Tuesday, January 22, 2019

RASA SAKITNYA MELAHIRKAN DIALAMI OLEH GEREJA


RASA SAKITNYA MELAHIRKAN DIALAMI OLEH GEREJA

September 28, 2016, Catholic Life





Saya adalah seorang imam berusia 38 tahun. Sebagian besar imamat saya telah saya lewatkan bersama mahasiswa dan keluarga-keluarga muda. Setiap pekan saya mengakhirinya dalam beberapa percakapan di telepon dengan seseorang yang mengalami penderitaan yang tak terkatakan dalam kehidupan keluarga mereka. Saya tahu bahwa setiap zaman dalam sejarah memiliki penderitaannya sendiri, tetapi ada sesuatu yang berbeda dengan tahun ini. Sebagai contoh, saya bertanya kepada seorang ibu muda pada pemakaman seorang teman, bagaimana keadaan keluarganya. Dia menjawab, “Bagus. Kami adalah satu-satunya orang, yang kami tahu, yang hidupnya tidak hancur berantakan." Kata saya, "Kalau begitu aku akan memasukkanmu dalam daftar pendek saya yang berisi orang-orang semacam kamu." "Oh, jangan menempatkan kami di daftar mana pun," katanya sambil tersenyum.

Saya melihat dunia secara global: Ada dua juta anak yang menjadi budak seks. Selama abad yang lalu, lebih banyak orang Kristen yang mati demi iman mereka daripada sebelumnya dalam sejarah, dan ketika Komunisme menghentikan penganiayaannya, kelompok-kelompok seperti ISIS muncul untuk melanjutkan pekerjaan para tukang daging. Setengah miliar anak-anak disapu bersih oleh pil dan aborsi setiap tahun. Sifat manusia tidak menjadi lebih jahat, karena sejak dulu manusia memang jahat, tetapi instrumen yang diberikan kepada kita oleh dunia modern telah menyebabkan kematian dan perbudakan lebih dari pada saat-saat sebelumnya - termasuk perdagangan budak transatlantik dan pembantaian. Ini adalah fakta statistik.

Biasanya saya akan mencari kekuatan dari dalam Gereja yang saya butuhkan untuk menuntun keluarga-keluarga, tetapi ketika saya membaca Amoris Laetitia, dimana disitu saya melihat bahwa Paus Francis mengatakan: orang yang bercerai dan menikah kembali dapat menerima Komuni Kudus tanpa perlu memperbaiki kehidupan mereka. Maka itu adalah godaan untuk bercerai bagi banyak keluarga yang berjuang keras untuk mempertahankannya. Mungkin inilah sebabnya mengapa ada begitu banyak uskup mengklaim bahwa ini bukanlah apa yang dimaksudkan Paus. Tetapi ada masalah serius dengan itu: Bahkan Paus Francis dan Kardinal Schönborn, berdua, telah mengkonfirmasi bahwa Paus Francis bersungguh-sungguh dengan apa yang ditulisnya dalam Amoris Laetitia.

Masuklah ke ‘lubang kelinci’ sedikit lebih dalam: Saya baru saja selesai mencermati beberapa program seks baru dari Vatikan yang disebut “Meeting Point.” Beberapa di antaranya baik-baik saja. Tetapi sebagian kecil adalah berupa pornografi ringan, termasuk foto-foto erotis. Saya bukanlah seorang pastor yang suci. Faktanya, saya adalah mantan paramedis yang pernah membantu proses melahirkan bayi. Tetapi "Meeting Point" Vatikan memiliki gambar erotika ringan yang buruk. "Bagian yang layak" dari Meeting Point masih saja jauh dari Teologi Tubuh. Bagian yang buruk dari program ini mengingatkan saya pada pendidikan seks yang diberikan Komunis kepada anak-anak di Rumania pada 1980-an untuk meningkatkan libido (nafsu sex) anak-anak di sekolah dasar. Seorang teman pastor baru-baru ini berkata kepada saya bahwa racun tikus memiliki "99,95% bahan dari semua makanan yang disukai tikus. Hanya yang 0,05% adalah racun."

Jadi, ketika saya membawa semua masalah ini kepada Adorasi Ekaristi, saya mendapatkan apa yang oleh Fulton Sheen Ven. disebut sebagai "pertengkaran kekasih" dengan Tuhan. Saya memandang kepada Tuhan didalam monstran, dan berkata bahwa jika Gereja tidak mau mendukung saya dalam memperjuangkan kebenaran, maka saya tidak perlu melakukannya. Sekarang, saya tidak lagi mau "mendengar" segala sesuatu yang lain ketika berdoa, karena apa yang saya pahami didalam doa di dalam Gereja, pada saat berikutnya, adalah satu-satunya saat dalam hidup saya, dimana saya percaya, Tuhan berbicara langsung kepada pikiran dan pemahaman saya:

“Gereja-Ku sedang disalibkan. Akankah kamu meninggalkannya?

