Wednesday, January 4, 2017

PENGALAMAN LIMA ORANG KUDUS...

PENGALAMAN LIMA ORANG KUDUS YANG PERNAH MENYAKSIKAN NERAKA: MENGERIKAN

Kamu hanya memiliki dua tujuan: Surga dan neraka. Ketahuilah bahwa setan berusaha untuk menghilangkan realitas keberadaan kerajaannya, neraka, dari pikiranmu. Jika dia membuat lelucon tentang keberadaannya diantara kamu, dia menipu kamu agar kamu berbuat dosa dan menjauhkan dirimu dari Roh Terang. Dan jika kamu telah menjauhkan dirimu dari Roh Terang maka kamu juga menjauhkan dirimu dari kehidupan kekal didalam Kerajaan Bapamu, Allah Yang Maha Tinggi di Surga. - Our Lady of the Roses, February 1, 1975


ChurchPop.com on October 28, 2015:

Seorang mistikus besar dari abad 19, St.Faustina, menceritakan penglihatannya atas neraka dan pengaruhnya atas dirinya:

Akibatnya, aku berdoa lebih tekun lagi demi pertobatan para pendosa. Tidak henti-hentinya aku memohon kerahiman Allah bagi mereka. Oh Yesusku, biarlah aku menderita hingga akhir dunia ini, ditengah penderitaan yang terbesar sekalipun, daripada aku menentang Engkau melalui dosaku yang terkecil sekalipun. 

Karena itu janganlah ragu: menjauhlah dari dosa-dosamu, berusahalah menuntun orang lain kepada Kristus.

1) Anne Catherine Emmerich Terberkati : Tak seorang bisa tahan (melihat neraka) tanpa merasa gemetar.

Anne Catherine Emmerich Terberkati hidup pada akhir abad 18 dan awal abad 19 di Kerajaan Roma. Dia adalah seorang mistikus yang menerima penglihatan atas berbagai hal spirituil. Berikut ini adalah beberapa kutipan dari penglihatannya: 

Bagian luar neraka sungguh nampak mengerikan dan menakutkan; ia berupa suatu bangunan yang amat besar, nampak mengerikan, dan batu-batu granit yang membentuknya, meskipun hitam, tetapi ia menyiratkan warna logam; dan pintu-pintu yang gelap serta memuakkan dikuatkan dengan dengan sekrup-sekrup yang mengerikan sehingga tidak ada yang bisa dilihatnya  tanpa merasa gemetar.

Suara-suara mengerang dan jeritan yang penuh keputus-asaan terdengar dari balik pintu-pintu yang tertutup rapat. Namun siapakah yang bisa menggambarkan suara-suara lengkingan dan jeritan yang menusuk telinga jika sekrup-sekrup itu dilepas dan pintu-pintu dibuka; Oh, siapakah yang bisa melukiskan penampilan melankolis dari para penghuni tempat yang malang itu!

Sebaliknya, semua yang ada di dalamnya dalam keadaan tertutup, kacau, dan berdesakan. Setiap apa yang ada disitu cenderung memenuhi pikiranku dengan rasa sedih dan penderitaan. Tanda-tanda dari murka dan pembalasan Allah nampak terlihat dimana-mana. Rasa putus asa, seperti seekor burung pemakan bangkai, mencekam setiap jantung, dimana perselisihan dan penderitaan menguasai dimana-mana.

Di dalam neraka, tak ada lainnya yang bisa terlihat kecuali ruang-ruang bawah tanah yang suram, gua-gua yang gelap, padang gurun yang mengerikan, rawa yang berbau busuk yang dipenuhi dengan berbagai species serangga aneh yang beracun dan menjijikkan.

Di dalam neraka, adegan abadi yang berupa perselisihan sengit dan segala macam dosa dan kebusukan, baik dalam wujud yang paling mengerikan yang bisa dibayangkan, atau diwujudkan oleh berbagai jenis siksaan mengerikan. Semua yang ada di dalam tempat tinggal yang suram ini cenderung untuk memenuhi pikiran dengan kengerian; tak ada satupun kata atau ide penghiburan yang terdengar; satu pemikiran yang luar biasa, yang diberikan oleh keadilan dari Tuhan Mahakuasa kepada makhluk terkutuk itu adalah bahwa mereka sadar sepenuhnya bahwa dirinya layak menerima semua itu, dengan keyakinan yang luar biasa, yang terus menerus membebani hati mereka.

Segala keburukan nampak aslinya, dengan warna-warna muram yang menjijikkan, karena mereka dilepaskan dari topeng yang tersembunyi selama di dunia ini, dan si ular beludak dari neraka nampak melahap mereka yang dulunya dipuja dan dihormati di dunia. Dengan kata lain, neraka adalah bait kesedihan dan keputus-asaan…

2) St. Teresa of Avila : Terbakar dan terkoyak hancur berkeping-keping.

