Tuesday, December 3, 2019

Di dalam Lemari Vatikan – 10. Bab 8 – Persahabatan Yang Penuh Cinta


 

  

DI DALAM LEMARI VATIKAN
Frếdếric Martel




KEKUASAAN

HOMOSEXUALITAS

KEMUNAFIKAN

 

 

 DAFTAR ISI


CATATAN DARI PENULIS DAN PENERBIT


Bab 1. Domus Sanctae Marthae
Bab 2. Teori Gender
Bab 3. Siapakah Saya Hingga Berhak Menilai?
Bab 4. Buenos Aires
Bab 5. Sinode
Bab 6. Roma Termini
BAGIAN II - PAULUS
Bab 7. Kode Maritain
Bab 8. Persahabatan Yang Penuh Cinta





BAGIAN II

PAULUS




Bab 8


Persahabatan Yang Penuh Cinta


Pertama kali saya bertemu dengan Uskup Agung Jean-Louis Bruguès di Vatikan, saya melakukan kesalahan yang tidak termaafkan. Memang benar bahwa pangkat dan gelar Kuria Roma kadang-kadang kacau: ia bervariasi sesuai dengan dicasteries (kementerian), hierarki, perintah dan kadang-kadang kriteria lainnya. Beberapa orang harus disebut sebagai 'Eminence' (bagi seorang kardinal), yang lain sebagai 'Yang Mulia' (bagi seorang uskup agung atau seorang uskup), dan yang lain lagi dipanggil sebagai 'Monsinyur' (mereka yang lebih dari seorang imam tetapi kurang dari seorang uskup). Terkadang wali gereja adalah pastor biasa, kadang bruder, dan kadang juga uskup. Dan bagaimana kita mengatasi para nuncios (dubes) yang memiliki gelar uskup agung? Belum lagi ‘monsignori’, gelar kehormatan yang dikaitkan dengan wali gereja tetapi juga dengan imam biasa?

Jadi ketika saya bersiap untuk wawancara dengan Kardinal Bertone, yang merupakan 'perdana menteri' Benediktus XVI, asisten pribadinya, yang memimpin, menjelaskan kepada saya melalui email bahwa saya akan menghubungi dia, ketika saya melihatnya, dengan sebutan 'Yang Mulia Kardinal Bertone.’

Bagi saya gelar-gelar ini telah menjadi sebuah kode dan sebuah permainan. Bagi orang Perancis, kata-kata itu berbau monarki dan aristokrasi - dan ketika sebutan gelar itu terlalu tinggi bagi mereka, maka kita seolah memenggal kepala mereka! Dalam percakapan saya di Vatikan, karena kurang mengerti, saya dengan senang hati menambahkan sebutan gelar ekstra, dalam semangat olok-olokan dari saya pribadi. Saya juga memasukkan banyak surat saya ke Tahta Suci yang penuh dengan nama gelar mereka, menambahkan dengan tangan, dalam huruf gothic yang indah, dan dengan frasa yang tidak berarti ini yang akan saya tambahkan stempel monogram, sebuah angka, tanda tangan heraldik di bagian bawah surat resmi saya - dan itu bagi saya, tampaknya merupakan balasan atas permintaan saya yang lebih positif jika semakin banyak saya menggunakan judul yang bertele-tele dan perangko tinta coklat. Namun tidak ada yang lebih asing bagi saya daripada formula-formula yang sia-sia ini, yang merupakan etiket dari zaman yang lampau. Seandainya saya berani, saya akan mengharumkan surat kiriman saya dengan parfum!

Balasan mereka adalah berupa surat yang menyenangkan. Semua kertas berkop kepala, tanda tangan tebal dengan tinta biru dan pancaran tanda kasih sayang yang memancar ('Pregiatissimo Signore Martel,' Angelo Sodano menulis kepada saya), hampir selalu ditulis dalam bahasa Perancis tanpa cela, tulisannya berisi formulasi yang teliti: “Saya berharap Anda menyambut Paskah dengan baik,” Mgr. Battista Ricca menulis kepada saya; "Dengan harapan saya bisa menyapa Anda di Urbe dalam waktu dekat," demikian kata Mgr. Fabrice Rivet; "Saya memastikan doa saya bagi Anda," tulis Uskup Agung Rino Fisichella; “Dengan kepastian doa-doa saya di dalam Kristus bagi Anda,” kata Darío Castrillón Hoyos (yang sekarang tidak lagi ada bersama kami); "Harap diterima harapan terbaik saya di dalam Kristus," Kardinal Robert Sarah menandatangani suratnya. Kardinal Óscar Maradiaga, teman saya setelah dua surat-menyurat, menjawab kepada saya dalam bahasa Spanyol: “Le deseo una devota Semana Santa y una feliz Pascua de Resurrección, su amigo [Saya berharap sebuah Pekan Suci yang penuh kesalehan serta Paskah Kebangkitan yang Bahagia, sahabatku]” Yang lebih mengejutkan lagi, Kardinal dari Naples, Crescenzio Sepe, mengirim surat di mana dia menyapa saya dengan sebutan 'Gentile Signore' yang ramah, sebelum mengakhiri surat itu dengan ‘cordiali saluti’ yang keren. Mgr. Fabián Pedacchio, asisten pribadi Francis, mengakhiri suratnya sebagai berikut: “Dengan hangat saya merekomendasikan paus bagi doamu, terimalah kepastian pengabdian saya kepada Tuhan.” Saya telah menyimpan lusinan surat sejenis ini.

Berbahagialah para penulis surat ini dari sebah zaman yang lain! Beberapa kardinal menggunakan email pada tahun 2019; tetapi masih banyak yang lebih suka menggunakan surat, dan beberapa memakai faks. Terkadang asisten mereka mencetak email yang mereka terima untuk mereka; mereka membalas dengan tangan di atas kertas; di-scan dan dikirim langsung ke penerima mereka!

Sebagian besar kardinal ini masih hidup dalam permainan kekuasaan yang layak untuk zaman Renaisans. Mendengar diri saya menyebut 'Yang Mulia' kepada seorang kardinal selalu membuat saya tertawa sendiri dalam hati; dan saya suka kesederhanaan Paus Francis, yang ingin menyingkirkan gelar-gelar megah itu. Karena bukankah aneh bagi sekelompok karyawan biasa dalam Curia untuk dipanggil 'monsignore'? atau bagi beberapa orang dubes yang malang, untuk berpegang teguh pada sebutan gelar mereka sebagai 'Yang Mulia'? Agar para kardinal menganggap orang lebih serius jika orang lain memanggilnya 'Yang Mulia'? Jika saya menjadi mereka, saya lebih suka dipanggil 'signore'. Atau lebih tepatnya: Angelo, Tarcisio atau Jean-Louis, begitu saja!

Seperti yang telah kita amati, dalam buku ini saya telah memutuskan, sebagai putra yang baik dari sekularisme Perancis, saya tidak selalu mengikuti kebiasaan Vatikan. Saya baru saja menulis 'tahta suci' dan bukan 'Tahta Suci'; dan saya selalu berbicara tentang bapa suci, perawan suci, paus tertinggi - tanpa huruf besar. Saya tidak pernah mengatakan 'Yang Mulia', dan saya menulis 'yang mahakudus'. Ketika saya menulis 'Yang Mulia', ironi itu menjadi jelas. Saya juga tidak menggunakan gelar ‘Santo’ John Paul II, terutama dalam menjelaskan sikap mendua dari orang-orang yang menjadi rombongannya! Sekularisme Perancis, sangat sedikit dipahami di Roma - dan bahkan, sayangnya, oleh Francis – yang berupa menghormati semua agama, dan tidak memberikan salah satu dari mereka status tertentu. Di sisi lain, saya menulis 'Penyair' - yang dalam buku ini selalu mengacu pada Rimbaud - dengan huruf besar! Untungnya, di Perancis kami lebih percaya pada puisi daripada agama.

Dengan Monsignor Bruguès saya menggunakan kata yang tepat, 'Yang Mulia', tetapi menambahkan, segera setelah itu, bahwa saya senang bertemu dengan seorang kardinal Perancis. Sebuah kesalahan pemula yang serius! Kardinal Jean-Louis Bruguès membiarkan saya berbicara tanpa gangguan dan kemudian, ketika dia menjawab, dia menyela masuk, di antara dua pembicaraan kecil, dengan sebuah ekspresi keramahan dan kesederhanaan palsu di wajahnya, seolah gelarnya tidak penting, meskipun dia jelas-jelas merasa tersinggung dalam hatinya: “Selain itu, saya bukanlah kardinal. Itu tidak otomatis. Saya hanya seorang uskup agung." Dia berbicara dengan aksen Perancis barat daya yang indah, yang segera membuat saya bersikap hangat kepadanya.

