Monday, May 6, 2019

PETER KWASNIEWSKI, SEORANG FILSUF KATOLIK: - MENGAPA SAYA MENANDATANGANI...




BLOGSCATHOLIC CHURCH 

PETER KWASNIEWSKI, SEORANG FILSUF KATOLIK:

MENGAPA SAYA MENANDATANGANI SURAT TERBUKA YANG MENUDUH PAUS FRANCIS SEBAGAI BIDAAH


2 Mei 2019 (LifeSiteNews) - Umat Katolik yang telah memperhatikan perkataan dan perbuatan Paus Francis selama enam tahun terakhir pastilah sadar akan masalah yang terus semakin meningkat dari masa kepausan ini. Tidak perlu untuk masuk kedalam detil masalah di sini; karena mereka yang peduli untuk mengetahui, sudah tahu atau dapat dengan mudah mengetahuinya. Surat Terbuka untuk para Uskup Gereja Katolik yang ditandatangani oleh sejumlah cendekiawan dan pastor, termasuk saya, memberikan bukti yang jelas tentang pernyataan sesat (bukan hanya keliru) yang dapat ditemukan dalam tulisan-tulisan Paus Fransiskus yang sah, serta bukti-buktinya — dalam bentuk tindakan yang berulang dan kelalaian dalam pemerintahannya — dan bahwa dia sepenuhnya menyadari apa yang dia promosikan itu.

Banyak orang bertanya: Apa gunanya mengambil langkah seperti ini? Apakah itu tidak akan lebih jauh mempolarisasi situasi? Apakah itu tidak menawarkan alasan kepada kelompok Bergoglio untuk mengintensifkan kurungan dan penganiayaan mereka terhadap umat Katolik? Apakah kemungkinan besar (surat tuduhan itu) tidak akan diabaikan? Adakah yang bisa melakukan apa pun tentang paus yang sesat ini — tidakkah kita harus menunggu sampai Tuhan sendiri yang menyelesaikannya untuk kita? Dan selain itu, bukankah para penandatangannya kurang memiliki kualifikasi teologis yang memadai?

Sebenarnya dokumen ini adalah baik dan berharga karena tiga alasan.

Pertama, ia mendokumentasikan contoh-contoh perbuatan bidaah yang tidak dapat disangkal, menunjukkan bukti-bukti tekstual bersama dengan tindakan yang mendukungnya. Kebenaran-kebenaran yang dipertaruhkan bukanlah hal yang kecil, juga tidak kabur, atau berupa proposisi yang dapat diperdebatkan. Kita sedang berhadapan dengan kebenaran yang diajarkan langsung oleh Kitab Suci, yang dikonfirmasi secara tegas oleh para paus dan konsili-konsili ekumenis.

Mengatakan semua ini mungkin tidak juga bisa membantu menghilangkan sisik dari mata orang-orang yang sengaja menolak untuk melihat, tetapi sepertinya ini adalah langkah logis berikutnya setelah tindakan Correctio filialis sebelumnya, yang berpendapat bahwa Francis mendukung atau tidak menentang ajaran sesat. Dokumen baru ini selangkah lebih maju: menunjukkan bahwa dia "bersalah atas kejahatan bidaah" dan dapat dinilai seperti itu oleh mereka yang kompeten untuk memerintah Gereja Allah, yaitu, para uskup, yang bukan merupakan para wakil Paus, tetapi penguasa yang benar dan pantas dari peranan mereka sendiri sebagai kawanan Tuhan, sehubungan dengan (seperti yang diajarkan Vatikan II) tanggung jawabnya atas kesejahteraan seluruh Gereja.

Kedua, ini adalah langkah yang kita ambil untuk catatan sejarah, demi anak cucu. Akan terlihat dengan jelas bahwa umat Katolik di zaman kita bersedia untuk menyebut sebagai dosa terhadap perbuatan pelecehan sexual para klerus, tetapi juga dosa-dosa bidaah, yang lebih buruk dari jenisnya, karena ia lebih langsung menentang Allah sendiri. Dosa terburuk, demikian ajaran St Thomas Aquinas, adalah perselingkuhan atau kurangnya iman; dan kurangnya iman ini dimanifestasikan dalam bentuk penolakan atas kebenaran Iman Katolik.