Saya tidak akan pernah melupakan kata-kata Tuhan ini. Kalimat itu tidak hanya memberi keberanian kepada hati saya; kalimat itu juga membawa kejernihan dalam benak saya: Gereja harus berjalan menuju ke tempat dimana Mempelai Prianya (Kristus) dulu pergi (Kalvari), dan hal ini akan terjadi - seperti halnya dengan Yudas - sebagai buah dari pengkhianatan dari dalam hatinya. Our Lady of Good Success menjanjikan "pemulihan penuh" atas Gereja setelah mengalami krisis seperti yang dinubuatkan, yang digambarkan sangat mirip dengan apa yang kita saksikan hari-hari ini. Saya telah melihat bahwa Gereja sedang mengalami penyaliban, tetapi bagaimana saya bisa merindukan bahwa setelah saat ini akan terjadi kebangkitan? Jika paus Paulus VI mengatakan bahwa "asap setan telah memasuki bait suci Allah," maka saya pasti tidak menentang hal itu, karena peristiwa yang terjadi saat ini menunjukkan bahwa Gereja kita sekarang sedang mengalami sebuah kebakaran besar.

Di seminari, guru-guru memberi tahu kami bahwa Gereja akan menjadi ‘pengantin pria’ kami. Tetapi Gereja bukanlah milik saya atau imam atau uskup mana pun - atau dalam hal ini, milik paus mana pun. Bukan. Inilah mengapa teologi imamat Santo Agustinus adalah salah satu yang menempatkan para imam sebagai Yohanes Pembaptis yang lain:

Aku bukan Mesias, tetapi aku diutus untuk mendahului-Nya. Yang empunya mempelai perempuan, ialah mempelai laki-laki; tetapi sahabat mempelai laki-laki, yang berdiri dekat dia dan yang mendengarkannya, sangat bersukacita mendengar suara mempelai laki-laki itu. Itulah sukacitaku, dan sekarang sukacitaku itu penuh. Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil. (Yoh.3:28-30)

Yang dimaksud "sahabat dari mempelai pria" adalah "orang yang terbaik" dalam bahasa modern. Yohanes Pembaptis mengatakan bahwa Israel lama dan Israel baru keduanya secara eksklusif adalah milik Sang Mempelai Pria Ilahi, itu saja. Yohanes tetap menjadi “orang yang terbaik,” dan begitu pula setiap imam yang memilih untuk pergi berperang bersama Mempelai Pria.
Tapi ke mana Pengantin Pria pergi, begitu juga ‘pengantin wanita’ dan ‘orang-orang yang terbaik’ harus mengikuti. Pada hari Senin, 19 September di Kalender Latin Tradisional, itu adalah pesta tingkat ke 3 St. Januarius. Dalam Injil untuk Misa itu, Yesus menyampaikan khotbahnya yang paling apokaliptik, yang hanya diucapkan secara pribadi kepada para murid-Nya:

Sebab bangsa akan bangkit melawan bangsa, dan kerajaan melawan kerajaan. Akan ada kelaparan dan gempa bumi di berbagai tempat. Akan tetapi semuanya itu barulah permulaan penderitaan menjelang zaman baru. Pada waktu itu kamu akan diserahkan supaya disiksa, dan kamu akan dibunuh dan akan dibenci semua bangsa oleh karena nama-Ku, dan banyak orang akan murtad dan mereka akan saling menyerahkan dan saling membenci. Banyak nabi palsu akan muncul dan menyesatkan banyak orang. Dan karena makin bertambahnya kedurhakaan, maka kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin. Tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat. Dan Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya." (Mat. 24:7-14)

Kutipan di atas sebagian besar telah terjadi saat ini, terutama yang paling mengerikan dari semuanya: “…kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin.” Pada skala yang lebih terukur, renungkan bahwa CNN dan CBS telah melaporkan bahwa “relatif terhadap periode 20 tahun, dari pertengahan 1970-an hingga pertengahan 1990-an, Bumi telah menjadi lebih aktif selama 15 tahun terakhir.” Mereka mengutip Stephen S. Gao, ahli geofisika di Universitas Sains & Teknologi Missouri, yang pada dasarnya mengatakan ada lebih banyak gempa bumi sekarang dari pada saat-saat sebelumnya.

“…sesudah itu barulah tiba kesudahannya.”

Saya sebenarnya tidak berpikir bahwa kita telah berada di akhir zaman (tolong maafkan saya, Yesus, jika seandainya Engkau datang malam ini) tetapi saya benar-benar percaya kita berada di akhir zaman. Sesuatu yang berbeda pada tahun ini, berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Dan itu bukan hanya "Klub khusus orang-orang aneh" yang merasakan adanya badai sejak jauh hari. Siapa pun yang rajin berdoa — ibu, ayah, pastor, biarawati — semuanya memiliki telinga yang peka untuk mendengar masa depan. Tetapi apa yang menunggu di depan? Apa yang sedang tiba?

Sesungguhnya, inilah dimulainya kabar gembira yang sebenarnya.