Saya datang untuk mewawancarai Mgr.Bruguès, pada kesempatan pertama itu, untuk sebuah program radio, dan saya berjanji akan menghapus kata-kata itu dari rekaman. Setelah itu, kami sering bertemu untuk mengobrol atau bertukar ide, dan saya tidak pernah melakukan kesalahan yang sama lagi. Saya telah mengetahui bahwa untuk waktu yang lama dia masuk dalam daftar pendek untuk menjadi 'kardinal,' dengan mempertimbangkan kedekatannya dengan Paus Benediktus XVI, yang menjadi alasan mengapa dia mengkoordinasikan perikop-perikop halus tentang homoseksualitas dalam Katekismus Baru dari Gereja Katolik. Tetapi paus Benediktus telah mengundurkan diri. Dan penggantinya, Francis, tidak pernah memaafkan Uskup Agung Bruguès, ketika Bruguès masih menjadi sekretaris jenderal Kongregasi untuk Pendidikan Katolik, karena berbeda pendapat dengan dia atas penunjukan temannya sebagai rektor Universitas Buenos Aires. Jadi dia rindu diangkat menjadi kardinal. (Pada 2018, ketika dia telah mencapai akhir mandatnya dan paus tidak mengangkatnya kembali menjadi kepala perpustakaan, Mgr.Bruguès segera meninggalkan Roma.)

“Bapa suci tidak pernah melupakan apa pun. Dia pendendam; jika seseorang telah membuatnya kesal suatu hari, atau hanya bersikap kepadanya dengan cara yang salah, dia akan selalu mengingatnya untuk waktu yang lama. Karena itu Mgr.Bruguès tidak akan menjadi kardinal selama Bergoglio menjadi paus,” kata seorang uskup agung Perancis memberi saya pengertian.

Untuk waktu yang lama Jean-Louis Bruguès mengelola Biblioteca Apostolica Vaticana yang terkenal dan Arsip Rahasia Vatikan yang tidak kalah terkenalnya. Di perpustakaan ini, mereka secara hati-hati melestarikan 'kodeks' Vatikan, buku-buku tua, papirus yang tak ternilai, incunabula, atau salinan vellum dari Alkitab Gutenberg.

“Kami adalah salah satu perpustakaan tertua dan terkaya di dunia. Secara total kami memiliki 54 kilometer buku cetak dan 87 kilometer arsip,” kata Jean-Louis Bruguès memberi tahu saya: ia jelas-jelas penganut akurasi.

Kardinal Raffaele Farina, yang saya wawancarai beberapa kali di rumahnya di Vatikan, dan yang merupakan pendahulu Bruguès di arsip rahasia, membuat saya memahami bahwa file yang paling sensitif, tentang pelecehan seksual misalnya, sebenarnya disimpan di Sekretariat Negara: arsip-arsip rahasia hanyalah bersikap tertutup dalam hal nama mereka. (Secara sepintas, Kardinal Raffaele Farina mengambil keuntungan dari pertemuan kami untuk mengajukan tuduhan di komisi yang bertanggung jawab atas perang melawan pedofilia di tahta suci, dimana dia 'tidak melakukan apa-apa'.)

Pastor Urien, yang bekerja cukup lama mengelola arsip-arsip itu, bahkan lebih kategoris (namanya telah dirubah): “Semua laporan tentang skandal keuangan di Vatikan, semua kasus pedofilia, semua file tentang homoseksualitas, termasuk semua yang kita ketahui tentang Paul VI, disimpan di Sekretariat Negara. Jika dokumen-dokumen itu dipublikasikan, para paus, kardinal, dan uskup mungkin merasa terganggu oleh hukum. Arsip-arsip itu bukan hanya wajah gelap Gereja. Itu adalah iblis!"

Selama lima kali percakapan kami, Uskup Agung Bruguès sangat berhati-hati, meskipun dialog kami pada dasarnya berfokus pada sastra - dia adalah pembaca setia karya-karya Proust, François Mauriac, Jean Guitton, Henry de Montherlant, Tony Duvert, Christopher Isherwood; dia sering pergi ke Valparaíso mengikuti jejak Pierre Loti; dia kenal Jacques Maritain di biara Dominikan di Toulouse; dan dia memiliki korespondensi yang panjang dengan Julien Green (mereka semua adalah para homosex).

“Arsip terbaru tidak dibuka,” kata Bruguès lagi. “Mereka melakukan hal itu secara kronologis, melalui perintah kepausan, dan hanya bapa suci yang dapat memutuskan untuk membuat periode baru di buka kepada publik. Kami saat ini membuka arsip Pius XII, arsip Perang Dunia Kedua.”

Sedangkan arsip Paul VI harus menunggu beberapa saat untuk dibuka.

Apakah ada rahasia Paul VI? Rumor tentang homoseksualitas pria yang menjadi paus selama 15 tahun itu - antara tahun 1962 dan 1978 - tidak terhitung jumlahnya, dan saya sudah mendiskusikannya dengan sangat bebas dengan beberapa orang kardinal. Seseorang yang memiliki akses ke arsip-arsip rahasia sekretaris negara bahkan meyakinkan saya bahwa ada beberapa file mengenai dia. Tetapi arsip itu tidak dibuka untuk umum, dan kami tidak tahu apa isinya.

Untuk memahami semua kompleksitas misteri yang mengelilingi paus ini, kita harus kontra-intuitif. Jika kekurangan bukti, maka penting untuk memeriksa seluruh bukti yang ada sekaligus: materi bacaan Paul VI, esensi dari 'Kode Maritain', adalah satu hal; persahabatannya dengan Maritain, dan juga dengan Charles Journet dan Jean Daniélou, adalah hal lain; rombongan homofilnya yang spektakuler di Vatikan, adalah satu hal lainnya lagi. Dan kemudian ada juga Jean Guitton. Dalam kerumitan kecenderungan tertentu, persahabatan dan hasrat cinta dari Paus Francophile yang suka membaca huruf dan bernafsu ini, muncul satu konstanta baru.

Pembaca, sekarang, sudah cukup tahu. Anda bahkan mungkin sudah mulai bosan dengan sekian banyak pengakuan yang terus mengalir deras ini, dengan kode-kode yang terurai disini untuk mengatakan berbagai hal yang pada akhirnya disimpulkan sebagai hal yang dangkal. Namun saya harus kembali kepada hal itu lagi, karena semua yang ada di sini memiliki signifikansinya sendiri, dan rincian ini, seperti dalam perburuan harta karun yang besar, akan segera membawa kita semua, setelah Paulus VI, ke jantung kepausan Yohanes Paulus II dan tampilan ‘kembang api’ Ratzingerian yang hebat. Tapi jangan melompat mendahului kita...

Seorang penulis Katolik Perancis beraliran kanan, Jean Guitton (1901-1999) lahir dan mati pada abad ke-20. Sebagai seorang penulis yang produktif, dia adalah teman dekat Maritain, dan juga seorang teman dekat Jean Cocteau, seorang homoseksual yang terbuka. Kariernya selama Perang Dunia Kedua masih harus ditulis, tetapi kita dapat menebak bahwa dia adalah kolaborator yang dekat dan antek dari Marshal Pétain. Karya teologisnya sedikit, seperti karya filosofisnya, dan buku-bukunya hampir sepenuhnya dilupakan saat ini. Satu-satunya yang selamat dari ‘kapal karam sastra’ ini terdiri dari beberapa wawancara terkenal dengan Presiden François Mitterrand, dan tentu saja, dengan Paus Paul VI.

“Jean Guitton tidak pernah dianggap sangat penting di Perancis. Dia adalah seorang teolog untuk kelas menengah Katolik. Kedekatannya dengan Paul VI tetap menjadi sesuatu yang misterius,” kata pemimpin redaksi Esprit, Jean-Louis Schlegel, yang mengamati Jean Guitton selama wawancara di kantor jurnal. Seorang kardinal Italia melengkapi gambaran ini, tetapi saya tidak dapat mengatakan apakah dia berbicara secara naif atau apakah dia mencoba menyampaikan pesan kepada saya: “Karya tulis Jean Guitton nyaris tidak ada di Italia. Dia menjadi kelemahan dari Paul VI, karena menjalin persahabatan yang sangat istimewa dengannya."

