Sunday, January 6, 2019

SEORANG IBU KATOLIK MELIHAT ADA YANG SALAH DALAM SURAT PAUS....


SEORANG IBU KATOLIK MELIHAT ADA YANG SALAH DALAM SURAT PAUS KEPADA USKUP-USKUP AMERIKA SERIKAT SOAL PENCABULAN

Fri Jan 4, 2019 - 12:38 pm EST
by Dr. Maike Hickson



4 Januari 2019 (LifeSiteNews) - Kemarin, ketika duduk di sekitar meja, sementara anak-anak saya belajar piano, saya membaca surat sepanjang delapan halaman yang ditulis oleh Paus Francis pada tanggal 1 Januari yang ditujukan kepada para uskup A.S. Ada hal-hal penting yang saya temukan kejanggalan dalam dokumen baru ini, yang berurusan dengan krisis moral dan spiritual yang hebat di dalam Gereja Katolik saat ini.

Izinkan saya mengatakan sejak awal bahwa saya, sebagai seorang ibu (dan bersama dengan suami saya), telah membaca surat ini dan saya menempatkan diri saya sebagai ‘calon ibu dari seorang korban pelecehan.’ Ya, saya membaca surat ini melalui kacamata seorang ibu yang peduli yang berharap agar tidak pernah terjadi lagi kejahatan pelecehan seksual oleh imam-imam seperti ini menimpa anak-anak saya sendiri. Juga tidak ada anak-anak lain dari orangtua Katolik lain yang harus mengalaminya lagi.

Tetapi izinkan saya juga menjelaskan bahwa saya, sebagai seorang jurnalis, telah mengenal beberapa orang yang telah menjadi korban pelecehan seksual oleh klerus atau yang merupakan orang tua dari para korban. Jadi, saya tahu dari dekat penderitaan mendalam yang mereka alami, bahwa kejahatan yang dilakukan oleh para klerus itu telah menyebabkan trauma hebat pada para korbannya. Saya ikut merasakan luka yang mendalam dan menetap mereka, dan yang mempengaruhi kehidupan korban selama sisa kehidupan temporal seseorang. Hal ini menyebabkan kemarahan dan keputusasaan, dalam beberapa kasus bisa berupa penyalahgunaan narkoba atau alkohol, kadang-kadang ketidakmampuan untuk memasuki ikatan perkawinan atau mempertahankannya. Hal itu hampir menghancurkan kehidupan, tetapi rahmat Tuhan dan kasih dari orang-orang lain sangat mendukung mereka.

Dalam konteks yang bahkan lebih pribadi, saya sendiri, ketika masih seorang anak, telah menyaksikan pelecehan seksual yang cukup dekat, meskipun tidak dalam kaitanya dengan Gereja. Karena menghormati orang-orang yang terlibat, saya membiarkannya begitu saja, tetapi saya mengatakan bahwa saya tahu bagaimana noda dari pelecehan itu dan kepercayaan yang hancur seperti itu dapat tetap tertanam dalam jiwa seseorang, dan kemudian muncul dari waktu ke waktu, meninggalkan noda jelek dalam ingatan seseorang yang tidak bisa sembuh, dengan efek yang seringkali merusak kehidupan moral seseorang. Pelecehan seksual adalah pelecehan yang sangat sensitif dan mempengaruhi jati diri seseorang.

Tak perlu dikatakan lagi, topik ini sangat dekat dengan hati saya, dari sudut pandang yang berbeda.

Dalam konteks ini, Firman Tuhan kita yang mengatakan bahwa mereka yang mencabuli anak-anak kecil itu sangatlah layak untuk dilempar ke laut dengan batu kilangan di leher mereka, sering kembali ke pikiran saya. Tuhan kita, saya yakin, memiliki ingatan jahat seperti itu dalam pikiran-Nya ketika Dia mengucapkan kata-kata itu.

Kebencian akan dosa

Apa yang kita saksikan di sini adalah kegelapan dosa, dampak kejahatan dosa, dan keburukannya. Dosa seperti itu sungguh mengarah ke neraka.

Memang benar, dalam terang ini, kita di dalam Gereja Katolik, harus mempertimbangkan cara penyembuhan dan pemulihannya, tetapi juga harus memperhatikan dari sudut penebusan dosa dan hukuman - sebagian untuk mencegah penyalahgunaan di masa depan.