Ingatlah bahwa pada Misa Minggu, Yesus bersabda: Akan tetapi semuanya itu barulah permulaan penderitaan menjelang zaman baru. (Mat 24:8) Kata ‘sakit melahirkan’ diterjemahkan dari bahasa Yunani jamak odinon (ὠδίνων). Kata tunggalnya adalah odin (ὠδίν.) Kamus Yunani saya mendefinisikan odin sebagai ‘sakit melahirkan’ dan menempatkannya setara dengan ‘kesedihan yang tak tertahankan’, dengan mengacu pada bencana-bencana mengerikan yang diperkirakan oleh orang-orang Yahudi akan mendahului kedatangan Mesias.”

Apa yang kita alami bukanlah ‘kesakitan karena kematian,’ tetapi ‘kesakitan karena kelahiran.’ Ya, berbagai gempa bumi yang terjadi di saat belakangan ini adalah bagian darinya. Tapi ini jauh lebih dalam dari itu. Apa yang kita alami sekarang adalah ini: Tubuh mistik Kristus sedang dilahirkan, meniru Kristus sebagai kepala, dan ini harus terjadi dengan penderitaan sakitnya melahirkan. Ingatlah juga bahwa ketika Yesus mati, terjadi gempa bumi (lihat Matius 27:51.) Kesengsaraan-Nya dan gempa bumi itu hanya kelahiran kepala (Kol 1:18.) Sekarang, tubuh, tubuh mistik, harus mengikuti dengan rasa sakit bersalin. Bukankah Gereja selalu berada di dalam sakitnya melahirkan? Ya! Namun, di antara 70.000.000 martir Kristen dalam 2.000 tahun ini, lebih dari 45 juta dari mereka terjadi dalam 100 tahun terakhir. Itu berarti bahwa kebanyakan martir Kristen telah terjadi baru-baru ini.

Eskatologi adalah studi tentang hal-hal yang terakhir. Orang Protestan percaya bahwa segala sesuatu harus menjadi sangat buruk sebelum Yesus datang kembali. Umat Katolik percaya bahwa segala sesuatunya menjadi sangat buruk, ya, tetapi juga sangat baik.
Dan ketika Anak Domba itu membuka meterai yang kelima, aku melihat di bawah mezbah jiwa-jiwa mereka yang telah dibunuh oleh karena firman Allah dan oleh karena kesaksian yang mereka miliki. Dan mereka berseru dengan suara nyaring, katanya: "Berapa lamakah lagi, ya Penguasa yang kudus dan benar, Engkau tidak menghakimi dan tidak membalaskan darah kami kepada mereka yang diam di bumi?" Dan kepada mereka masing-masing diberikan sehelai jubah putih, dan kepada mereka dikatakan, bahwa mereka harus beristirahat sedikit waktu lagi hingga genap jumlah kawan-kawan pelayan dan saudara-saudara mereka, yang akan dibunuh sama seperti mereka. (Why.6:9-11)

Kuota para martir suci harus dipenuhi agar Kristus datang! Maranatha! Sejak Gereja awali, ia telah menyebut hari kematian seorang martir sebagai “hari ulang tahunnya.” Sebuah obsesi yang menyakitkan akan kematian? Tidak, jika Anda menyadari apa yang terjadi setelah penyaliban Gereja. Jika Maria adalah contoh yang tepat dari Gereja, dan Gereja sekarang sedang disalibkan, maka Kebangkitan Gereja mungkin hanya dapat bermakna satu hal: Era Kemenangan Hati Maria Yang Tak Bernoda, seperti yang dijanjikan oleh Bunda Fatima, seratus tahun yang lalu. Tahun 2017 menandai 100 tahun abad paling berdarah dalam sejarah dunia.

Saya pikir segalanya akan menjadi lebih buruk sebelum ia menjadi lebih baik, tetapi saya masih menulis: Tunggu dulu, Anda para martir dari Timur dan korban skandal para imam di Barat. Tunggu sebentar, siapa saja di antara Anda yang diberkati dengan sukacita dan salib yang tak terkatakan karena memiliki anak yang cacat. Tunggu sebentar, Anda semua para imam suci yang dikucilkan karena mempertahankan tradisi. Tunggu sebentar, kalian para Ibu yang tidak berpikir mereka bisa melihat anak-anak mereka menderita di lain hari. Tunggu sebentar, semua suami, Anda yang diejek di tempat kerja karena kasih Anda kepada Gereja Katolik. Apakah itu layak Anda terima? 
Akankah kamu meninggalkan mempelai-Ku ketika dia sedang disalibkan?

Jangan takut. Mempelai pria akan datang, dan Dia tidak akan menunda. Apa yang Anda miliki adalah rasa sakit melahirkan bagi sebuah kehidupan baru. Kita ingin tinggal di dalam rahim atmosfer kita yang biru, tetapi kita diciptakan untuk dilahirkan kedalam Surga yang baru dan Bumi yang baru dengan tubuh yang baru pula – asalkan kita tetap menjaga jiwa kita selalu siap. Karena dengan kematian, kita dilahirkan kepada kehidupan kekal.

Pastor David Nix menulis di www.padreperegrino.org 

No comments:

Post a Comment