Pandangan yang sama datang dari Cardinal Poupard, yang adalah temannya sejak lama.

“Jean Guitton adalah penulis yang sangat baik, tetapi tidak benar-benar seorang pemikir.” Terlepas dari kedangkalan karyanya, persahabatan yang dibangun Jean Guitton dengan Paus Paulus VI tentu saja didasarkan pada kesamaan pandangan, khususnya tentang standar moral dan moralitas seksual.

Dua buah teks sejarah mengungkapkan hubungan ini. Yang pertama adalah ensiklik Humanae vitae, yang diterbitkan pada tahun 1968: isinya menyangkut perkawinan dan kontrasepsi, dan telah menjadi terkenal di bawah nama 'ensiklik pil kontrasepsi yang tidak menyenangkan' karena ia melarang penggunaan kontrasepsi secara definitif, menjadikannya suatu aturan bahwa setiap tindakan seksual haruslah dilakukan guna memungkinkan terjadinya kehidupan baru.

Teks kedua tidak kalah terkenal: ini adalah 'deklarasi' Persona humanae tanggal 29 Desember 1975. Teks krusial ini secara tegas mengatur tentang stigmatisasi 'pelonggaran nilai moral': ia mendukung kesucian yang ketat sebelum menikah (pada saat itu, cara itu digunakan untuk melawan kebiasaan 'kumpul kebo anak-anak,' dan Gereja ingin mengakhiri perbuatan itu), dengan keras mengutuk tindakan masturbasi ('tindakan yang secara intrinsik adalah sangat salah'), dan melarang homoseksualitas. “Karena sesuai dengan tatanan moral objektif, hubungan homoseksual adalah tindakan yang tidak memiliki tujuan akhir yang esensial dan tak boleh ditolak (yaitu memiliki keturunan). Dalam Kitab Suci mereka dikutuk sebagai kebobrokan serius dan bahkan disajikan sebagai konsekuensi menyedihkan dari perbuatan menolak Tuhan."

Itu adalah teks-teks penting namun teks-teks yang dengan cepat menjadi anakronistis (tidak sesuai dengan zamannya). Bahkan pada saat itu, teks-teks itu diterima dengan pesimis oleh komunitas ilmiah, karena ia dianggap mengabaikan semua penemuan biologis, medis, dan psikoanalisisnya, dan terlebih lagi oleh opini publik yang banyak menolak. Gereja Katolik tiba-tiba muncul dengan keras menentang tren di masyarakat, dan sejak itu jarak dari kehidupan nyata umat beriman terus menjauh. Aturan-aturan kuno ini tidak akan pernah dipahami oleh sebagian besar umat Katolik: aturan itu diabaikan atau diejek secara besar-besaran oleh pasangan-pasangan baru dan orang-orang muda, dan ditolak dengan angkuh oleh sebagian besar umat beriman.

Bahkan ada pembicaraan di masyarakat, di mana mereka merasa prihatin tentang munculnya 'perpecahan diam-diam' yang akan mengarah pada penurunan jumlah panggilan dan runtuhnya praktik ajaran Katolik.

"Kesalahannya adalah tidak berbicara tentang moralitas seksual," seorang kardinal yang saya wawancarai di Roma berkata dengan menyesal. “Hal itu diinginkan, dan tetap diinginkan oleh mayoritas umat Kristen. Humanisasi seksualitas, dengan meminjam istilah dari Benediktus XVI, adalah tema yang dibutuhkan Gereja untuk mengatakan sesuatu. Kesalahannya: menetapkan batasan terlalu tinggi, jika saya bisa mengatakannya seperti itu, juga tidak terhubung dan tidak terdengar, Gereja telah menempatkan dirinya di luar perdebatan tentang moralitas seksual. Posisi garis keras tentang aborsi juga akan lebih dipahami seandainya disertai dengan posisi yang fleksibel mengenai kontrasepsi. Dengan mendukung kehidupan suci bagi kaum muda, bagi pasangan yang bercerai atau pun bagi kaum homoseksual, berarti Gereja berhenti berbicara dan tidak mendukung umatnya sendiri."

Saat ini, kita tahu dari pernyataan saksi dan arsip-arsip dokumen bahwa larangan penggunaan pil kontrasepsi, dan mungkin kecaman moral lain atas tindakan masturbasi, homoseksualitas dan selibat imamat, telah dibahas dengan panjang lebar. Menurut para sejarawan, garis keras dipegang oleh minoritas, tetapi Paulus VI mengambil keputusan sendiri, ex cathedra. Dia melakukannya dengan menggalang sayap konservatif yang diwujudkan oleh kardinal tua, Ottaviani, dan seorang pendatang baru, Kardinal Wojtyla, yang kemudian menjadi Paus Yohanes Paulus II, yang memainkan peran agak terlambat tetapi menentukan dalam pengetatan secara spektakuler atas moralitas seksual Gereja. Jean Guitton, seorang pendukung militan dari kesucian heteroseksual, juga berargumen untuk mempertahankan selibat di antara para imam.

Banyak teolog dan pakar yang saya temui menyalahkan Paus Paulus VI, yang idenya begitu non-heterodoks, karena telah 'mengambil garis keras' dengan alasan-alasan yang buruk, apakah itu bersifat strategis atau pun pribadi. Mereka telah menunjukkan kepada saya bahwa selibat adalah nilai yang secara historis dipertahankan di dalam Gereja oleh unsur-unsur homofil dan homoseksual. Menurut salah seorang teolog ini: “Beberapa imam pendukung heteroseksual menghargai tindakan pantang heteroseksual; hal itu pada dasarnya adalah ide yang diajukan oleh kaum homoseksual, atau setidaknya orang-orang yang telah secara mendalam mempertimbangkan seksualitas mereka sendiri.” Apakah rahasia Paul VI terungkap ‘di siang hari bolong’ oleh pilihannya yang mendukung selibat imamat? Banyak orang berpikir begitu saat ini.

Prioritas semacam itu (selibat imamat) tidak sesuai dengan zaman, hal itu hanya mengajarkan kita tentang keadaan pikiran Vatikan. Ini juga mengundang kita untuk menyelidiki pengamatan sosiologis, yang dilakukan sejak Abad Pertengahan (jika kita percaya pada sejarawan John Boswell), dan yang merupakan aturan baru dari Lemari – aturan kesepuluh: para imam dan teolog homoseksual jauh lebih cenderung untuk memaksakan selibat imamat, dari pada rekan religius lainnya. Mereka sangat memperhatikan untuk menghormati kaul kesucian ini, meskipun secara intrinsik hal itu bertentangan dengan alam.

Pendukung yang paling kuat dari kaul kesucian, oleh karena itu, tentu saja, adalah yang paling mencurigakan. Dan di sinilah dialog antara Paul VI dan Jean Guitton mengemuka sebagai drama kontemporer yang sesungguhnya.

Tema kesucian adalah keasyikan berulang di antara para penulis homoseksual yang telah kita diskusikan, dari François Mauriac hingga Julien Green, belum lagi Jacques Maritain, tetapi mencapai tingkatan gila di dalam diri Guitton.

Berasal dari keluarga Katolik kelas menengah di mana 'Anda harus menjaga jarak', Jean Guitton tidak pernah membahas kehidupan pribadinya di depan umum, dengan hasil bahwa kehidupan pribadinya tetap misterius untuk waktu yang lama. Estetikus puritan ini tidak memamerkan emosinya, dan meskipun ia seorang awam, ia tidak berbicara tentang pengalaman asmara. Para saksi yang saya ajak bicara membenarkan bahwa Jean Guitton tidak terlalu tertarik pada wanita. Dia berpikir bahwa wanita adalah seperti 'dekoratif' atau 'hiasan', seperti yang ditulis oleh tokoh misoginis (pria yang tidak suka wanita) dalam The Picture of Dorian Grey.

Tapi dia menikah, di usia lanjut, dengan Marie-Louise Bonnet. Dalam otobiografinya, Un siècle, une vie (A Century, a Life), dia mengabdikan satu bab sendiri untuk istrinya, yang sekali lagi mengungkapkan tingkat kebenciannya yang tinggi: “Saya telah mencari malaikat untuk menjaga rumah tetap rapi dan membersihkan debu.” Malaikat itu muncul dalam bentuk Marie-Louise, yang mengajar sejarah seni dan ekonomi rumah tangga di sebuah sekolah tinggi di Montpellier. Mereka hidup sebagai ‘saudara laki-laki dan perempuan,' sesuai dengan ungkapan yang seharusnya dia gunakan, dan ketika istrinya meninggal sebelum waktunya, Guitton tetap membujang sejak itu.