Tetapi, apa yang kita lakukan ketika kita saat ini memiliki seorang Paus yang, dalam ajaran moralnya, cenderung untuk berbuat dosa dan mendukung kelemahan manusia, bukannya menanamkan dalam diri mereka kebencian yang mendalam terhadap dosa? Kita sekarang memiliki seorang Paus yang selalu memberi tahu mereka yang berada dalam situasi "tidak teratur" bahwa Allah kadang-kadang berharap mereka untuk tetap berada dalam hubungan mereka yang penuh dosa, seperti misalnya, pernikahan kedua tanpa anulasi pernikahan sebelumnya. Dia adalah seorang Paus yang - seperti tercermin lagi dalam suratnya yang baru ini - berbicara dengan cara merendahkan soal pendekatan "yang kaku", "mengeluarkan dekrit keras," dan sangat menolak "kepastian palsu," "rumusan yang kaku," dan ide yang membatasi dengan cara mengurangi katolisitas hingga menjadi sekedar "pertanyaan tentang doktrin atau hukum." Dia memperingatkan kita terhadap "cara berpikir yang mengerdilkan" dan "iklim kebencian dan penolakan."

Sebaliknya, paus Francis ini menyerukan "perubahan pola pikir," untuk "dialog," dan untuk refleksi lebih lanjut tentang "penanganan terhadap uang dan kekuasaan kita." Dia juga mengatakan bahwa kita dipanggil kepada kesucian. “Kredibilitas,” tambahnya, “lahir dari kepercayaan.” Di satu tempat, Paus Francis juga berbicara tentang transparansi. Tetapi bagaimana kemudian kita dapat mengembalikan kepercayaan yang dalam, memupuk transparansi, dan berusaha tumbuh dalam kekudusan? Salah satu caranya adalah dengan bertumbuh kembali dalam kebencian terhadap dosa. Semua orang kudus memilikinya. Mereka sangat mencintai Tuhan sehingga mereka memiliki kepekaan yang kuat terhadap tindakan-tindakan yang menentang-Nya dan menyakiti manusia.

Jika saya tahu dengan cara apa saya telah sangat menentang Allah dan manusia, dan jika saya sadar betapa mengerikannya pelanggaran ini, saya akan berusaha lebih keras lagi untuk menghindarinya dan tumbuh dalam kebajikan yang pada akhirnya akan mengarah pada tindakan yang lebih manusiawi dalam berurusan dengan orang lain. Tetapi dalam berurusan dengan orang lain, jika saya telah melakukan dosa besar atau kesalahan yang mempengaruhi banyak orang sampai hari ini, saya hanya dapat membangun kembali kepercayaan dengan mengakui dosa dan kesalahan saya. Jika kesalahan atau dosa saya sedemikian rupa sehingga hal itu telah berkontribusi pada kehancuran kehidupan dan kebahagiaan banyak orang – termasuk, mungkin, kehilangan Iman mereka - maka saya akan merasa terdorong untuk membuat perbaikan diri saya secara publik.

Memulihkan kepercayaan

Dengan demikian, untuk memulihkan kepercayaan, para pemimpin Gereja Katolik harus "berterus terang" dengan masa lalu mereka dan masa kini mereka sendiri. Beberapa uskup telah memberikan contoh yang baik dalam hal ini, karena mereka dengan tulus memeriksa semua dokumen mereka, mencari imam-imam yang melanggar hukum dan menghukum mereka, dan membuat membuat pernyataan publik tentang kekurangan masa lalu mereka sendiri. Ketika sesuatu seperti ini terjadi, seorang umat Katolik akan melihat bahwa perubahan yang adil juga terjadi, perubahan yang tulus, dan kepercayaan mereka secara perlahan mungkin terbangun kembali.

Tetapi agar hal ini terjadi dalam skala besar, Paus Francis sendiri yang harus memberikan contoh. Mengingat kasus McCarrick yang amat mengerikan itu – dimana dia memiliki banyak hubungan langsung dengan Paus Francis, para pendahulunya, dan Vatikan - akan disarankan agar Paus Francis dan Paus emeritus Benediktus XVI duduk bersama dan merenungkan apa yang salah dalam kasus ini - dan mungkin dalam kasus-kasus lain - selama dua dekade terakhir ini atau bahkan lebih.

