oleh PF berperanan seperti seorang dokter yang membuat diagnosa, namun kemudian tidak memberikan pelayanan yang semestinya kepada pasien karena dia hanya berkomentar saja soal penyakitnya, karena dokter itu suka jika pasiennya sakit, meskipun dia tahu kegawatan penyakit itu.

MH: Baru-baru ini empat orang kardinal (Walter Brandmüller, Joachim Meisner, Carlo Caffarra dan  Raymond Leo Burke) telah menyampaikan lima buah dubia kepada PF, mengenai Amoris Laetitia, dan karena hingga kini mereka tidak mendapatkan jawaban dari PF maka mereka kemudian menerbitkannya secara luas. Empat orang kardinal itu telah dikritik keras karenanya, dan beberapa orang telah menuduh mereka tidak loyal. Bagaimana anda menilai tindakan empat kardinal ini?

AL: Tindakan dari empat kardinal itu adalah merupakan bentuk pelayanan kepada ajaran Gereja. Di dalam sejarah, ada banyak contoh kritikan yang diarahkan kepada paus. Namun hal itu selalu mengikuti ‘moralitas kritikan’, dimana hal itu disampailan secara sopan, secara obyektiv, adil, muncul karena rasa kasih, dan dengan penuh pengertian kepada dia yang dikritik itu, karena setiap kritikan, sedikit banyak, bisa menyakitkan.

MH: Seandainya surat itu disampaikan kepada anda, apakah anda akan ikut menanda-tangani dubia itu?

AL: YA, setelah saya membacanya berkali-kali, dan setelah saya berkonsultasi dengan salah satu kardinal itu, saya akan ikut menanda-tanganinya.

MH: Tahukah anda ada kardinal atau uskup lain yang bersimpati dengan empat kardinal ini, namun tidak berani berbicara secara terbuka?

AL: Tidak tahu, namun adalah memalukan, jika karena rasa takut saja, orang kemudian tidak mau berbicara. Seperti St.Gregorius Agung pernah mengatakan, sikap diam bisa merupakan sebuah dosa, dan Otto von Habsburg mengatakan bahwa seorang pengecut adalah keburukan terbesar zaman ini.

MH: Menurut anda, apakah boleh seorang kardinal atau uskup menyampaikan kritikan terbuka kepada paus. Dan jika ya, apa syaratnya? Kebaikan apakah yang menjadi pertimbangan dari tindakan itu, yang harus benar-benar diperhatikan?

AL: Setiap orang berhak menyampaikan kritikan: jika paus berbicara tentang sesuatu yang bukan menjadi kompetensinya. Secara khusus, paus memang bisa menyampaikan pendapatnya soal berbagai hal, tetapi harus jelas kemana arah pembicaraannya itu, sebagai seorang paus atau apakah dia hanya berbicara sebagai orang awam atau orang lainnya lagi. Misalnya mengenai iklim global, atau mengenai masalah Iman atau Moral? Pada suatu saat Paus Pius XII berbicara secara meyakinkan mengenai lebah, tetapi tentu saja pengetahuan mengenai lebah ini tak bisa dia menuntut umat agar mempercayainya sebagai Iman. Pada beberapa kasus, kritikan juga bisa menyinggung kehidupan pribadi seorang paus, seperti pada saat St.Catharina dari Siena. Paus saat itu bersikap rendah hati dan mau menerima kritikan itu.

MH: Di hadapan sebuah krisis moral yang sedemikian besarnya saat ini, baik di dalam maupun diluar Gereja Katolik, dimana ada sejumlah besar umat yang tidak mau lagi mengikuti moralitas Kristiani, apakah anda berpikir memang layak untuk melunakkan dan menurunkan ukuran atau standard moral Katolik? Atau, kita harus meminta umat agar bertobat setelah lebih dahulu menunjukkan kepada mereka akibat-akibat negativ dari kehidupan yang tak bermoral?

AL: Paus tidak boleh menurunkan atau menaikkan suatu standard moral, seperti halnya dia tak boleh merubah hukum alam. Hukum-hukum moral adalah Hukum-hukum Ilahi, atau jika hal itu hanyalah merupakan hukum buatan manusia, maka hal itu bukanlah bagian dari nilai-nilai moral. Bagi ajaran moral Katolik yang benar, adalah penting untuk menyadarkan umat agar selalu mengacu kepada Allah dan menunjukkan bahwa moralitas Katolik adalah ‘mempertahankan umat manusia tetap menjadi speciesnya sendiri secara layak, yang berbeda dari binatang, dalam hal kebebasan dan berdasarkan pengertian.’

MH: Bagaimana seharusnya Gereja Katolik sekarang mengarahkan diskusi mengenai hal ini dan dimanakah tempatnya ‘perhatian terhadap kesejahteraan anak-anak’ di dalam pertanyaan-pertanyaan mengenai perkawinan, serta di dalam pertanyaan mengenai isu-isu yang mendukung kehidupan? Apakah Sabda Kristus ‘Biarlah anak-anak kecil itu datang kepadaKu‘ masih bisa mengilhami dan mempertahankan maknanya saat ini?


AL: Ajaran dan katekesis yang baik seharusnya memberi contoh dan kisah-kisah yang bisa menolong kita membaca Kitab Suci secara benar (St.Paulus) dan memasukkannya di dalam hati. Yesus tidaklah memberikan presentasi atau menulis di dalam kitab-kitab secara njelimet. Tetapi Dia mendorong, terutama melalui dialog pribadi, pemikiran dan pengertian seseorang. Mengenai masalah pemahaman dan wawasan, saya memberi contoh yang bagus disini mengenai kontrasepsi: siapa saja yang mengerti bahwa kontrasepsi juga akan bisa mengganggu kasih, dan siapa saja yang melakukannya dengan pertolongan nasihat dari Gereja, seharusnya dia tahu mengapa Paus Paulus VI mengeluarkan Humanae Vitae dan bagaimana kehidupan yang baik menurut ajaran itu bagi setiap kasih, meski pada saat yang sama hal itu sulit dilaksanakan. Namun kadang-kadang hal seperti ini juga terjadi pada keadaan yang lain dimana seseorang berusaha mengikuti Perintah Allah!  

No comments:

Post a Comment