Sebuah detail yang tidak luput dari perhatian Florence Delay. Sang novelis, yang terpilih untuk menggantikan peran Guitton di Académie française, harus menyampaikan, sesuai dengan tradisi, 'pidato'-nya pada hari ketika dia memasuki ‘aula-aula yang suci.’ Satu hal yang tidak biasa: Florence Delay, meskipun dia memuji almarhum Guitton, membuat banyak kiasan bagi kebenciannya yang legendaris: "Apa yang akan dia pikirkan jika dirinya digantikan oleh seorang wanita, ketika dia menganggap kita (wanita) adalah makhluk yang tidak lengkap!" Florence Delay juga tidak menganggap pernikahannya yang terlambat sebagai sesuatu yang serius: “Beberapa orang merasa terkejut atau terhibur bahwa M. Guitton, yang tampaknya mengabdikan diri demi kesucian monastik, atau secara filosofis lebih mendukung selibat Kantian, menulis sebuah esai tentang cinta manusia - bahkan sebelum pernikahannya di musim gugur yang penuh cinta dengan Marie-Louise Bonnet. Adalah cinta manusia yang membuat cinta mengalir dari murid kepada guru, dan dari guru kepada murid. “Oh! Betapa indahnya hal itu!”

Jika akademisi baru itu lebih nakal, atau lebih ironis, dia mungkin menyinggung ucapan terkenal dari ahli sex, Alfred Kinsey, seorang sahabat Guitton. Penulis buku Kinsey Report yang terkenal tentang seksualitas orang Amerika, peneliti ini menekankan, secara ilmiah untuk pertama kalinya, tentang tingginya tingkat homoseksual dalam populasi umum. Begitu meluasnya sehingga homoseksualitas tidak lagi dianggap sebagai sebuah anomali, penyakit, atau pun penyimpangan. Dan Alfred Kinsey menambahkan dengan licik bahwa satu-satunya penyimpangan yang nyata adalah tiga hal: pantang sex, selibat dan pernikahan terlambat! Demikianlah pendapat Guitton diselewengkan tiga kali lipat! 

Jika dia hanya memiliki sedikit rasa cinta kepada wanita, dan tidak pernah menyebutkan seks yang adil, yang tidak bisa terlihat olehnya, maka Guitton memang mencintai banyak pria 'sebagai teman intim.' Dimulai dengan Cardinal Poupard, yang memiliki korespondensi yang panjang dengannya (lebih dari dua ratus surat tulisan tangan, yang belum, seperti yang saya katakan, diterbitkan, mungkin akan menjadi saksi untuk ini suatu hari nanti). Gairah kejantanannya juga diarahkan kepada murid-muridnya, terutama kepada salah satu murid mudanya, seorang Louis Althusser, yang dianggapnya ‘sangat adil dan tampan sehingga ia bisa menjadi rasulnya.’ (kata seorang Florence Delay yang berani, sekali lagi!).

Hubungan Jean Guitton dengan Paus Yohanes XXIII, yang ia kenal dengan nama Roncalli ketika ia masih menjadi nuncio di Paris, juga tampak tidak lazim, dan 'persahabatan yang penuh cinta' ini mungkin banyak berperan di dalam hidupnya.

Mirip dengan hal ini adalah hubungan yang dia bangun pada usia muda dengan Giovanni Battista Montini, yang tidak lain adalah paus masa depan, Paus Paulus VI. Kedekatan mereka menjadi bahan gunjingan, ketidakpahaman dan rumor banyak orang. Seorang teolog yang berpengaruh, seperti Pastor Daniélou, tidak ragu untuk mengatakan bahwa 'paus [Paulus VI] telah melakukan suatu kecerobohan dalam menempatkan Jean Guitton di dalam Konsili [Vatikan].' Orang yang lain juga mengejek Bapa Suci karena 'jatuh cinta pada penulis kelas dua, seorang tokoh sastra yang kurang penting.’ Akhirnya, ada lelucon berulang tentang dia di Vatikan; salah satu mantan direktur Radio Vatikan memberi tahu saya: "Jean Guitton tidak dapat digolongkan di antara orang awam di konklaf karena dia tidak memiliki anak ..."

Ketika seseorang membaca buku Dialogues with Paul VI, buku yang berisi wawancara nyata atau yang dibayangkan oleh Jean Guitton dengan Paus (dengan kata pengantar oleh Kardinal Paul Poupard), orang juga dikejutkan oleh keanehan dialog antara Bapa Suci dengan orang awam tentang tindakan pantang sex dan tentang apa yang mereka sebut 'cinta plus' antara Yesus dan Petrus, yang 'termasuk sebuah perintah yang menakutkan.'

Sekarang kita tahu bahasa ini dengan sangat baik. Ini adalah bahasa Gide awal dan Mauriac akhir, dari Julien Green juga, dari Henry de Montherlant, dan akhirnya dari Maritain. Ini adalah bahasa yang berisi rasa bersalah dan harapan untuk 'peradaban cinta' (untuk menggunakan ungkapan Paul VI yang terkenal itu). Ini adalah bahasanya Plato, yang diterima Paulus VI sekali lagi dengan menghapuskan tempatnya pada Indeks buku, dimana dia ditempatkan sejajar dengan Montaigne, Machiavelli, Voltaire, André Gide, dan banyak lagi lainnya.

Sekali lagi, jangan berlebihan. Ada kemungkinan bahwa Jean Guitton menjalani diskusi ini dalam 'gaya Maritain', cukup polos dan naif, tanpa menyadari bagian yang mungkin dimainkan oleh kecenderungan dan sublimasi gay. Selain itu, Jean Guitton menyatakan bahwa dia tidak mengerti apa-apa tentang homoseksualitas. Itu mungkin secara paradoks mengindikasikan orientasi afektif homofilik, yang benar-benar tidak disadarinya dalam kasus ini.

Terlepas dari Marie-Louise Bonnet, satu-satunya wanita yang kami temukan dalam rombongan Jean Guitton, ada juga 'Maréchale' de Lattre de Tassigny, janda seorang perwira senior militer Perancis, tentang siapa desas-desus yang terus-menerus, khususnya di kalangan tentara, menunjukkan bahwa dia adalah biseksual (Penulis Daniel Guérin menyatakan hal yang sama dalam bukunya Homosexualité et revolution, dan penulis Jean-Luc Barré, yang menerbitkan karya Maréchale de Lattre de Tassigny, juga berpendapat demikian).

Antara kematian Maréchal de France pada tahun 1952 dan kematiannya sendiri pada tahun 2003, pada usia 96, 'Maréchale' hidup dikelilingi oleh sekelompok homoseks di salon Paris-nya. Dan Jean Guitton, nakal dan selalu ceria, menurut seorang saksi, adalah pengunjung setia disitu:
dia 'selalu ditemani oleh para anggota tampan dari jenis kelamin yang lebih kuat (pria) dan para pria manis dan banci'. Saksi lain membenarkan bahwa Jean Guitton selalu dikelilingi oleh para pria dan 'gitons de passage.'

Di sini kita melihat seorang pria yang hidup sebagai seorang pastor, yang memilih untuk tidak memiliki anak, menikah terlambat, dan, sepanjang hidupnya memiliki persahabatan homosex yang intens, dikelilingi oleh para pemuda yang diinginkannya. Apakah dia seorang homoseksual yang 'terkendali'? Tampaknya hal ini sangatlah mungkin, dan sejauh ini tidak ada yang mengindikasikan sebaliknya. Namun di sini kita harus menemukan kata lain untuk mendefinisikan hubungan semacam ini. Guitton menyarankan satu istilah, tidak sempurna meskipun itu mungkin: 'persahabatan.' Mari kita dengarkan dia di sini, dalam kata-katanya sendiri, dalam bukunya Le Christ de ma vie, di mana dia berbicara dengan Pastor Joseph Doré, Uskup Agung Strasbourg di masa depan: “Ada sesuatu yang lebih tinggi daripada cinta antara pria dan wanita, dan itu adalah persahabatan. Seperti halnya kecintaan David pada Jonathan, kecintaan Achilles terhadap Patroclus (yang kesemuanya adalah sesama pria) ... itu disebut sebagai ‘persahabatan.’ Seorang Jesuit dapat memiliki ‘cinta persahabatan’ dimana dia dapat ditemani oleh seorang Jesuit lain yang lebih tinggi daripada cinta yang akan dirasakan pria ini seandainya dia menikah dengan wanita ... Dalam cinta persahabatan – ia sering disalahpahami, karena adanya homoseksualitas - ada sesuatu yang sangat unik dan luar biasa.