Sikap diam mereka saat ini dan dalam kasus ini, tidak memberikan contoh yang baik bagi para pemimpin Gereja lainnya.

Mengapa tidak ada pernyataan bersama, di mana mereka berdua memberi tahu kami, umat Katolik yang setia, apa yang mereka yakini, dengan melihat ke belakang (dan dalam kasus Francis, melihat hari ini), apakah mereka telah melakukan kesalahan. Haruskah Paus Benediktus mengambil langkah yang lebih tepat waktu dan lebih keras lagi terhadap McCarrick? Haruskah dia berhenti ketika dia (McCarrick) mengabaikan sanksi yang dijatuhkan padanya? Tidakkah seharusnya dia melaporkan tentang aktivitas homoseksual McCarrick dengan para seminaris bawahannya sudah cukup menjadi alasan untuk memindahkannya dari jabatan imam? Apakah aktivitas homoseksual di pihak imam itu sendiri tidak lagi menjadi dosa terhadap Perintah Keenam yang mengarah pada penangguhan jabatannya dan lebih banyak lagi?

Tetapi serangkaian pertanyaan ini terutama mengarah kepada Paus Francis.

Paus Francis, untuk membangun kembali suatu tingkat kepercayaan, juga harus menjawab pertanyaan apakah dia tahu perilaku tak bermoral dari McCarrick dan apakah dia memilih untuk mengabaikannya dan bekerja sama dengannya secara dekat dalam banyak hal, seperti di Cina, Iran, dan di Kuba. (Silakan lihat disini: https://www.lifesitenews.com/blogs/mccarricks-online-footprint-suggests-he-was-deeply-involved-in-doing-popes).

Tetapi ada juga kasus meringankan hukuman terhadap para imam yang berperilaku tak bermoral. Seorang teolog Jerman, Dr. Benjamin Leven, baru-baru ini mengungkapkan, (silakan lihat disini: https://www.lifesitenews.com/blogs/influential-vatican-cardinal-close-to-francis-promoted-leniency-toward-abus) antara lain, bahwa Kardinal Francesco Coccopalmerio, orang kepercayaan paus dan pembela getol Amoris Laetitia, sebagai anggota komisi peninjauan di Kongregasi untuk Iman (CDF) yang didirikan oleh Paus Francis, selalu berargumen untuk memberikan keringanan hukuman dalam berurusan dengan penjatuhan hukuman terhadap para imam yang melakukan tindakan pencabulan. (The Wall Street Journal baru saja melaporkan bahwa sebenarnya sepertiga dari semua kasus yang datang sebelum panel ini menerima hukuman yang tidak terlalu berat.) Tentu saja, sudah diketahui juga oleh banyak orang bahwa Paus Francis sendiri memutuskan untuk kembali mempromosikan dan menaruh kembali pada jabatannya imam pelaku pencabulan, Don Maurizio Inzoli, dimana hal ini bertentangan dengan saran dari Kardinal Müller saat itu. (Lihat disini: https://www.lifesitenews.com/blogs/vatican-source-pope-dismissed-cdl-mueller-and-others-for-following-church-r) Dan kemudian kita juga mengetahui adanya kasus di mana Paus Francis secara tidak adil ikut campur tangan dan menutup kasus itu. Hal ini semakin memperbesar rasa tidak percaya umat terhadap dirinya.

Tidak ada petunjuk bagi kita untuk melihat bahwa Paus Francis telah menyadari bahwa pendekatannya yang lunak terhadap kasus pelecehan seksual ini adalah sebuah kesalahan besar.

Marilah kita kembali kepada topik dosa. Kardinal Gerhard Müller mengatakan baru-baru ini dalam sebuah wawancara dengan EWTN, Raymond Arroyo, (Lihat disini: https://www.lifesitenews.com/news/cardinal-mueller-root-of-abuse-crisis-is-laxity-in-60s-and-70s), bahwa adalah kelemahan dan ketidakjelasan moral tahun 1960-an dan 1970-an yang banyak berkontribusi terhadap krisis pelecehan seksual di Gereja saat ini.

Kardinal Müller baru-baru ini juga mengatakan kepada LifeSiteNews bahwa Kode Hukum Canon tahun 1983 yang baru tentang penghilangan hukuman yang jelas dan wajib ditimpakan pada imam pelanggar hukum - serta kelalaian untuk menyebutkan tindakan homoseksual secara eksplisit sebagai pelanggaran imamat terhadap Perintah Keenam - adalah sebuah "bencana" kesesatan."

