Monday, January 2, 2017

Vol 2 - Bab 46 : Berbagai manfaat

Volume 2 : Misteri Kerahiman Allah

Bab 46

Berbagai manfaat
Terima kasih dari jiwa-jiwa
Kembalinya imam yang dikucilkan
Pastor Mumford dan the Printer, William Freyssen

Untuk bisa memahami rasa terima kasih dari jiwa-jiwa itu, maka perlulah kita memiliki pengertian yang jelas atas manfaat yang mereka terima dari para pembebas mereka. Agar kita juga tahu apa yang membuat mereka masuk ke Surga. “Siapakah yang memberitahu kita”, kata Uskup Louvet, “kebahagiaan pada jam yang penuh berkat itu ! Bayangkanlah kebahagiaan dari seorang yang terasingkan, yang setelah sekian lama dia kembali lagi ke tanah leluhurnya. Selama Pemerintahan Teror, seorang imam sederhana di La Vendee dihukum dengan cara ditenggelamkan. Setelah dia lolos dari hukuman itu karena suatu keajaiban, maka dia harus pergi dari negeri itu untuk menyelamatkan hidupnya. Ketika rasa aman telah pulih bagi Gereja dan bagi Perancis, dia segera kembali ke parokinya yang dicintainya dulu.
Saat itu sedang diadakan pesta di desa itu. Maka semua warga paroki itu menemui Pastor dan bapa mereka. Lonceng-lonceng Gereja berdentang ramai. Gereja dihiasi seperti pada hari-hari pesta besar. Pastor itu tersenyum bahagia ditengah umatnya. Ketika pintu-pintu dari tempat suci disitu dibuka, ketika dia memandang kearah altar, yang dulu sempat memberikan kenangan indah bagi masa mudanya, hatinya bergetar keras. Dengan suara gemetar dia mendaraskan Te Deum, dimana itu adalah merupakan Nunc Dimittis dari kehidupan imamatnya. Dia terjatuh dan meninggal didepan altar. Pastor yang baru diasingkan itu tak mampu menahan kebahagiaannya karena kedatangannya kembali.
Jika demikian ini bahagianya seorang pengasingan yang kembali ke tanah leluhurnya, maka siapakah yang bisa menceritakan kepada kita perjalanan yang akan kita lakukan dengan memasuki Surga, rumah sejati bagi jiwa kita ? dan betapa besarnya kita akan kagum atas ucapan terima kasih dari jiwa-jiwa terberkati yang telah berhasil kita bawa menuju Surga !
Pastor James Mumford dari the Society of Jesus lahir di Inggris pada 1605 yang berjuang selama 40 tahun demi kemajuan Gereja di negeri itu, yang kemudian menyerah kepada suatu bidaah, membuat sebuah karya yang terkenal mengenai Api Penyucian, yang dicetak di Cologne oleh William Freyssen, seorang penerbit Katolik yang terkenal. Buku ini mendapat sambutan yang luas dan menimbulkan pengaruh yang baik terhadap jiwa-jiwa. Penerbit Freyssen adalah salah satu orang yang mendapatkan manfaat besar dari situ. Inilah tulisannya kepada Pastor Mumford :
“Pastor, aku menulis ini untuk memberitahu anda atas penyembuhan ajaib dari anakku dan istriku. Selama liburan, ketika kantorku tutup, maka aku membaca buku anda, ‘Mercy Excercised towards the Souls in Purgatory’, yang anda kirimkan kepadaku untuk dicetak. Aku masih sibuk membaca karya anda itu, ketika aku diberitahu bahwa anak laki-lakiku, 4 tahun, menunjukkan gejala penyakit yang serius. Kemudian penyakit itu berjalan cepat memburuk, dokter sudah menyerah, dan persiapan bagi penguburannya sudah direncanakan. Muncullah pikiran pada diriku agar aku berjanji untuk berbuat sesuatu bagi jiwa-jiwa di Api Penyucian”.
“Aku pergi ke Gereja pagi-pagi sekali dan dengan sungguh-sungguh aku memohon kepada Tuhan agar berbelas kasihan kepadaku. Aku berjanji untuk membagikan 100 copy buku anda itu diantara umat beriman dan para religius secara cuma-cuma untuk mengingatkan mereka agar bersemangat didalam membantu Gereja Yang Menderita itu dan agar mereka berusaha dengan cara yang terbaik untuk melaksanakan hal itu”.
“Aku mengakui bahwa aku sangat berharap sekali. Ketika aku pulang aku mendapati anakku sudah menjadi lebih baik keadaannya. Dia meminta makanan, meskipun selama beberapa hari sebelumnya dia tidak mampu menelan setetes air sekalipun. Hari berikutnya dia sudah sembuh sama sekali. Dia bangkit dan berjalan-jalan dan makan dengan lahap sekali, seolah dia tak pernah sakit apapun. Penuh dengan rasa terima kasih maka keinginanku yang pertama adalah memenuhi janjiku. Aku pergi ke College dari the Society of Jesus dan memohon kepada Pastor Kepala disitu untuk menerima 100 copy buku itu bagi keperluan mereka sendiri dan sisanya untuk dibagikan kepada komunitas lain, agar jiwa-jiwa yang menderita di Api Penyucian, para penolongku itu, bisa mendapatkan tambahan permohonan yang baru”.
“Tiga minggu kemudian, terjadi lagi bencana lain yang tidak kurang besarnya atas diriku. Istriku, ketika memasuki rumahku, tiba-tiba seluruh tubuhnya gemetar dan lemas, sehingga dia terjatuh di tanah. Segera dia kehilangan selera makannya dan tidak bisa bicara. Semua jalan pengobatan sudah dilakukan, namun sia-sia. Penyakitnya semakin parah dan semua harapan nampaknya sudah habis. Bapa pengakuannya, melihat dia dalam keadaan parah seperti itu, berusaha menghibur diriku, dan menganjurkan aku untuk menyerah kepada Kehendak Tuhan. Bagi diriku sendiri, setelah aku mendapatkan perlindungan dari jiwa-jiwa di Api Penyucian, aku tidak berputus asa. Aku kembali ke Gereja yang sama, bersujud dihadapan Sakramen Terberkati, dan membaharui permohonanku dengan penuh semangat. ‘Oh Tuhanku, kemurahanMu adalah tak terbatas. Demi kebaikanMu yang tak terbatas itu, jangan sampai kesembuhan anakku itu harus ditebus dengan kematian istriku !’. Lalu aku berjanji untuk membagikan 200 copy buku anda itu untuk mendapatkan keringanan bagi jiwa-jiwa yang menderita di Api Penyucian. Pada saat yang sama aku memohon kepada jiwa-jiwa itu, yang telah dibebaskan, untuk menyatukan doa-doa mereka dengan doa-doa dari jiwa-jiwa yang masih berada didalam Api Penyucian. Setelah berdoa seperti ini, aku pulang dan aku melihat para pembantuku berlari kearahku. Mereka mengatakan bahwa istriku menjadi lebih baik keadaannya, bahwa mengigaunya telah hilang dan bicaranya pulih. Segera aku menemui istriku dan melihat bahwa semua cerita tadi memang benar. Aku memberinya makanan yang dia terima dengan lahap. Dalam waktu yang singkat dia telah pulih sama sekali dan dia menyertia aku pergi ke Gereja untuk berterima-kasih kepada Tuhan atas kerahimanNya”.
“Yang Mulia, semoga anda percaya dengan semuanya ini. Aku berdoa bagi diri anda dan agar anda menyampaikan rasa terima kasihku kepada Tuhan atas dua keajaiban ini”.

Freissen


No comments:

Post a Comment