Sebuah pengakuan yang luar biasa, sebuah ‘permainan cermin’ di mana rujukan kepada tokoh David dan Jonathan dipilih dengan sengaja oleh seorang pria yang tidak dapat mengabaikan tuduhan homoerotik dari kode gay eksplisit ini (asosiasi homoseks Katolik utama di Perancis sudah menyandang nama ini).

Jean Guitton, seperti Jacques Maritain, mencoba menciptakan bahasa baru dan lebih halus untuk memahami keterlibatan kejantanan tanpa mereduksinya menjadi seks. Di sini kita berada di jantung dari apa yang disebut - ekspresi lebih tahan lama daripada 'persahabatan' versi Jean Guitton yang biasa-biasa saja - 'persahabatan yang penuh cinta’ ('amour d' amitié ').

Ini adalah konsep lama, dan penting, hanya sesaat, untuk melacak asal usulnya, yang sangat penting bagi tema pembahasan kita. Gagasan 'persahabatan yang penuh kasih' berakar dalam pemikiran Yunani klasik, dalam diri Socrates dan Plato, yang kemudian disistematisasikan oleh Aristoteles. Melalui tokoh Cicero dan St. Augustine, ia melewati zaman kuno dan memasuki Abad Pertengahan. Kami menemukan ide tentang hal itu, jika bukan surat itu, di Saint Aelred of Rievaulx, seorang biarawan Cistercian abad kedua belas yang menjadi 'santo LGBT' pertama (karena ia tidak pernah menyembunyikan hubungan cinta homosexnya). Satu abad kemudian, pada saat gagasan 'homoseksualitas' belum ada (seperti yang kita ketahui, kata itu belum ditemukan sampai akhir abad kesembilan belas), Abad Pertengahan menyesuaikan kembali konsep 'persahabatan yang penuh cinta' (homosex) ini. Thomas Aquinas membedakan 'cinta yang penuh nafsu sex’ (amor concupiscentiae) dari ‘cinta yang penuh persahabatan' (amor amicitiae); yang pertama mencari yang lain untuk keuntungan pribadi dan egois; yang terakhir, di sisi lain, mengistimewakan kebaikan teman, yang dicintai seperti ‘dirinya yang lain.’ Dewasa ini, meskipun itu tidak sempurna, kami menyebut hal itu sebagai 'cinta platonis.'

Gagasan tentang 'persahabatan yang penuh cinta’ ini kemudian digunakan untuk mendefinisikan hubungan antara Shakespeare dan pemuda yang disebut 'Pemuda Adil' di dalam kisah the Sonnets, Leonardo da Vinci dengan murid mudanya Salai, atau Michelangelo dengan Tommaso dei Cavalieri muda. Cinta? Persahabatan? Para spesialis hari ini berpikir bahwa dalam kasus yang tepat ini mungkin masalah homoseksualitas berkecambah. Di sisi lain, apa yang harus kita katakan tentang para penulis Montaigne dan La Boétie, dimana ungkapan 'persahabatan yang penuh cinta’ juga digunakan? Kita harus berjaga-jaga agar tidak salah menggambarkan hubungan yang mungkin tidak pernah berupa hubungan seksual, dan yang mana kalimat terkenal Montaigne dapat diringkas dengan lebih akurat, karena hal itu menentang penjelasan rasional: "Karena itu adalah dia, karena itu adalah aku."

Ungkapan 'persahabatan yang penuh cinta’ juga digunakan untuk menggambarkan hubungan antara Pastor Henri Lacordaire, salah satu pembangun kembali Ordo Dominikan di Perancis, dengan 'teman homosexnya' Charles de Montalembert. Untuk waktu yang lama Gereja telah menutupi wajahnya mengenai hal ini, dengan bersikukuh menyebut 'persahabatan' yang sekarang dikenal sebagai homoseksual (korespondensi yang tak terhindarkan antara Lacordaire dan Montalembert, baru-baru ini diterbitkan, mengungkapkan tidak hanya dialog tipikal tentang Katolik liberal Perancis, tetapi juga hubungan homosex antara kedua pria itu).

Karena itu, konsep 'persahabatan yang penuh cinta' mencakup berbagai situasi yang tak terbatas, dan telah digunakan tanpa pandang bulu selama berabad-abad untuk menjelaskan rangkaian hubungan yang luas yang berawal dari persahabatan antar laki-laki murni hingga homoseksualitas yang sebenarnya. Menurut spesialis dalam masalah ini, yang banyak terdapat di Vatikan, konsep ini hanya boleh diterapkan pada homofilia murni. Ini bukan perasaan samar-samar yang cenderung mempertahankan kebingungan antara cinta dan persahabatan, tetapi cinta yang otentik dan murni, hubungan sempurna yang polos antara dua pria. Keberhasilannya dalam lingkungan Katolik homofilik di abad kedua puluh dijelaskan oleh fakta bahwa ia menekankan sifat-sifat orang yang dicintai, lebih dari keinginan duniawi, yang dengan hati-hati ditolak; hal itu memungkinkan kita untuk tidak melecehkan kasih sayang mereka. Akhirnya, kardinal yang paling konservatif - dan paling homofobia (menolak homosex) - seperti Raymond Burke dari Amerika, Joachim Meisner dari Jerman, Carlo Caffarra dari Itali atau Robert Sarah dari Guinea, yang telah bersumpah bagi kesucian, dengan tegas bersikeras bahwa kaum homoseksual harus membatasi diri mereka pada pengertian 'persahabatan yang penuh cinta’ yang tetap menjaga kesucian, untuk menghindari melakukan dosa dan masuk neraka. Dengan melakukan itu mereka bisa mengungkapkan diri mereka sendiri.

Jadi, dari Jacques Maritain hingga kepada Jean Guitton, dunia 'persahabatan yang penuh cinta’ ini merupakan pengaruh bawah tanah (diam-diam) dari Konsili Vatikan Kedua.

Meski Jacques Maritain tidak mengambil bagian dalam Konsili itu sendiri, tetapi dia memiliki pengaruh penting di dalamnya karena persahabatannya dengan Paulus VI. Itu juga berlaku bagi para teolog berpengaruh lainnya, seperti pastor Yves Congar, Charles Journet, Henri de Lubac dan Jean Daniélou. Yang terakhir ini adalah yang paling mencerahkan: seorang Jesuit Perancis, seorang teolog terkenal, disebut sebagai pakar Konsili Vatikan Kedua oleh John XXIII, sebelum ia diangkat menjadi kardinal oleh Paul VI. Jean Daniélou adalah seorang teman Jean Guitton (mereka ikut menulis sebuah buku), dan berkat jasa Guitton maka dia bisa masuk Académie française. Agak progresif, Daniélou adalah juga salah satu teman dekat Paul VI.

Banyak yang telah dilakukan atas kematian Daniélou, yang terjadi secara mendadak dan luar biasa, pada 20 Mei 1974, dalam pelukan 'Mimi' Santoni, seorang pelacur (perempuan) di Rue Dulong di Paris. Penyebab kematian mungkin adalah serangan jantung yang disebabkan oleh orgasme. Ada sebuah versi yang dipertentangkan, tentu saja, oleh para Yesuit, yang, dalam menanggapi skandal yang ditimbulkan oleh perselingkuhan saat itu, yang mengemukakan fakta versi mereka sendiri, yang segera diterima oleh Le Figaro: kardinal Jean Daniélou datang untuk memberikan uang kepada pelacur itu guna menolongnya, dan dia mati dengan pengharapan untuk 'bertemu dengan Allah yang hidup.'

Ini adalah versi yang disampaikan kepada saya hari ini oleh kardinal Italia, Giovanni Battista Re, yang merupakan 'menteri' interior di bawah Yohanes Paulus II: “Kami sering membaca buku kardinal Jean Daniélou. Kami sangat menyukainya. Kematiannya? Saya pikir dia ingin menyelamatkan jiwa sang pelacur, itu saja. Untuk mempertobatkannya, mungkin. Menurut saya dia meninggal dalam karya kerasulan.”

