Wednesday, May 29, 2019

PAUS FRANCIS: ABORSI ADALAH "MASALAH MANUSIA", BUKAN "MASALAH AGAMA"




PAUS FRANCIS: ABORSI ADALAH "MASALAH MANUSIA", BUKAN "MASALAH AGAMA"


paulsimeon2014May 30, 2019

Dalam wawancara panjang dengan jaringan media Meksiko Televisa, paus Francis mengatakan bahwa aborsi adalah "masalah manusia", bukan "masalah agama". Wawancara, yang berlangsung selama satu jam empat puluh menit, diterbitkan oleh Vatikan 27 Mei lalu di situs Vatican News website

Mengenai masalah aborsi, Paus mengatakan, dia selalu mengajukan dua pertanyaan yang sangat jelas: "Apakah adil untuk menghilangkan kehidupan manusia guna menyelesaikan suatu masalah?". Jawabannya adalah: tidak. “Pertanyaan kedua: apakah adil membayar penembak sniper untuk menyelesaikan masalah? Jawabannya adalah: tidak. Aborsi bukanlah masalah agama dalam arti bahwa hanya karena saya seorang Katolik maka saya tidak boleh melakukan aborsi. Ini adalah masalah manusia ”, kata Paus Francis. “Ini adalah masalah menghilangkan kehidupan manusia. Titik".

Tetapi benarkah aborsi bukan masalah agama? Benarkah "hanya karena saya Katolik, saya tidak boleh melakukan aborsi?" Mestinya, sudut pandang yang benar adalah: "Justru karena saya Katolik, saya tidak boleh melakukan atau mendukung aborsi!"    

Yang jadi masalah dengan pernyataan paus Francis "hanya karena saya Katolik maka saya tidak boleh melakukan aborsi" adalah bahwa pernyataan itu menyiratkan bahwa Gereja Katolik tidak sepenuhnya melarang aborsi. Hal ini menyiratkan bahwa aborsi bukanlah masalah Gereja Katolik - itu lebih merupakan masalah sipil, masalah pemerintah, "masalah manusia", mirip dengan masalah orang-orang bersenjata atau penembak jitu yang disewa untuk membunuh.

Pernyataan paus Francis ini juga dapat mengarah pada penciptaan dikotomi palsu antara masalah-masalah Negara dan masalah moral. Hal itu seolah Gereja berkata: … memang ada hal-hal tertentu yang bukan menjadi masalah saya, misalnya aborsi. (Menurut paus Francis) Aborsi bukan masalah agama! Ini adalah masalah bagi Negara untuk dipecahkan, seolah sama seperti dia berkata bahwa: adalah urusan Negara untuk menyelesaikan masalah orang-orang bersenjata untuk disewa.

Pemikiran paus Francis seperti ini akan menyebabkan situasi Gereja Katolik bersikap diam di hadapan dosa yang paling menyeramkan yang menyerukan kepada Tuhan untuk membalas dendam. Mengapa ada para imam, uskup, dan Kardinal berbicara menentang aborsi jika berlaku seperti yang dikatakan paus Francis bahwa itu bukanlah "masalah agama"? Mengapa ada banyak umat Katolik yang setia, berperang dan menggunakan semua cara yang tersedia (seperti demonstrasi pro-kehidupan secara besar-besaran di AS) untuk menghentikan pemerintah dari memaksakan aborsi pada penduduknya jika paus Francis mengatakan aborsi bukanlah masalah agama? Dengan pernyataan seperti itu, seolah paus Francis berkata kepada semua pendukung pro-kehidupan: tenanglah dan tutup mulut, itu bukanlah pertarungan kita! Ini adalah masalah pemerintah, bukan “masalah agama”.

Pernyataan bahwa “aborsi bukanlah masalah agama” juga menentang fondasi teologi moral. Hal ini menyiratkan bahwa aborsi, karena ia “bukanlah masalah agama”, maka aborsi bukanlah masalah moral. Ini adalah seruan terselubung (dari paus Francis) bagi Gereja Katolik untuk membungkam suaranya dalam menghadapi masalah moral yang paling menyedihkan di zaman kita – karena semua isu-isu seperti aborsi, bukanlah masalah agama, tetapi masalah yang harus dihadapi oleh Negara.


Foto diatas menunjukkan paus Francis bersama dengan Emma Bonino, salah satu tokoh aborsi terkemuka dan pendukung aborsi di Italia. Emma Bonino getol melakukan advokasi terhadap aborsi, dan Emma Bonino dipuji-puji oleh Paus Francis pada tahun 2016 sebagai "orang hebat yang terlupakan" karena aktivitasnya yang mendukung aborsi dan para pengungsi.

Prinsip yang sama dapat diterapkan pula pada kasus pernikahan sesama jenis. Apa yang akan mencegah umat Katolik - yang tidak begitu mahir dalam teologi - dari menerapkan prinsip yang sama yang dianut oleh paus Francis terhadap semua gangguan moral yang menyedihkan lainnya di zaman kita? Aborsi bukan masalah agama! Eutanasia bukan masalah agama! Pernikahan sesama jenis bukanlah masalah agama - itu bukan masalah yang harus dihadapi Gereja, itu adalah "masalah manusia", masalah bagi Negara.