Hukuman dan pewartaan

Karena itu, dalam menghadapi penderitaan yang sangat besar dari begitu banyak jiwa-jiwa Katolik yang hidupnya telah dilumpuhkan oleh para imam pelaku pencabulan, bukankah akan menjadi kesimpulan logis untuk memasukkan kembali hukuman yang keras kedalam hukum kanon terhadap para imam pelaku pencabulan? Tidakkah Gereja kemudian menyadari bahwa dirinya perlu kembali kepada pengajaran yang lebih “kaku” tentang dosa dan keburukannya? Hal itu, tentu saja, juga termasuk bahwa ia harus mulai berkhotbah lagi dengan lebih lantang tentang Empat Hal Yang Terakhir: Kematian, Penghakiman Pribadi, Surga atau Neraka.

Untuk beberapa alasan, pengajaran "kuno" dan "kaku" ini telah menghasilkan buah yang baik, dan yang paling penting, menghasilkan banyak orang-orang kudus - sedangkan sikap lunak terhadap pelanggaran atas kepolosan anak-anak Allah telah menuntun mereka kepada penghancuran lebih jauh lagi.

Yang menuntun kita, terakhir tapi tak kalah pentingnya, kepada pertimbangan aspek homoseksualitas sehubungan dengan krisis pencabulan dalam Gereja. Sekali lagi, kami mengutip Kardinal Müller yang telah mengatakan sangat jelas bahwa - dalam banyak kasus dia sendiri harus berurusan, sebagai Prefek Kongregasi untuk Doktrin Kepercayaan – dimana setidaknya 80% dari korban pelecehan seksual klerus adalah laki-laki (dengan sebagian besar dari mereka adalah remaja, bukan anak-anak). Dengan kata lain, ada hubungan yang kuat antara homoseksualitas dan pelecehan di dalam Gereja. Itulah sebabnya Kardinal Jerman itu  sekarang mengatakan: "Dalam hukum Gereja, seseorang juga harus, sekali lagi, menyajikan dan memberi sanksi terhadap tindakan homoseksual oleh para imam sebagai pelanggaran berat terhadap etos imam."

Ketika saya berbicara dengan beberapa imam di Eropa, serta di A.S., tentang masalah ini, mereka semua menegaskan kepada saya situasi moral yang sangat lemah di seminari-seminari pencetak para imam, dan hal ini telah menjadi kasus selama beberapa dekade terakhir. Pada banyak seminari, selama puluhan tahun telah ada budaya dan jaringan homoseksual secara terbuka.

Namun, topik ini sama sekali tidak disebutkan oleh Paus Francis dalam suratnya yang baru, 1 Januari 2019, kepada para uskup A.S. Dia hanya memilih untuk menyebutkan pelecehan seksual sebagai topik sampingan, di tempat ketiga, apalagi mau membicarakannya secara khusus. Dia berbicara dua kali tentang pelecehan seksual, dan setiap kali dia menyebutkan hal itu sebagai  "penyalahgunaan kekuasaan dan hati nurani dan pelecehan seksual." Pendekatan semacam ini, tentu saja, adalah persis sama menyebalkan seperti yang dikatakan oleh direktur editorial baru untuk media Vatikan, Andrea Tornielli, ketika dia berani mengklaim bahwa pelecehan oleh McCarrick bukanlah soal homoseksualitas, melainkan tentang penyalahgunaan kekuasaan. McCarrick "tidak memiliki hubungan homoseksual," katanya.

Jika kita melihat ke Jerman untuk mendapatkan beberapa petunjuk tentang bagaimana Vatikan di bawah Paus Francis sekarang telah mencoba untuk mengatasi masalah pelecehan seks para klerus, kita kemudian melihat bahwa para uskup di Jerman, juga sebagian besar, sama sekali mengabaikan hubungan antara homoseksualitas dan krisis pencabulan. Sebaliknya, vikaris umum Kardinal Marx sendiri di Munich baru-baru ini mengklaim bahwa membangun hubungan seperti itu adalah salah (“Saya secara eksplisit menolaknya,” katanya), dan dia secara terbuka mengatakan bahwa keuskupannya sendiri memiliki para imam homoseksual yang melakukan banyak pekerjaan bagus.