Kardinal Paul Poupard, seorang teman dari kardinal Jean Daniélou (mereka juga turut menulis buku), menegaskan kepada saya, sambil mengangkat tangannya ke arah surga, bahwa kardinal Daniélou yang murah hati ini, dengan rendah hati, dengan hati emas, datang untuk menebus dosa-dosa pelacur itu. Mungkin bahkan untuk mencoba, sebagai pria gagah seperti dia, untuk membebaskan wanita yang ‘hidup-lepas’ ini dari perdagangan tubuhnya yang menyedihkan.

Terlepas dari tawa yang dipicu oleh penjelasan ‘tidak lucu’ ini pada saat itu – kardinal Daniélou didapati sepenuhnya telanjang bulat ketika ambulans tiba di tempat kejadian – dan demi tujuan penulisan kami, inti dari kasus ini tidak kami kejar lebih jauh, karena ia terletak di ‘tempat lain.’ Jika kardinal Daniélou benar-benar seorang heteroseksual aktiv yang jelas-jelas bukan bagian dari 'paroki,' (sebutan khusus bagi kaum homosex di Vatikan), maka saudaranya (kardinal Paul Poupard) di sisi lain, jelas adalah seorang homoseksual. Alain adalah seorang Hindu yang terkenal, seorang spesialis erotisme di Timur yang sangat tenar, dalam ilmu yoga dan pemujaan Siwa. Dia juga seorang teman dekat dari François Mauriac dan koreografer Maurice Béjart. Homoseksualitasnya, yang telah menjadi pengetahuan umum sejak lama, baru-baru ini dikonfirmasi oleh autobiografinya dan oleh publikasi saudara lelakinya, Jean's Carnets. Dan kita sudah tahu bahwa Alain ‘hidup bersama’ dalam waktu cukup lama bersama fotografer Swiss, Raymond Burnier.

Hubungan antara saudara-saudara kardinal Daniélou cukup menarik karena memungkinkan saya untuk menyatakan saat ini bahwa Jean Daniélou bersimpati pada pilihan gaya hidup Alain, dan bahwa dia sangat mendukungnya dalam homoseksualitasnya. Dia ingin memikul beban dosa Alain dan menjaga jiwanya.

Kardinal Jean Daniélou melangkah lebih jauh. Dari 1943, dia sering merayakan misa bagi kaum homoseksual setiap bulan. Fakta ini sudah diakui banyak orang (dalam otobiografi Alain dan dalam biografi terperinci yang dikhususkan untuk kedua bersaudara). Tampaknya bahwa kelompok ini, yang juga termasuk peneliti spesialis Islam terkenal, Louis Massignon, seorang Kristen yang juga homoseksual, berlanjut selama beberapa tahun. Jadi, titik kunci di sini bukanlah kematian Jean Daniélou di pelukan tangan seorang pelacur, tetapi organisasi yang dikelola oleh seorang kardinal terkenal, seorang teolog terkenal yang dekat dengan paus, dari kelompok reguler yang ditujukan demi 'keselamatan' kaum homoseksual.

Apakah Paul VI tahu tentang ini? Itu mungkin, tetapi tidak pasti. Fakta adalah tetap bahwa rombongan yang sebagian besar homofil, atau pro-gay ini, adalah bagian dari sejarah kepausannya – ini merupakan intisari dari 'kode Maritain.'

“Siapa pun yang melihat rangkaian gambaran ini akan bertanya-tanya: hubungan apa yang mungkin kita miliki dengan orang-orang ini, dengan wajah mereka yang penuh semangat ...” Pada kesempatan ulang tahun lima abad dari Michelangelo, sebuah penghormatan 'ramah-gay' yang menakjubkan dilaksanakan pada 29 Februari 1976 oleh Paus Paulus VI kepada pemahat Italia itu di Basilika Santo Petrus di Roma. Dengan keangkuhan yang luar biasa, Paus Paulus VI menyanyikan kenangan tentang 'seniman yang tak tertandingi' itu di bawah kubah agung yang ia rancang, tepat di sebelah Pietà yang agung, yang dibawa oleh seorang 'bocah lelaki yang belum mencapai usia 25 tahun’ dari ruangan marmer yang dingin dengan sikap gemulai yang lembut.

Sejarak sepelemparan batu jauhnya adalah Kapel Sistine dengan kubahnya dicat dengan warna-warna jantan, dimana melalui hal itu Paul VI memuji para malaikat - tetapi bukan Ignudi, yaitu sosok pria telanjang bertubuh tegap dengan kegagahan fisiknya yang kurang ajar, yang ia lewati dengan sikap diam. Juga dikutip dalam pidato paus saat itu adalah 'dunia Sibyls' dan 'para Paus'; tetapi tidak disebutkan tentang Kristus yang telanjang karya Michelangelo, atau tentang orang-orang kudus dalam pakaian ulang tahun mereka atau 'kebingungan orang-orang telanjang' dalam Penghakiman Terakhir. Dengan sikap diam yang disengaja ini, paus Paulus VI sekali lagi menyensor ‘daging merah muda’ yang pernah dikebiri salah seorang pendahulunya dengan cara menutupi alat kelamin pria telanjang itu dengan kain seadanya. Paul VI, yang sekarang terbawa oleh keberaniannya sendiri, semakin ‘memanas,’ meneteskan air mata karena kebanjiran pertunjukkan ‘tubuh-tubuh dan permainan otot.’ Dan dia benar-benar melotot! Itu adalah tubuh dari 'atlet muda yang adalah Florentine David' (sepenuhnya telanjang bulat, proporsional dan indah), dan Pietà terakhir, yang disebut sebagai 'Rondanini', 'penuh isak tangis' dan non finito. Jelas, bahwa Paul VI larut dalam karya 'keindahan rahasia' ini, yang 'kesenangan estetisnya' cocok dengan 'kesempurnaan Hellenic'. Dan tiba-tiba, bapa suci mulai membaca soneta karya Michelangelo!

Hubungan apa, tentu saja kita dapat bertanya, 'yang dapat kita tarik dari orang-orang ini, dengan wajah mereka yang bersemangat seperti itu'? Belum pernah dalam sejarah Vatikan ada pujian berbau 'kegadisan’ diberikan di tempat yang sakral ini kepada seorang artis homoseksual yang begitu berani.

“Paul VI menulis pidatonya sendiri dengan tangan. Semua manuskrip telah disimpan,” saya diberitahu oleh Micol Forti, seorang wanita yang bersemangat dan energik yang merupakan salah satu direktur museum Vatikan.

Semangat Paul VI akan budaya sampai batas tertentu merupakan bagian dari strategi politik. Di Italia pada waktu itu, budaya meluncur dari kanan ke kiri (sosialis); praktik keagamaan sudah menurun di kalangan seniman. Sementara itu selama berabad-abad umat Katolik telah mendominasi budaya, kode-kode perilaku, jaringan seni, dimana hegemoni telah lenyap pada akhir 1960-an dan awal 1970-an. Paul VI masih berpendapat bahwa hal itu belum terlambat, dan bahwa Gereja dapat pulih jika bisa mengetahui bagaimana cara mengelola (atau merayu) museum-museum.

Para saksi yang saya wawancarai juga mengkonfirmasi bahwa komitmen Paul VI terhadap budaya pada saat yang sama, adalah tulus, dan didasarkan pada kecenderungan pribadinya.

“Paul VI adalah pecandu Michelangelo,” saya diberitahu oleh seorang uskup yang mengenal dia.

Pada tahun 1964 paus mengumumkan rencananya untuk mengumpulkan koleksi besar seni modern dan kontemporer. Dia melibatkan dirinya ke dalam pertempuran budaya besar dalam hidupnya, untuk memenangkan kembali para seniman.

“Paul VI mulai dengan meminta maaf atas nama Gereja karena kurang memperhatikan seni modern. Dan kemudian dia meminta para seniman dan intelektual dari seluruh dunia untuk membangun koleksi untuk museum Vatikan," lanjut Micol Forti.

Para kardinal dan uskup yang saya ajak bicara mengajukan beberapa hipotesis untuk menjelaskan hasrat Paulus VI terhadap seni ini. Salah satu dari mereka mencatat pengaruh penting yang diberikan kepadanya oleh sebuah buku karya Jacques Maritain, esainya Art and Scholasticism, di mana ia membayangkan sebuah filosofi seni yang memungkinkan seniman memiliki ciri khasnya sendiri.