Seorang mistikus dan Doktor Gereja pada memperoleh pengalaman neraka berikut ini:

Jalan masuknya seperti sebuah lorong sempit yang panjang, seperti sebuah tungku api, amat rendah, gelap, dan tertutup. Tanahnya nampak lembab, berlumpur, dan sangat busuk, memancarkan aroma penyakit, dan penuh dengan kutu yang menjijikkan. Pada ujungnya ada sebuah tempat yang berlubang di dinding, seperti sebuah kakus, dan disitu aku melihat diriku terkurung…

Aku merasakan api di dalam jiwaku… penderitaan tubuhnya serasa tak tertahankan. Aku mengalami penderitaan yang paling menyakitkan dalam hidupku… namjun semua ini nampaknya belum seberapa dibandingkan dengan apa yang akan kurasakan kemudian, terutama ketika aku menyadari bahwa keadaan seperti itu tak ada pengurangan atau istirahatnya sama sekali, terus berlangsung tanpa ada akhirnya…
Aku tidak melihat siapa yang menyiksa aku, namun aku merasa diriku terbakar dan terkoyak hingga berkeping-keping. Dan aku mengulangi, api di dalam diriku beserta keputus-asaan yang kurasakan ini adalah siksaan yang terbesar dari semuanya… 

Aku tak bisa duduk ataupun berbaring, karena tak ada tempat untuk itu. Aku merasa seolah di taruh dalam sebuah lubang di dinding. Dan dinding-dinding itu yang nampak mengerikan, seolah menyelimuti dan membatasi diriku dari segala arah. Aku tak bisa bernapas. Tak ada cahaya, semuanya adalah serba kegelapan yang pekat…

Aku merasa ketakutan sekali oleh penglihatan itu, dan rasa takut itu terasa hingga kini ketika aku menulis ini, meski kejadian itu telah enam tahun berlalu; kehangatan alami tubuhku menjadi rasa kedinginan karena rasa takut, jika sekarang aku mengingatnya…

Penglihatan itulah yang menguasai aku dengan kesedihan yang amat besar yang kurasakan, ketika aku melihat ada begitu banyak sekali jiwa-jiwa yang musnah, terutama mereka yang semula adalah anggota Gereja melalui pembaptisan, dan hal ini juga memberiku keinginan yang bergelora demi keselamatan jiwa-jiwa itu. Aku percaya bahwa untuk menyelamatkan satu jiwa saja dari penyiksaan itu, aku bersedia untuk mengalami kematian hingga berkali-kali.

3) St. John Bosco : Kengerian yang tak terlukiskan.

Pada tahun 1868 St.John Bosco mengalami sebuah mimpi tentang neraka. Ceritanya cukup panjang, namun kutipannya adalah berikut ini:

Ketika aku telah melewati batasnya, aku merasakan kengerian yang tak terlukiskan besarnya hingga aku tidak berani melangkah lagi.

Di hadapanku aku melihat sesuatu seperti sebuah gua yang amat besar yang secara perlahan kemudian ia menghilang dan tenggelam ke dalam relung-relung yang ada di dalam perut gunung-gunung. Semua itu nampak terbakar, namun itu bukanlah api dari dunia ini, dengan lidah-lidah apinya. Seluruh gua itu – dinding, atap, lantai, besi-besinya, bebatuan, kayu, batu bara, semuanya nampak membara dengan suhu kira-kira mencapai ribuan derajat. Namun api itu tidak menghancurkan, tidak melahap habis. Aku tak bisa menemukan kata yang tepat untuk menjelaskan kengerian dari gua itu…

Penuntunku menangkap tanganku, memaksa untuk membukanya, dan menekankan tanganku pada bagian yang pertama dari ribuan dinding yang ada. Sensasi yang kurasakan adalah sangat menyakitkan, dan aku melompat mundur sambil menjerit dan aku mendapati diriku terduduk pada sebuah tempat tidur.

Tanganku masih merasakan sengatan, aku menggosoknya untuk mengurangi sakitnya. Ketika aku bangun pada pagi hari aku melihat bahwa tanganku bengkak. Karena tanganku disentuhkan pada dinding, meskipun hanya dalam mimpi, namun aku merasakannya sangat nyata, hingga kulit tanganku mengelupas. 

Ingatlah bahwa aku tidak ingin membuatmu ketakutan, maka aku juga tidak akan menjelaskan hal-hal ini dalam keadannya yang sebenarnya mengerikan, seperti aku melihatnya, dan seperti yang terkesan dalam hati dan pikiranku. Kita tahu bahwa Allah selalu menggambarkan keadaan neraka dalam bentuk simbol-simbol, karena jika Dia berbicara yang sebenarnya tentang neraka, maka kita tak akan bisa memahami Dia. Tak ada makhluk yang fana ini bisa memahami hal itu.