Karena itu, alih-alih membahas kaitan yang jelas, banyak uskup dan teolog Jerman sekarang ingin membahas moralitas seksual Gereja yang “cacat” dan ingin meliberalisasi ajaran Gereja tentang homoseksualitas. Baru-baru ini, Vatikan memilih kembali sebagai rektor sekolah pascasarjana Jesuit, seorang imam - Pastor Ansgar Wucherpfennig - yang dirinya sendiri telah memberkati perkawinan pasangan homoseksual dan yang mengklaim bahwa Alkitab tidak mengenal homoseksual seperti yang kita kenal sekarang.

Bahwa Paus Francis sendiri juga cenderung membahas masalah-masalah moral ini dengan cara yang lebih liberali, lebih dengan cara modern, dimana ini telah dikonfirmasikan oleh Kardinal Reinhard Marx, anggota Dewan Sembilan Kardinal bentukan Paus Francis (sekarang dikurangi jumlahnya). Tepat sebelum Natal, Marx menyatakan bahwa dia telah berbicara beberapa kali dengan Paus tentang masalah moralitas seksual dalam Gereja, dengan menambahkan: "Saya melihat bahwa dia tidak terlalu terpaku di sini [dalam membahas moralitas seksual Gereja]." Krisis pelecehan seksual, di mata Marx, bukanlah homoseksualitas, tetapi penyalahgunaan kekuasaan. Sebagaimana dijelaskan Marx, Gereja sejauh ini hanya berbicara tentang seksualitas dengan cara yang “aneh dan sensitif [“ verschroben ”]”, dan sekarang dia perlu “berbicara tentang seksualitas dengan cara yang berbeda, juga tentang homoseksualitas.

"Seperti yang Anda tahu, hal ini sangat kontroversial," Marx mengakui, "juga secara teologis dan dogmatis."

Singkatnya, setelah saya membaca surat Paus Francis kepada para uskup A.S., saya masih penasaran dan prihatin seperti sebelumnya. Saya tidak melihat bahwa paus Francis bahkan berniat mengatasi masalah mendasar yang sebenarnya - bahkan menempatkan kejahatan pelecehan seksual hanya di tempat ketiga - dan saya masih melihat adanya nada merendahkan yang sama terhadap undang-undang dan peraturan yang telah membantu melindungi anak-anak dan menumbuhkan anak-anak Allah dan melahirkan banyak orang-orang kudus selama berabad-abad sebelumnya. Kelemahan moral tidak akan membantu mengatasi masalah yang dipupuk oleh kelemahan moral dan kelemahan provokatif pada era 1960-an dan 1970-an.

Kita perlu mempertimbangkan apa yang dikatakan Uskup Jerman Rudolf Voderholzer tentang proposal reformasi Jerman dalam menanggapi krisis pencabulan di Jerman. Dia mengatakan kepada situs berita Austria Kath.net bahwa “beberapa kalangan - juga di dalam Gereja – mengabaikan kasus-kasus pencabulan seksual untuk sekali lagi menawarkan resep mereka, yang sudah terbukti tidak dapat membantu di masa lalu, dan untuk memelintir tindak kejahatan ke dalam suatu kesempatan untuk menciptakan 'Gereja yang berbeda' versi mereka sendiri. Inilah yang saya sebut sebagai pelecehan terhadap pelecehan. "Dalam wawancara lain yang diberikan kepada CNA Deutsch, dia menjelaskan bahwa" bukan moralitas seksual Katolik yang mengarah pada kejahatan menyedihkan [pelecehan seksual], tetapi fakta bahwa ada orang-orang terkenal yang justru mendukungnya."

+++++++++++++++++++



Dr. Maike Hickson lahir dan besar di Jerman. Dia meraih gelar PhD dari Universitas Hannover, Jerman, setelah menulis disertasi doktoralnya di Swiss tentang sejarah intelektual Swiss sebelum dan selama Perang Dunia II. Dia sekarang tinggal di AS dan menikah dengan Dr. Robert Hickson, dan mereka telah dikaruniai dua anak yang cantik. Dia adalah seorang ibu rumah tangga yang bahagia yang suka menulis artikel saat waktu mengizinkannya.

No comments:

Post a Comment