Penikmat lain dari kehidupan budaya Vatikan di bawah Paul VI menegaskan tentang peran asisten pribadi paus, imam Italia, Pasquale Macchi, seorang sastrawan yang bersemangat tentang seni, dan seorang homofil (penyuka homosex) yang terbukti dia selalu menjaga ‘persahabatan akrab’ dengan para seniman.

Atas jasa Pasquale Macchi, Paul VI menyatukan para intelektual dan mencoba membawa para seniman kembali ke Vatikan. Mereka berdua mempertimbangkan jurang yang sudah memisahkan mereka dari dunia seni. Dan Pasquale Macchi adalah salah satu pengrajin di balik koleksi-koleksi baru," kata seorang imam di Dewan Kepausan untuk Kebudayaan.

Saya telah mengunjungi sayap yang modern dari museum Vatikan. Meskipun sama sekali tidak cocok untuk koleksi lama - bagaimana mungkin? - harus diakui bahwa para kurator Vatikan tercerahkan dalam pilihan mereka. Saya perhatikan khususnya karya dua seniman non- ortodoks: Salvador Dalí, seorang pelukis biseksual, dengan lukisan bagus berjudul Penyaliban dengan konotasi tentara masokis. Dan yang paling penting, Francis Bacon, seorang seniman yang terang-terangan mengaku dirinya adalah gay!

Homoseksualitas Paul VI adalah rumor lama. Di Italia hal itu sangat gigih dipercaya, dan telah disebutkan dalam berbagai artikel dan bahkan di halaman Wikipedia Paus, yang menyebutkan nama salah satu kekasihnya yang terkenal. Selama saya tinggal di Roma, para kardinal, uskup, dan puluhan monsignori yang bekerja di Vatikan telah berbicara kepada saya tentang hal itu juga. Beberapa orang memang membantahnya.

“Saya dapat mengkonfirmasi bahwa rumor ini memang ada. Dan saya bisa membuktikannya. Ada pamflet-pamflet, setelah pemilihan Montini [Paul VI] pada tahun 1963, yang mencela akhlaknya," demikian saya diberitahu oleh Cardinal Poupard, yang merupakan salah satu kolaborator paus.

Kardinal Battista Re meyakinkan saya: “Saya bekerja dengan Paus Paulus VI selama tujuh tahun. Dia adalah paus yang hebat dan semua rumor yang saya dengar adalah salah."

Paul VI secara umum dikatakan memiliki hubungan dengan Paolo Carlini, seorang pekerja teater Italia dan aktor televisi yang 25 tahun lebih muda darinya. Mereka bertemu ketika Giovanni Montini (Paul VI) menjadi Uskup Agung Milan.

Sementara hubungan itu sering digunjingkan di Italia, beberapa elemen faktualnya tampak ketinggalan zaman atau keliru. Misalnya, Paulus VI dikatakan telah memilih namanya sebagai penghormatan kepada Paolo, yang ditolak oleh berbagai sumber, yang mengemukakan penjelasan lain yang lebih kredibel. Demikian pula, Paolo Carlini dikatakan telah meninggal karena serangan jantung ‘dua hari setelah kematian Paul VI, karena kesedihan.’ Namun, ketika dia sudah sakit, dia tidak mati sampai beberapa saat kemudian. Montini (bakal Paul VI) dan Carlini juga dikatakan telah menempati apartemen bersama di dekat istana uskup agung, yang tidak dikonfirmasi oleh sumber polisi yang dapat dipercaya. Akhirnya, file yang disimpan oleh polisi Milan tentang hubungan Montini-Carlini, yang sering dikutip, tidak pernah dipublikasikan dan hingga hari ini tidak ada bukti bahwa itu pernah ada.

Mengklaim memiliki informasi yang lebih baik daripada siapa pun, penulis Prancis, Roger Peyrefitte, seorang homoseksual militan, mulai membual tentang Paul VI dalam serangkaian wawancara: pertama di Gay Sunshine Press, kemudian di majalah Perancis Lui, sebuah artikel dimuat di Italia oleh majalah mingguan Tempo pada bulan April 1976. Dalam intervensi berulangnya, dan kemudian dalam bukunya, Roger Peyrefitte menyatakan bahwa 'Paul VI adalah homoseksual' dan bahwa ia memiliki 'bukti'. Membual adalah spesialisasinya: penulis telah menuduh François Mauriac dalam sebuah artikel di jurnal Arts pada Mei 1964 (tepat pada kesempatan itu), serta Raja Baudouin dari Belgia, Duke of Edinburgh dan Shah Iran - sampai didapati bahwa beberapa sumbernya adalah keliru, dan bahwa dia telah jatuh cinta pada tipuan jurnalistik!

Saya memang memiliki kesempatan, ketika saya adalah seorang jurnalis muda, tak lama sebelum kematiannya, untuk mewawancarai Roger Peyrefitte soal desas-desus tentang homoseksualitas Paul VI. Sebuah gosip yang berulang-ulang, penulis lama itu kelihatannya tidak begitu tahu tentang saya dan, sebenarnya, dia hanya senang dengan aroma skandal. Dalam semua kasus ini, dia tidak pernah memberikan bukti sekecil apa pun tentang tulisannya. Tampaknya, faktanya dia ingin menyerang Paul VI setelah deklarasi Persona Humana, yang memusuhi homoseksual. Bagaimanapun, penulis yang sedang-sedang saja dan busuk itu, senang dengan hal yang ekstrem dan sengaja berpolemik, dan pada akhir hidupnya menjadi spesialis dalam hal informasi palsu, dan memang dia adalah homofobik, serta terkadang menyebarkan desas-desus anti-Semit.

Hal yang menarik adalah, tentu saja, reaksi publik terhadap Paul VI. Menurut beberapa orang yang saya wawancarai (terutama kardinal yang bekerja untuknya), artikel-artikel tentang dugaan homoseksualitasnya sangat mepengaruhi Paul VI. Menanggapi desas-desus itu dengan sangat serius, dia dikatakan telah mendorong berbagai intervensi politik untuk menghentikannya. Dia diyakini telah meminta bantuan langsung dari perdana menteri Italia saat itu, Aldo Moro, yang merupakan sebagian dari teman-teman dekatnya dan dengan siapa dia berbagi semangat dalam menekuni kode Maritain. Apa yang dilakukan perdana menteri Aldo Moro? Kami tidak tahu. Pemimpin politik itu diculik beberapa bulan kemudian oleh Brigade Merah, yang menuntut uang tebusan. Paul VI secara terbuka turun tangan untuk meminta pembebasannya, dan bahkan dikatakan telah mencoba mengumpulkan dana yang diperlukan. Tetapi pada akhirnya Aldo Moro terbunuh, membuat Paul VI putus asa.

Paus akhirnya memilih untuk menyangkal desas-desus publik soal homosexualnya, secara langsung, desas-desus yang disulut oleh Roger Peyrefitte: Dia berbicara di depan umum tentang masalah itu, pada 4 April 1976. Saya menemukan intervensinya di kantor pers Vatikan. Berikut ini deklarasi resmi Paulus VI:

“Saudara-saudara yang terkasih! Kami tahu bahwa vikaris kardinal kami dan bersamanya, Konferensi Episkopal Italia, telah mengundang Anda untuk berdoa bagi sahabat kami yang rendah hati, yang tengah menjadi sasaran ejekan dan sindiran mengerikan dan fitnah dari pihak pers tertentu, serta penghinaan terhadap kejujuran dan kebenaran. Kami berterima kasih atas perhatian kekeluargaan Anda dalam hal kesalehan, kepekaan moral dan kasih sayang ... Terima kasih, terima kasih dari dalam lubuk hati kami ... Juga, karena episode ini dan yang lain-lainnya, disebabkan oleh pernyataan baru-baru ini oleh Kongregasi untuk Ajaran Iman, tentang pertanyaan-pertanyaan tertentu soal etika seksual, kami meminta Anda untuk memberikan perhatian penuh serta kebajikan Anda pada dokumen ini, dan dengan demikian untuk memperkuat Anda dalam semangat kemurnian dan cinta yang bertentangan dengan hedonisme tak bermoral yang tersebar luas di dalam moral dunia saat ini.”