4) Sr. Lucy of Fatima: Jeritan dan erangan kesakitan serta keputus-asaan

Sr.Lucy dari Fatima, bukanlah seorang kudus (dia meninggal pada 2005), namun dia adalah salah satu visiuner dari Fatima pada awal abad 20, dimana penampakan disana telah diakui oleh Gereja. Pada sebagian dari kisah penglihatan itu, dia mengaku telah melihat neraka:

Kami melihat suatu lautan api yang amat luas. Tercebur ke dalamnya kami melihat iblis-iblis dan jiwa-jiwa yang terkutuk.

Jiwa-jiwa itu nampak seperti bara api yang transparan, berwarna seperti perunggu yang menghitam atau gelap, dalam wujud manusia. Mereka melayang-layang ditengah kobaran api, sesekali naik ke atas oleh dorongan lidah api yang keluar dari dirinya sendiri, bersama dengan asap pekat sekali. Kemudian mereka terjatuh lagi ke segala arah seperti letikan-letikan api besar, tanpa beban atau keseimbangan, di tengah jeritan dan erangan rasa sakit dan putus asa, yang sangat menakutkan kami dan membuat kami gemetar karena ngeri. (Penglihatan inilah yang membuat kami menjerit dan menangis, seperti yang dilaporkan oleh orang-orang yang mendengar suara kami).  

Iblis-iblis itu berbeda dari jiwa-jiwa terkutuk melalui penampilan mereka seperti binatang-binatang yang tak kami kenal, yang mengerikan dan menjijikkan, berwarna hitam dan transparan seperti bara api.

5) St. Maria Faustyna Kowalska: Sebuah tempat penyiksaan yang besar.

St. Maria Faustyna Kowalska, sering dikenal dengan nama St. Faustina, adalah seorang biarawati Polandia yang menerima banyak sekali pengalaman mistik pada tahun 1930an. Berikut ini adalah kutipan dari buku hariannya mengenai salah satu penglihatannya:

Hari ini aku dituntun oleh satu malaikat menuju jurang-jurang neraka. Ia merupakan tempat penyiksaan yang besar. Betapa luasnya dan dahsyatnya tempat itu.

Jenis-jenis siksaan yang kusaksikan di tempat itu : siksaan yang pertama yang mewakili seluruh neraka adalah berupa kehilangan Allah; yang kedua adalah rasa penyesalan hati yang berlangsung selamanya; yang ketiga, kondisi masing-masing makhluk itu yang tak pernah berubah; ke empat, api yang menembus masuk ke dalam jiwa tanpa menghancurkannya – sebuah penderitaan yang mengerikan, karena ia adalah sebuah api yang bersifat spirituil murni, yang dinyalakan oleh murka Allah; ke lima adalah kegelapan yang terus menerus serta bau yang sangat mencekik, disamping kegelapan, iblis-iblis dan jiwa-jiwa terkutuk itu bisa saling melihat kepada satu sama lain serta semua kejahatan mereka sendiri dan kejahatan orang lain; siksaan ke enam adalah tinggal bersama setan selamanya; siksaan ke tujuh adalah rasa putus asa yang luar biasa, kebencian akan Allah, kata-kata yang kotor, kutukan-kutukan dan penghujatan…

Setiap jiwa disana mengalami penderitaan yang mengerikan dan tak terperikan, berkaitan dengan dosa yang dilakukannya. Disana terdapat gua-gua dan lubang-lubang penyiksaan dimana satu penderitaan berbeda dengan penderitaan lainnya…

Namun aku melihat ada satu hal, sebagian besar jiwa-jiwa yang ada disana adalah mereka yang tidak percaya bahwa neraka itu ada. Ketika aku kembali di dunia, rasanya aku tak bisa pulih dari rasa takutku. Betapa mengerikan jiwa-jiwa yang menderita disana! (Diary of St. Faustina, 741)

Disana terdapat kebutaan yang lebih buruk daripada kehilangan penglihatan jasmani, karena disana berupa kebutaan hati. Banyak sekali orang yang berjalan menuju kobaran api neraka dalam keadaan buta. Manusia berusaha menghilangkan bukti keberadaan neraka, namun segera mereka akan menyadari kebenaran yang ada. Neraka itu ada dan Surga itu juga ada. Dosa-dosa daging telah mengirim lebih banyak jiwa-jiwa ke dalam neraka. - Jesus, October 2, 1970, Bayside.


No comments:

Post a Comment