Ketiga, ini adalah langkah yang kita ambil di hadapan Allah, sebagai kesaksian hati nurani kita. Mungkin ada orang-orang lain yang bisa tidur seperti bayi tanpa menyampaikan suara protes apa pun terhadap penghancuran iman secara otomatis dan penyesatan jiwa yang tak terhitung jumlahnya ini; mungkin juga ada orang-orang yang melihat apa yang dikatakan dan dilakukan oleh paus Francis, tetapi yang hanya mengangkat bahu dan berpikir bahwa hal itu tidak akan berpengaruh banyak dan lama. Saya bukanlah orang semacam itu, dan saya pikir hal yang sama berlaku untuk semua penandatangan lainnya dari Surat Terbuka itu.


Mereka yang telah menolak dokumen ini (dan dokumen-dokumen lain yang seperti ini, seperti misalnya Correctio filialis) telah menunjukkan kurangnya keseriusan mereka untuk terlibat dalam berbagai masalah serius yang telah diajukan para penulis Surat Terbuka, dan mereka lebih memilih untuk berlindung dalam perasaan nyaman dari kesetiaan kepausan dan generalisasi boilerplate yang didaur ulang dari manual skolastik. Dengan cara ini, meskipun mereka percaya diri akan bisa memadamkan api dan menenangkan ketakutan irasional, Namun mereka, pada kenyataannya, telah membuka jalan lebar bagi kemenangan kaum lalim modernis-narsisis yang saat ini mendominasi jabatan gerejawi tingkat tinggi. Pada akhirnya, mereka yang melapangkan jalan bagi kemajuan para lalim itu tidak akan kurang dalam tanggung jawabnya pada saat penghakiman nanti. Pertempuran dimenangkan bukan hanya oleh para jenderal, atau oleh para tentara saja, tetapi juga oleh kepengecutan, kelalaian, dan keterlibatan lawan-lawan mereka.

Para penandatangan telah diejek sebagai “orang yang kurang memadai dalam kualifikasi teologis.” Ini adalah salah, karena beberapa penandatangan adalah ahli teologi yang sangat terlatih dengan reputasi baik mereka. Tetapi alasan ini juga agak tidak relevan. Seseorang tidak harus menjadi dokter untuk bisa mengenali adanya patah tulang, atau adanya vena jugularis yang pecah dan berdarah; maka dengan cara yang sama, seseorang tidak harus menjadi seorang teolog profesional untuk mengetahui kapan kebenaran dasar Iman sedang ditentang dan dilanggar secara langsung. Orang bodoh yang mengatakan "tidak ada Tuhan" adalah memang orang bodoh dan dia memang layak diidentifikasi seperti itu. Demikian pula, seseorang, tidak peduli siapa dia, yang mengatakan bahwa mereka yang sudah menikah tetapi hidup bersama dengan orang lain, dan dirinya merasa masih dapat menerima Komuni Kudus tanpa mengaku dosa dan bertekad untuk tidak berbuat dosa itu lagi, maka dia menyangkal kebenaran dari hukum kodrat, hukum ilahi, dan hukum gerejawi, yang ditetapkan dalam Kitab Suci. dan Tradisi. Orang seperti itu jelas menyimpang dari kebenaran Iman.