Kesalahan komunikasi yang besar! Sementara rumor yang diajukan oleh seorang penulis reaksioner dengan kredibilitas yang kecil dan terbatas pada beberapa lingkungan homofilik anti-klerus, penolakan publik Paul VI, dalam kekhidmatan angelus Minggu Palma, membantu menyebarkannya ke seluruh dunia. Ratusan artikel diterbitkan menyampaikan penolakan ini, khususnya di Italia, dan mungkin hal itu juga menimbulkan keraguan. Sesuatu yang semula hanya sebuah rumor telah menjadi sebuah pertanyaan besar, bahkan mungkin sebuah tema. Kuria mengambil pelajaran dari situ: lebih baik mengabaikan rumor tentang homoseksualitas paus atau kardinal daripada memberinya publisitas dengan menyangkal rumor itu.

Sejak itu berbagai pernyataan saksi lain muncul, mendukung desas-desus 'mengerikan' ini: pertama-tama penyair tidak terkenal dari Italia, Biagio Arixi, seorang teman Carlini, yang dikatakan oleh aktor itu telah mengungkapkan orang penghubungnya dengan paus, tak lama sebelum dia meninggal. Bendaharawan dan ketua upacara Yohanes XXIII dan Paul VI, Franco Bellegrandi, juga menyebutkan masalah itu dalam sebuah buku yang diragukan kebenarannya. Uskup Agung Polandia, Juliusz Paetz, juga secara panjang lebar membahas tentang dugaan homofilia paus, bahkan mendistribusikan foto-foto dan menyimpulkan bahwa ia mungkin berada dalam relasi bromance (relasi dua pria, tanpa sex) bersamanya, seperti yang dikonfirmasi oleh para saksi, wartawan dari Gazeta Wyborcza dan peneliti saya di Warsawa (kesaksian Paetz tidak didukung.) Seorang mantan Pengawal Swiss juga memberikan informasi yang serupa, dan beberapa mantan kekasih Paul VI, baik yang asli maupun yang mengaku-ngaku saja, berusaha untuk bersaksi, sering kali sia-sia, dan dalam hal apa pun tidak meyakinkan. Di sisi lain, pernyataan saksi lain dari para kardinal dan sejumlah penulis biografi serius, dengan tegas membantah klaim tentang paus ini.

Poin yang lebih penting: hipotesis homoseksualitas Paul VI dan hubungannya dengan Paolo Carlini dianggap cukup serius selama proses beatifikasi Paul VI. Menurut dua sumber yang saya wawancarai, file itu diperiksa dengan sangat rinci oleh para imam yang telah mempersiapkan diri untuk 'persidangan kanonisasi' itu. Jika ada perdebatan, jika ada file, itu setidaknya karena ada keraguan. Pertanyaan tentang dugaan homoseksualitas dari Paul VI bahkan secara eksplisit ada di dalam dokumen yang diserahkan kepada Paus Benediktus XVI, yang ditulis oleh Pastor Antonio Marrazzo. Menurut satu sumber tangan pertama yang sangat akrab dengan berkas besar yang dikumpulkan oleh Marrazzo, dan yang berbicara dengannya tentang moral yang dikaitkan dengan Paul VI, pertanyaan itu muncul dalam berbagai dokumen dan pernyataan tertulis. Namun, menurut sumber yang sama, Marrazzo menyimpulkan, setelah memeriksa dan memeriksa-silang semua dokumen, bahwa Paul VI mungkin bukanlah homoseksual. Posisinya akhirnya diambil oleh Paus Benediktus XVI, yang, setelah memeriksa berkas itu secara panjang lebar, memutuskan untuk memberikan beatifikasi kepada Paul VI dan mengakui 'kebajikan heroiknya', dan membawa kontroversi itu kepada penutupan kasus sementara.

Masih ada satu misteri di sekitar Paul VI: rombongannya, penuh dengan orang-orang yang homofil dan mempraktikkan homoseksual. Secara sadar atau tidak, paus ini sangat melarang bentuk seksualitas ini, namun dia menyelimuti dirinya dengan laki-laki yang hampir semuanya memiliki kecenderungan homosexual.

Seperti telah kita lihat, hal ini berlaku untuk sekretaris pribadi Paul VI, Pasquale Macchi, yang bekerja dengannya selama 23 tahun, pertama di keuskupan agung Milan dan kemudian di Roma. Terlepas dari bagian yang ia mainkan dalam penciptaan koleksi seni modern di museum Vatikan, imam ini, dengan bakat artistik yang legendaris, adalah teman dekat Jean Guitton (seorang homosex) dan memiliki banyak kontak dengan orang-orang kreatif dan intelektual di zamannya, atas nama paus. Sifat homofilia-nya dikonfirmasi oleh lebih dari sepuluh saksi.

Dengan cara yang sama, imam dan calon uskup Irlandia masa depan, John Magee, yang juga merupakan teman dekat dan asisten Paul VI, adalah homoseksual (sebagaimana pengadilan menjelaskan dalam persidangan untuk skandal di keuskupannya di Cloyne). Seorang pria lain yang dekat dengan Paul VI, Loris Francesco Capovilla, yang juga sekretaris pribadi pendahulunya, John XXIII, dan seorang peserta kunci dalam Konsili (ia diangkat menjadi kardinal oleh Paus Francis pada 2014 dan meninggal pada usia 100 tahun pada 2016), dikatakan adalah seorang homofilik. “Mgr. Capovilla adalah pria yang sangat bijaksana. Dia mengucapkan ungkapan-ungkapan pendek kepada para imam muda, dan dia sangat baik. Dia melakukan pembicaraan yang halus. Dia pernah menulis kepada saya," kata mantan pastor Kuria, Francesco Lepore, kepada saya. (Seorang kardinal dan beberapa uskup agung serta wali gereja di Vatikan juga membenarkan kecenderungan homosex Capovilla.) Teolog resmi Paul VI, seorang imam Dominikan, Mario Luigi Ciappi, seorang dari Florentine dengan selera humor yang besar, juga dilihat sebagai 'orang yang ekstrovert dan homofil' yang hidup berdampingan dengan 'sosius', atau sekretaris pribadi, menurut tiga pernyataan saksi yang isinya mirip, oleh para imam Dominikan yang telah saya wawancarai (Ciappi adalah salah satu teolog resmi dari lima paus, antara tahun 1955 dan 1989, dan diangkat sebagai kardinal oleh Paul VI pada tahun 1977).

Hal yang sama berlaku untuk penata upacara kepausan Paul VI, 'monsignore' Italia, Virgilio Noè, seorang kardinal masa depan. Orang-orang di Vatikan sangat lama terhibur oleh pria yang lurus seperti orang mati di depan umum ini, dan dikatakan dia menjalani kehidupan yang penuh gairah secara pribadi.

“Semua orang tahu bahwa Virgilio sedang berlatih. Bahkan katakanlah sangat keras berlatih! Itu semacam lelucon di antara kami, di dalam Vatikan,” kata seorang pastor Kuria Romawi menegaskan.

Pelayan paus juga seorang homoseksual yang cukup dikenal; dan hal yang sama berlaku untuk salah satu penerjemah utama dan pengawal paus - Uskup Agung terkenal, Paul Marcinkus, yang akan kita bicarakan lagi nanti. Adapun para kardinal, banyak dari mereka adalah 'bagian dari anggota paroki', dimulai dengan Sebastiano Baggio, yang dipercaya Paus memimpin Kongregasi untuk Para Uskup, setelah menjadikannya sebagai kardinal. Yang terakhir, salah satu kepala Pengawal Swiss di bawah Paul VI, seorang sahabat dekat paus, masih tinggal bersama pacarnya di pinggiran kota Roma, tempat salah satu sumber saya bertemu dengannya.

Dengan merekrut sebagian besar rombongan homosexual di antara para imam homofil, yang patut dipertanyakan, yang 'ditutupi' atau yang sedang ‘berlatih,’ apa yang coba dikatakan oleh Paul VI kepada kami? Saya menyerahkannya kepada penilaian para pembaca, yang memiliki di depan mereka semua sudut pandang dan semua potongan teka-teki besar ini. Dalam kasus apa pun, 'Kode Maritain', template yang dibuat di bawah Paul VI, akan diabadikan di bawah kepausan John Paul II, Benediktus XVI dan Francis. Yang cukup cerdik, paus menjadikan 'persahabatan yang penuh cinta’ ini sebagai aturan persaudaraan di Vatikan. 'Kode Maritain' lahir di bawah naungan yang baik; dan hal itu masih berlaku sampai sekarang.






No comments:

Post a Comment