Karena itu, jika saya seorang homoseksual, saya bisa menjadi seorang Katolik dan menikah dengan orang yang berjenis kelamin sama (di bawah “pernikahan” yang disetujui Negara untuk pasangan sesama jenis), karena masalah pernikahan sesama jenis adalah masalah sipil - dan bukan masalah yang terkait dengan Iman Katolik saya.

Exkomunikasi otomatis bagi mereka yang melakukan aborsi

Katekismus Gereja Katolik (# 2272) menyatakan dengan jelas bahwa mereka yang melakukan aborsi secara otomatis di-exkom:

2272. Keterlibatan aktif dalam suatu abortus adalah suatu pelanggaran berat. Gereja menghukum pelanggaran melawan kehidupan manusia ini dengan hukuman Gereja ialah ekskomunikasi. "Barang siapa yang melakukan pengguguran kandungan dan berhasil terkena ekskomunikasi" (CIC, can. 1398), "(ekskomunikasi itu) terjadi dengan sendirinya, kalau pelanggaran dilaksanakan" (CIC, can. 1314) menurut syarat-syarat yang ditentukan di dalam hukum. Dengan itu, Gereja tidak bermaksud membatasi belas kasihan; tetapi ia menunjukkan dengan tegas bobot kejahatan yang dilakukan, dan kerugian yang tidak dapat diperbaiki lagi, yang terjadi bagi anak yang dibunuh tanpa kesalahan, bagi orang-tuanya dan seluruh masyarakat.

Menurut Katekismus, aborsi  adalah "kejahatan moral"

Berlawanan dengan pernyataan paus Francis bahwa "aborsi bukanlah masalah agama", Katekismus Gereja Katolik (# 2271) jelas bahwa aborsi adalah "kejahatan moral":

2271. Sejak abad pertama Gereja telah menyatakan abortus sebagai kejahatan moral. Ajaran itu belum berubah dan tidak akan berubah. Abortus langsung, artinya abortus yang dikehendaki baik sebagai tujuan maupun sebagai sarana, merupakan pelanggaran berat melawan hukum moral:"Engkau tidak boleh melakukan abortus dan juga tidak boleh membunuh anak yang baru dilahirkan" (Didache 2,2)

Karena aborsi adalah kejahatan moral, maka ia adalah masalah agama! Ia adalah masalah bagi Gereja Katolik, untuk berurusan dengan hal itu, berbicara menentang hal itu, dan untuk berjuang dengan segenap kekuatannya.

Katekismus (# 2270) juga menjelaskan bahwa bayi yang belum lahir memiliki hak yang sama dengan yang lainnya:

2270. Kehidupan manusia harus dihormati dan dilindungi secara absolut sejak saat pembuahannya. Sudah sejak saat pertama keberadaannya, satu makhluk manusia harus dihargai karena ia mempunyai hak-hak pribadi, di antaranya hak atas kehidupan dari makhluk yang tidak bersalah yang tidak dapat diganggu gugat.

Paus St. Yohanes Paulus II: "Aborsi adalah Gangguan Moral yang Berat"

Dalam ensiklik kepausan Evangelium vitae ("The Gospel of Life") yang diumumkan pada tanggal 25 Maret 1995 oleh Paus Yohanes Paulus II, Paus secara definitif menyatakan ex-cathedra bahwa aborsi “selalu merupakan gangguan moral yang serius”:

58. Among all the crimes which can be committed against life, procured abortion has characteristics making it particularly serious and deplorable. The Second Vatican Council defines abortion, together with infanticide, as an “unspeakable crime.” (citing Gaudium et spes,51) ….61. The texts of Sacred Scripture never address the question of deliberate abortion and so do not directly and specifically condemn it. But they show such great respect for the human being in the mother’s womb that they require as a logical consequence that God’s commandment “You shall not kill” be extended to the unborn child as well. . . . Christian Tradition — as the Declaration issued by the Congregation for the Doctrine of the Faith points out so well – is clear and unanimous, from the beginning up to our own day, in describing abortion as a particularly grave moral disorder….62. Given such unanimity in the doctrinal and disciplinary tradition of the Church, Paul VI was able to declare that this tradition [regarding abortion] is unchanged and unchangeable. Therefore, by the authority which Christ conferred upon Peter and his Successors, in communion with the Bishops –  who on various occasions have condemned abortion and who in the aforementioned consultation, albeit dispersed throughout the world, have shown unanimous agreement concerning this doctrine – I declare that direct abortion, that is, abortion willed as an end or as a means, always constitutes a grave moral disorder, since it is the deliberate killing of an innocent human being. This doctrine is based upon the natural law and upon the written Word of God, is transmitted by the Church’s Tradition and taught by the ordinary and universal Magisterium.


By Paul Simeon, Veritas

No comments:

Post a Comment