Sebagaimana dijelaskan dalam tiga halaman terakhir dari Surat Terbuka itu - dan saya sangat merekomendasikan pada mereka yang belum membaca Surat itu sampai akhir, silakan membaca halaman-halaman terakhirnya tanpa menundanya – karena disitu berisi sebuah konsensus luas dari para penulis Katolik yang menyatakan adanya kemungkinan bahwa paus Francis dihadapkan kepada sesama uskup lainnya dan kemudian, jika dia tetap bertahan dalam bidaahnya, maka dia akan dinyatakan turun dari jabatannya di hadapan Allah dan umat beriman, dengan fakta bahwa dia telah jatuh ke dalam bidaah. Seperti yang diajarkan dalam hukum kanon, seorang paus bidaah digulingkan melalui fakta sederhana yang diakui sebagai bidaah formal publik oleh mereka yang kompeten ex officio untuk mengidentifikasi dan melarang bidaah. Posisi ini telah disepakati tanpa keberatan oleh Eklesiologist yang baru dan dihormati, Cardinal Charles Journet:

Tindakan Gereja [terhadap paus yang menyimpang] hanyalah deklaratif; Gereja hanya perlu menyatakan bahwa ada dosa bidaah yang tidak dapat diperbaiki: maka tindakan otoritatif Allah bisa dijatuhkan untuk memutuskan kepausan dari seseorang yang tetap bertahan dalam bidaahnya setelah diperingatkan, dimana orang ini, menurut Hukum Ilahi, menjadi tidak layak lagi memegang jabatan. Jadi berdasarkan Kitab Suci, Gereja menunjukkan fakta dan Allah yang memecatnya. (L'Eglise du Verbe incarné. Essai de Théologie spéculative, 2: 266)

Akhirnya, komentar yang putus asa dan sinis: "Apa gunanya?" perlu mendapat tanggapan.

Fakta bahwa Tuhan pada akhirnya bertanggung jawab atas segala sesuatu, tidak pernah dapat dianggap sebagai alasan untuk tidak melakukan apa pun. Apakah dunia Romawi akan dipertobatkan menjadi Kristiani jika tidak ada orang yang pernah berkhotbah disana? Apakah dunia berhala, secara luas, akan mengenal Kristus tanpa adanya para misionaris yang melakukan perjalanan ke ujung-ujung bumi? Para pendiam yang ada di antara kita tampaknya berpikir bahwa cukuplah bagi mereka untuk “menyerahkannya kepada Tuhan”; biarkan Dia saja yang berkhotbah jika Dia menghendaki dunia ini, biarkan Dia saja yang melakukan perjalanan ke sudut-sudut terpencil. Jelas pendapat ini tidak masuk akal. Kitalah yang harus melakukan semua yang kita bisa demi Kristus dan Gereja, pada posisi apa pun kita berada, karena kita tahu bahwa Allah akan memberkati dengan hasil usaha apa pun yang berasal dari inspirasi-Nya, sesuai dengan kehendak-Nya, dan untuk mempromosikan kemuliaan-Nya.

Pertanyaan "Apa gunanya?" terdengar menakutkan seperti "Apakah kebenaran?" Orang Kristiani sejati tidak pernah bersikap proporsionalis atau konsekuensialis. Moto mereka adalah ucapan terkenal Bunda Teresa: “Tuhan tidak meminta kita untuk berhasil; Dia meminta kita untuk setia.” Meski begitu, kita menemukan kesuksesan supranatural hanya di antara orang-orang yang setia. David tidak memandangi Goliath dan berkata, “Lupakan saja; kalah beberapa hasta tidak apa-apa.” Tetapi David mengeluarkan ketapel kecilnya, mengambil lima batu halus, dan membiarkannya terbang ke dahi orang Filistin itu. Raksasa itu akhirnya musnah dengan pedangnya sendiri, untuk menunjukkan bahwa kejahatan akan menghabisi dirinya sendiri — tetapi hanya ketika keberanian manusia sudah dilaksanakan.

Dari mereka yang banyak diberi, banyak pula yang diharap. Jika kita diberi kemampuan untuk bisa melihat serigala berbulu gembala, maka kita juga diharapkan untuk melakukan sesuatu atas hal itu. Kami akan berteriak keras "Serigala!" kearah domba-domba yang rentan, dan berdoa dengan sungguh-sungguh agar gembala-gembala sejati lainnya datang untuk menyelamatkannya, dengan cara-cara yang tidak bisa kami lakukan. Jika mereka gagal melakukannya, itu bukan masalah kita, tetapi merekalah yang harus bertanggung-jawab.



No comments:

Post a Comment